Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Meminta Maaf


__ADS_3

Suara tangisan Edwin dan Elvin terdengar nyaring saat Morgan masih melumpuhkan musuh di luar sana. Dia tahu ada yang tidak beres, perasaannya tidak nyaman. Tadinya dia belum tahu jika Eliana berada di sana. Dia justru mengira Eliana sudah pergi setelah diusir oleh anak buahnya tapi mendengar suara teriakan Edwin dan Elvin yang tak henti memanggil ibu mereka, Morgan tahu Eliana berada di tempat itu. Bagaimana bisa Eliana berada di tampat itu, dia tidak tahu.


Morgan takut kedua putranya terluka, entah apa motif pelayan barunya melakukan hal itu. Mungkin mau meminta tebusan atau apa, dia tidak akan membiarkan Liona lepas. Saat itu Morgan belum tahu jika Liona adalah mantan kekasihnya yang sangat terobsesi dengannya tapi sebentar lagi dia akan tahu.


Suara tangisan Edwin dan Elvin semakin nyaring terdengar sehingga dia pun semakin tidak sabar menghabisi musuh yang ada. Morgan dan para anak buahnya terus maju, siapa pun yang terlihat dibunuh tanpa ragu.


Para penjahat yang mendapat bayaran tidak terlalu tinggi lebih memilih melarikan diri sebagian setelah melihat rekan mereka mati tertembak namun sebagian dari mereka masih berusaha bertahan menembaki Morgan dari tempat tersembunyi.


Bangunan yang sudah tua dan tidak terlalu besar sudah hampir hancur akibat timah panas. Itu hanya rumah tua yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Morgan yang benar-benar tidak sabar berlari menuju ruangan di mana tangisan Edwin dan Elvin masih terdengar.


Beberapa anak buahnya mengikuti  Morgan sedangkan yang lain mengejar para penjahat yang mulai lari untuk menyelamatkan diri mereka. Lagi pula mereka tidak dibayar untuk hal seperti itu jadi mereka mulai mundur setelah jumlah mereka tinggal sedikit.


Morgan menerobos masuk setelah menendang pintu. Edwin dan Elvin melihat ke arahnya, Morgan terkejut dan segera berlari mendekati kedua putranya yang sedang memeluk Eliana yang berbaring di atas lantai. Agar kedua putranya tidak terluka, Eliana yang menahan peluru dari pistol yang di tembakan oleh Camella. Dia akan melakukan apa pun agar kedua putranya tidak terluka bahkan mengorbankan nyawanya sekalipun.


"Apa yang terjadi?" Morgan melepaskan jas yang dia gunakan untuk menahan darah dari luka tembak yang terdapat di dada Eliana.


"Daddy jahat, semua gara-gara Daddy!" teriak Edwin. Anak itu menatap ayahnya dengan tatapan penuh kebenciann, begitu juga dengan adiknya.


"Aku benci dengan Daddy, aku benci!" teriak Elvin pula. Kedua tangan kecil mereka sudah belumuran darah tentunya itu darah ibu mereka.


"Jangan menangis, ini hanya luka ringan," Eliana berusaha menghibur kedua putranya.


"Tapi darah Mommy sangat banyak," ucap Edwin.


"Mommy jangan mati, aku tidak mau Mommy mati!" teriak Elvin sambil menangis.


"Mana pelayan kurang ajar itu?" tanya Morgan dengan kemarahan memenuhi hatinya. Rasa bersalah juga dia rasakan, jika dia tidak keras kepala maka kejadian itu tidak akan terjadi.


"Penyihir jahat itu sudah melarikan diri dengan penjahat yang bersama dengannya!" teriak Edwin.

__ADS_1


"Penyihir jahat? Camella?"


"Semua gara-gara Daddy! Mommy tidak mungkin mencuri, penyihir itu yang jahat!" Elvin mengusap air matanya yang tidak berhenti mengalir.


"Segera bawa dia ke rumah sakit dan yang lain, ikut denganku. Edwin dan Elvin ikut dengan Daddy!" ucap Morgan seraya beranjak.


