
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Morgan bergegas mandi. Senyuman tak henti menghiasi wajah, sekalipun dia sudah berdiri di bawah guyuran air shower. Kenapa dia jadi sesenang itu? Sekarang dia jadi paham apa yang kedua putranya rasakan terhadap wanita itu.
Dia juga tidak tahu kenapa merasa demikian, sepertinya dia mulai tidak waras. Air yang mengalir di wajah diusap perlahan, sebaiknya dia bergegas. Jangan sampai Eliana sudah tidak berada di luar lagi karena sepertinya Eliana Wanita yang nekat.
Morgan menyelesaikan mandinya dengan cepat, pakaian juga dikenakan dengan terburu-buru agar dia bisa cepat keluar. Morgan berlari keluar, dia tampak lega saat melihat Eliana masih berada di ruang tamu. Eliana melotot ke arahnya, dia ingin pergi menjenguk Edwin dan Elvin namun dia tidak memiliki uang, sendal pun tidak punya bahkan dia tidak memiliki baju ganti.
Tatapan mata Eliana yang tajam tidak berpaling darinya, jika dia sedang menggunakan sendal saat ini maka akan dia gunakan untuk melempar pria menyebalkan itu. Morgan menghampirinya, dengan senyuman menghiasi wajah. Dia bahkan duduk di sisi Eliana, tentunya Eliana segera bergeser menjauh.
"Antar aku pulang!" ucap Eliana seraya membuang wajahnya.
"Tidak, kau tidak bisa pergi ke mana pun!"
"Ini pemaksaan, aku akan melaporkannya ke polisi!"
"Kau tidak akan bisa karena kau tidak memiliki bukti. Edwin dan Elvin menganggap dirimu sebagai ibu mereka jadi ketika kau melaporkan hal ini pada polisi, aku akan mengatakan pada mereka jika kau istriku yang melarikan diri. Apa kau masih bisa berkutik?"
"Kau benar-benar licik. Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Kita hanya orang asing, jangan mengurung aku seolah-olah kita pernah memiliki hubungan spesial!"
"Aku tidak mengurungmu, tidak. Aku hanya ingin kau berada di sini bersama dengan kami karena Edwin dan Elvin begitu membutuhkan dirimu!"
"Jangan menggunakan mereka berdua sebagai alasan untuk mengelabui aku. Sebaiknya antar aku pulang, aku tidak mau tinggal di sini. Aku akan mengunjungi mereka sewaktu-waktu tanpa perlu tinggal di sini dengan kalian!"
"Baiklah, kita bahas hal ini setelah bertemu dengan Edwin dan Elvin, sekarang kita sarapan terlebih dahulu sambil menunggu bajumu datang!"
"Lagi-Lagi kau menggunakan mereka berdua!" ucap Eliana sinis.
"Ayolah," Morgan menarik tangan Eliana sehingga wanita itu beranjak dari tempat duduknya.
"Mau apa kau?" teriak Eliana marah.
__ADS_1
"Sarapan, apa kau tidak lapar?" Morgan sudah menariknya ke dapur.
Eliana berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Morgan namun pegangan tangan pria itu cukup kuat sehingga membuatnya kesulitan untuk menarik tangannya. Mau tidak mau dia duduk di meja makan sedangkan Morgan membuat makanan untuk mereka.
Eliana tidak mau peduli sama sekali, dia membiarkan pria itu membuat makanan sampai akhirnya dua piring makanan sudah berada di atas meja. Morgan duduk di sisinya, senyuman menghiasi wajahnya meskipun Eliana menatapnya dengan tajam dan sinis.
"Makan, semoga kau suka," ucap Morgan.
"Aku tidak akan berterima kasih karena kau membawa aku dengan paksa!" Eliana membuang wajah.
"Aku akan memberikan apa pun yang kau mau jika kau mau tinggal denganku."
"Simpan uangmu baik-baik, aku tidak berminat sama sekali. Apa aku kekurangan uang? Tidak sama sekali!" ucap Eliana. Dia sudah melewati masa sulit dalam hidupnya di mana dia harus berjuang untuk biaya pengobatan ibunya sehingga membuatnya menjual diri tapi sekarang, kehidupannya sudah lebih baik meskipun dia tidak memiliki harta yang berlimpah tapi dia sudah sangat bahagia.
"Kenapa kau begitu sinis padaku? Apa kau tidak mau memaafkan perkataanku waktu itu?"
"Jadi kau tidak menyukai aku?" Morgan melirik ke arahnya dengan tatapan tidak senang.
