
Kotak obat sudah berada di atas lantai, Morgan sedang mengobati luka di kaki Eliana yang diakibatkan tumit high heel yang digunakan oleh ibu tiri Eliana saat menginjak kaki Eliana. Tidak ada rasa sakit yang ditunjukkan oleh Eliana, Morgan sampai mengangkat wajah untuk melihat ke arahnya karena biasanya wanita akan bersikap manja di saat seperti itu.
"Apa tidak sakit?" tanya Morgan.
"Sakit, tentu saja."
"Jika begitu kenapa kau tidak menunjukkan rasa sakit sama sekali?"
"Apa kau ingin aku berteriak-teriak seperti orang gila hanya karena rasa sakit saja?"
"Tidak, bukan begitu!" beberapa luka yang perlu dibalut menggunakan perban pun kembali dibalut setelah diberi obat dan setelah selesai, Morgan duduk di sisi Eliana.
"Aku ingin mengajakmu makan malam diluar tapi sepertinya tidak bisa jadi katakan, apa yang ingin kau makan?"
"Tidak perlu, Morgan. Terima kasih, cukup perhatikan kedua putramu saja. Jangan pedulikan aku, aku bisa sendiri," tolak Aliana.
"Selalu itu saja yang kau katakan, lihat keadaanmu? Kau tidak bisa apa-apa!"
"Aku tidak mau merepotkan dirimu, Morgan."
"Aku tidak merasa repot sama sekali! Tunggulah di sini, aku akan membuat makanan untuk kita" ucap Morgan seraya beranjak.
Eliana mengangguk, tatapan matanya tidak lepas dari Morgan yang sedang melangkah keluar dari kamar. Sikap Morgan tiba-tiba berubah, dia tidak seperti sebelumnya. Sikapnya lebih lembut dan sopan, entah apa yang terjadi dia sendiri tidak tahu.
Edwin dan Elvin yang sudah bangun sedari tadi dan sudah mandi, berlari keluar dari kamar untuk mencari ayah mereka. Suara benda jatuh dari dapur membuat mereka berlari ke arah dapur karena mereka tahu ayah mereka ada di sana.
"Daddy, di mana Mommy?" teriak Edwin dan Elvin.
"Mommy ada di kamar Daddy," jawab ayah mereka.
Tanpa membuang waktu, Edwin dan Elvin berlari menuju kamar karena mereka ingin melihat keadaan ibu mereka. Eliana tersenyum saat mendengar suara mereka yang heboh. Eliana beringsut agar dia bisa bersandar pada kepala ranjang saat Edwin dan Elvin sudah masuk ke dalam.
"Mommy, bagaimana dengan keadaan Mommy?" teriak Mereka berdua.
"Seperti yang kalian lihat, yang tidak baik hanya kedua kaki Mommy saja."
"Jika ada yang Mommy inginkan, katakan padaku," ucap Edwin.
"Benar, Mom. kami akan mengambilkan apa pun yang Mommy inginkan," ucap Elvin pula. Mereka berdua sudah duduk di sisi Eliana untuk melihat keadaan ibu mereka.
"Terima kasih, Mommy sangat terbantu berkat ada kalian berdua."
"Apa Mommy tidak terbantu dengan adanya Daddy?" tanya Edwin.
"Tentu saja Mommy terbantu," jawab Eliana.
"Menurut Mommy bagaimana dengan Daddy? Apakah Daddy masih tidak keren?" tanya Elvin.
"Keren, tentu saja keren!":
__ADS_1
"Benarkah? Apa Mommy sudah jatuh cinta pada Daddy?" tanya Edwin penuh semangat.
"Tidak!" jawab Eliana karena dia memang tidak sedang jatuh cinta dengan Morgan.
"Kenapa, Mom? Katanya Daddy kami keren tapi kenapa Mommy tidak jatuh cinta pada Daddy?" tanya Elvin.
"Daddy kalian memang keren tapi hanya sebatas itu saja karena Daddy kalian belum bisa membuat Mommy jatuh cinta sampai sekarang!"
"Wah, Daddy payah!" ucap Edwin.
"Benar, pesona Daddy memang hanya bisa menggoda penyihir saja!" ucap Elvin.
Eliana terkekeh, mereka berdua sangat mengemaskan. Dia bahkan lupa dengan beberapa hal, untuk sesaat dia ingin seperti itu karena dia ingin bersama dengan mereka lebih lama. Dia justru berharap Edwin dan Elvin adalah putranya, entah kenapa dia jadi ingin tahu tanggal ulang tahun mereka berdua.
"Boys, kapan ulang tahun kalian?" tanya Eliana.
"Bulan desember tangga lima belas, apa Mommy mau memberi kami hadiah?"
"Wah, tidak lama lagi," ucap Aliana sambil tersenyum. Desember tanggal lima belas? Tanggalnya sama dengan tanggal lahir kedua putranya tapi sayangnya bulannya berbeda karena dia melahirkan tanggal lima belas bulan oktober.
"Tapi ulang tahun Daddy yang sudah dekat, Mom. Apa Mommy tidak mau memberikan hadiah untuk Daddy?" tanya Elvin.
"Tentu, Mommy akan memberikannya nanti."
"Jika begitu kami mau membantu Daddy terlebih dahulu!" Edwin dan Elvin melompat turun dari atas ranjang dan berlari keluar dari kamar.
Edwin dan Elvin membantu ayah mereka membuat makanan,. mereka pun berkata jika ayah mereka belum bisa membuat Eliana jatuh cinta. Morgan tidak menjawab, dia tahu Eliana wanita yang berbeda yang tidak mudah terayu dengan rupanya yang tampan. Baiklah, itu seperti sebuah tantangan dan memang dia sudah tertantang sejak awal tapi setidaknya, Eliana sudah menganggapnya keren dan itu perkembangan yang sangat bagus.
