Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Mencari Tahu


__ADS_3

Eliana sedang berdiri di sisi dermaga bersama dengan kedua putranya dan Morgan. Tentunya dia berada di sana untuk mengenalkan kedua putra serta suaminya pada ibunya yang sudah tiada. Mereka sudah berada di sisi dermaga cukup lama, Eliana pun sudah selesai memperkenalkan keluarganya pada sang ibu.


Semua memang berawal dari tidak adanya biaya untuk mengobati penyakit ibunya sehingga membuatnya terikat dengan sebuah perjanjian. Dari sana dimulai, segala kepahitan hidup dia rasakan. Dia benar-benar berjuang untuk ibunya, dia pun mengorbankan perasaannya tapi semua itu pada akhirnya berbuah manis. Air mata yang dia tumpahkan tidak sia-sia, meskipun bukan awal baik yang dia jalani tapi pada akhirnya berbuah manis.


Kebetulan jarang terjadi tapi dia sudah mengalaminya yaitu pertemuan tanpa sengajanya dengan kedua putranya yang saat itu sedang melarikan diri. Apa yang terjadi memang menguras emosi dan air mata tapi sekarang, di sanalah dia berada bersama dengan keluarga kecilnya.


Eliana masih memandangi laut yang luas, semoga ibunya melihat kehidupan yang dia jalani sekarang. Semoga ibunya pun bahagia di alam sana, alam yang tidak dia tahu. Edwin dan Elvin yang berdiri di belakangnya pun melangkah mendekati ibu mereka karena mereka sudah ingin pergi. Kedua tangan Eliana di genggam, Eliana memandangi kedua putranya sambil tersenyum.


"Apa belum selesai, Mom? Daddy mau mengajak kita makan siang," ucap Edwin.


"Aku sudah lapar, Mom. Aku juga mengantuk," ucap Elvin pula sambil mengusap matanya yang mengantuk.


"Kenapa tidak memberitahu Mommy? Jika begitu ayo kita segera pergi makan," ajak Eliana seraya mengajak kedua putranya untuk menghampiri Morgan yang sudah menunggu.


Morgan tersenyum saat Eliana menghampirinya. Tatapan matanya tidak lepas dari istrinya yang cantik namun yang dia dapatkan lirikan tajam dari Eliana.


"Kenapa melihat aku seperti itu?" tanya Morgan basa basi.


"Tidak ada, ayo pergi makan!" Eliana melangkah pergi bersama dengan kedua putranya.


"Ayo, Dad. Cepat!" teriak kedua putranya.


"Semenjak ada Mommy, kalian melupakan Daddy," ucap Morgan yang berjalan mengikuti langkah mereka.


"Aku tidak melupakan Daddy!" Elvin berlari menghampiri ayahnya dan memegangi tangan ayahnya.


Morgan mempercepat langkah, kini dia sudah berjalan di sisi Eliana dan merangkul pinggangnya. Eliana tidak membantah, mereka pun pergi dari dermaga itu untuk mencari makanan. Sesungguhnya mereka baru tiba di Australia beberapa jam yang lalu, mereka belum menikmati malam pertama mereka sebagai suami istri. Entah malam ini mereka bisa melakukannya atau tidak, hal itu masih belum diketahui.


Selama mereka berada di sana, mereka akan tinggal di apartemen yang pernah ditingali oleh Eliana dulu. Walau tidak besar tapi apartemen itu cukup untuk mereka tempati apalagi apartemen itu memang memiliki dua kamar tidur. Eliana menolak saat Morgan ingin menyewa hotel, dia lebih suka mereka berada di satu rumah dari pada mereka terpisah oleh kamar.


"Dulu Mommy tinggal dengan siapa?" tanya putra bungsunya.


"Mommy tinggal sendiri, kenapa?" tanya Eliana.

__ADS_1


"Apa Mommy tidak punya pacar selama tinggal di sini?" tanya Edwin.


"Tidak, Mommy berada di sini untuk memenuhi janji pada nenek tapi setelah tiga tahun, Mommy memutuskan kembali untuk mencari kalian berdua."


"Kenapa harus tiga tahun, kenapa tidak cepat kembali?" tanya putranya lagi.


"Maaf, Sayang. Mommy harus mengumpulkan uang terlebih dahulu baru bisa kembali."


"Pasti sulit untuk Mommy."


"Benar, pasti sulit untuk Mommy," ucap si bungsu.


"Tidak, terima kasih sudah mengkhawatirkan Mommy."


Eliana tersenyum tipis, memang sulit baginya waktu itu karena uang terakhir yang diberikan oleh Morgan sudah hampir habis namun semenjak bisnis yang dia jalani mulai berjalan, keuangannya mulai membaik. Setelah menikmati makanan, mereka pun pulang. Hari ini Eliana tidak bisa melihat bisnis yang dia tinggalkan karena kedua putranya sudah lelah dan ingin beristirahat.


