Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Ada Imbalannya


__ADS_3

Suara tangisan pilu ibu tiri Eliana memenuhi kamar tersebut. Eliana diam saja, tidak ada belas kasihan saat melihat ibu tirinya mendapatkan balasan seperti itu. Permohonan tak hentinya dilontarkan oleh ibu tiri Eliana, dia harap tidak mendapatkan perlakuan yang lebih keji dari pada itu karena dia sudah tidak sanggup lagi. Kedua tangannya gemetar, begitu juga dengan kedua kaki yang tidak bisa dia gerakkan sama sekali. Oleh sebab itu dia hanya bisa duduk di atas lantai. Dia benar-benar langsung mendapatkan karma atas apa yang dia lakukan.


Edwin dan Elvin menyaksikan apa yang dilakukan oleh anak buah ayahnya. Morgan sengaja membiarkan kedua putranya melihat karena mereka adalah penerusnya di masa depan. Mulai dari sekarang, mereka sudah harus belajar bagaimana menjadi pemimpin nanti agar mereka tidak memiliki rasa takut. Mereka pun harus belajar agar tidak memiliki rasa belas kasihan pada musuh dan pada orang yang sudah begitu berani mengganggu orang yang mereka sayangi kelak.


"Ampuni aku, Eliana. Ampuni aku. Aku tahu aku salah jadi ampunilah aku!" pinta ibu tirinya memohon. Kedua tangannya benar-benar remuk, kakinya pun demikian.


"Apa kalian berdua puas, Boys? Apa lagi yang dia lakukan pada kalian?" tanya Morgan pada kedua putranya.


"Balas mereka, Dad. Balas mereka yang sudah mengganggu Mommy!" teriak Edwin.


"Lanjut, Dad. Lanjut!" sorak Elvin pula.


"Boys, seharusnya kalian tidak melihat hal ini karena kalian masih kecil. Ayo keluar dengan Mommy," ajak Eliana.


"Tapi Mommy tidak bisa berjalan," Elvin memegangi tangan ibunya dan menatap ibunya dengan ekspresi wajah sedih.


"Tidak apa-apa, Mommy bisa merangkak keluar jadi ayo. Kalian tidak boleh melihat adegan seperti ini!"


"Jangan tinggalkan Daddy, Eliana!" teriak ayahnya. Jika Eliana pergi, dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya.


"Untuk apa kau berteriak seperti itu? Kau sudah meninggalkan aku dengan Mommy begitu lama jadi kau tidak perlu berteriak seperti itu karena kau'lah yang meninggalkan kami!" sekalipun ayahnya memohon, dia tidak akan peduli karena jika tidak ada Morgan, dia pasti sudah dijual oleh ayahnya saat ini bahkan mereka tidak ragu meminta pria tua itu untuk menidurinya demi sebuah bisnis.


"Masalah itu dan saat ini berbeda, apa kau tega melihat Daddy dipukul oleh mereka?" tanya ayahnya. Dia harap Eliana berbelas kasihan dan membiarkan dirinya pergi mengingat hubungan mereka sebagai ayah dan anak.


"Pertanyaan itu juga aku berikan pada Daddy tadi tapi apa yang terjadi? Tidak saja melempar aku dengan benda berat tapi Daddy juga menampar wajahku bahkan tidak mencegah istri Daddy yang luar biasa itu menginjak kakiku jadi aku akan bersikap seperti yang telah Daddy lakukan padaku dan sekarang, seandainya perusahaan Daddy dibuat bangkrut dan kedua tangan juga kaki Daddy dipotong pun aku tidak akan berbelas kasihan. Daddy yang mulai duluan, Daddy yang ingin menjual aku dengan pria tua itu bahkan ingin meninggalkan aku dengannya agar dia bisa meniduri aku jadi terima saja akibatnya!" amarah kembali menguasai hati Eliana.


Jika kedua kakinya tidak sakit saat ini maka dia akan mendekati ayahnya dan memukulnya sampai puas. Ayahnya memang pantas karena dia sudah begitu keterlaluan.


"Jangan, Eliana. Seandainya perusahaan itu bangkrut lalu bagaimana kami hidup?" teriak ibu tirinya. Jika sampai bangkrut, dari mana dia mendapatkan uang untuk mengobati kedua kaki dan tangannya.


"Maaf sekali, Aunty. Seperti kalian yang tidak mempedulikan aku maka aku pun tidak akan mempedulikan kalian meskipun dia adalah ayahku!"

__ADS_1


"Maafkan kami, Eliana. Kami berjanji tidak akan mengganggumu lagi setelah ini!" teriak ibu tirinya.


"Apa yang terjadi pada ibumu bukan kesalahanku, Eliana!" ayahnya masih berusaha membujuk.


