
Tidak bisa tidur, itu yang dialami oleh Morgan. Sakit kepala luar biasa kembali dia rasakan akibat kurang tidur. Morgan tampak kacau, hari yang berat. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan saat dia bangun, Morgan terkejut dan bergegas. Kedua putranya harus pergi ke sekolah, sarapan pun belum dibuat tapi kenapa tidak ada suara sama sekali? Apa kedua putranya masih tidur?
Morgan bergegas keluar, tidak mungkin kedua putranya yang nakal tidak berisik sama sekali apalagi mereka berdua sedang melakukan aksi demo akibat kepergian Eliana. Morgan melangkah menuju kamar, di mana Edwin dan Elvin tidur.
"Boys, wake up!" Morgan memanggil sambil mengetuk pintu. Tidak ada respon, suara mereka pun tidak terdengar.
"Boys," Morgan kembali memanggil, pintu kamar coba dibuka dan ternyata berhasil karena sudah tidak dikunci. Morgan melangkah masuk, tidak ada siapa pun di dalam kamar tersebut.
"Edwin, Elvin!" teriaknya. Morgan berlari menuju kamar mandi, kedua putranya pun tidak ada di sana. Kini dia mulai panik. Morgan keluar dari kamar dan berlari menuju dapur. Dua gelas kosong bekas susu berada di atas meja, juga dua potong roti tawar yang tidak habis. Setelah melihat itu Morgan berlari keluar, jangan-jangan kedua putranya sudah pergi.
"Ke mana kedua putraku?" tanyanya pada penjaga yang ada di depan gerbang.
"Tuan muda sudah pergi ke sekolah!" jawab sang penjaga.
Morgan melangkah mundur, kenapa kedua putranya tidak membangunkan dirinya? Apa mereka benar-benar membenci dirinya? Morgan kembali ke dalam dengan perasaan kacau, jangan katakan kedua putranya memusuhi dirinya saat ini. Tidak bisa, dia akan menjemput kedua putranya. Jangan sampai kedua putranya benar-benar membenci dirinya.
Dia segera pergi mandi dan ke sekolah, pesan dari Eliana pun teringat ketika dia memarahi Eliana dan memutuskan untuk mengusir wanita itu karena dia menganggap Eliana terlalu banyak ikut campur dengan urusannya. Setelah dia pikir, memang yang dikatakan oleh Eliana sangat benar. Pagi ini, Edwin dan Elvin pergi tanpa mempedulikan dirinya jadi jangan sampai hubungannya dengan kedua putranya jadi menjauh.
Morgan tiba saat jam istirahat. Dengan alasan hendak memberikan makanan pada kedua putranya karena dia tahu Edwin dan Elvin pasti tidak membawa bekal, Morgan meminta seorang penjaga memanggil mereka keluar agar dia bisa bertemu dengan Edwin dan Elvin.
Seperti yang terjadi sebelumnya, Edwin dan Elvin jadi anak pendiam. Mereka hanya diam saja tanpa melakukan apa pun. Meski sudah diajak bermain oleh teman-temannya tapi mereka tidak mau dan hanya di dalam kelas tanpa melakukan apa pun. Sang penjaga yang mencari mereka pun tidak mengalami kesulitan untuk bertemu dengan kedua anak itu, si kembar tampak lesu dan tidak bersemangat sama sekali.
"Boys, ayah kalian mencari dan menunggu kalian di luar," ucap penjaga itu.
"Katakan kami sedang sibuk," jawab Edwin.
"Pergilah temui, ayah kalian menunggu."
"Kami tidak mau!" Edwin dan Elvin beranjak dan berlari pergi.
Sang penjaga pun kebingungan, mau tidak mau dia pergi karena Edwin dan Elvin tidak mau menemui ayah mereka. Morgan tampak heran karena penjaga itu kembali seorang diri, ke mana kedua putranya?
__ADS_1
"Kenapa kau tidak kembali bersama dengan mereka?" tanya Morgan.
"Maaf, Tuan. Mereka tidak mau."
Morgan tidak mengatakan apa pun, apa kedua putranya benar-benar memusuhi dirinya? Lagi-Lagi pertanyaan itu muncul dihati tapi seharusnya Edwin dan Elvin tidak membenci dirinya karena bukan dia yang mengusir Eliana. Belum, dia belum mengusir Eliana tapi wanita itu sudah pergi.
Walau kedua putranya tidak mau menemuinya, Morgan pun menunggu sampai Edwin dan Elvin kembali. Keceriaan si kembar benar-benar sirna, Morgan bisa melihat dari ekspresi wajah mereka yang sedih saat mereka berdua keluar dari sekolah. Edwin dan Elvin yang biasanya senang melihat dirinya, kini tidak menunjukkan hal itu sama sekali.
