Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Perasaan Itu Kembali


__ADS_3

Morgan melihat pantulan dirinya di depan cermin. Bagian kedua dadanya mendapat bekas cakaran baru karena kuku Eliana menancap ketika wanita itu mencengkeram kedua dadanya. Bekas cakaran lama belum sembuh, kini menambah yang baru. Benar-Benar wanita yang sangat sulit dihadapi namun itulah yang membuatnya semakin penasaran dengan Eliana.


Selama ini dia bisa mendapatkan wanita yang dia inginkan dengan mudah namun Eliana wanita yang sangat berbeda. Dia sangat tertantang, benar-benar tertantang untuk menaklukkan wanita itu. Salahkan Eliana yang begitu berani menantang dirinya dan luka-luka yang dia dapat malam ini akan dia balas.


Bubur yang baru matang sudah berada di atas meja, Eliana tampak enggan membawanya ke kamar karena dia tidak mau bertatap muka dengan Morgan dan tidak mau berduaan dengan pria itu. Dia tahu Morgan akan membalas perbuatan yang baru saja dia lakukan. Rasanya ingin memanggil Edwin dan Elvin untuk menemani namun si kembar sedang tidur siang.


Eliana menghela napas, dia seperti akan pergi ke medan perang membawa makanan untuk para tentara. Mangkuk bubur dilihat, lalu tatapan mata melihat ke arah kamar Morgan. Jaraknya terasa begitu jauh, dia bahkan merasa berbahaya. Eliana menelan ludah, sebaiknya dia segera bergegas dan setelah itu keluar.


Mangkuk bubur sudah berada di tangan, Eliana pun melangkah menuju kamar Morgan. Jika pria itu benar-benar sakit maka pria itu tidak mungkin bisa membalas apa yang dia lakukan. Morgan sedang duduk di ranjang dengan laptop di atas pangkuan, tatapan matanya yang tajam tidak lepas dari wanita itu tentunya Eliana jadi gugup karena dia takut Morgan menyergapnya untuk membalas dendam.


"Mana Edwin dan Elvin?" tanya Morgan.


"Mereka bermain di luar," dusta Eliana.


Morgan mengumpat, padahal dia sangat ingin menarik Eliana dan membaringkannya ke atas ranjang tapi jika kedua putranya berada di luar maka dia tidak bisa melakukannya. Jangan sampai mereka masuk ke dalam saat mendengar suara teriakan Eliana nanti.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Eliana seraya menaruh mangkuk di atas ranjang.


"Untuk apa kau bertanya," ucap Morgan sinis.


"Jika begitu aku akan keluar!"


"Tidak, jangan!" cegah Morgan.


"Jadi? Kau baik-baik saja atau tidak?"


"Entahlah, duduk denganku sebentar!" pinta Morgan.


Eliana memandanginya, napas berat pun dihembuskan. Eliana pun duduk di sisi ranjang dan terlihat tidak nyaman berduaan dengan Morgan.


"Tidak perlu takut, aku tidak akan menggigitmu!" Morgan tampak kesal, apa dia seperti penjahat kelamin sehingga Eliana harus bereaksi seperti itu?

__ADS_1


"Sebaiknya segera nikmati buburnya selagi hangat. Pria dan wanita berada di dalam kamar yang sama, bukanlah hal baik apalagi kita tidak memiliki hubungan apa pun. Jangan sampai ada yang salah paham akan hal ini," ucap Eliana seraya beranjak.


"Tidak ada siapa pun, jadi tidak perlu khawatir!"


Eliana tidak menjawab namun dia melangkah keluar dari kamar itu. Walau tidak ada siapa pun tapi dia peduli. Morgan hanya diam saja, dia sungguh semakin penasaran. Tidak apa-apa wanita itu tidak mau, tapi malam ini dia tetap akan membalas dendam.


Bubur yang dibuat oleh Eliana pun dinikmati dan setelah itu dia sibuk melakukan pekerjaannya di dalam kamar sampai tidak menyadari jika waktu sudah malam. Suara Edwin dan Elvin terdengar, mereka berdua berlari masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan ayah mereka.


"Daddy, bagaimana dengan keadaan Daddy?" tanya mereka berdua.


"Sejak awal Daddy baik-baik saja, ada apa?"


"Mommy meminta Daddy keluar untuk makan malam," ucap Edwin seraya naik ke atas ranjang.


"Baiklah, sekarang dengarkan Daddy," pinta Morgan,


"Apa yang Daddy inginkan?" tanya Elvin.


"Malam ini saja, apa kalian bisa tidur tanpa Mommy?" pinta Morgan.


"Tentu saja, kalian mau bekerja sama dengan Daddy, bukan?" tanya Morgan.


"Kami pasti membantu Daddy," Edwin dan Elvin tersenyum lebar.


"Good, ayo keluar sekarang!"


Morgan mengikuti langkah kedua putranya keluar dari kamar. Eliana tidak mau memandanginya, mereka berdua terlihat semakin asing. Edwin dan Elvin saling pandang, kali ini mereka serius akan membantu ayah mereka. Setelah makan, Edwin dan Elvin pun mendekati ibu mereka.


"Mommy, malam ini Mommy tidak perlu tidur dengan kami," ucap Edwin.


