Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Kau Berbeda


__ADS_3

Morgan tidak juga menghentikan aksinya. Tangannya bergerak dari belakang ke arah depan, sesungguhnya dia hanya ingin menggoda Eliana saja namun dia jadi tidak bisa mengendalikan diri. Keadaan yang gelap, membuatnya melayang ke masa itu, di mana dia akan menghabiskan malamnya dengan wanita asing yang dia bayar bahkan keadaan saat ini tidak jaug berbeda.


Eliana berusaha memberontak, dia benci dengan apa yang sedang Morgan lakukan. Dia benci dengan kamar gelap yang membuatnya teringat dengan malam berat yang harus dia lewati. Dia sungguh benci. Rasanya ingin memukul Morgan namun satu tangannya dipegang dengan erat oleh Morgan dan tubuhnya masih di jepit oleh Morgan.


Eliana pun tidak bersuara karena bibirnya di bungkam oleh Morgan Kesal, amarah terasa campur aduk. Eliana berusaha menarik satu tangannya yang berada di bawah tubuh, tidak akan dia biarkan pria itu semena-mena melakukan apa yang dia mau.


Morgan mencium bibirnya semakin dalam, dia sudah tidak bisa berhenti lagi. Tangannya bergerak bebas, benda lembut milik Eliana pun tak bisa dia abaikan sehingga tangannya bergerak bebas. Eliana benar-benar marah, baginya Morgan sudah keterlaluan sehingga air matanya pun mengalir akibat emosi yang meluap dihati. Morgan terkejut, ketika air mata Eliana mengenai wajahnya.


Ciumannya pun terlepas, tangan yang ada di dalam baju Eliana pun segera ditarik keluar dengan terburu-buru. Eliana menangis, Morgan seperti baru saja melecehkan dirinya. Apakah dia begitu murahan?


"Dasar kau ba*ingan, baj*ngan!" teriak Eliana seraya memukul dan menendang Morgan.


"Aku hanya menggodamu, saja. Jangan marah," Morgan menangkap tangan Eliana yang sedang memukul.


"Menggoda? Apa kau kira aku seorang jal*ng?" teriak Eliana marah.


"Aku tidak bermaksud seperti itu," Morgan menarik Eliana mendekat agar dia bisa memeluknya kembali.


"Keluar, aku benci denganmu!" teriak Eliana lagi. Dia tahu dia sudah kotor, dia tahu dia sudah menjual tubuhnya tapi dia bukan wanita murahan yang bisa diperlakukan seenaknya.


"Aku minta maaf, Eliana. Tolong jangan marah!" jangan sampai Eliana pergi dari rumahnya sehingga dia mengulangi kejadian yang sama.


"Lepaskan aku!" Eliana berusaha memberontak, namun Morgan memeluknya erat. Umpatan Eliana terdengar, dia berusaha menendang dan memukul bahkan Eliana tidak ragu menggigit bahu Morgan namun pria itu diam karena dia tahu jika dia yang salah.


"Lepaskan aku, aku benci denganmu!" pinta Eliana di sela tangisannya.


"Maaf, aku minta maaf. Tapi aku ingin tahu sesuatu, apa kita pernah bersama sebelumnya, Eliana?"


"Aku tidak sudi bersama dengan pria mesum dan baj*ngan seperti dirimu!"


"Benarkah? Tapi aku merasa kita pernah bersama sebelumnya. Apa itu hanya perasaanku saja?"


"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, keluar sekarang juga!" Eliana masih mengusir.


"Aku ingin kita seperti ini sebentar," pinta Morgan.

__ADS_1


"Aku tidak sudi, jadi keluar. Aku juga benci gelap jadi keluar!" teriak Eliana lantang.


"Kenapa kau takut dengan gelap? Apa telah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan di tempat yang gelap?"


"Kenapa kau seperti mengorek kehidupan pribadiku?" Eliana semakin tidak senang. Dia berusaha melepaskan diri bahkan dia sudah bagaikan mangsa yang berusaha melepaskan diri dari cengkeram ular yang lapar.


"Aku ingin mengenal dirimu lebih jauh, aku ingin dekat denganmu. Kau tidak keberatan, bukan?"


"Aku tahu tujuanmu, Morgan. Kau mendekati aku karena kedua putramu menyukai aku! Jangan kau kira aku bodoh sehingga aku mudah terayu dengan ucapan manismu jadi sebaiknya lepaskan aku sekarang juga!"


"Tidak, bukan seperti itu. Aku tahu kau tidak tertarik denganku, bagimu wajahku pas-pasan dan aku tidak menarikĀ  tapi bagaimana jika aku yang tertarik denganmu? Aku mengatakan hal ini bukan karena Edwin dan Elvin menyukai dirimu tapi aku mengatakan hal ini karena aku benar-benar tertarik denganmu dan ingin mengenal dirimu lebih jauh," ucap Morgan.


