
Surat perjanjian yang dibuat oleh Morgan sendiri di simpan dengan baik oleh Eliana. Edwin dan Elvin tidak mengetahui masalah itu. Lagi pula Eliana melakukannya untuk mencari aman karena dia masih ragu dengan Morgan. Cinta yang pria itu miliki bisa saja palsu apalagi untuk orang yang tidak menginginkan pernikahan. Mencari aman untuk diri sendiri tidaklah salah karena dia tidak mau menjadi pecundang saat ditendang keluar.
Sudah beberapa hari berlalu semenjak kesepakatan mereka dibuat, hari ini adalah hari pernikahan mereka. Pernikahan yang akan diadakan dengan begitu sederhana. Tidak ada tamu undangan karena mereka memang tidak mengundang siapa pun.
Edwin dan Elvin sudah terlihat tampan dengan tuxedo berwarna hitam. Dasi kupu-kupu melengkapi penampilan mereka berdua. Mereka akan berangkat sebentar lagi karena mereka menunggu ibu mereka yang sedang didandani oleh seorang penata rias yang diundang ke rumah.
Eliana tampak gelisah sedari pagi, bagaimanapun perasaan takutnya masih ada apalagi dia akan menikah dengan pria kasar dan arogan. Pastinya tidak ada satu wanita pun yang mau menikah dengan pria seperti itu. Dia harap keputusannya tidak salah.
Kedua putranya sudah menunggu dengan tidak sabar, mereka menunggu di sisi ranjang sambil membicarakan sesuatu. Tentu yang mereka bahas adalah nama adik perempuan yang mereka inginkan. Mereka berdua bahkan berdebat untuk hal itu. Eliana tersenyum mendengarnya dan dia tahu, dia harus mengabulkan keinginan kedua putranya yang menginginkan seorang anak perempuan.
Morgan yang sudah selesai mengerjakan sesuatu pun masuk ke dalam kamar. Setelah menikah mereka akan berangkat ke Australia sesuai dengan keinginan Eliana. Dia harus kembali untuk mengenalkan Edwin dan Elvin pada mendiang ibunya dan juga mengurus bisnis yang dia tinggalkan.
"Apa belum selesai?" pertanyaan Morgan menghentikan perdebatan Edwin dan Elvin.
"Sebentar lagi, Dad. Mommy belum selesai!' teriak Edwin.
"Jadi, apa yang kalian ributkan sedari tadi?" Morgan menghampiri kedua putranya dan duduk di sisi mereka berdua.
"Kami sedang mencari nama untuk adik kecil," jawab mereka.
"Oh, ya? Apa kalian sudah mendapatkan nama yang bagus?" tanya ayahnya lagi.
"Tentu saja, Dad. Namanya adalah Sunny," jawab Edwin.
"Tidak, namanya Kimberly!" teriak Elvin.
"Sunny!" teriak Edwin.
"Tidak, namanya harus Kimberly!" teriak Elvin tidak mau kalah.
"Oke, stop berdebat!" cegah ayahnya.
"Kimberly, Dad. Nama adik perempuan harus Kimberly!" rengek Elvin.
"Tidak boleh, namanya harus Sunny!" Edwin pun merengek.
"Jangan berdebat, adik perempuannya belum ada. Bagaimana jika yang kalian dapat adik laki-laki?"
"Tidak mau, kami tidak mau!" teriak mereka serempak.
"Jadi kalian tidak mau jika mendapat adik laki-laki?"
__ADS_1
"Tidak, harus adik perempuan!" jawab Edwin.
"Wah, Daddy tidak bisa berkata apa-apa jika begitu!" Morgan angkat tangan karena itu di luar kehendaknya.
"Boys, apa kalian bisa mengambilkan Mommy air minum?" pinta Eliana karena dia sangat haus.
"Akan kami ambilkan!" Edwin dan Elvin berlari keluar untuk mengambil air minum yang ibunya inginkan.
Eliana sedang mengenakan gaunnya yang sederhana, dia tidak membutuhkan gaun yang mewah karena baginya yang membuat pernikahan mereka berhasil bukan acara pernikahan yang megah, bukan pula dari gaun mewah yang dia gunakan tapi semua itu dari mereka berdua yang akan menjalani rumah tangga mereka nantinya.
Morgan menghampiri Eliana dan berdiri tidak jauh, tatapan matanya tidak lepas dari sosok Eliana yang tampak sempurna di matanya saat ini. Rasanya sudah sangat ingin meraih pinggang Eliana dan mencium bibirnya tapi dia harus bisa menahan diri karena si penata rias itu belum selesai membantu calon istrinya menggunakan gaun.
Edwin dan Elvin yang sudah mendapatkan air kembali ke dalam kamar. Mereka menghampiri ibu mereka dengan hati-hati agar air yang mereka bawa tidak tumpah.
"Wah, Mommy cantik sekali!" teriak Elvin.
"Benarkah?" tanya Eliana.
"Benar, apa Daddy tidak memuji?" Edwin melihat ke arah ayah mereka begitu juga dengan Elvin.
"Daddy akan memuji Mommy di tempat lain!" ucap Morgan sambil berdehem.
"Daddy curang!" teriak si kembar.
"Ini air yang Mommy mau," Edwin memberikan air yang dia bawa dan begitu penuh.
"Terima kasih, Sayang," gelas minuman diambil, Eliana menghabiskan minuman yang diambilkan kedua putranya terlebih dahulu sebelum penampilannya dirapikan.
