Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Permintaan Si Kembar


__ADS_3

Morgan membawa Eliana ke rumah sakit agar kakinya bisa diobati. Eliana yang lagi-lagi harus digendong merasa tidak nyaman karena dia harus menjadi pusat perhatian apalagi dia masih mengenakan gaun pegantin. Rasanya sangat aneh, benar-benar aneh.


Morgan seperti seorang pangeran berbenjol yang baru saja membawa seorang pengantin kabur dengan dua pengawal cilik di belakang. Mereka benar-benar menjadi pusat perhatian dan tentunya Eliana semakin malu dibuatnya.


Setelah seorang dokter datang untuk memeriksa keadaan Eliana, Morgan dan kedua putranya memilih menunggu di luar karena ada yang hendak mereka bicarakan.


"Apa Mommy akan menginap, Dad?" tanya Edwin.


"Tidak, apa kalian ingin Mommy menginap di sini?" Morgan balik bertanya.


"Tentu saja tidak mau, Dad. Mommy harus pulang agar kita bisa menjaga Mommy," ucap putranya yang cengeng.


"Pintar, kita memang harus membawanya pulang," Morgan tersenyum licik, ini saatnya membuat Eliana terkagum-kagum padanya tentunya dia akan memanfaatkan keadaan Eliana yang tidak bisa berjalan. Sungguh sebuah musibah yang memberikannya keuntungan.


"Tapi ingat satu hal, kalian tidak boleh menggnggu Daddy. Kalian mengerti?"


"Tentu saja, Dad. Sangat mengerti jadi serahkan pada kami tapi kali ini Daddy tidak boleh gagal!" ucap Edwin.


"Aku mau adik perempuan, Dad," rengek Elvin tiba-tiba.


"Hei, apa?" Morgan terkejut mendengar permintaan putra bungsunya.


"Benar, Dad. Kami ingin adik perempuan yang manis dan cantik seperti Mommy," ucap Edwin.


"Boys, kenapa kalian meminta hal ini?" anak-anak yang cepat dewasa sungguh menakutkan.


"Karena teman kami yang bernama James sudah mau memiliki adik perempuan, dia berkata jika mau harus minta dengan Daddy dan Mommy jadi kami juga mau," jelas Edwin.


"Benar, Dad. Kami ingin seperti James. Daddy dan Mommy pasti bisa memberikannya, bukan?" ucap Elvin pula.


Morgan memijit pelipis apalagi kedua putranya memandanginya dengan tatapan penuh harap. Bagaimana dia bisa menjawab? Eliana bukan istrinya, dia mana mungkin mau melakukan hal seperti itu.


"Beri kami adik perempuan, Dad," rengek si kembar.


"Baiklah, baik. Tapi tidak bisa instan. Daddy juga harus berusaha dan Mommy belum tentu mau!"


"Kenapa Mommy tidak mau?" tanya kedua putranya.


"Boys, ini rahasia orang dewasa tapi ingat, jangan mengungkit hal ini di depan Mommy jika tidak dia akan pergi. Kalian paham?" pinta Morgan. Untuk sekarang dia harus berpura-pura akan mengabulkan apa yang kedua putranya inginkan. Lagi pula dia tahu, Eliana tidak mungkin mau karena dia bukan wanita yang bisa diajak tidur dengan mudahnya.


"Baiklah, ini adalah rahasia kita," ucap Elvin.


"Kami tidak akan mengganggu Mommy dan Daddy sampai Mommy memberi kami adik bayi yang manis," ucap Edwin dengan nada bicara yang sedikit keras.


"Stts, pelankan suara kalian. Jika Mommy mendengar, maka habislah kita," ucap Morgan.

__ADS_1


"Ups, sorry," Edwin dan Elvin menutup mulut lalu meletakkan bibir di jari agar tidak ada yang berisik.


Morgan tersenyum, apa dia dan Eliana bisa melakukan hal itu? Semoga saja, dengan begitu keinginan Edwin dan Elvin dapat terwujud. Setelah menunggu beberapa saat, Eliana didorong keluar oleh seorang perawat menggunakan kursi roda.


Edwin dan Elvin segera melompat turun dari atas kursi dan berlari menghampiri ibu mereka. Morgan pun beranjak, Eliana berusaha menghindari tatapan mata pria itu.


"Bagaimana dengan keadaan Mommy?"


"Apa kaki Mommy baik-baik saja?" tanya si kembar secara bergiliran.


"Tentu saja, tapi mulai sekarang Mommy harus menggunakan kursi roda sampai kedua kaki Mommy sembuh."


"Apakah parah?" tanya Morgan.


"Kedua kakinya terkilir, Tuan. Untuk sementara sebaiknya tidak digunakan untuk berjalan terlebih dahulu dan sebisa mungkin jangan terkena air," jelas sang perawat yang mendorong Eliana.


"Bagus, sangat bagus!" ucap Morgan dengan senyuman licik menghiasi wajahnya.


"Apanya yang bagus?" Eliana melotot ke arahnya. Dia curiga ada rencana licik yang hendak dilakukan oleh pria itu.


"Tidak, maksudku memang sangat bagus. Kedua kakimu memang tidak boleh digunakan terlebih dahulu," ucap Morgan sambil tersenyum.


Eliana menatapnya curiga, tiba-tiba dia memiliki firasat buruk. Pria pedendam itu tidak sedang merencanakan sesuatu, bukan?


"Mommy mau makan apa, katakan pada kami," si cengeng pun selalu tidak mau ketinggalan.


"Apa kalian bisa membuat makanan?" tanya Eliana.