"Kenapa pergi sekolah tanpa sepengetahuan Daddy?" tanya Morgan basa basi namun si kembar tidak menjawab.
"Masih tidak mau berbicara dengan Daddy?" dia kembali bertanya tapi yeah... lagi-lagi dia diabaikan oleh kedua putranya.
"Kenapa kalian tidak mau menjawab?" kini dia mulai membentak.
"Kakak, aku lelah," ucap Elvin.
"Ayo kita pulang!" si kembar melangkah melewati ayah mereka. Morgan benar-benar kesal, dia segera melangkah mendekati kedua putranya dan meraih tubuh mereka berdua.
"Kita harus bicara!" ucap ayah mereka seraya melangkah menuju mobil dan mendudukkan kedua putranya ke dalam mobil.
"Tidak mau dengan Daddy, kami tidak mau!" teriak Edwin dan Elvin.
"Diam!" bentak Morgan.
Edwin dan Elvin pun diam, mereka beringsut ke sisi lain sambil membuang wajah. Morgan segera meminta sang supir membawa mereka pulang, kali ini mereka memang harus bicara..
"Kenapa kalian berperilaku seolah-olah sedang memusuhi Daddy?" Morgan menatap ke arah kedua putranya yang masih juga tidak menjawab.
"Tidak perlu diam seperti ini, apa kalian akan melakukannya sampai kalian besar?"
"Daddy jahat telah memisahkan kami dengan Mommy," ucap Edwin.
__ADS_1
"Apa alasanmu berkata demikian? Apa kalian mendengar Daddy mengusirnya pergi? Apa kalian melihat Daddy memintanya untuk pergi?" tanya Morgan.
"Jika bukan karena Daddy, lalu kenapa Mommy pergi?" tanya Elvin.
"Boys, dia hanya orang asing dan dia memiliki kehidupannya sendiri. Dia mengikuti kita karena dia tidak tega dengan kalian jadi memang sudah saatnya dia pergi karena tidak mungkin dia tinggal selamanya dengan kita," jelas ayahnya.
"Daddy tidak perlu berbohong, Mommy pasti akan mengatakan pada kami jika dia mau pergi," si cengeng mulai menangis.
"Benar, sebelum Mommy pergi sikap Mommy dan Daddy sudah aneh jadi Daddy jangan membohongi kami meskipun kami masih kecil," Edwin pun menangis.
"Jadi kalian mau apa? Dia yang pergi tanpa sepengetahuan kita, jadi kalian ingin Daddy bagaimana?"
"Kami ingin Daddy mengajak Mommy untuk tinggal bersama lagi," ucap kedua putranya.
"Tidak bisa, Daddy tidak bisa melakukan hal itu!" tolak Morgan. Dia tidak mungkin merendahkan diri untuk pergi mencari Eliana dan memohon padanya agar mau tinggal dengan mereka lagi.
"Jika begitu jangan pedulikan kami, anggap kami tidak ada!" ucap Edwin.
"Apa maksudmu berkata demikian?"
"Setelah kami sudah dewasa, kami yang akan pergi mencari Mommy dan tidak akan pernah kembali lagi!" ucap Elvin pula.
"Jangan coba-coba melakukan hal itu," entah kenapa kenangan saat dia ditinggalkan olah ibunya teringat.
"Setelah kami dewasa, kami tidak akan mempedulikan Daddy. Kami akan melakukan hal itu karena Daddy tidak mempedulikan keinginan kami!"
"Apa kalian berani?"
"Kenapa tidak, kami masih kecil dan tidak berdaya tapi setelah kami dewasa kami akan pergi mencari Mommy!" ucapan yang dilontarkan oleh Edwin tidak terdengar seperti ancaman biasa. Morgan tidak bertanya lagi namun tatapan matanya tidak lepas dari kedua putranya yang tidak mau melihat ke arahnya. Apa benar kedua putranya akan pergi meninggalkan dirinya setelah mereka dewasa hanya gara-gara hal ini saja?
Mereka tidak mengatakan apa pun lagi sampai mereka tiba. Edwin dan Elvin turun dari mobil dan masuk ke dalam tanpa mempedulikan ayah mereka. Si kembar pun masuk ke dalam kamar dan mengurung diri. Morgan berdiri di depan pintu dengan perasaan kacau. Apa putranya benar-benar akan melakukan apa yang dia ucapkan?
__ADS_1
Morgan melangkah menuju ruang tamu, duduk di sana dan termenung sedangkan Edwin dan Elvin menangis karena mereka merindukan ibu mereka.