"Sangat!" setelah berkata demikian, Eliana beranjak dari tempat duduknya dan kembali berkata, "Terima kasih atas makanan tidak enaknya dan asal kau tahu, aku benci denganmu!" Eliana pun melangkah pergi meninggalkan Morgan.
"Apa? Kenapa kau membenci aku?" Morgan pun beranjak, dan mengikuti langkah Eliana.
"Benci ya benci, apa harus dicantumkan dengan alasannya?"
"Tentu saja, jadi katakan kenapa kau membenci aku?" Morgan benar-benar tidak terima.
"Apa kau sangat ingin tahu?" Eliana berhenti dan berbalik, Morgan juga menghentikan langkahnya tidak jauh dari Eliana.
"Tentu saja jadi katakan!"
__ADS_1
"Hng, sudah aku katakan kau bukan tipeku. Tidak hanya itu saja, kau terlalu arogan dan egois, aku benci dengan pria seperti itu dan kau juga tidak terlalu tampan jadi jangan mengira semua wanita akan menyukai wajahmu yang pas-pasan itu!"
"Apa" Morgan tampak tidak terima, perkataan Eliana begitu menyakitkan dan bagaikan palu besar yang menghantam kepalanya. Lagi-Lagi perkataan wanita itu membuat dirinya seperti baru saja ditolak.
Eliana melangkah pergi sedangkan Morgan kembali ke dapur dan melihat piring yang sudah kosong. Apa benar dia kurang tampan? Apa benar makanan yang dia buat tidak enak? Entah kenapa dia merasa kedua putranya sedikit mirip dengan Eliana. Tidak mungkin, pasti dia berpikir demikian hanya karena Eliana mengatakan benci dengan dirinya seperti kedua putranya yang selalu berkata benci dengannya.
Wajah diusap kasar, sial. Semakin Eliana menunjukkan rasa tidak sukanya dan semakin Eliana membencinya dia justru semakin tertantang untuk mendekati wanita itu. Jangan salahkan dirinya tapi salahkan Eliana yang seperti sedang mengibarkan bendera perang sehingga membuatnya semakin penasaran dengan Eliana.
Morgan pun keluar, langkahnya terhenti saat melihat Eliana sedang berdiri di depan sebuah lemari. Baiklah, tidak ada yang boleh menolaknya apalagi Eliana. Akan dia buat wanita itu tergila-gila dengannya sehingga Eliana menarik perkataannya. Edwin dan Elvin pasti membantu, tiba-tiba dia merasa memiliki sebuah misi untuk menahlukkan Eliana karena wanita itu yang menantangnya terlebih dahulu. Namun satu hal yang dia syukuri pagi ini, kedua putranya tidak mendengar ucapan pedas Eliana karena jika mereka mendengar maka mereka akan menertawakan dirinya seperti yang pernah mereka lakukan.
Baju yang dipersiapkan untuk Eliana pun sudah datang, Morgan memintanya untuk memilih namun Eliana hanya mengambil satu saja yang bisa dia gunakan. Dia tidak butuh yang lain apalagi deretan gaun indah yang tidak tahu untuk apa.
"Antar aku pulang setelah aku melihat keadaan Edwin dan Elvin, jika tidak pinjami aku uang agar aku bisa pulang sendiri!" ucap Eliana seraya melangkah menuju kamar mandi karena dia ingin mengganti baju yang baru saja dia pilih.
Morgan tidak menjawab, namun senyuman licik menghiasi wajah. Setelah Eliana berada di kamar mandi, Morgan melangkah pergi masuk ke dalam ruangan dan menghubungi Edwin dan Elvin di sana. Ingin pergi, jangan harap Eliana bisa melakukannya.
"Daddy, kenapa Daddy belum membawa Mommy datang?" tanya si bungsu.
"Daddy akan ke sana sebentar lagi. Bagaimana keadaan kalian?"
"Kami sudah lebih baik," jawab putranya.
"Bagus, apa kalian ingin selalu bersama dengan Mommy?"
"Tentu saja, Dad. Kami tidak ingin Mommy pergi lagi."
"Bagus, sangat bagus jadi dengarkan Daddy baik-baik," senyuman licik kembali menghiasi wajahnya. Sudah dia duga, kedua putranya bisa diajak bekerja sama karena dibandingkan dirinya, mereka lebih menginginkan Eliana.
Tanpa rasa curiga jika sebuah rencana licik sudah tercipta di antara ayah dan anak yang tidak menginginkan Eliana pergi. Eliana mengikuti Morgan pergi untuk menjenguk Edwin dan Elvin. Sikap pria itu pun terlihat aneh, tak hentinya Morgan tersenyum dan tentunya hal itu membuat Eliana memiliki firasat buruk dan takut.
__ADS_1