Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Akal Licik Si Kembar Nakal


__ADS_3

Camella terbangun dari pingsannya di sebuah ruangan yang tampak asing. Seorang perawat berada di sana untuk menjaganya. Camella masih mencari tahu apa yang telah terjadi dengannya sehingga dia bisa berakhir di tempat itu, dia tampak diam cukup lama namun pada akhirnya dia jadi tahu jika dia baru saja berada dari rumah hantu.


"Anak-Anak nakal sialan!" umpat Camella seraya bangun dari tidurnya.


"Hati-Hati, Nyonya. Kau baru saja pingsan," ucap sang perawat yang ada di dalam ruangan itu.


"Nyonya... Nyonya, apa aku sudah seperti seorang Nyonya-Nyonya?" teriak Camella kesal.


Camella segera beranjak dan keluar dari ruangan itu, dia tidak peduli sang perawat masih mencegah. Ternyata dia masih berada di taman bermain, anak-anak nakal yang benar-benar harus diberi pelajaran. Tapi dia tahu kedua anak itu pasti sudah menipu ayah mereka, tidak akan dia biarkan sekalipun Morgan akan memarahi dirinya nanti gara-gara kedua anak nakal itu.


Camella mencoba menghubungi Morgan, dia rasa mereka masih berada di taman bermain. Dia akan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi namun sayangnya Morgan tidak mau menjawab panggilan darinya. Dia dan kedua putranya juga Eliana sudah tidak berada di taman bermain lagi. Morgan mengajak mereka untuk pergi makan malam setelah selesai dari wahana biang lala.


Eliana melangkah agak jauh dari Morgan, dia bahkan berjalan di belakang pria itu karena dia merasa Morgan menatapnya dengan tatapan tidak menyenangkan. Entah kenapa pria itu melihatnya dengan tatapan mencurigakan yang pasti dia tidak senang sama sekali. Sepertinya dia sudah harus pergi dari mereka, lagi pula dia tidak boleh membuang waktunya begitu banyak dan melupakan tujuan.


Akan dia utarakan saat makan, semoga saja Edwin dan Elvin mengijinkan dirinya pergi sehingga dia fokus mencari Ray atau Grace yang tidak tahu berada di mana. Dia bahkan tidak tahu mereka masih hidup atau tidak mengingat mereka berdua sudah tua.


Sebuah restoran yang ada di sebuah hotel mewah menjadi tujuan. Dari sana mereka bisa memandangi indahnya kota Paris pada malam hari. Menara Eiffel terlihat indah dari restoran tersebut. Edwin dan Elvin menarik Eliana dan mengajaknya untuk melihat pemandangan kota tersebut. Mereka yang bersemangat, tidak saja ibu mereka yang diajak, ayah mereka pun tidak luput dari ajakan mereka.


Morgan tampak enggan tapi dia tidak bisa menolak dan pada akhirnya dia pun berdiri di sisi Eliana untuk melihat pemandangan kota, sedangkan Edwin dan Elvin berada di sisi lain dan terdengar begitu heboh. Rasanya jadi aneh, jika bersama dengan kekasih mungkin akan terasa romantis namun yang berada di sisinya saat ini bukanlah kekasihnya.


Morgan melirik ke arah Eliana, wanita itu tampak termenung seperti memikirkan sesuatu. Memang yang sedang dia pikirkan saat ini adalah kedua putranya. Di kota Paris yang begitu luas, di mana dia harus mencari mereka? Kemungkinan si tuan muda itu sudah pindah pun sangatlah besar. Itu bisa saja terjadi karena dia tidak bisa menemukan keberadaan Ray dan Grace.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Morgan basa basi.


"Tidak ada, setelah ini aku rasa aku sudah harus pergi!"


"Kenapa? Apa kau tidak senang tinggal dengan kami?"


"Bukan begitu, aku tidak bisa terlalu lama karena ada urusan yang harus aku lakukan!" Eliana sedikit bergeser karena dia merasa tidak nyaman.


"Mereka tidak akan mengijinkan dirimu pergi. Kau tahu itu, bukan?"


"Apa yang sebenarnya terjadi pada ibu mereka?" Eliana melihat ke arah Edwin dan Elvin, perasaan iba memenuhi hatinya. Sungguh dia tidak tega pada kedua anak itu.


"Hm, meninggal saat melahirkan mereka," dusta Morgan.


"Benarkah?" rasa iba kembali dia rasakan. Ternyata nasib Edwin dan Elvin tidak jauh berbeda dengan kedua putranya yang tidak merasakan kasih sayang seorang ibu setelah dilahirkan.


"Yeah... sebab itu merindukan sosok ibu mereka. Jadi aku harap kau tidak pergi meninggalkan mereka begitu cepat," pinta Morgan.


Eliana masih memandangi Edwin dan Elvin, napas berat pun dihembuskan. Dia tahu mereka tidak akan mengijinkan dia pergi tapi dia benar-benar tidak bisa terlalu lama untuk tinggal dengan mereka.

__ADS_1


"Aku akan membujuk mereka nanti!" ucap Eliana seraya melangkah mendekati Edwin dan Elvin.


"Boys, apa sudah selesai? Kalian belum makan," ucapnya.


"Mommy, kemarilah!" teriak Elvin.


Eliana mendekati mereka sambil tersenyum, sedangkan Morgan mengikutinya dari belakang. Edwin menarik tangan ibunya untuk mendekat, sedangkan Elvin menarik tangan ayahnya untuk mendekat. Si kembar bahkan meminta digendong oleh Morgan dan Eliana.


"Apa kalian senang hari ini?" tanya Morgan.


"Tentu saja, Dad. Untuk pertama kali kami sangat senang karena kami seperti memiliki Mommy," ucap Elvin.


