
Malam semakin larut, Eliana sudah berada di dalam kamar bersama dengan Edwin dan Elvin. Morgan berada di dalam ruangannya karena saat itu sang asisten menghubungi dan mengatakan jika dua pelayan yang dia inginkan akan datang esok pagi.
Itu sangat bagus, rumahnya memang sudah kotor. Dia yakin pelayan yang kali ini tidak akan lari karena Edwin dan Elvin tidak akan berbuat nakal namun masalah baru akan segera datang akibat dua pelayan yang akan masuk ke dalam rumahnya. Tentunya dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada mereka nanti.
Setelah selesai berbicara dengan sang asisten, Morgan masuk ke dalam kamarnya. Edwin dan Elvin sedang memijat lengan ibu mereka sambil bercerita. Mereka bertiga sudah begitu dekat, sangat dekat bahkan mereka sudah seperti ibu dan anak pada umumnya.
"Apa sudah selesai, Dad?" tanya Edwin. Mereka belum tidur karena sedang menunggu ayah mereka untuk tidur bersama.
"Tentu saja sudah," Morgan melangkah mendekat dan duduk di sisi ranjang.
"Dengarkan Daddy, besok ada pelayan baru yang akan bekerja di rumah jadi kalian jangan berbuat nakal lagi jika tidak pelayan itu akan pergi. Jika para pelayan itu pergi, siapa yang mau bekerja di rumah kita lagi? Orang-Orang akan tahu kenakalan kalian lalu mereka akan menganggap, Daddy tidak bisa mengajari kalian tata krama dan sopan santun. Apa kalian paham?" semoga kali ini kedua putranta paham dan tidak membuat pelayan baru berhenti seperti yang sudah-sudah.
"Tidak akan, Dad. kami tidak akan berbuat nakal lagi karena ada Mommy," jawab Elvin.
"Bagus, tapi Elvin harus merubah sifat cengeng Elvin!?" ucap ayahnya.
"Kenapa? Aku suka menangis," ucap Elvin.
"Seorang pria tidak boleh menangis, Sayang. Itu sangat memalukan," ucap Eliana.
"Apakah benar, Mom? Apakah menangis itu memalukan?"
"Yes, sebab itu Elvin harus berubah. Seorang pria harus kuat, jika Elvin hanya bisa menangis saja lalu bagaimana Elvin bisa menjaga orang yang Elvin sayangi nanti?"
"Jika begitu mulai sekarang Elvin tidak mau menangis lagi. Elvin mau menjadi kuat agar Elvin bisa menjaga Mommy dari orang jahat!" ucap Elvin.
"Good, itu baru laki-laki," Eliana mengusap kepala Elvin dan memberikan ciuman di dahi.
"Mommy belum mencium aku!" ucap Edwin.
"Kemarilah, Mommy akan menciummu," setelah mencium Elvin, Eliana juga mencium Edwin.
Morgan tersenyum, kedua putranya benar-benar patuh pada Eliana. Itu bagus, benar-benar bagus. Sekarang mereka akan menjadi anak yang baik berkat Eliana.
"Kenapa Daddy tersenyum seperti itu?" tanya Edwin yang sedang memandangi ayahnya. Tidak saja Edwin, Elvin juga memandangi ayahnya begitu juga Eliana.
__ADS_1
"Sepertinya Daddy juga ingin dicium oleh Mommy," ucap Elvin.
"Apa, tidak!" jawab Morgan.
"Ayo, Dad. Jangan malu. Mommy pasti akan memberikannya jika Daddy meminta," ucap si cengeng yang sudah bertekad untuk tidak menangis.
"Oh tidak, Boys. Mommy tidak mau!" tolak Eliana.
"Kenapa tidak mau, Mom? Mommy mau mencium kami tapi kenapa tidak dengan Daddy?" tanya Edwin.
"Benar, Mom? Kenapa tidak mau?"
Eliana jadi seperti tersangka yang ditatap oleh kedua anak yang sangat ingin tahu kenapa dia tidak mau mencium ayah mereka. Morgan berdehem, kedua putranya benar-benar pintar. Pipi kanan di dekatkan dan di tepuk, Eliana bisa memulai jika mau dan tentunya dia mendapat tatapan tajam dari Eliana.
"Tidak, Sayang. Kalian berbeda jadi Mommy tidak mau mencium Daddy kalian!" semoga saja Edwin dan Elvin paham dengan apa yang dia ucapkan.
"Apanya yang berbeda? Kami sama-sama laki-laki," ucap Edwin.
Oh, tidak. Eliana kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan kedua putranya karena dia tahu, Edwin dan Elvin pasti memiliki sejuta jawaban atas alasan yang dia berikan.
