
Sunyi dan sepi, itulah yang terjadi di rumah saat ini. Keadaan yang tidak pernah sesunyi itu sebelumnya karena suara teriakan Edwin dan Elvin yang selalu terdengar kini tidak terdengar lagi. Setelah kembali dari sekolah, Edwin dan Elvin tidak keluar dari kamar. Mereka pun tidak bersuara sama sekali.
Morgan sudah mondar mandir memanggil kedua putranya tapi Edwin dan Elvin tidak menjawab. Kedua putranya tidak keluar sama sekali untuk makan, Morgan jadi cemas dengan keadaan kedua putranya oleh sebab itu dia memutuskan untuk membuat makanan. Makanan kesukaan Edwin dan Elvin dia buat, dia harap kedua putranya mau keluar setelah dia membuatkan makanan yang mereka sukai.
Untuk pertama kali, dia membuatkan makanan itu. Kali ini dia benar-benar harus berusaha membujuk mereka dan mengambil hati kedua putranya kembali. Setelah mengacaukan dapur, tiga piring makanan sudah terhidang di atas meja. Kini saatnya memanggil Edwin dan Elvin untuk makan bersama dengannya.
Morgan terlihat puas, makanan pertama kali yang dia buat namun memuaskan. Tidak buruk, dia akan membuatkan makanan untuk kedua putranya selama tidak ada pelayan. Morgan melangkah menuju kamar, saatnya memanggil Edwin dan Elvin dan mengajaknya makan. Pintu kamar diketuk, dia harus bersikap lembut agar kedua putranya mau keluar.
"Boys, Daddy sudah membuatkan makanan kesukaan kalian. Keluarlah, kita makan bersama," ucapnya.
Morgan menunggu jawaban dari mereka, namun Edwin dan Elvin tidak menjawab seperti yang sudah-sudah. Suasana sunyi di dalam, mereka seperti tidak ada di dalam kamar.
"Boys, apa kalian mendengar Daddy?" Morgan mengetuk bahkan berusaha membuka pintu yang terkunci.
Dia jadi curiga karena suasana yang sepi sedari tadi. Jangan katakan jika Edwin dan Elvin melarikan diri melalui jendela. Seharusnya dia curiga dengan kesunyian yang ada karena mereka tidak pernah sediam itu sebelumnya.
"Edwin, Elvin, jangan coba-coba melarikan diri lagi dari rumah!" teriaknya dan setelah itu Morgan berlari menuju lemari di mana kunci cadangan berada di dalam sana. Dia tidak akan membiarkan kedua putranya melarikan diri lagi, tidak akan. Setelah menemukan kunci, dia kembali berlari menuju kamar kedua putranya.
Morgan segera membuka pintu menggunakan kunci cadangan tapi sayangnya tidak bisa dibuka. Umpatan terdengar, mau tidak mau dia mendobrak pintu itu agar terbuka.
"Daddy tidak akan memaafkan kalian jika kalian berani melarikan diri dari rumah lagi!" teriaknya seraya mendobrak pintu menggunakan bahunya. Morgan terus berusaha sampai akhirnya pintu itu terbuka. Dia pun berlari masuk ke dalam, dia kira Edwin dan Elvin tidak ada tapi nyatanya kedua putranya sedang tidur di atas ranjang.
"Bagus, kalian benar-benar nakal. Daddy sudah berteriak sedari tadi tapi kenapa kalian tidak menjawab. Lihat, pintunya rusak. Apa kalian senang membuatnya Daddy seperti ini?" Morgan melangkah menuju ranjang dengan amarah tertahan.
__ADS_1
Dia akan memarahi kedua putranya, mereka berdua sudah keterlaluan hanya untuk seorang wanita asing itu.
"Ayo keluar, Daddy sudah membuatkan makanan kesukaan kalian!" Morgan naik ke atas ranjang tapi ketika melihat kedua putranya yang terlihat aneh, Morgan segera menghampiri Edwin dan Elvin.
"Apa yang terjadi pada kalian?" Morgan menyentuh dahi Edwin dan terkejut karena suhu tubuhnya begitu panas. Dahi Elvin disentuh, hasilnya sama. Suhu tubuh kedua putranya sangat panas, dia benar-benar tidak menyangka kedua putranya mengurung diri di dalam kamar dalam keadaan sakit. Tubuh mereka bahkan menggigil di bawah selimut yang menutupi seluruh tubuh mereka. Morgan menyingkirkan selimut, Edwin dan Elvin berpelukan sambil menggugamkan sesuatu.
