
Eliana sudah dibawa pulang karena permintaan dari Edwin dan Elvin. Mereka meminta hal itu agar mereka bisa merawat ibu mereka di rumah. Eliana tidak keberatan sama sekali apalagi obat yang dia konsumsi mulai menetralkan racun yang ada di tubuhnya tapi yang membuatnya tidak nyaman adalah sikap ayah si kembar yang aneh.
Entah apa yang terjadi pada pria itu, dia sendiri tidak tahu. Entah dia yang keracunan atau Morgan, yang pasti sikap Morgan tiba-tiba berubah drastis. Dia tidak membutuhkan perhatian dari pria itu, sungguh. Eliana sudah protes tapi Morgan yang ingin membuktikan bahwa dirinya menarik, tidak juga berhenti. Dia tidak peduli dengan penolakan yang Eliana lakukan, salahkan wanita itu yang menolaknya secara mentah-mentah apalagi di hadapan kedua putranya.
Eliana menatap pria itu dengan tajam, Morgan tampak cuek dan sibuk meniup bubur yang masih panas. Bubur itu bahkan dia buat sendiri. Padahal dia tidak pernah masak sebelumnya tapi hari ini berbeda, demi mendapatkan pengakuan Eliana dia akan melakukan apa pun. Dia rasa dia sudah gila, apa benar dia melakukan hal itu hanya untuk mendapatkan pengakuan dari Eliana saja? Pertanyaan itu muncul di hati tapi dia tidak mau memikirkannya.
"Untuk apa kau melakukan hal ini?" Eliana bertanya dengan sinis.
"Aku sedang melakukan tanggung jawabku," ucap Morgan.
"Aku tidak perlu tanggung jawab darimu, aku keracunan makanan bukan sakit yang diakibatkan oleh dirimu!" Eliana semakin sinis, sedangkan Morgan semakin tidak terima.
"Aku melakukan apa yang harus aku lakukan, kau berada di sini karena kedua putraku. Jangan sampai terjadi sesuatu padamu sehingga aku disalahkan oleh kedua orangtuamu!"
"Tidak perlu khawatir, tidak ada yang peduli padaku," Eliana berpaling, ekspresi wajahnya seperti memendam kesedihan. Yang dia ingat adalah ibunya, dia tidak peduli pada ayahnya. Eliana bahkan tidak mencari ayahnya setelah dia kembali.
"Kenapa? Apa kedua orangtuamu sudah tidak ada?"
Eliana tidak menjawab, dia enggan membicarakan masalah pribadi apa lagi masa lalunya yang menjadi seorang wanita bayaran. Bisa saja Morgan akan jijik padanya walau pun hal itu tidaklah penting baginya tapi dia malu jika ada yang tahu.
"Pergilah, Edwin dan Elvin membutuhkan dirimu. Jaga mereka baik-baik dan jadilah ayah yang baik untuk mereka. Tolong jangan mengabaikan dan meninggalkan mereka hanya karena seorang wanita!" ucap Eliana. Dia berkata demikian agar Edwin dan Elvin tidak mengalami apa yang dia rasakan dia mana ayahnya tidak peduli sama sekali dengannya.
Morgan tidak mengatakan apa pun, mangkuk bubur diletakkan di atas meja. Eliana masih berpaling, tidak mau melihat ke arahnya.
"Aku akan kembali bersama dengan Edwin dan Elvin," dia rasa Eliana butuh waktu sendiri saat ini. Sebaiknya dia memberikan privasi untuk Eliana dan tidak mengganggunya.
Eliana masih diam tapi ketika pintu kamar tertutup, air mata yang dia tahan pun tumpah. Padahal dia tidak ingin seperti itu, dia tidak mau memperlihatkan kelemahannya pada orang lain. Tidak ada yang boleh iba dengannya, dia tidak mau selemah dulu lagi.
Morgan melangkah menuju kamar kedua putranya yang saat itu baru saja selesai mandi. Edwin dan Elvin sangat heran melihat ayahnya tidak bersemangat.
"Apa yang terjadi pada Daddy?" tanya Edwin.
"Apa Mommy menolak Daddy lagi?" tanya Elvin pula.
"Boys, apa kalian benar-benar menginginkan seorang ibu?" entah kenapa dia bertanya demikian.
__ADS_1
"Tentu saja, Dad. Apa Daddy berniat melamar Mommy?" kedua putranya tampak antusias.
"Bukan begitu, Daddy hanya bertanya. Pergilah temani Mommy, ada yang hendak Daddy lakukan," dia belum memeriksa cctv dengan benar. Dia ingin lihat apa yang diletakkan oleh Camella di atas meja. Mungkin makanan itulah yang mengandung racun dan termakan oleh Eliana.
Edwin dan Elvin keluar dari kamar, mereka berlari menuju kamar ibu mereka. Morgan juga keluar dari kamar kedua putranya namun dia tidak ke kamar Eliana, dia masuk ke dalam ruang pribadinya untuk melihat rekaman cctv dengan teliti. Seperti yang dia lihat sejak awal, Camella berada di dapur dan meletakkan sesuatu.
