
Camella tampak was-was, suara ponsel yang berbunyi selalu membuatnya takut. Gara-Gara meletakkan dua potong ayam beracun itu yang telah membuatnya takut. Seharusnya tidak dia lakukan, jujur saja membuatnya takut dan dia menyesal telah meletakkan ayam beracun itu.
Entah siapa yang telah memakan dua potong ayam tersebut, dia harap bukan Morgan dan juga bukan kedua putranya karena dua potong ayam itu memang untuk Eliana. Dia benci dengan wanita yang hadir secara tiba-tiba itu. Sebab itu'lah dia ingin memberikan pelajaran pada Eliana tapi makanan yang ada di atas meja bisa dimakan oleh siapa saja.
Setelah memikirkan hal ini, Camella jadi takut dan menyesali perbuatannya. Bagaimana jika yang makan ayam itu adalah Edwin dan Elvin? Dia memang ingin membalas dua anak nakal itu tapi dia hanya akan memberikan obat pencuci perut saja, bukan racun. Ayam itu pun bisa dimakan oleh Morgan, bisa celaka jika sampai hal itu terjadi. Walau racun yang dia gunakan bukanlah racun mematikan tapi efeknya cukup membuat seseorang berakhir di rumah sakit.
Camella melangkah mondar mandir, tatapan matanya jatuh pada ponsel yang ada di atas meja. Apakah dia harus menghubungi Morgan dan mencari tahu apa yang telah terjadi? Tidak, bagaimana jika sudah terjadi sesuatu lalu Morgan murka dan mengakhiri hubungan mereka?
Dia sungguh tidak mau hal itu terjadi. Ketika meletakkan makanan beracun itu dia melakukannya tanpa pikir panjang tapi sekarang, dia benar-benar menyesali apa yang dia lakukan karena dia merasa tindakan yang dia lakukan terlalu gegabah. Seharusnya dia menggunakan cara elegan untuk menyingkirkan wanita asing itu.
Camella mengumpat, yang terjadi biarlah terjadi. Lagi pula dia terlalu bodoh karena sudah gegabah dan sudah salah mengambil langkah. Ponsel yang ada di atas meja diambil, dia akan menghubungi Morgan dan pura-pura tidak terjadi apa pun. Jika dia tidak menghubungi Morgan sama sekali maka dia akan semakin menunjukkan kejahatan yang telah dia lakukan.
Camella mengira Morgan tidak mau menjawab panggilan darinya tapi nyatanya tidak. Pria itu pun tidak terdengar marah. Camella merasa lega, sepertinya aman.
"Morgan, aku.. aku benar-benar minta maaf padamu. Aku tidak tahu jika itu bantal milikmu," ucap Camella basa basi. Sebisa mungkin dia tidak mengungkit masalah makanan beracun, dia akan berpura-pura tidak mengetahui apa pun akan hal itu.
"Sudahlah, tidak perlu di bahas!" ucap Morgan. Sesungguhnya dia ingin marah tapi dia sedang menahan diri.
"Apa kau tidak marah padaku?" perasaan lega memenuhi hati apalagi Morgan tidak membicarakan masalah makanan yang beracun. Dia harap tidak ada yang memakan dua potong ayam itu sehingga posisinya tetap aman.
"Apa dengan memarahimu kau bisa mengembalikan bantal itu lagi? Aku ingin marah tapi sepertinya tidak berguna karena kau sudah membuangnya."
"Aku benar-benar minta maaf, Morgan. Aku akan membelikan yang baru untukmu jadi aku harap kau tidak marah lagi padaku."
__ADS_1
"Sudah aku katakan, tidak perlu di bahas. Besok datanglah, makan malam dengan kami!"
"Aku masih boleh datang?" tanya Camella dengan nada senang.
"Kau kekasihku, kenapa tidak boleh datang? Aku bukan orang yang perhitungan hanya untuk sebuah bantal saja, jadi tidak perlu dibahas lagi masalah bantal lagi!"
"Oh, Morgan. Aku sangat senang mendengarnya. Aku kira kau masih marah padaku. Aku pasti akan datang besok, aku tidak akan melewatkan kesempatan ini," Camella benar-benar senang. Dia tidak menduga sama sekali jika Morgan sudah memaafkan dirinya dan dia juga tidak menduga soal makanan beracun itu tidak dibahas sama sekali oleh Morgan.
Camella melompat girang, besok dia akan memakai baju terbaik yang dia miliki. Dia juga akan berdandan dengan cantik. Sebotol anggur dan ayam kalkun panggang akan menyempurnakan malam mereka. Kali ini dia tidak akan gegabah lagi, dia tidak akan melakukan kesalahan dan harus bertindak hati-hati. Dia bisa selamat dari kelalaian yang telah dia lakukan, maka keberuntungan masih berada di pihaknya karena Morgan tidak membahas dua potong ayam itu, dia benar-benar lega tapi dia tidak tahu ada maksud tersembunyi dari sikap Morgan yang tidak marah padanya.