"Nona, ada yang mencarimu di luar," ucap Violet yang sedang berdiri di depan pintu.
"Siapa?" tanya Eliana heran. Siapa yang mencarinya padahal dia tidak memiliki kenalan?
"Pria itu berkata jika dia adalah ayahmu."
"Daddy?" Eliana melihat ke arah Morgan.
"Biar aku yang menemuinya, kau lanjutkan saja!" ucap Morgan. Pria itu pun keluar dari kamar, beraninya ayah Eliana datang ke rumahnya?
"Siapa, Mom?" tanya Edwin dan Elvin.
"Tunggu di sini baik-baik, jangan keluar. Kalian paham?" pinta Eliana pada kedua putranya.
__ADS_1
Edwin dan Elvin mengangguk, Eliana keluar dari kamar dengan terburu-buru. Ayahnya berada di luar sana dan sedang memohon pada Morgan. Eliana berdiri di depan pintu untuk melihat apa yang terjadi. Dia merasa apa yang dia lakukan saat ini tidaklah benar. Dia tahu ayahnya salah tapi sebagai seorang anak tidak seharusnya dia berbuat jahat pada ayahnya.
Eliana segera berlari keluar untuk menghampiri Morgan. Pria itu tampak tidak senang karena ayah Eliana begitu berani menghampiri kediamannya.
"Pertemukan aku dengan Eliana, pertemukan aku dengannya!" teriak ayahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Dad?" tanya Eliana sinis.
"Eliana, Daddy ingin bicara denganmu!" ayahnya terlihat senang. Pria itu duduk di sebuah kursi roda dan terlihat compang camping.
"Apa yang ingin Daddy bicarakan?" tanya Eliana sinis tapi sesungguhnya dia tidak tega melihat keadaan ayahnya yang seperti itu.
"Daddy ingin meminta maaf padamu, Eliana. Memang semua yang terjadi pada ibumu adalah kesalahan Daddy, tidak seharusnya Daddy menolak membantumu saat itu dan tidak seharusnya Daddy menjualmu demi uang jadi maafkan Daddy." pintanya,
"Yang berlalu, biarlah berlalu. Sekarang katakan padaku, apa yang Daddy inginkan? Kenapa sendirian saja, mana istri Daddy?"
"Dia sudah pergi, kau lihat keadaan Daddy? Daddy sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi jadi sekarang Daddy yang meminta belas kasihan darimu tapi tolong jangan membalas Daddy dengan apa yang telah aku lakukan padamu dulu," pinta ayahnya memohon.
Eliana diam saja, jika mengingat apa yang terjadi di masa lalu memang terasa menyakitkan tapi semua jalan yang dia tempuh membawanya berada di sana. Tidak ada kehidupan yang berjalan sesuai dengan rencana, di setiap kejadian pasti ada hikmah di baliknya dan dia, tidak bisa berlaku lebih kejam lagi meski pun mengingat perlakuan buruk ayahnya padanya. Bagaimanapun dia memiliki dua orang putra, bagaimana jika mereka melihat dan mengikuti apa yang dia lakukan kelak? Meski ayahnya jahat tapi sebuah karma tetap berlaku untuk kelakuan jahat yang akan dia lakukan pada ayahnya.
"Aku tidak memiliki apa pun, Dad. Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" tanya Eliana.
"Daddy membutuhkan tempat tinggal, jangan biarkan Daddy mati di jalanan. Tidak perlu besar, cukup untuk Daddy tinggali saja," pinta ayahnya.
"Aku tidak punya uang yang cukup untuk membeli sebuah rumah untukmu," jawab Eliana karena dia memang tidak punya.
"Daddy mohon padamu, Eliana. Jangan biarkan Daddy mati di jalan!" teriak ayahnya memohon.
"Tidak perlu khawatir, aku akan memerintahkan seseorang membawanya ke panti jompo jika kau mau," ucap Morgan yang sedari tadi hanya mendengar.
"Panti jompo?" Eliana melihat ke arah ayahnya.
"Atau kau mau ayahmu tinggal dengan kita?"
"Tidak, aku tidak mau. Bawa saja dia ke sana, yang penting dia tidak mati di jalanan!" ucap Eliana. Dia rasa itu sudah cukup untuk ayahnya yang sudah membuangnya dulu bersama dengan ibunya.
"Terima kasih, Eliana. Terima kasih!" ucap ayahnya. Setidaknya putrinya masih mau peduli karena hanya Eliana saja yang mau peduli dengannya.
"Bawa dia pergi!" perintah Morgan pada salah seorang anak buahnya.
Eliana sudah melangkah masuk ke dalam, dia tidak mau melihat ayahnya lagi. Morgan pun menyusul, tamu yang tidak terduga tapi apa yang dilakukan oleh Eliana sudah benar. Setidaknya dia masih bermurah hati pada ayahnya lalu bagaimana jika suatu hari ibunya datang untuk menemuinya? Dia rasa tidak mungkin, ibunya tidak mungkin tahu keberadaannya dan dia pun tidak tahu ibunya masih hidup atau tidak.
__ADS_1
Edwin dan Elvin sudah menunggu dengan tidak sabar, permasalahan yang terjadi sudah selesai jadi mereka memutuskan untuk pergi apalagi sudah waktunya. Pernikahan mereka memang sangat sederhana dan disaksikan oleh kedua putra mereka, Eliana dan Morgan dinyatakan sah menjadi suami istri. Senyuman menghiasi wajah, mereka tampak bahagia dan setelah pernikahan sederhana itu, mereka pun berangkat ke Australia.