"Dan yang terjadi pada kalian saat ini adalah ulah kalian sendiri, bukan kesalahanku!" Eliana memutar balikkan perkataan ayahnya.


Morgan tersenyum, yeah... wanita memang harus begitu, harus melawan dan Eliana melakukannya dengan baik karena jika sampai Eliana bermurah hati pada mereka bertiga, maka dia akan pergi dan tidak akan membantu Eliana lagi.


"Katakan padaku, Eliana. Apa yang kau ingin aku lakukan pada mereka bertiga?" tanya Morgan.


"Terserah kau saja, Morgan. Tapi kali ini jangan di depan anak-anak."


"Edwin dan Elvin memang harus melihat agar mereka belajar karena mereka yang akan menggantikan aku nanti!"


"Tapi mereka masih anak-anak, Morgan. Tidak seharusnya mereka menyaksikan adegan kekerasan jadi aku akan membawa mereka pergi dari sini!"


"Baiklah jika itu yang kau mau, kita pergi dan yang akan menghukum mereka adalah anak buahku!" ucap Morgan. Dia tidak mau berdebat dengan Eliana apalagi itu bukan di rumah.


"Sayang sekali, Dad. Dia bukan suamiku jadi nikmati saja waktumu!" ucap Eliana.


"Apa? Bagaimana mungkin?" ayahnya tampak tidak percaya.


"Kalian semua, pukul mereka berdua sampai babak belur. Jika perlu potong kedua kaki mereka, tidak perlu ragu. Aku juga ingin perusahaan mereka bangkrut dalam waktu dua belas jam!" perintah Morgan pada anak buahnya.


"Jangan lakukan, Tuan Barnes. Aku tidak tahu apa pun, mereka yang menawarkan wanita itu demi bisnis. Aku tidak tahu dia wanita milikmu karena jika aku tahu, aku tidak akan pernah mau!" teriak pria tua yang tidak menyangka akan terlibat dalam masalah besar akibat menginginkan Eliana.


"Jika aku tidak datang maka kau sudah menyentuhnya oleh karena itu aku tidak peduli karena kau sudah bersekongkol dengan mereka!"


"Aku benar-benar tidak tahu, jadi maafkan aku!" teriak pria tua itu.


"Mereka milik kalian jadi lakukan sesuka hati kalian!" perintah Morgan.

__ADS_1


Senjata api disimpan, kini yang ada di tangan adalah sebuah tongkat besi. Anak buah Morgan tampak bersemangat, mereka mulai mengelilngi dua pria yang belum mendapatkan pelajaran sambil memukul-mukulkan tongkat di tangan.


Morgan menghampiri Eliana, sudah saatnya membawa Eliana dan kedua putranya pergi dari tempat itu. Teriakan ayah Eliana dan ibu tirinya masih terdengar, begitu juga teriakan pria itu yang memohon agar dilepaskan. Ayah Eliana masih memohon pada putrinya agar Eliana bermurah hati namun Eliana masih saja tidak peduli.


"Tidak keberatan aku menggendongmu pergi?" tanya Morgan.


"Daddy tidak perlu sok sopan!?" ucap Edwin.


"Benar, Daddy sudah melakukannya tadi!" ucap Elvin pula.


"Ck, Daddy hanya basa basi saja!" ucap Morgan dengan nada tidak senang.


"Terima kasih sudah datang menolongku," ucap Eliana.


"Ada imbalannya, Eliana. Jangan lupakan tapi sekarang, aku akan membawamu ke rumah sakit!" ucap Morgan seraya menggendongnya.


"Daddy selalu meminta imbalan!" goda kedua putranya.


"Sttss, ini bisnis orang dewasa!"


"Bagaimana, Mom? Apa Daddy sudah keren?" tanya Edwin.


"Tidak begitu, tapi boleh juga!" jawab Eliana.


"Hei, apa maksud perkataanmu?" Morgan tampak tidak senang.


"Daddy tidak keren karena ada benjolan!" teriak Elvin.


"Ck, sial!" umpat Morgan sambil melangkah pergi membawa Eliana.


Eliana terkekeh, sedangkan Edwin dan Elvin mengikuti ayah mereka sambil tertawa. Mereka pun keluar dari ruangan itu dan meninggalkan ketiga orang yang di mana dua dari mereka mulai berteriak karena anak buah Morgan sudah memukul mereka. Tidak ada  yang berbelas kasihan, pria tua itu dan ayah Eliana mendapatkan ganjaran dari apa yang telah mereka lakukan.

__ADS_1


Setiap bagian tubuh mendapatkan pukulan, kedua kaki dan juga tangan tidak luput dari tongkat besi namun semua itu tidak cukup karena setelah ini, mereka akan mengalami kebangkrutan.


__ADS_2