Ponsel diletakkan ke atas meja, Edwin dan Elvin menghampiri ayah mereka dan bertumpu di paha ayah mereka. Tentunya si kembar mendengar apa yang ayah mereka bicarakan. Mereka pula yang meminta ayah mereka untuk mengundang Camella makan malam. Tentunya karena ingin membalas apa yang penyihir itu lakukan pada ibu mereka.
"Bagaimana, Dad? Apa penyihir itu mau datang?" tanya Edwin.
"Kami hanya ingin membalasnya sedikit, Dad," jawab Elvin sambil tersenyum.
"Baiklah, besok Daddy tidak akan mencegah kalian berbuat nakal tapi ingat satu hal, jangan keterlaluan!"
"Tidak akan, kami hanya akan berbuat nakal sedikit!" ucap si kembar. Senyuman lebar menghiasi wajah menggemaskan mereka, sedikit yang mereka maksud tentunya sedikit dalam artian yang luas. Morgan mengusap kepala kedua putranya, kali ini dia tidak akan mencegah. Dia akan membiarkan kedua putranya mengerjai Camella. Lagi pula Camella memang sudah keterlaluan, dia juga ingin mengakhiri hubungan mereka. Dia tidak mau menjalin hubungan dengan wanita yang bisa mencelakai kedua putranya. Tidak hanya itu saja, saat ini dia benar-benar sedang penasaran dengan wanita yang berada di dalam kamar.
"Pergilah tidur, sudah malam," Morgan beranjak dan menggandeng tangan kedua putranya.
"Bolehkah kami tidur dengan Mommy malam ini?" tanya Edwin sambil menatapnya penuh harap.
__ADS_1
"Tidak boleh!" cegah Morgan.
"Kenapa, Dad?" Elvin juga memandanginya.
"Dia sedang sakit jadi jangan mengganggunya, biarkan dia istirahat agar keadaannya cepat sembuh. Kalian tidak mau dia terus berbaring, bukan?"
"Tentu saja tidak, kami ingin Mommy cepat sembuh," ucap Edwin dan Elvin.
"Bagus, sekarang segera tidur."
Si kembar mengangguk dan patuh, mereka sangat ingin ibu mereka sembuh agar mereka bisa bermain dengan ibu mereka lagi. Tanpa perlu diperintah, Edwin dan Elvin menggosok gigi mereka dan setelah itu mereka naik ke atas ranjang.
"Good night, Dad," Edwin memeluk ayahnya dan mencium pipinya.
"Good night," Morgan juga memeluk putranya disusul oleh Elvin. Sungguh, setelah Edwin dan Elvin bertemu dengan Eliana dan setelah wanita itu tinggal bersama mereka, sikap kedua putranya yang biasanya nakal luar biasa sampai membuat sakit kepala tidak ada lagi. Kehadiran Eliana membawa perubahan besar pada kedua putranya.
Morgan menemani kedua putranya sampai mereka tertidur. Dahi Edwin dan Elvin dicium sebelum Morgan keluar dari kamar. Morgan tidak langsung pergi ke kamarnya, dia lebih memilih masuk ke dalam kamar Eliana untuk melihat keadaan wanita itu.
Eliana tertidur pulas, dia tidak tahu jika Morgan berada di dalam dan memperhatikannya begitu lama. Morgan bahkan duduk di sisi ranjang, pandangannya jatuh pada punggung Eliana. Tiba-Tiba dia sangat ingin memeluknya, dia ingin mencobanya. Tanpa ragu Morgan berbaring dengan pelan, dia melakukannya dengan hati-hati agar Eliana tidak terbangun.
Morgan melingkarkan tangannya ke tubuh Eliana. Oh... dia merasa sesuatu yang amat dia rindukan meluap dihati. Entah apa, dia tidak tahu. Morgan jadi enggan beranjak, untuk sesaat saja dia ingin seperti itu. Dia akan pergi setelah merasa cukup tapi sayangnya, dia tidak merasa cukup sama sekali.
Padahal dia melarang kedua putranya untuk tidak tidur dengan Eliana dan mengganggunya tapi justru dia yang ingin tidur dengan wanita itu. Ck.. sepertinya dia sudah gila, wanita asing itu tidak saja menarik perhatian kedua putranya tapi juga sudah menghipnotis dirinya. Sepertinya mereka bertiga akan terjebak dengan wanita yang sama. Apakah ini hanya kebetulan belaka ataukah ada sesuatu di antara mereka sebelumnya? Walau merasa aneh tapi dia tidak mau memikirkannya dan lebih memilih menikmati waktunya.
__ADS_1