"Tentu saja bisa, kami adalah koki paling handal di dunia!" ucap si kembar bangga.


"Tidak, kalian tidak boleh membuat apa pun di dapur!" cegah Morgan. Dia tidak akan lupa bagaimana kekacauan yang diperbuat oleh kedua putranya yang mengakibatkan para pelayannya langsung mengundurkan diri.


"Daddy tidak boleh menghalangi kami bereksperimen!"


"Benar, kami ingin membuat makanan untuk Mommy!"


"Tidak perlu, Daddy yang akan membuatnya. Lagi pula pelayan baru sudah akan datang dua hari lagi jadi jangan mengacau dan ingat, kali ini kalian tidak boleh membuat pelayan itu lari!"


"Baik, Dad," ucap Edwin dan Elvin.


"Tidak perlu sedih, nanti kita buat makanan bersama setelah keadaan Mommy sembuh," ucap Eliana.


"Baiklah, ayo kita pulang," ajak si kembar.


Morgan mendorong Eliana pergi dari rumah sakit. Mulai sekarang, Eliana akan bergantung padanya karena dia tidak akan bisa melakukan apa pun karena kedua kakinya yang sakit. Ini benar-benar keuntungan, walau dia tidak suka Eliana diperlakukan seperti itu tapi dia harus berterima kasih pada ayah Eliana yang kejam.

__ADS_1


Morgan menggendong Eliana dengan senang hati, dengan bersentuhan terus menerus seperti itu, Eliana akan terbiasa dengan dirinya. Sifat galaknya tidak akan ada lagi seiring berjalannya waktu lalu mereka berdua bisa memujudkan keinginan kedua putranya. Semoga saja, tapi dia harus membuat Eliana jatuh cinta terlebih dahulu sebelum mereka melakukan hal itu.


"Ayahku dan istrinya, apa yang terjadi dengan mereka saat ini?" tanya Eliana ingin tahu.


"Apa kau iba dengan mereka, Eliana?"


"Tidak, aku hanya ingin tahu saja bagaimana keadaan mereka setelah dipukuli oleh anak buahmu."


"Anak buahku sudah melempar mereka di jalan, mereka tidak akan bisa melakukan apa pun dan besok pagi, kau akan mendengar perusahaan mereka yang bangkrut."


Eliana tidak bertanya lagi, ayahnya memang pantas mendapatkan hal itu. Seandainya ayahnya tidak berlaku kejam maka dia tidak akan membiarkan ayahnya mengalami hal itu tapi apa yang dilakukan oleh ayahnya saat ini, benar-benar sudah keterlalaun. Seandainya ibunya masih hidup, dia yakin ibunya pun tidak akan memaafkan perbuatan ayahnya yang sudah keterlaluan.


Eliana termenung selama di perjalanan kembali. Edwin dan Elvin tertidur karena mereka memang tidak tidur siang. Suasana sunyi jika tidak ada mereka berdua, Eliana memikirkan banyak hal sedangkan Morgan mnghubungi anak buahnya dan berbicara dengannya.


Perjalanan yang memakan waktu cukup lama karena beda daerah, membuat Eliana pun tertidur. Dia tidak sadar jika mereka sudah tiba. Morgan menggendong Edwin dan Elvin terlebih dahulu dan memabawa kedua putranya masuk ke dalam rumah namun suara pintu mobil yang tertutup membangunkan Eliana.


Eliana melihat sekitar, ternyata mereka sudah sampai. Karena tidak mau merepotkan Morgan, Eliana meminta sang supir untuk mengambilkan kursi roda karena dia akan masuk sendiri tanpa merepotkan siapa pun.


"Tidak ada kursi roda, Nona," ucapan sang supir membuat Eliana bingung dan tidak percaya.


"Tidak mungkin, apa kau tidak membawa kursi roda saat dii rumah sakit?" tanya Eliana.


"Tidak ada, Tuan tidak meminta aku membawa kursi roda atau apa pun," jawab sang supir.


"Apa yang kalian ributkan?" tanya Morgan yang tanpa sengaja mendengar percakapan mereka.


"Apa kau tidak membelikan aku kursi roda atau tongkat?" Eliana menatap Morgan dengan tatapan curiga, jangan-jangan pria itu sengaja.


"Tidak!" jawab Morgan sambil tersenyum.


"Apa? Kenapa? Aku butuh seharusnya kau membelikannya!" Eliana mulai protes, seharusnya dia mencurigai hal itu.


"Kedua benda itu mahal!" Morgan menggendong Eliana tanpa permisi sehingga Elina terkejut dan berteriak, "Lagi pula aku yang akan menggendongmu selama kedua kakimu masih sakit," ucapnya lagi.


"Tidak mau, aku lebih suka merangkak!" teriak Eliana marah.


"Waktunya mandi, Eliana," goda Morgan.


"Apa?" Eliana terkejut dan takut, dia bahkan enggan membayangkan apa yang akan pria itu lakukan.


"Tidak perlu khawatir, aku akan memandikanmu sampai bersih!" senyuman licik menghiasi wajah Morgan sehingga membuat Eliana takut.


"Turunkan aku, Morgan. Turunkan!" pinta Eliana sambil memukul namun Morgan tidak peduli dan membawa Eliana masuk ke dalam kamarnya.


"Saatnya membalas benjolan di dahiku ini, Eliana," ucap Morgan, senyum licik sirna digantikan dengan senyum kemenangan. Eliana mengumpat, kali ini dia benar-benar habis karena dia tidak akan bisa lari dengan keadaan kaki yang seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2