Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Kenakalan Yang Semakin Menjadi


__ADS_3

Sikap Edwin dan Elvin berubah, mereka jadi tidak banyak bicara. Tentunya hal itu membuat guru mereka menjadi heran. Mereka tidak mau menjawab saat ditanya bahkan si kembar hanya diam saja di sisi ruangan tanpa mau melakukan apa pun. Teman-Teman mereka bernyanyi dan menari namun Edwin dan Elvin terlihat sedih tanpa mau mengikuti teman-temannya. Keceriaan yang biasanya mereka tunjukan, sirna begitu saja.


Guru mereka sudah membujuk, untuk tahu apa yang terjadi tapi kedua anak itu tidak mau menjawab sama sekali. Ini pertama kalinya Edwin dan Elvin bersikap seperti itu karena mereka adalah anak yang ceria dan selalu heboh. Karena curiga dengan keadaan Edwin dan Elvin, sang guru pun menghubungi Morgan untuk mengatakan apa yang terjadi. Anak yang tiba-tiba diam tidak boleh diremehkan sama sekali.


Morgan sedang sibuk di kantornya, dia menganggap tidak terjadi apa pun dan baik-baik saja. Apa yang dia lakukan memang tidak salah, lagi pula dia belum mengusir tapi Eliana sudah pergi terlebih dahulu. Dia harap kedua putranya tidak mencari keberadaan Eliana lagi dan melupakan keberadaan wanita itu.


Ponsel yang ada di atas meja berbunyi, Morgan segera menjawab tanpa melihat siapa yang menghubunginya karena dia sedang sibuk melihat pekerjaannya. Suara seorang wanita terdengar, Morgan mengira itu Camella atau yang lainnya tapi ternyata guru kedua putranya.


"Maaf mengganggu waktu anda, Tuan Barnest. Ada hal penting yang hendak aku bicarakan pada anda," ucap guru Edwin dan Elvin.


"Apa yang terjadi, apa kedua putraku berbuat nakal hari ini?" tanya Morgan. Jangan katakan mereka kembali berulah dengan kenakalan mereka berdua.


"Tidak, mereka tidak nakal sama sekali," Morgan sangat lega mendengar perkataan guru kedua putranya, "Tapi mereka berdua tampak aneh. Edwin dan Elvin tidak seperti biasanya, mereka tidak berbicara dengan siapa pun. Mereka hanya menyendiri dan tidak mau bermain dengan teman-temannya," Morgan memijit pelipis setelah mendengar perkataan gurunya itu. Apa sebenarnya yang dilakukan oleh kedua putranya?


"Aku akan berbicara dengan mereka nanti," ucap Morgan.


"Kau memang harus melakukannya, Tuan. Anak yang tiba-tiba menjadi pendiam patut dicurigai."


"Baiklah, aku pasti akan berbicara dengan mereka."

__ADS_1


Napas berat dihembuskan, ponsel pun diletakkan setelah berbicara dengan guru kedua putranya. Dia tahu Edwin dan Elvin sedang bersedih karena kepergian Eliana. Oleh sebab itu mereka tidak mau bergabung dengan teman-teman mereka. Dia yakin mereka akan segera kembali seperti semula setelah beberapa waktu.


Morgan kembali bekerja, dia menganggap Edwin dan Elvin bersikap demikian karena sedang sedih saja akibat ditinggal Eliana. Dia juga yakin kenakalan mereka akan kembali dan memang demikian, setelah dari sekolah, Edwin dan Elvin mulai berulah. Kenakalan mereka semakin menjadi apa lagi tidak ada babysitter yang bisa menenangkan mereka berdua.


Tiga orang pelayan bersembunyi di bawah meja dan ketakutan, sedangkan teriakan Edwin dan Elvin memenuhi rumah. Mereka bermain perang-perangan oleh sebab itu mereka melempar setiap benda yang dapat mereka raih. Para pelayan tidak bisa menenangkan kedua anak nakal yang semakin menjadi, mereka bahkan dijadikan target olah Edwin dan Elvin oleh sebab itu para pelayan itu bersembunyi di bawah meja dan ketakutan.


"Lempar dia, Kak. Lempar!" teriak Elvin. Pintu kulkas sudah terbuka, telur menjadi senjata mereka saat itu untuk melempar para pelayan yang sedang bersembunyi di bawah meja. Dapur sudah berantakan, di luar sudah bagaikan kapal pecah.


