Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Tidak Terima


__ADS_3

Eliana tersadar dan mendapati dirinya berada di rumah sakit. Rasa perih masih dia rasanya di bagian lambungnya. Eliana bahkan merasa sedikit mual, itu karena efek racun yang masih ada. Kepalanya juga terasa sakit, jarum infus menancap di lengannya.


Tangan mengusap perut dengan perlahan, apa yang dia makan sampai membuatnya seperti itu? Dia tahu jika dia tidak memiliki riwayat sakit lambung sebelumnya. Dugaan jika dia keracunan makanan sangat kuat tapi yang dia makan adalah makanan yang dibuat oleh pelayan.


Eliana beranjak, infus yang menancap di tangan dilepaskan karena dia ingin ke kamar mandi sebentar. Dia merasa tidak memiliki tenaga sama sekali apalagi lambungnya masih terasa perih. Eliana hendak turun dari ranjang ketika suara Edwin dan Elvin terdengar dari luar sana. Kehebohan mereka membuat Eliana tersenyum namun dia masih berusaha untuk ke kamar mandi.


"Mommy, kami datang!" teriak Edwin dan Elvin. Mereka menerobos masuk disusul oleh ayah mereka.


"Apa yang Mommy lakukan? Mommy mau pergi ke mana?" Edwin dan Elvin berlari menghampiri ibu mereka.


"Mommy mau ke kamar mandi sebentar," ucap Eliana.


"Aku akan membantu Mommy," makanan yang mereka bawa diletakkan ke atas meja, Edwin dan Elvin ingin menuntun ibu mereka ke kamar mandi.


"Biar Daddy saja!" Morgan mendekati Eliana dan menggendongnya sebelum Eliana menolak dan protes.


"Tu-Turunkan aku, anak-anak melihat!" Eliana tampak gugup dan tidak nyaman berada di dalam gendongan Morgan.


"Tidak apa-apa, kau bisa terjatuh jadi sebaiknya aku yang membawamu," ucap Morgan tapi sesungguhnya dia ingin menggendong Eliana lagi dan lagi.


"Tapi Edwin dan Elvin melihat. Jangan sampai mereka salah paham."


"Tidak apa-apa, Mom. Mulai sekarang Daddy harus bertanggung jawab dan merawat Mommy yang sedang sakit," ucap Edwin.


"Benar, Daddy harus bertanggung jawab dan merawat Mommy sampai sembuh," kini Elvin yang mengatakan perkataan itu.


"Kau dengar? Anak-Anak meminta aku bertanggung jawab jadi aku akan bertanggung jawab!" diam-diam Morgan tersenyum, Eliana tidak mungkin membantah perkataan kedua putranya.


Eliana memang tidak membantah lagi saat Morgan membawanya menuju kamar mandi, Morgan bahkan membantunya agar tidak jatuh. Edwin dan Elvin tersenyum, itulah yang mereka inginkan. Mereka ingin ayah mereka dekat dengan ibu mereka.


"Daddy sepertinya sangat senang menggendong Mommy," ucap Edwin.


"Benar, Daddy seperti orang dewasa lainnya. Pura-pura tidak mau!"


"Sekarang kita harus memikirkan cara untuk membalas penyihir itu," Edwin naik ke atas ranjang dan duduk di sisinya.


"Apa yang harus kita lakukan, Kakak?" Elvin menyusul.

__ADS_1


"Tidak ada orang yang jahat selain penyihir itu. Dia sudah meracuni Mommy jadi kita harus membalasnya dengan sesuatu yang membuatnya tidak berani lagi datang ke rumah."


'Kita bicarakan nanti, jangan sampai Daddy mendengar!"


Edwin mengangguk, mereka menunggu dengan manis sambil memikirkan cara untuk membalas Camella. Mereka pun tersenyum dengan manis saat ayah mereka keluar dari kamar mandi sambil menggendong Eliana. Sesungguhnya Eliana kembali menolak, dia tidak enak hati dan tidak nyaman tapi Eliana tidak bisa melakukan apa pun saat Morgan kembali menggendongnya keluar dari kamar mandi


"Mommy, bagaimana rasanya digendong oleh Daddy?" tanya Edwin.


"Bi-Biasa saja, tidak ada yang spesial!"


Ekspresi wajah Morgan berubah, lagi-lagi biasa saja. Apa dia sebegitu tidak menariknya bagi Eliana? Rasanya tidak terima karena baru kali ini ada yang bersikap begitu cuek dan dingin pada dirinya.


"Lagi-Lagi Daddy tidak menarik!" goda si kembar.


"Tidak perlu menggoda Daddy!" ucap Morgan kesal.