"Oh, yeah? Kenapa?" tanya Eliana heran karena mereka berdua selalu tidur dengannya setiap malam.

__ADS_1


"Kami sudah besar, tidak boleh tidur dengan Mommy lagi," jawab Elvin.


"Baiklah jika itu yang kalian mau. Tapi ingat, jangan lupa gosok gigi sebelum tidur," ucap Eliana seraya mengusap kepala Edwin dan Elvin.


"Baik, Mom. Kami akan gosok gigi terlebih dahulu."


Sebelum masuk ke dalam kamar, Edwin dan Elvin mencium pipi ibunya terlebih dahulu. Mereka berdua berlari menuju kamar, meninggalkan Morgan dan Eliana berdua saja. Eliana kembali merasa canggung, dia pun bergegas pergi setelah membersihkan piring kotor bekas makan. Morgan diam, ingin lari darinya? Tidak akan bisa.


Eliana masuk ke dalam kamar, rasanya jadi sepi karena tidak ada Edwin dan Elvin. Malam yang semakin larut membuatnya terlelap, dia tidak sadar jika Morgan masuk ke dalam kamar secara diam-diam dan mematikan lampu sehingga kamar menjadi gelap.


Morgan melangkah mendekati Eliana yang sedang tidur, rasanya jadi dejavu. Kenapa dia merasa seperti sedang mengulangi sesuatu yang pernah dia lakukan dulu? Walau kamar itu gelap, namun cahaya bulan yang masuk dari jendela membuatnya bisa melihat lekukan tubuh Eliana yang sedang tidur membelakanginya. Sial, apakah ini hanya kebetulan semata ataukah hanya perasaannya saja?


Morgan berdiri cukup lama di sisi ranjang, tatapan mata tidak lepas dari Eliana. Dia seperti kembali ke masa itu, di mana dia sedang memperhatikan wanita yang dia bayar dulu. Tiba-Tiba saja dia ingin tahu, ke mana perginya wanita yang telah melahirkan kedua putranya?


Dengan perlahan, Morgan naik ke atas ranjang. Eliana masih tidur, dia bahkan tidak sadar saat Morgan berbaring di sisinya. Morgan tampak memejamkan mata, dia merasa tidak asing. Benar-Benar tidak asing. Kini dia berpaling melihat ke arah Eliana, Morgan melakukan hal itu cukup lama sampai akhirnya dia memiringkan tubuhnya agar dia bisa memeluk Eliana.


Perasaan itu kembali lagi, perasaan yang sulit dia ungkapkan dengan kata-kata. Perasaan yang tidak dia mengerti sama sekali. Pelukannya semakin erat, kedua mata terpejam. Entah kenapa dia merasa kembali ke masa itu, sungguh dia tidak mengerti. Apakah Eliana adalah wanita yang dia bayar dulu? Tapi bagaimana bisa? Rasanya mustahil karena Eliana berasal dari Australia.


Eliana yang sedang tidur dengan nyaman jadi sedikit terganggu dengan pelukan Morgan. Eliana berbalik, dia mengira sedang tidur dengan si kembar jadi Eliana memeluk Morgan tanpa curiga sama sekali. Morgan tersenyum, baiklah, inilah kesempatan selagi Eliana sedang tidur.


Satu ciuman mendarat di dahi, terasa kurang jadi satu ciuman lagi mendarat di bibir Eliana. Tidur Eliana pun kembali terganggu, Eliana bergerak dan kembali berbalik. Morgan merasa cukup puas dan kembali memeluk Eliana dengan erat.


Eliana mulai merasa aneh, tangan Morgan yang melingkar di tubuhnya terasa berat. Kedua mata Eliana terbuka, dia masih mengira dia sedang tidur dengan Edwin dan Elvin.


"Kenapa kalian mematikan lampunya, Edwin, Elvin?" Eliana berbalik dan terkejut karena orang yang tidur dengannya saat ini bukanlah Edwin dan Elvin.


"Apa aku seperti kedua putraku, Eliana?" Eliana semakin terkejut saat mendengar suara Morgan.


Eliana hendak berteriak namun Morgan menutup mulutnya cepat, satu kakinya sudah menjepit tubuh Eliana dan satu tangan memeluk wanita itu erat sehingga Eliana tidak bisa bergerak. Eliana berusaha meronta, namun usaha yang dia lakukan sia-sia.


"Malam kita baru dimulai dan aku tidak sabar membalas apa yang telah kau lakukan padaku, Sayang," bisik Morgan di telinga Eliana.

__ADS_1


Kedua mata Eliana melotot, sudah dia duga pria itu akan membalas namun satu hal yang tidak dia sukai selain perlakuan yang Morgan lakukan saat ini, dia tidak suka gelap karena kamar yang gelap mengingatkan dirinya pada malam-malam yang dia lewati dengan Tuan Muda itu bahkan dia merasa sedang berada di situasi yang tidak jauh berbeda.


Seringai menghiasi wajah Morgan apalagi tubuh Eliana terasa membeku, bibirnya bermain di wajah Eliana dan tangannya pun sudah masuk ke dalam baju Eliana. Sekarang waktunya menunjukkan pada Wanita itu siapa dirinya.


__ADS_2