"Jangan Tuan muda, jangan!" teriak ketiga pelayan yang sudah bermandikan telur sedari tadi.


"Alien harus dilempar, jadi bersiaplah!" teriak Edwin. Dua telur yang ada di tangan sudah terlempar di susul dengan telur lain yang dilemparkan oleh Elvin. Ketika pelayan menjadi sasaran empuk kenakalan mereka, ketiga pelayan itu pun tidak berdaya.


"Lari, penjahatnya sudah datang!" teriak Edwin dan Elvin, mereka berdua berlari menuju kamar yang di tempati oleh ibu mereka dan mengunci pintu kamar dengan rapat. Mereka sudah memutuskan untuk tidak mempedulikan ayah mereka lagi.


Morgan masuk ke dalam rumah dan terkejut melihat apa yang telah terjadi. Semua berantakan, barang-barang sudah tidak berada di tempatnya bahkan guci yang dia beli dengan hargan mahal pun sudah berantakan di atas lantai. Beberapa piala dan foto yang ada di dalam lemari pun sudah hancur di atas lantai.


"Apa yang telah terjadi?" teriaknya lantang.


Ketiga pelayan yang menjadi korban atas kenakalan kedua putranya keluar dari persembunyian, Morgan terkejut melihat ketiga pelayannya yang berantakan. Tubuh mereka dipenuhi telur, tepung dan juga sereal. Morgan memijit pelipis, dia tahu kenapa mereka bisa seperti itu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanyanya.


"Kami sudah tidak sanggup lagi, Tuan. Hanya Nona Eliana yang bisa meredakan kenakalan Edwin dan Elvin," ucap salah satu pelayannya.


"Jangan mengada-ada. Di mana mereka berdua?"


"Di dalam kamar, Tuan. kami benar-benar tidak sanggup, kami akan mengundurkan diri jika tidak ada Nona Eliana."


"Apa kalian bilang?" Morgan terkejut, setelah babysitter sekarang para pelayannya.


"Ya, Tuan. Kami tidak sanggup bekerja di sini lagi jadi bawalah Nona Eliana kembali. Hanya dia saja yang bisa membuat Tuan Muda tidak berbuat nakal seperti ini," ucap pelayan yang lain.


"Tidak, aku tidak akan membawanya kembali dan kalian tidak boleh berhenti!" cegahnya.


"Jika begitu kami tidak bisa bekerja lagi, seharusnya Tuan tahu jika Tuan Muda hanya patuh pada Nona Eliana," ketiga pelayan itu pun berjalan pergi, mereka sudah membayangkan hari-hari seperti apa yang akan mereka jalani nanti apalagi kenakalan Edwin dan Elvin semakin menjadi. Padahal keadaan sudah damai semenjak ada Eliana tapi keadaan bagaikan mimpi buruk kembali terulang.


"Kalian tidak boleh pergi seenaknya!" teriak Morgan tapi dia tidak bisa mencegah ketiga pelayan yang sudah menyerah akibat kenakalan kedua putranya yang luar biasa keluar dari rumahnya.


Kepala Morgan berdenyut, sakit. Sekarang siapa yang harus membersihkan rumah yang berantakan itu? Kedua putranya benar-benar sudah keterlaluan, dia akan memberikan hukuman pada mereka berdua. Morgan hanya bisa pasrah melihat kepergian ketiga pelayannya. Mereka bahkan pergi dalam keadaan berantakan, lagi-lagi terjadi. Waktu itu babysitter, dan sekarang para pelayan. Memang semenjak kedatangan Eliana semua sudah aman tapi sekarang, belum juga dua belas jam kepergian wanita itu, ketiga pelayannya pergi karena tidak sanggup.

__ADS_1


Tidak, dia tidak boleh bergantung pada wanita asing. Dia pasti bisa menangani kedua putranya tapi dia tahu ini adalah awal dari kenakalan Edwin dan Elvin. Seiring berjalannya waktu, mereka akan semakin dewasa dan kenakalan mereka tidak akan ada lagi tapi apakah dia bisa melewati hari-harinya karena kenakalan kedua putranya? Setelah ini dia akan berbicara dengan kedua putranya tapi sebelum itu, dia harus memanggil jasa pembersih rumah untuk membersihkan seluruh rumah yang berantakan.


__ADS_2