Eliana diturunkan dengan perlahan, sebaiknya dia mencari tahu kenapa wanita itu begitu cuek dan menganggapnya tidak menarik. Apa Eliana malu? Atau dia sengaja agar dia penasaran pada wanita itu?


"Kenapa kau selalu menganggap aku biasa saja? Apa aku tidak menarik bagimu atau kau sengaja agar aku penasaran padamu?" tanya Morgan.


"Apa maksudmu bertanya demikian?" tanya Eliana pula dengan nada tidak senang.


"Tolong jangan salah mengartikan perkataanku. Bagiku kau memang biasa saja dan tidak menarik karena kau bukan tipe pria idamanku!" ucap Eliana tanpa ragu karena memang pria itu bukan tipe pria idamannya.


Bagaikan petir di siang bolong, Morgan seperti ditolak mentah-mentah oleh Eliana. Rasanya menyakitkan, mengesalkan tapi dia jadi tertantang karena ini kali pertama ada yang menolaknya apalagi secara langsung tanpa menunggu lama.


"Jadi aku bukan tipe pria idamanmu?"


"Memang bukan. Jangan salah paham dengan jawabanku. Aku tidak sedang menarik perhatianmu jadi jangan menganggapnya demikian!"


Morgan memejamkan mata, kesal. Dia ingin kembali melontarkan pertanyaan tapi Edwin dan Elvin sudah mendekati mereka sambil membawa makanan yang mereka buat.


"Mommy, kami membuatkan makanan untuk Mommy," ucap mereka.


"Oh, ya? Apa yang kalian buat?"


"Roti bakar," jawab Edwin dan Elvin.

__ADS_1


Mereka naik ke atas ranjang dan memberikan tempat makan pada ibu mereka. Morgan melangkah mundur, dengan perasaan kesal luar biasa. Dia masih tidak percaya jika dia tidak menarik bagi Eliana. Tatapan matanya tidak lepas dari Eliana, tapi wanita itu tidak mempedulikannya. Sial, sekalipun dia sudah merubah penampilan tapi dia masih saja tidak menarik bagi Eliana.


"Lihat, Mom. Kami buat roti bakar untuk Mommy," Edwin dan Elvin membuka kotak makan dan memperlihatkan roti bakar yang mereka buat dan terlihat gosong.


"Wah, pasti enak," puji Eliana.


"Tentu saja, ayo cepat dimakan. Mommy pasti akan suka!"


Eliana tersenyum, dia tidak bisa mengecewakan kedua anak itu. Eliana menikmati roti bakar yang sudah gosong sebagian, sesungguhnya lambungnya sangat perih setelah memakan roti itu tapi dia diam saja dan berusaha menahan diri.


"Bagaimana, Mom? Apa enak?" tanya Edwin.


"Tentu saja, sangat enak," puji Eliana.


"Besok kami akan membuatkannya lagi untuk Mommy," Elvin tersenyum lebar.


"Mommy menantikannya, Sayang," Eliana masih tersenyum dan menahan diri tapi tidak lama kemudian Eliana memuntahkan roti yang baru saja dia telan.


"Mommy!" teriak si kembar.


Teriakan Edwin dan Elvin menarik perhatian Morgan. Morgan berlari menghampiri dengan terburu-buru, Edwin dan Elvin menangis dengan keras melihat keadaan ibu mereka yang masih juga muntah.


"Mommy, apa roti yang kami buat beracun?" ucap mereka sambil menangis.


"Ma-Maaf," Eliana jadi tidak tega pada si kembar padahal dia sudah berusaha menahannya.


Morgan sudah memanggil dokter untuk melihat keadaan Eliana. Padahal dia sedang melihat rekaman cctv dari ponselnya yang memperlihatkan Camella meletakkan sesuatu ke atas meja. Tidak salah lagi tapi dia belum melihat benda apa yang Camella letakkan.


Edwin dan Elvin masih menangis, Morgan menenangkan mereka. Dokter yang menangani sedang sibuk menangani Eliana yang terbaring tidak bertenaga. Entah racun apa yang dia telan yang pasti racun itu cukup berbahaya.


"Bagaimana keadaan Mommy, Dad?" tanya kedua putranya.


"Dia baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir."


"Apa kita akan membawa Mommy pulang?"


"Tentu saja, setelah ini kita bawa Mommy pulang dan merawatnya di rumah," memang sebaiknya dia membawa Eliana pulang. Lagi pula dia bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk merubah pandangan Eliana agar wanita itu tertarik dengannya.

__ADS_1


Dia tidak terima wanita itu menganggapnya tidak menarik, sungguh dia tidak terima karena dia merasa harga dirinya sedikit terluka. Akan dia buktikan jika dia adalah pria paling menarik dan akan dia buat Eliana menyukai dirinya dan menganggapnya menarik.


__ADS_2