"Mommy, kami ingin bersama dengan Mommy. Jangan tinggalkan kami," gumam mereka pelan namun Morgan dapat mendengarnya.
"Apa yang terjadi pada kalian, kenapa tidak mengatakan hal ini pada Daddy?" Morgan hendak menggendong Edwin tapi putranya tidak mau dan mendorong tangan ayahnya.
"Tidak mau, aku mau dengan Mommy," ucap Edwin dengan pelan. Mereka berdua tampak lemah, itu karena mereka tidak makan dengan benar semenjak semalam. Mereka seperti itu pun karena begitu merindukan ibu mereka.
"Jangan membantah, Daddy akan membawa kalian ke rumah sakit!" Morgan kembali menggendong putra sulungnya tapi Edwin kembali menolak.
"Kami ingin Mommy, kami ingin Mommy," Edwin memeluk adiknya dan menangis, Elvin juga menangis dengan keras. Yang mereka inginkan hanya ibu mereka saja.
"Daddy jahat, Daddy jahat!" Edwin meronta saat ayahnya menggendongnya. Elvin pun meronta dan berteriak, dengan sekuat tenaga Edwin dan Elvin menendang dan meronta.
"Daddy jahat, Daddy tidak memikirkan keadaan kami!" Edwin meronta sambil menangis.
"Daddy hanya memikirkan diri sendiri saja, aku benci dengan Daddy!" teriak Elvin pula.
Selama Morgan membawa kedua putranya keluar, mereka menangis tiada henti. Perkataan jika mereka ingin bersama dengan ibu mereka juga selalu terucap. Morgan berteriak pada anak buahnya untuk mengeluarkan mobil karena dia akan membawa kedua putranya ke rumah sakit.
__ADS_1
"Kami ingin bersama dengan Mommy, kami ingin Mommy!" tak hentinya Edwin dan Elvin mengucapkan hal demikian.
Morgan tidak menjawab, untuk pertama kali kedua putranya seperti itu. Edwin masih bisa menangis namun Elvin sudah semakin lemah karena dia yang sakit terlebih dahulu.
"Kakak, jika aku mati kakak harus mencari Mommy dan tinggal dengan Mommy," ucap Elvin.
"Stop, jangan berkata demikian!" teriak Morgan. Dia tidak suka dengan perkataan Elvin yang seperti itu.
"Sebelum aku mati aku ingin bertemu dengan Mommy!" ucap Edwin pula.
"Stop, Boys. Kalian tidak akan mati, jadi jangan mengatakan hal seperti itu!" Morgan kembali berteriak.
"Aku sudah tidak kuat lagi, Kak."
Edwin dan Elvin berpegangan tangan, mereka tidak bersuara lagi. Morgan mulai takut, dia pun membentak sang supir untuk segera bergegas.
"Jangan tinggalkan Daddy, apa pun yang kalian inginkan akan Daddy kabulkan jadi jangan meninggalkan Daddy!" pinta Morgan. Seharusnya dia tidak terlalu keras, seharusnya tidak.
"Kami ingin Mommy," ucap kedua putranya.
"Akan Daddy bawa kembali, Daddy akan mencarinya jadi jangan tinggalkan Daddy!"
Edwin dan Elvin sudah diam, mereka tidak menjawab. Morgan semakin gelisah karena mereka berdua diam saja. Begitu tiba, dia segera berlari ke dalam rumah sakit agar kedua putranya segera ditangani. Dua perawat yang sudah siap segera menangani Edwin dan Elvin. Morgan mengikuti dengan perasaan cemas karena kedua putranya tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya.
__ADS_1
Morgan berhenti di depan ruangan di mana Edwin dan Elvin akan menjalani perawatan. Rasa takut, cemas menjadi satu karena ucapan kedua putranya. Sepertinya mau tidak mau dia harus mencari Eliana, semoga saja Eliana masih tinggal di rumah di mana dia tinggal waktu itu.
Tanpa membuang waktu, Morgan menghubungi anak buahnya untuk memastikan apakah Eliana benar-benar masih tinggal di rumah itu atau tidak. Dia tidak bisa meninggalkan Edwin dan Elvin tanpa ada yang menjaga mereka. Kali ini dia akan mengalah demi kedua putranya, dia akan memohon pada wanita itu jika Eliana tidak mau. Apa pun akan dia lakukan agar Eliana mau tinggal bersama dengan mereka lagi.