
Edwin dan Elvin sedang bersiap-siap pergi ke sekolah pagi itu. Sekarang, mereka sudah tidak berbuat nakal lagi sehingga mereka sudah tidak perlu ditemani lagi saat pergi ke sekolah.
Semenjak ada adik bayi, mereka pun menjadi kakak yang baik oleh sebab itu mereka melakukan apa pun sendiri tanpa bantuan ibu mereka. Lagi pula ibu mereka sedang sibuk mengurus adik bayi jadi mereka lebih tahu diri lagi.
Seragam sekolah sedang dikenakan, Edwin dan Elvin sibuk di dalam kamar. Bekal mereka disiapkan oleh Violet, sekarang hanya dia sendiri yang dipercaya oleh Morgan.
Eliana yang baru saja menyusui Eleanor keluar dari kamar karena dia ingin melihat kedua putranya apakah ada yang perlu dia bantu atau tidak. Senyuman menghiasi wajah Eliana ketika melihat Edwin sedang membantu adiknya memakaikan dasinya.
"Pakai yang benar, kita harus selalu terlihat tampan," ucap Edwin.
"Tanpa menggunakan dasi pun kita sudah tampan, Kakak," ucap Elvin.
"Tapi dengan dasi kita akan semakin terlihat tampan!"
"Hm, apa yang kalian bahas?" tanya Eliana yang pura-pura tidak mendengar apa yang kedua putranya bicarakan.
"Mommy, apakah kami sudah tampan!" tanya Elvin yang sudah berlari mendekati ibunya.
"Bagaimana dengan penampilan kami, Mom?" tanya Edwin pula.
"Kedua putra Mommy sangat tampan," puji Eliana.
"Tentu saja mereka tampan, siapa dulu ayahnya," ucap Morgan bangga yang masuk ke dalam kamar.
"Daddy tidak tampan!" teriak Edwin.
"Benar, yang menganggap Daddy tampan hanya penyihir itu saja!" teriak Elvin.
"Apa? Enak saja!" protes Morgan.
"Kalian benar," ucap Eliana sambil tertawa.
"Enak saja!" Morgan meraih pinggang Eliana dan merapatkan tubuh mereka berdua.
"Apa aku masih tidak tampan di matamu?" tanyanya.
"Tidak, wajahmu masih saja pas-pasan seperti dulu!" goda Eliana.
"Apa?"
"Ha.. Ha.. Ha.. Ha..., Daddy memang tidak tampan!" teriak kedua putranya sambil tertawa.
"Baiklah, baik. Daddy tidak tampan!"
Eliana tertawa melihat suaminya marah. Edwin dan Elvin keluar dari kamar karena mereka mau sarapan. Eliana menghampiri Morgan yang mengambil tas kedua putranya, dia hanya menggoda suaminya saja.
"Aku hanya bercanda," ucap Eliana seraya mengusap wajah suaminya.
"Aku tahu," tas Edwin dan Elvin terlepas, Morgan meraih pinggang Eliana dan mendaratkan sebuah ciuman di pipinya.
__ADS_1
"I love you," bisiknya sambil mencium pipi Eliana tanpa henti.
"Aku baru mendengarmu mengucapkan perkataan ini," kedua tangan Eliana sudah melingkar di leher Morgan. Benar, dia baru mendengar Morgan mengucapkan kata-kata itu.
"Benarkah?" Morgan memandangi wajah istrinya. Apa dia belum pernah mengungkapkan perasaannya pada Eliana.
"Jika aku tidak salah ingat," jawab Eliana.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan mengatakannya siang dan malam."
"Benarkah?"
"Yes, asal kau tidak bosan nantinya!" ucap Morgan, satu jarinya sudah berada di bibir Eliana dan mengusapnya dengan pelan.
"Jadi?" tanya Eliana. Dia menantikan suaminya mengucapkan kata cinta itu karena dia ingin mendengarnya.
"I love you," Morgan menunduk dan memberikan kecupan lembut di dahi Eliana.
"I love you," kini kecupannya mendarat di pipi Eliana.
"I Love you, Eliana. Forever," ucapnya seraya mengecup bibir Eliana dengan lembut.
"Me too," ucap Eliana.
"Benarkah? Apa aku tidak salah dengar?" Morgan seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Oh, aku sangat senang mendengarnya!" Morgan memeluk Eliana dengan erat dan kembali berkata, "Aku mencintaimu, Eliana. Aku begitu mencintaimu sampai seperti ini. Terima kasih telah mencintai aku, terima kasih sudah mau menikah denganku dan terima kasih kau mau menjadi ibu dari anak-anakku!"