"Lalu, untuk apa kau mengatakan hal ini padaku? Aku tidak tertarik sama sekali denganmu, banyak wanita yang menyukai dirimu jadi jangan mengenal aku karena kau hanya akan membuang waktu saja!"


"Kau benar-benar wanita yang menarik, Eliana!" ucap Morgan.


"Aku tidak menarik, jadi jangan bicara sembarangan!"


"Bagiku kau menarik, sangat menarik. Kau berbeda dengan wanita yang aku kenal sebelumnya. Meskipun kau tidak tertarik padaku tapi sikap yang kau tunjukkan sudah membuat aku tertarik padamu jadi jangan salahkan aku yang jadi penasaran denganmu. Kau yang telah membuat aku seperti ini jadi kau tidak bisa menahan aku untuk mendekatimu!"


"Tidak, aku tidak mau melepaskan dirimu!"


"Jadi seperti ini caramu berbicara dengan seorang wanita? Kau bagaikan seekor ular yang sedang melilit mangsanya jadi lepaskan!" Eliana masih meminta dilepaskan.


Morgan terkekeh tapi bukannya melepaskan Eliana, dia justru semakin memeluk Eliana erat sampai membuat Eliana semakin kesal.


"Kau berbeda jadi aku harus bertingkah seperti ular agar mangsaku ini tidak lari!"


"Jangan bercanda, lepas!" Eliana mencubit lengan Morgan karena pria itu sudah melepaskan tangannya.


"Kenapa kau suka mencubit?"


"Sebab itu lepaskan!"


"Ayolah, berbicara tanpa adanya kekerasan!"

__ADS_1


"Jika begitu berbicaralah tanpa memeluk aku!" ucap Eliana sinis.


"Aku suka seperti ini, jadi ijinkan aku memelukmu untuk sesaat. Aku tahu kau tidak suka, maaf atas perbuatan yang baru saja aku lakukan. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi," ucap Morgan. Tangannya bergerak, mengusap kepala Eliana dengan perlahan.


"Tapi kita tidak memiliki hubungan apa pun, tidak baik melakukan hal seperti ini!'


"Tidak ada yang melihat, hanya kita berdua yang tahu."


Eliana diam, tidak berkata apa-apa lagi tapi bukan berarti dia menyukai kebersamaan mereka yang seperti itu. Dia sangat ingin menendang Morgan pergi menjauh tapi Morgan masih belum melepaskan dirinya.


"Tidak melawan lagi?" tanya Morgan.


"Aku bukan tukang gulat yang memiliki banyak tenaga untuk melawanmu jadi sebaiknya kau lepaskan jika kau tahu diri!"


Morgan kembali terkekeh, namun pada akhirnya Morgan melepaskan Eliana. Begitu terbebas, Eliana memundurkan tubuhnya denga terburu-buru lalu meraih sesuatu yang ada di atas meja. Morgan menyalakan lampu, senyuman menghiasi wajah saat melihat Eliana sudah berada di ujung ranjang.


Eliana pun tersenyum, namun tersenyum dengan penuh arti. Beraninya pria itu masuk ke dalam kamarnya dan menggerayanginya? Dia pasti akan membalas perbuatan tidak sopan pria itu.


"Sudah tidak marah lagi, bukan?" Morgan mendekati Eliana, dia tidak tahu Eliana sudah menyembunyikan sesuatu.


"Tentu saja tidak, aku orang yang pemaaf," ucap Eliana sambil tersenyum.


"Bagus, bagaimana jika kita melanjutkan yang tadi? Sudah tidak gelap, kau tidak takut lagi, bukan?"


"Dalam mimpimu, baj*ngan!" teriak Eliana seraya melemparkan apa yang dia sembunyikan ke arah Morgan. Morgan terkejut, dia tidak sempat menghindar karena jarak yang begitu dekat. Suara benda yang mengenai dahi pun terdengar di susul dengan teriakan Morgan karena jam weker mendarat tepat di dahi.


"Eliana, beraninya kau?" teriaknya marah.


Eliana sudah mengambil langkah seribu, dia berlari keluar dari kamar tentunya Morgan mengejarnya akibat dia tidak terima karena lagi-lagi Eliana melemparnya.


"Jangan lari, kemari kau!" teriaknya seraya berlari keluar dari kamar namun Eliana sudah berlari masuk ke dalam kamar Edwin dan Elvin serta mengunci pintu dengan rapat. Eliana mengatur napas, bahaya. Kali ini jangan sampai Morgan bisa membalas.


Morgan berdiri di depan pintu dengan kekesalan di hati, seluruh tubuh jadi babak belur hanya karena ulah Eliana.


"Tunggu tanggal mainnya, Eliana!" ancam Morgan dan tentunya itu bukan ancaman biasa. Eliana diam saja, pria yang penuh dendam. Dia hanya membalas apa yang Morgan lakukan tapi pria itu tidak terima juga. Mulai sekarang dia tidak boleh berjauhan dengan Edwin dan Elvin tapi dia tidak tahu jika kedua anak itu telah bersekutu dengan ayah mereka.

__ADS_1


__ADS_2