Pulang adalah pilihan yang paling tepat, lagi pula dia bisa pergi besok untuk menyelesaikan semua urusan yang ada. Edwin dan Elvin bahkan sudah tertidur selama di perjalanan pulang ke apartemen. Eliana menggendong salah satu putranya, sedangkan Morgan menggendong yang lainnya.


Eliana tersenyum melihat kedua putranya yang sudah tertidur dengan pulas, saat ini dia benar-benar bahagia. Morgan menghampiri Eliana, semoga saja Eliana tidak melupakan dirinya.


"Sekarang waktunya kita berdua, Eliana," ucapnya seraya merangkul pinggang Eliana.


"Waktu apa?" tanya Eliana sinis dengan tatapan galak.


"Jangan pura-pura tidak tahu, Eliana. Malam pertama kita belum dimulai jadi sekaranglah saatnya!"


"Ck, aku tidak mau!" Eliana menepis tangan Morgan, dia hendak melarikan diri namun Morgan tidak melepaskan dirinya.


"Kau tidak bisa melarikan diri, Sayang!" pinggang Eliana diraih lalu tubuhnya sudah berada di dalam gendongan Morgan.


"Morgan, apa tidak bisa malam saja?" Eliana hampir berteriak namun dia merendahkan nada bicaranya agar kedua putranya tidak terkejut.


"Sekarang pembukaan dan nanti malam adalah lanjutan!"

__ADS_1


"Apa? Jangan bercanda?" Eliana berusaha protes dan memberontak tapi Morgan sudah membungkam bibirnya.


Kamar Eliana adalah tujuan, Eliana tahu dia tidak bisa menghindari hal itu karena mereka sudah menikah. Morgan menurunkan tubuh Eliana saat mereka sudah berada di dalam kamar, mereka berdua pun saling pandang sebelum Morgan melakukan aksinya. Kali ini tidak dalam keadaan gelap, kali ini mereka akan saling menatap satu sama lain.


Eliana dapat melihat wajah dan seluruh tubuh Morgan, begitu juga dengan Morgan. Mereka tidak akan lagi meraba di dalam gelap. Morgan mengusap wajah Eliana, senyuman pun menghiasi wajah. Dulu dia tidak mau melihat sosok wanita yang bercinta dengannya tapi sekarang dia sangat ingin melihatnya.


"Aku sangat berterima kasih pada Ray yang sudah memilih dirimu untukku waktu itu," ucap Morgan.


"Ngomong-ngomong, di mana Ray? Aku tidak bisa menemukan dirinya padahal aku sudah mencari."


"Ray sudah meninggal, Eliana. Dia meninggal akibat penyakit yang sudah lama dia derita."


"Astaga, lalu bagaimana dengan Grace?"


"Grace sudah pindah ke kota lain, apa kau juga mencarinya?"


"Hanya mereka berdua saja petunjuk yang aku tahu tapi aku tidak bisa menemukan mereka . Aku sungguh tidak menduga Ray sudah meninggal."


"Aku juga tidak," Morgan memeluk Eliana, "Aku kehilangan sosok seorang ayah saat Ray meninggal. Dia yang aku punya dan tanpa dia aku tidak akan bisa seperti ini," ucap Morgan lagi.


"Kau pasti sangat kehilangan dirinya," Eliana juga memeluk Morgan. Tentunya hal itu membuat Morgan terkejut dan tentunya Morgan semakin mengencangkan pelukannya.


"Aku memang kehilangan dirinya namun Edwin dan Elvin mengisi hariku dan sekarang, kau melengkapi kehidupanku. Apa kau masih tidak mempercayai aku, Eliana?" Morgan melonggarkan pelukannya dan memandangi wajah Eliana.


"Entahlah," jawab Eliana seraya berpaling.


"Jika begitu aku akan mencari tahu!" dagu Eliana diangkat lalu bibir Eliana di kecup dengan lembut.


Mereka berdua saling pandang dan setelah itu mereka kembali berciuman. Eliana tidak menolak, dia tidak mau menolak karena dia itu memang kewajibannya. Dia pun tidak mau mereka bertengkar untuk hal itu. Lagi pula Morgan begitu serius, dia pun sudah memiliki surat perjanjian yang tidak akan merugikan dirinya.


Eliana sudah berada di dalam gendongan Morgan, pria itu membawanya menuju ranjang dan membaringkannya dengan perlahan. Mereka berdua kembali mengulangi apa yang pernah mereka lakukan dulu tapi kini tidak dalam keadaan gelap sehingga terasa berbeda. Sekarang Eliana menikmatinya, menikmati setiap sentuhan yang Morgan berikan.


Walau itu bukan pertama kali bagi mereka tapi mereka melakukannya seperti baru pertama kali. Mungkin ini kali pertama mereka bertatap muka saat melakukan hal itu dan yang pasti, Morgan memanfaatkan keadaan untuk memujudkan keinginan kedua putranya yang menginginkan adik perempuan. Lagi pula Edwin dan Elvin masih tidur jadi dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

__ADS_1


__ADS_2