
Beberapa hari telah berlalu, kedua kaki Eliana yang terkilir sudah membaik. Semenjak hari itu, dia tidak melakukan apa pun lagi. Meski Morgan sengaja menyimpan barang berharga yang dia miliki namun Eliana tidak menyentuh dan tidak membuka lemarinya sama sekali meskipun Eliana selalu berada di dalam kamar.
Morgan pun sudah tidak menaruh curiga pada Eliana. Mungkin saat itu Eliana hanya ingin melihat sesuatu saja di dalam lemarinya. Dia merasa jika dirinya terlalu berlebihan terhadap Eliana. Karena Eliana selalu berada di kamarnya membuat sang pelayan baru yang juga menginginkan akta lahir Edwin dan Elvin tidak bisa masuk ke dalam untuk melakukan aksinya.
Liona hanya bisa memendam kekesalan di hati, dia masih berusaha bersabar karena dia sangat yakin kesempatannya pasti akan datang. Yeah... Kesempatannya pasti akan segera datang dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Setelah hari itu pula, hubungan Morgan dan Eliana sudah semakin dekat. Eliana sudah tidak merasa canggung lagi dipeluk oleh Morgan dan tidur dengannya meski mereka tidak melakukan apa pun bahkan dia tidak keberatan sama sekali setiap kali pria itu menciumnya. Entah apa hubungan mereka berdua, dia tidak tahu apalagi Morgan tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Tidak, dia rasa pria seperti Morgan tidak akan mudah mengungkapkan perasaannya tapi sesungguhnya tanpa sepengetahuan Eliana, Morgan ingin memberikan kejutan untuknya malam ini.
Morgan dan kedua putranya berada di sebuah ruangan. Mereka sedang menyusun sebuah rencana untuk nanti malam. Bersama dengan kedua putranya, Morgan mencari restoran terbaik karena mereka akan makan malam bersama dan tentunya dengan sebuah kejutan untuk Eliana.
Eliana tidak tahu sama sekali, dia pun tidak curiga. Eliana berada di dalam kamarnya, dia tidak berani banyak bergerak meski kakinya sudah bisa dia gunakan untuk berjalan. Eliana justru menunggu kabar dari dokter karena dia sudah sangat ingin tahu hasil tes Dna. Apa pun hasilnya, dia harus menyiapkan hati dan jika benar Edwin dan Elvin adalah kedua putranya maka dia akan membawa mereka pergi.
"Di sini saja, Dad," Edwin menunjuk sebuah gambar hotel yang ada di depan layar komputer.
"Aku lebih suka di pantai," ucap Elvin.
"Boys, tentukan yang benar!" pinta Morgan.
"Apa Daddy mau melamar Mommy malam ini?" tanya kedua putranya.
"Apa Daddy harus langsung melamarnya? Apa dia mau?"
"Langsung saja, Dad. Mommy pasti mau," ucap Edwin.
"Benar, Mommy tidak akan menolak!" ucap si bungsu.
Morgan tampak berpikir, apakah benar Eliana akan langsung menerima lamarannya? Rasanya terlalu terburu-buru, lebih baik dia mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu dan setelah tahu bagaimana perasaan Eliana, barulah dia melamar Eliana untuk menjadi istrinya. Sesungguhnya dia tidak mau menikah tapi akhir-akhir ini dia sangat ingin Eliana menjadi ibu dari kedua putranya dan ingin wanita itu menjadi istrinya. Semoga saja Eliana tidak seperti ibunya yang pergi meninggalkan dirinya.
"Lamar saja langsung, Dad. Agar Mommy benar-benar menjadi Mommy kami," rengek Elvin.
"Sabar, Boys. Bagaimana jika dia menolak? Kita harus pelan-pelan dan tahu apakah dia mau atau tidak!"
__ADS_1
"Jika begitu kami akan mencari tahu!" Edwin melompat turun dari atas kursinya.
"Stop, Boys. Apa Daddy tidak bisa melakukannya? Jangan membuat Daddy malu."
"Baiklah, sorry Dad," Edwin kembali duduk.
"Sebaiknya kita segera membuat rencana yang bagus!"
"Pantai!" teriak Elvin.
"Tidak mau, aku mau di hotel!" teriak Edwin.
"Pantai!"
"Hotel!" Edwin tidak mau kalah.
"Hei, kenapa kalian jadi berdebat seperti ini?"
"Pantai, Dad," rengek si cengeng yang sudah mulai bisa menahan air mata.
"Stop, rencana kita akan terbongkar jika kalian berteriak seperti ini!" ucap Morgan.
Edwin dan Elvin segera menutup mulut, mereka hampir lupa tapi teriakan mereka memang samar di dengar oleh Eliana yang sedang berada di dapur. Eliana mengambil minuman karena haus, lagi pula dia bosan berada di dalam kamar seorang diri. Eliana mengira si kembar berada di kamar ayah mereka karena suara teriakan mereka terdengar seperti dari sana.