Eliana tersenyum, Morgan benar-benar berubah dan tidak menunjukkan sisi arogannya lagi bahkan Morgan benar-benar menunjukkan cinta yang dia miliki.
"Terima kasih," ucap Eliana.
"Stt," Morgan melonggarkan pelukan mereka, mereka berdua pun saling pandang dengan senyum kebahagiaan menghiasi wajah.
"I love you," Morgan kembali mengucapkan perkataan itu sebelum mencium bibir istrinya. Kedua mata Eliana terpejam, mereka berciuman dengan mesra cukup lama sampai suara Edwin dan Elvin yang sudah selesai sarapan terdengar.
"Mommy, adik bayi menangis!" teriak si kembar.
"Oh, tidak. Gara-Gara kau, aku jadi melupakan Eleanor!" ucap Eliana.
"Hei, kenapa jadi gara-gara aku?" Morgan tidak mau disalahkan
"Gara-Gara kau mencium bibirku begitu lama!"
"Kau mulai duluan!" Morgan mengambil tas kedua putranya dan bergegas namun sebelum mereka keluar dari kamar, mereka berdua saling pandang lalu kembali berciuman lagi.
Suara tangisan Eleanor terdengar nyaring, Eliana dan Morgan melangkah keluar dari kamar dengan terburu-buru. Edwin dan Elvin sudah berada di dalam kamar untuk menenangkan adik mereka yang menangis.
"Adik bayi bau, Mom!" ucap Elvin.
__ADS_1
"Benar, adik bayi sangat bau!"
"Adik bayi mau mandi, apa kalian sudah selesai?"
"Tentu saja, Mom," ucap kedua putranya.
"Baiklah, sudah saatnya pergi. Jangan sampai terlambat!" Eliana mengambil tas yang dibawa oleh Morgan dan membantu kedua putranya mengenakan tas mereka.
"Jadilah anak baik, tidak boleh nakal di sekolah. Oke?" ucap ibunya.
"Mengerti, Mom!" jawab si kembar
"Bagus!" ucap Eliana seraya mencium dahi kedua putranya.
"Adik yang bau, Kakak mau pergi ke sekolah dulu," Elvin mencium dahi adiknya yang manis.
"Adik begitu bau jadi kakak tidak mau mencium adik terlebih dahulu!" ucap Edwin.
"Edwin," Eliana menatap putra sulungnya dan memberikan isyarat agar Edwin mencium adiknya.
"Baiklah," dengan terpaksa Edwin memberikan ciuman untuk adiknya yang bau.
"Kami pergi dulu, Mom," Edwin dan Elvin berpamitan pada ibu mereka dan memeluk ibu mereka dengan erat.
"Jaga diri baik-baik, ingat jangan nakal."
"Tentu saja!" jawab si kembar dan setelah itu Edwin dan Elvin memberikan ciuman untuk ibu mereka.
"Aku pergi dulu," Morgan pun berpamitan pada istrinya karena dia yang akan mengantar kedua putranya.
"Hati-Hati," ucap Eliana.
Sebelum pergi, Morgan mencium dahi dan bibir istrinya. Eliana tersenyum dan melambai sebelum kedua putra dan suaminya keluar dari kamar.
"Bye, adik yang bau!" teriak Edwin dan Elvin.
"Boys, jangan memanggil adik kalian seperti itu!" ucap Morgan.
"Adik bayi bau, Dad. Jadi adik bayi lebih pantas diberi julukan adik bau!"
"Kalian tahu, dulu kalian lebih bau!" ucap ayahnya.
"Apa? Tidak mungkin!" teriak Edwin dan Elvin.
"Apa kalian tidak percaya? Saat ini adik bayi lebih wangi dari pada kalian dulu!"
"Tidak!" teriak Edwin dan Elvin.
Eliana tersenyum mendengar pembicaraan Edwin dan Elvin dengan ayah mereka. Dulu dia tidak tahu bagaimana masa kecil kedua putranya, dia tidak tahu siapa yang mengurusi mereka tapi sekarang, dia memiliki kesempatan untuk membesarkan anaknya sendiri dengan kedua tangannya dan tentunya bersama dengan kedua putra kembarnya dan juga suami yang mencintainya.
__ADS_1