
"Maaf, Aunty tidak bisa, " jawaban yang diberikan oleh Eliana sukses membuat tangisan Edwin dan Elvin meledak.
Kepala Morgan terasa mau pecah, kedua putranya berguling di atas lantai dengan tangisan yang tiada henti. Rengekan mereka pun mengiringi suara tangisan mereka sehingga membuat kepala Morgan terasa sakit. Elvin yang memang sudah cengeng pun berteriak tiada henti, Morgan berusaha membujuk tapi pada akhirnya dia menyerah dan membiarkan kedua putranya menangis di atas lantai.
Morgan duduk di sofa, memperhatikan kedua putranya yang tidak juga menghentikan tangisan mereka. Eliana berada di dalam dapur karena dia sedang memasak. Dia menolak karena dia kembali memiliki tujuan yaitu mencari kedua putranya tapi entah kenapa hati kecilnya berkata dia harus mengikuti mereka. Sesungguhnya dia iba dengan Edwin dan Elvin yang menangis tiada henti, namun dia yakin ayah mereka bisa membujuk mereka tapi nyatanya, Morgan pun menyerah.
"Kalian ingin menangis sampai kapan?" tanya ayahnya.
"Kami akan menangis sampai Aunty mau ikut kita pulang!" teriak Edwin. Tentunya teriakannya di dengar oleh Eliana. Sungguh anak-anak yang cerdik, dia yakin mereka berdua hanya pura-pura sakit perut agar bisa pulang untuk menghindari ayah mereka. Buktinya mereka memiliki banyak tenaga untuk menangis.
"Ayolah, Boys. Dia tidak mau. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk tinggal dengan kita jadi jangan memaksa!" ucap ayahnya.
"Pergi bujuk Aunty, Dad," pinta Elvin.
"Apa maksudmu?"
"Benar, jika Daddy yang membujuk, Aunty pasti mau ikut kita pulang," ucap Edwin pula. Edwin merangkak mendekati ayahnya begitu juga dengan Elvin karena mereka akan meminta ayah mereka untuk membujuk ibu mereka agar mau ikut.
"Tidak, jangan melakukan hal yang tidak perlu. Sekarang ikut Daddy pulang!" Morgan hendak beranjak karena dia akan memaksa kedua putranya untuk pulang namun Edwin dan Elvin sudah memegangi kedua kakinya bahkan menduduki kakinya sehingga dia tidak bisa beranjak dari tempat duduknya.
"Lepaskan kaki Daddy, Boys!" pinta ayahnya.
"Tidak mau, tidak akan kami lepaskan sampai Daddy mau membujuk Aunty agar Aunty mau ikut kita pulang!" rengek Edwin.
"Jangan mengada-ada. Daddy tidak bisa!"
"Daddy bohong, Daddy paling pandai merayu wanita jadi Daddy pasti bisa!" ucap Elvin sambil merengek dan menggoyang kaki ayahnya.
"Stop, Elvin. Apa kau kira kaki Daddy batang kayu?"
"Ayolah, Dad. Keluarkan rayuan maut Daddy untuk membunjuk Aunty, please," Edwin dan Elvin memasang wajah semanis mungkin agar ayah mereka bersedia mengikuti permintaaan mereka.
"No!" tolak Morgan.
"Daddy jahat, Daddy tidak sayang dengan kami. Daddy hanya peduli dengan penyihir itu saja!" teriak Edwin, dia kembali menangis dengan keras.
"Aku tidak mau bersama dengan Daddy, aku akan pergi yang jauh sampai daddy tidak bisa menemukan aku!" rengek Elvin, tangisannya tak kalah kencangnya dari tangisan Elvin.
__ADS_1
"Jangan coba-coba, kalian tidak akan bisa lari lagi!"
"Daddy jahat, Daddy jahat!" teriak Edwin dan Elvin. Kedua kaki ayah mereka ditunggangi bagaikan kuda. Morgan memijit pelipis, kedua putranya benar-benar tidak bisa diajak bicara.
"Ayolah, Dad. Bujuk Aunty, pergilah bujuk Aunty!" rengek Edwin.
"Kami berjanji akan menjadi anak baik jika Aunty tinggal dengan kita, kami berjanji tidak akan nakal lagi!" rengek Elvin pula.
"Apa kalian berjanji tidak akan kabur lagi dan membenci pacar Daddy jika Daddy bisa membujuk wanita itu untuk tinggal dengan kita?" tanya ayahnya. Mungkin dengan cara ini Edwin dan Elvin bisa menerima Camella dan dekatnya.
Edwin dan Elvin saling pandang, mereka pun mengangguk seperti ada rencana lain. Yang penting ayahnya bisa membujuk Aunty yang mereka sukai tinggal bersama terlebih dahulu. Masalah penyihir itu urusan nanti.