"Edwin, Elvin," Eliana memanggil namun tidak ada yang menjawab. Karena penasaran, Eliana segera bergegas menuju kamar Morgan di mana sang pelayan sedang melakukan aksinya. Akhirnya, apa yang dia cari dapat dia temukan.
Morgan yang tadinya ingin memancing Eliana memang sengaja mengeluarkan beberapa surat dan barang berharga tanpa menyimpannya kembali. Liona yang sudah mendapatkan akta lahir Edwin dan Elvin sangat terkejut mendapati nama Eliana Bowie sebagai ibu dari mereka. Dia bahkan tidak beranjak karena memikirkan hal itu namun aksinya justru kepergok oleh Eliana yang masuk ke dalam kamar untuk mencari Edwin dan Elvin.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Eliana.
"Tidak, aku tidak melakukan apa pun!" Liona menyembunyikan akta lahir Edwin dan Elvin di belakangnya.
__ADS_1
"Apa yang kau sembunyikan?" Eliana melangkah mendekat untuk melihat apa yang diambil oleh Liona.
"Tidak ada!" Liona menghindar. Celaka, kenapa wanita itu yang memergokinya? Tapi tunggu, Eliana Bowie? Bukankah nama wanita itu juga Eliana? Apakah mungkin?
"Berikan padaku!" pinta Eliana karena dia curiga jika Liona sudah mengambil sesuatu yang berharga milik Morgan.
"Aku tidak mengambil apa pun, aku hanya membereskan lemari saja!" teriak Liona.
"Jika begitu berikan!" pinta Eliana yang sudah mendekati Liona.
"Aku hanya ingin merapikan!" ucap Liona lagi.
"Morgan!" Eliana berteriak memanggil. Ternyata pelayan baru itu seorang pencuri. Liona pun mengumpat sehingga mau tidak mau benda yang dia sembunyikan dibuang lalu Liona mendorong Eliana hingga terjatuh sebelum berlari keluar.
Eliana berteriak saat tubuhnya jatuh ke atas lantai. Morgan yang mendengar teriakannya sudah berlari keluar bersama Edwin dan Elvin. Liona sudah berada di luar saat Morgan dan kedua putranya berlari masuk ke dalam kamar untuk melihat apa yang terjadi.
"Mommy, apa yang terjadi? Kenapa Mommy terjatuh?" Edwin dan Elvin sudah berlari menghampiri Eliana.
"Apa yang terjadi?" Morgan juga menghampiri namun tatapan matanya justru tertuju pada lemari yang berantakan dan tempat surat yang sudah terbuka.
"Apa yang kau lakukan, Eliana?" teriaknya marah karena dia mengira Eliana yang melakukan hal itu. Dia kira dia sudah salah menilai Eliana tapi nyatanya? Wanita itu begitu berani membongkar isi lemarinya saat dia ada di rumah.
"Bukan aku," Eliana sedikit merangkak untuk mengambil akta lahir milik Edwin dan Elvin yang tidak jauh darinya.
"Apa maksudmu bukan kau?" Morgan tidak percaya sama sekali karena dia sudah melihat sendiri Eliana membongkar lemarinya saat itu.
"Liona, dia yang mengacaknya!"
"Jangan menyalahkan orang lain untuk menutupi kesalahanmu!" teriak Morgan marah.
"Aku tidak bohong, Morgan!" akta lahir diambil, Eliana melihatnya dan membacanya sekilas untuk tahu surat apa yang diinginkan oleh Liona namun dia terkejut saat melihat namanya sendiri tertera di sana. Eliana segera berdiri, Morgan melihatnya dengan tatapan tajam lalu melangkah mendekatinya.
__ADS_1
"Berikan padaku!" pintanya sambil merebut akta lahir itu, "Jadi ini yang kau inginkan? Untuk apa, Eliana?" Morgan pun melihat dan tanpa sengaja melihat sebuah nama, Eliana Bowie. Ini kali pertama dia melihat akta kelahiran milik kedua putranya karena Ray yang membereskannya itu semua dan ini kali pertama dia tahu nama ibu dari kedua putranya.
"Tidak mungkin?" ucap Eliana, tatapan matanya melihat ke arah Morgan begitu juga dengan pria itu. Mereka berdua saling pandang dalam diam, dengan pikiran yang sama. Jadi Morgan adalah pria yang membayarnya dulu? Itu pikiran Eliana sedangkan Morgan menebak jika Eliana adalah ibu dari kedua putranya dan tentunya karena tebakan itu membuat masing-masing dari mereka memiliki sebuah keinginan namun berbeda.