"Benar, Dad. Kami tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya," ucap Edwin sebelumnya.


"Bagus, kau dengar? Jadi jangan tinggalkan mereka dan tinggallah bersama kami untuk beberapa saat," pinta Morgan pada Eliana.


"Kenapa? Apa Mommy mau pergi?" tanya si kembar.


"Aku tidak bisa tinggal terlalu lama dengan kalian, Sayang. Mommy harus pergi karena ada urusan yang harus Mommy lakukan."


"Tidak boleh, Mommy tidak boleh pergi!" Edwin memeluknya dengan erat.


"Kami tidak akan membiarkan Mommy pergi!" rengek si cengeng pula yang hampir menangis.


"Mommy janji?" tanya Edwin.


"Yes, tapi untuk kali ini saja."


"Kenapa?" tanya Edwin dan Elvin, tatapan mata mereka tidak berpaling dari Eliana.


"Hm, Mommy harus kembali ke Australia untuk menikah," dusta Eliana. Dia kira si kembar akan bertanya lagi tapi nyatanya tidak. Mereka bahkan diam saja saat makan, entah apa yang sedang mereka pikirkan yang pasti mereka berdua seperti sedang memikirkan sesuatu.


Edwin dan Elvin pura-pura tidur selama di perjalanan kembali, mereka juga tidak bangun saat pakaian mereka digantikan namun mereka terbangun setelah Eliana dan Morgan meninggalkan mereka berdua. Edwin dan Elvin duduk di atas ranjang, mereka pun saling pandang.


"Bagaimana ini, Kakak? Mommy akan kembali ke Australia dan menikah," ucap Elvin.


"Jika Mommy menikah, maka Mommy tidak bisa menjadi Mommy kita lagi!" ucap Edwin pula.


"Aku tidak mau hal itu terjadi, Kakak. Kita harus berusaha mendekatkan Mommy dan Daddy."


"Aku tahu," Edwin tampak berpikir sebentar lalu sebuah ide muncul di otak liciknya.

__ADS_1


"Aku punya ide," Edwin pun berbisik pada adiknya. Elvin mengangguk tampak setuju, mereka bisa menjalankan rencana mereka malam ini juga. Elvin berbaring sesuai dengan rencana, Edwin pun mencubit lengannya dengan keras agar adiknya menangis.


Teriakan Elvin terdengar juga tangisannya. Tentu saja tangisannya membuat Morgan terkejut begitu juga dengan Eliana yang sedang berada di kamar lain. Eliana segera berlari keluar begitu juga dengan Morgan. Mereka berlari menuju kamar si kembar karena khawatir dengan keadaan Edwin dan Elvin.


"Apa yang terjadi?" teriak Morgan.


"Daddy, aku takut!" teriak Elvin.


"Ada apa? Kenapa kau menangis seperti ini?" Morgan segera menghampiri si cengeng.


"Elvin baru saja mimpi buruk, Dad. Aku bahkan terkejut mendengar teriakannya," jelas Edwin tentunya itu hanya sebuah tipuan saja.


"Itu hanya mimpi buruk, tidak perlu takut seperti itu," Morgan berbaring di sisi Elvin untuk menenangkan tangisan putranya.


"Aku ingin tidur dengan Daddy dan Mommy," ucap Elvin.


"Daddy yang akan menemanimu tidur, oke?"


"Tidak mau, aku takut kembali bermimpi buruk! Aku ingin tidur dengan Mommy dan Daddy!" Elvin mulai menendang dan meronta.


"Ayo, Mom. Elvin paling takut dengan mimpi buruk," Edwin memandangi ibunya dengan tatapan memohon.


"Baiklah, tapi hanya untuk sebentar saja," Eliana beranjak dan berbaring di sisi Elvin. Edwin pun berbaring di sisinya yang berbeda, tentunya semua sudah sesuai dengan rencana.


"Sekarang tidur," perintah Morgan.


"Aku ingin Mommy dan Daddy menciumku," pinta Elvin.


Morgan menatap si cengeng dengan tatapan curiga, jangan katakan ada ide licik dibalik itu semua. Setelah memandangi Elvin, Morgan memandangi si sulung yang pura-pura tidur di sisi Eliana.


"Baiklah, sekarang tidur," Morgan mencium dahi Elvin tapi bukan itu yang Elvin mau.


"Aku ingin Mommy dan Daddy menciumku secara bersamaan!" pintanya.


"Apa? Jangan keterlaluan!" ucap Morgan kesal.


"Sudahlah, hanya menciumnya saja jadi jangan dipermasalahkan!" ucap Eliana.


Morgan menghela napas, semoga tidak ada akal licik. Elvin sudah siap mendapatkan ciuman dari ayah dan ibunya, Morgan dan Eliana pun sudah siap mencium Elvin. Si cengeng tidak saja siap mendapat ciuman tapi dia juga sudah siap untuk menjalankan rencana. Morgan dan Eliana sudah akan mencium pipi Elvin namun Elvin langsung beringsut ke bawah dengan terburu-buru sedangkan Edwin mendorong Eliana.


Eliana terkejut, Morgan pun demikian. Mata mereka melotot dalam jarak yang begitu dekat. Tubuh mereka berdua membeku karena bibir mereka berdua saling beradu saat itu.

__ADS_1


"Berhasil!" sorak Edwin dan Elvin secara serempak.


Eliana dan Morgan segera menjauh, Eliana menutupi mulutnya dan tampak linglung. Apa yang baru saja terjadi? Morgan menatap tajam kedua putranya yang sedang bersorak senang karena misi mereka berjalan dengan lancar. Sudah dia duga, setelah ini mereka akan mendapatkan hukuman karena telah berani menipu dirinya.


__ADS_2