"Kami janji, Dad. Jika ada Aunty kami akan menjadi anak baik dan tidak akan kabur dari rumah lagi!" jawab Edwin.
"Baiklah, pegang ucapan kalian!"
Edwin dan Elvin menyingkir dari kaki ayah mereka sehingga ayah mereka bisa beranjak. Morgan melangkah menuju dapur, di mana Eliana sedang menyiapkan makanan yang sudah selesai. Eliana melihatnya sekilas lalu kembali menyibukkan diri.
"Apa mereka sudah bersedia untuk pulang?" tanya Eliana.
"Bagaimana jika kalian makan terlebih dahulu sebelum kalian pergi," sela Eliana.
"Hm, sesungguhnya mereka tidak akan pulang jika kau tidak mau tinggal dengan kami," Morgan berpaling melihat putranya yang sedang mengintip dari balik dinding.
"Ayo, Dad. Keluarkan rayuan maut yang Daddy miliki," ucap Edwin sambil berbisik.
"Daddy pasti bisa," ucap Elvin pula.
Morgan menggeleng, kedua putranya benar-benar? Tangisan bahkan sudah tidak terdengar lagi, sungguh luar biasa.
"Maaf, jawabanku tetap sama," jawab Eliana.
"Ayolah, mereka tidak akan berhenti sampai kau mau ikut dengan kami pulang."
"Aku tidak bisa, Tuan."
"Morgan, panggil namaku saja."
__ADS_1
"Hm, aku benar-benar tidak bisa tinggal dengan kalian," Eliana mengulangi ucapannya.
"Dengar," Morgan mendekatinya dan berdiri di sisinya, "Tolong untuk menyetujui hal ini untuk sekarang agar mereka mau pulang. Kau bisa pergi kapan pun setelah kami kembali tapi untuk saat ini, aku harap kau mau bekerja sama dan mengikuti kami pulang," pinta Morgan sambil berbisik agar kedua putranya tidak mendengar.
Mereka berdua saling pandang sesaat. Tiga tahun telah berlalu, waktu yang cukup lama. Pewangi yang mereka gunakan dulu pun sudah tidak digunakan lagi apalagi Eliana baru saja kembali dari Australia, dia tidak mungkin bisa membeli pewangi yang dulu dia sukai. Mereka pun benar-benar tidak bisa mengetahui satu sama lain apalagi mereka tidak pernah bertatap muka sebelumya.
Eliana jadi canggung, dengan cepat pula dia berpaling untuk melihat ke arah Edwin dan Elvin yang masih mengintip dan menatapnya dengan tatapan penuh harap agar Eliana mau ikut mereka pulang.
"Tolonglah, rengekan mereka tidak akan berhenti jika kau tetap tidak mau!" ucap Morgan lagi. Semoga saja wanita itu bersedia.
Eliana menghela napas dan melangkah pergi, sepertinya memang tidak ada pilihan selain mengikuti mereka karena Edwin dan Elvin tidak akan berhenti merengek. Dia akan pergi nanti setelah kedua anak itu sedang tidak ada atau sudah bisa mengijinkan dirinya pergi.
"Boys, ayo makan sebelum pulang," ucapnya.
"Apa Aunty mau mengikuti kami pulang?" Edwin dan Elvin keluar dari persembunyian.
"Jika Aunty menolak, apa kalian mau pulang?"
"Tidak, kami tetap akan tinggal di sini!" jawab si kembar.
"Jika begitu Aunty tidak bisa menolak."
"Jadi Aunty akan ikut kami pulang?" tanya mereka meyakinkan.
"Yeah, kemarilah. Kita makan terlebih dahulu."
"Horee... Aunty akan tinggal dengan kita!" Edwin dan Elvin berlari ke arah Eliana dan memeluk kakinya.
"Kami sayang dengan Aunty," ucap mereka.
Eliana tersenyum, kepala Edwin dan Elvin pun diusap dengan perlahan. Mereka benar-benar anak penuh akal dan menggemaskan sehingga membuatnya tidak tega dengan Edwin dan Elvin.
"Ayo Daddy, kita makan. Makanan buatan Aunty sangat enak!" teriak Edwin.
Morgan tidak menjawab namun kakinya sudah melangkah mendekati mereka yang sudah duduk di meja makan. Untuk pertama kali dia melihat putranya dekat dengan orang asing. Apa bedanya wanita asing itu dengan Camella? Sungguh dia tidak mengerti.
Edwin dan Elvin terlihat begitu senang, rengekan mereka sukses membuat ayah mereka mau membujuk ibu mereka dan rengekan mereka pun sukses membuat Eliana setuju untuk ikut mereka pulang dan tinggal bersama walau Eliana berencana pergi nantinya karena dia harus mencari keberadaan kedua putranya.
__ADS_1