Camella tidak melakukan gerakan yang mencurigakan, dia hanya meletakkan makanan yang dia bawa lalu duduk di meja makan sampai akhirnya Eliana dan kedua putranya masuk ke dalam untuk makan. Morgan masih memperhatikan, Eliana terlihat mengambil makanan yang diletakkan oleh Camella dan memberikan pada kedua putranya tapi tidak tahu karena apa, Edwin dan Elvin memberikan makanan itu pada Eliana sehingga Eliana yang menikmatinya.
Apakah Camella ingin meracuni kedua putranya tapi yang kena justru Eliana? Entah itu makanan apa karena tidak ada sisanya lagi. Tidak akan dia biarkan Camella setelah ini, apa yang dia lakukan tidak bisa dibiarkan apalagi semua itu menyangkut keselamatan kedua putranya.
Setelah melihat rekaman cctv itu, Morgan keluar dari ruangan. Kali ini dia menghampiri kamar Eliana di mana terdengar suara kedua putranya. Jika tidak ada Eliana, mungkin makanan itu sudah dikonsumsi oleh Edwin dan Elvin. Jika sampai hal itu terjadi, entah apa yang akan terjadi pada kedua putranya.
Morgan masuk ke dalam dan menghampiri mereka. Eliana masih tidak mau melihat ke arahnya, dia tidak tahu kenapa yang pasti dia enggan.
"Aku sudah melihat cctv dan kau keracunan makanan yang dibawa oleh Camella," ucap Morgan.
"Benarkah?" tanya Eliana.
"Yes, kau sempat memberikan makanan itu pada Edwin dan Elvin tapi mereka justru mengembalikannya padamu."
"Sepertinya demikian, ayam yang terlihat tidak enak yang kita berikan pada Mommy," ucap Elvin pula.
"Pantas saja ayam itu tidak enak," ucap Eliana.
"Lain kali jangan di makan jika tidak enak. Aku minta maaf padamu, kau harus mengalami hal ini gara-gara Camella. Aku juga berterima kasih, jika Edwin dan Elvin yang memakannya, aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka saat ini," ucap Morgan.
"Tidak perlu meminta maaf atau pun berterima kasih, dia melakukan hal itu pasti karena tidak suka dengan keberadaanku. Sepertinya sudah waktunya aku pergi dari sini."
"Tidak boleh!" kali ini tidak Edwin dan Elvin saja yang berteriak demikian tapi Morgan juga berteriak sampai membuat Eliana menatap ke arahnya dengan tatapan heran begitu juga dengan kedua putranya.
"Kenap Daddy juga berteriak?" tanya Edwin.
"Hm, Daddy terbawa suasana," dusta Morgan.
"Orang dewasa selalu berbohong untuk menghindari sesuatu!" ucap Elvin.
__ADS_1
"Ck, Daddy tidak bohong. Jangan selalu menyebut orang dewasa, kalian akan mengerti saat sudah dewasa nanti!"
"Kami tidak akan malu-malu seperti Daddy jika sudah dewasa," goda si kembar.
"Malu-Malu apa maksud kalian?"
"Daddy tidak boleh berbohong, jika Daddy suka dengan Mommy katakan saja terus terang."
"Tidak, Daddy hanya penasaran!"
"Wah.. Mommy dengar, Daddy penasaran dengan Mommy," ucap kedua putranya.
"Apa? Hei!" Kenapa dia merasa sedang dikerjai oleh kedua putranya saat ini?
Edwin dan Elvin tertawa, Morgan pun menggeleng karena dia selalu kalah dari kedua putranya. Eliana hanya tersenyum memperhatikan keakraban mereka. Anak-Anak yang menggemaskan tapi dia memang sudah harus pergi dari tempat itu dan menyelesaikan tujuannya.
"Mommy, jangan pergi!" Edwin naik ke atas ranjang dan memeluknya.
"Kami sayang dengan Mommy jadi jangan pergi," Elvin melakukan hal yang sama.
"Tolong jangan pergi dan jangan tinggalkan mereka," pinta Morgan.
"Yang seharusnya pergi adalah penyihir itu!" Edwin duduk di atas ranjang disusul oleh Elvin.
"Daddy, besok undang penyihir itu datang," ucap Elvin.
"Apa yang ingin kalian lakukan?"
"Tentu saja memberikan kejutan untuk penyihir itu."
"Sayang, tidak boleh begitu. Kita tidak boleh membalas apalagi kalian masih kecil," ucap Eliana.
"Kami tidak melakukan apa pun, Mommy. Kami hanya ingin memberikan kejutan saja," ucap Elvin.
"Benar, hanya kejutan," Edwin dan Elvin tersenyum lebar.
__ADS_1
Morgan memandangi putranya dengan tatapan curiga, dia tahu apa yang hendak dilakukan oleh kedua putranya yang nakal. Tidak ada salahnya meminta Camella datang, lagi pula dia ingin menanyakan hal itu padanya. Mungkin sudah saatnya dia mengakhiri hubungan mereka. Apa yang dilakukan oleh Camella sudah keterlaluan, dia juga sudah malas dengannya apalagi saat ini dia sedang penasaran dengan sosok wanita yang ada di hadapannya.