"Ayo, Mom. Jangan pilih kasih, Daddy sudah menunggu."
"Jangan melompat seperti itu, Elvin!" cegah Morgan padahal dia juga berharap.
"Kami tidak akan berhenti sebelum Mommy mencium Daddy!" tentunya mereka melakukan hal itu karena mereka ingin ayah dan ibu mereka semakin dekat.
"Oke, stop. Berhenti sekarang karena kalian bisa muntah!" ucap Eliana.
"Cium Daddy dulu, maka kami akan berhenti."
"Benar, Mom. Lihat Daddy sudah menunggu, apa Mommy tidak kasihan?"
Eliana melihat ke arah Morgan sambil menahan tawa, sedangkan pria itu menatap kedua putranya dengan tajam. Kenapa dia jadi begitu menyedihkan akibat perkataan kedua putranya?
"Baiklah, baik. Tapi berhenti melompat jika tidak, Mommy tidak akan melakukannya sama sekali."
__ADS_1
Edwin dan Elvin berhenti melompat, mereka berdua duduk dengan manis menunggu Eliana mencium ayah mereka. Eliana jadi canggung, akibat diperhatikan oleh mereka seperti itu. Morgan yang sudah menunggu pun sudah tidak sabar, pipi bagian kanannya sudah didekatkan ke arah Eliana.
"Bi-Bisakah kalian menutup mata?" pinta Eliana pada si kembar.
"Kenapa, Mom? Kami ingin melihatnya," ucap Edwin.
"Ayolah, bukan adegan yang pantas ditonton oleh anak-anak. Lagi pula Mommy malu," ucap Eliana.
"Baiklah, kami tidak akan mengintip!" Edwin dan Elvin menutup mata mereka menggunakan telapak tangan mereka yang kecil.
"Ayo cepat, Mom," pinta Elvin.
"Mommy tahu, tutup saja mata kalian baik-baik!"
Eliana melotot ke arah Morgan yang sudah menunggu. Pria itu tersenyum, sebuah ciuman akan dia dapatkan lagi tapi dia tidak mau di pipi, dia mau di tempat lain. Eliana sudah mendekatkan wajah mereka, siap mencium pipi Morgan tapi dia tidak menduga karena Morgan tiba-tiba berpaling sehingga bibir mereka berdua saling beradu. Eliana terkejut, kedua mata melotot.
Eliana hendak mendorong tubuh Morgan tapi sayang, pria itu sudah meraih tengkuknya lalu bibir Eliana sudah berada di dalam mulutnya. Eliana memukul bahu Morgan, sungguh curang. Morgan bahkan menghisap bibirnya karena dia rasa hal itu sulit terulang kembali.
"Sudah apa belum?" tanya Edwin dan Elvin.
"Sudah!" jawab Morgan yang sudah melepaskan bibir Eliana. Senyuman kemenangan menghiasi wajahnya, sedangkan Eliana kesal setengah mati.
"Wah, apa yang Daddy lakukan? Kenapa bibir Mommy tiba-tiba jadi merah?" tanya Edwin sambil berteriak.
"Tidak ada, kami tidak melakukan apa pun!" buru-buru Eliana menutup mulut lalu satu tangan mencubit paha Morgan secara diam-diam. Morgan menahan sakitnya dalam diam, dia pun berusaha menahan tangan Eliana namun cubitan yang diberikan oleh wanita itu benar-benar sakit. Eliana melepaskan cubitannya setelah sebuah memar berada di sana, balasan yang setimpal.
"Jika begitu ayo kita tidur!" Edwin dan Elvin yang sudah mengambil posisi di tengah.
"Hei, Daddy kira?" ucapan Morgan terhenti karena tatapan mata tajam Eliana.
"Apa yang kau kira?" tanya Eliana galak.
"Daddy sudah mendapat ciuman dari Mommy jadi sudah tidak boleh dekat-dekat lagi!" ucap kedua putranya.
Morgan memijit pelipis, jika dia tahu akan jadi seperti ini maka dia lebih memilih tidur dekat dengan Eliana agar dia bisa melakukan apa pun tapi sekarang, jarak mereka cukup jauh dan itu menyebalkan.
__ADS_1
"Ayo tidur!" teriak Edwin dan Elvin.
Eliana berbaring, dia tidak peduli dengan tatapan Morgan. Walau pun tidak bisa dekat dengan Eliana namun dia sudah mendapatkan bibirnya dan lain kali, dia akan mendapatkannya lagi. Kebersamaan itu sudah cukup tapi itu adalah kebersamaan mereka sebelum badai datang menghancurkan hubungan mereka.