Suara di dapur terdengar ramai, itu karena Edwin dan Elvin bersenang-senang dengan ayah mereka. Sudah beberapa jenis makanan yang sudah jadi, tentunya Morgan terlihat puas begitu juga dengan si kembar. Mereka berdua juga terlihat puas walau dapur sedikit kacau.
"Ayo, Dad. Bawa Mommy keluar agar kita bisa makan bersama!" pinta Elvin.
"Tunggu di sini, Daddy akan membawanya keluar!" Morgan meletakkan makanan terakhir ke atas meja, sedangkan Edwin dan Elvin sudah duduk untuk menunggu ayah dan ibu mereka.
Eliana tampak termenung saat Morgan masuk ke dalam kamar. Pria itu tersenyum saat melangkah mendekatinya dan dengan terburu-buru Eliana segera bersingsut ke sisi ranjang karena dia tahu pria itu aman membawanya keluar.
"Mana Edwin dan Elvin?" tanya Eliana basa basi.
"Mereka sudah menunggu kita di meja makan."
"Maaf aku merepotkan dirimu, Morgan," dia jadi tidak enak hati. Morgan seorang penguasa yang memiliki segalanya tapi dia jadi harus masuk dapur gara-gara dirinya.
"Tidak perlu dipikirkan, aku tidak keberatan," sendal diambil untuk Eliana kenakan agar kaki Eliana tidak kedinginan akibat lantai yang dingin. Eliana tidak melepaskan tatapan matanya dari Morgan saat pria itu mengenakan sendal di kakinya. Morgan sedang sibuk dan begitu selesai, tanpa sengaja tatapan mereka jadi bertemu.
"Kenapa melihat aku seperti itu?" tanya Morgan.
"Tidak, tidak ada apa-apa!" Eliana memalingkan pandangannya dengan terburu-buru.
"Tidak perlu khawatir," Morgan beranjak dan menggendong Eliana bak seorang putri, "Aku tidak akan melakukan apa pun padamu," ucapnya lagi seraya melangkah menuju pintu.
__ADS_1
"Terima kasih," Eliana memberanikan diri memberikan ciuman di pipi Morgan. Tentunya Morgan terkejut sehingga langkahnya sampai terhenti lalu tatapan matanya melihat ke arah Eliana yang tersipu malu.
"Itu sebagai tanda terima kasihku karena kau sudah membantu aku," ucap Eliana.
"Itu tidak cukup, Eliana!" ucap Morgan.
"Jadi, apa yang kau inginkan?" tanya Eliana dengan ekspresi wajah heran.
"Malam ini, kau harus tidur denganku!" Morgan kembali melangkah keluar kamar dan menuju kamar.
"Apa? Aku tidak mau!" protes Eliana.
"Boys, Mommy tidak mau tidur dengan kita!" ucap Morgan sedikit berteriak.
"Hei, apa maksudnya?"
"Mommy kenapa tidak mau tidur dengan kami?" Edwin dan Elvin yang tadinya menunggu berlari menghampiri ayah dan ibu mereka.
"Bukan tidak mau, tapi?"
"Mau ya, Mom. Malam ini tidur dengan kami," rengek si kembar.
Eliana melotot ke arah Morgan, pria itu tersenyum dengan penuh kemenangan. Edwin dan Elvin masih merengek sehingga mau tidak mau akhirnya Eliana setuju karena si cengeng yang mudah menangis, sudah terlihat menangis. Dia sangat heran, kenapa anak itu begitu mudahnya menangis?
Edwin dan Elvin bersorak senang, tentunya Morgan juga tapi dia bersorak dalam hati dan senyuman yang sedang dia tunjukkan saat ini, menunjukkan perasaan senang yang sedang dia rasakan. Satu langkah semakin dekat, dia pun merasa semakin aneh karena dia sangat menantikannya. Tidak saja menantikan tidur bersama dengan Eliana namun dia juga merasa sebuah perasaan meledak di hati bagaiman kembang api di malam tahun baru.
"Sepertinya yang paling senang malam ini adalah Daddy!" teriak Edwin.
"Tentu saja, Daddy baru saja mendapatkan hadiah!" ucap ayahnya bangga.
"Daddy curang, kami juga mau hadiah," teriak Elvin.
"Mommy akan memberikannya untuk kalian nanti," ucap Eliana.
"Jika begitu Daddy tidak boleh tidur dengan kita!"
"Apa? Bukankah kita sudah sepakat?" protes Morgan.
"Daddy curang jadi tidak jadi, besok saja baru boleh tidur bersama dengan kami!"
"Benar, kami tidak jadi tidur dengan Daddy!" ucap si bungsu.
Morgan melotot ke arah kedua putranya, perasaan senang bagaikan kembang api yang dia rasakan mendadak sirna. Padahal dia sudah berharap tapi kedua putranya justru menghancurkannya.
"Kami hanya bercanda, Dad. Daddy boleh tidur dengan kami," ucap Edwin.
"Benar, kami hanya bercanda saja. Jangan sampai Daddy menangis di dalam kamar," ucap Elvin.
"Kalian berdua!" Morgan memijit pelipis, dia dipermainkan oleh dua anak kecil yang licik. Edwin dan Elvin tertawa begitu juga dengan Eliana. Walau kesal, pada akhirnya Morgan tersenyum. Kenapa dia jadi merasa jika mereka sudah seperti keluarga saat ini? Dulu dia pernah merasakannya, kehangatan dan kebersamaan yang seperti itu. Keluarga yang dia miliki sesaat karena pada akhirnya hancur berantakan akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh ibunya tapi saat ini, dia merasa ingin selalu seperti itu dan dia sangat mengharapkan mereka selalu bersama.
__ADS_1