"Tidak, jangan pisahkan aku dengan mereka," pinta Eliana dengan lemah karena dia sudah kehilangan banyak darah.


"Bodoh!" Morgan kembali berjongkok dan memegangi tangan Eliana, "Aku minta maaf, Eliana. Aku terlalu egois sehingga tidak mau mendengarkan perkataanmu. Maafkan aku, aku sungguh menyesali perbuatanku. Aku berjanji tidak akan memisahkan kau dan mereka. Keadaanmu akan semakin memburuk jika tidak segera ditangani jadi mereka akan membawamu ke rumah sakit. Edwin dan Elvin ikut denganku karena tidak ada yang menjaga mereka, aku tidak akan tenang meninggalkan mereka jadi lebih baik mereka ikut denganku. Aku akan membawa mereka menemui dirimu setelah aku selesai dengan Camella!" ucap Morgan.


"Apa kau tidak akan memisahkan aku dengan mereka? Apa kau tidak akan menyembunyikan mereka dariku?" tanya Eliana karena dia takut saat dia berada di rumah sakit, Morgan justru membawa Edwin dan Elvin pergi sehingga dia tidak bisa bertemu dengan mereka lagi.


"Tidak, aku berjanji tidak akan melakukannya!"


Eliana memandangi kedua putranya yang masih menangis, jika setelah ini dia tidak bisa bertemu dengan Edwin  dan Elvin lagi maka dia lebih memilih mati saat itu juga.


"Aku tidak mau ikut dengan Daddy yang jahat!" teriak Edwin.


"Boys, Mommy harus segera diobati!" ucap ayah mereka.


"Tapi, Daddy pasti membawa kami pada Mommy lagi, bukan?" Edwin dan Elvin melihat ibu mereka yang kesakitan.


"Tentu, tapi jika kalian menahan terlalu lama maka keadaan Mommy akan semakin memburuk!"


"Baiklah, Mommy harus baik-baik saja. Kami menyayangi Mommy!" Edwin dan Elvin memeluk dan mencium ibu mereka sebelum ibu mereka dibawa pergi.


"Mommy juga menyayangi kalian. Jangan lupa mencari Mommy!" pinta Eliana.


"Bawa, segera!" perintah Morgan.

__ADS_1


Seorang anak buahnya membawa Eliana pergi, walau berat karena takut tidak bisa bertemu dengan kedua putranya lagi tapi mau tidak mau dia harus mempercayai Morgan. Setelah Eliana dibawa pergi, Edwin dan Elvin memukuli ayah mereka karena mereka masih marah. Tidak saja marah, mereka juga kecewa pada ayah mereka yang sudah bersikap kasar pada ibu mereka dan yang telah mengurung mereka di dalam kamar.


"Daddy jahat, aku benci dengan Daddy!" teriak Edwin.


"Setelah besar, aku akan mengunci Daddy yang sudah tua di dalam kamar!" teriak Elvin. Perkataan itu terlontar tentu akibat rasa kecewa yang teramat dalam.


"Aku tidak akan peduli dengan Daddy seperti Daddy tidak peduli dengan kami!" Edwin kembali berteriak.


"Baiklah, Daddy yang salah. Maafkan Daddy telah memperlakukan kalian dengan begitu buruk!"


"Daddy selalu seperti ini. Tidak pernah peduli dengan kami!" Edwin dan Elvin kembali menangis, mereka pun masih memukul ayah mereka tiada henti.


"Stop, bukankah Daddy sudah minta maaf? Daddy menyesal telah memperlakukan kalian seperti ini jadi maafkan kesalahan yang telah Daddy lakukan!" Morgan berjongkok untuk memeluk kedua putranya, "Daddy yang salah jadi maafkan Daddy," pintanya lagi.


"Daddy harus minta maaf pada Mommy, bukan pada kami saja!"


"Akan Daddy lakukan tapi nanti. Sekarang katakan pada Daddy, ke mana penyihir itu dan bantu Daddy menemukannya. Kalian mau membantu, bukan?"


"Kali ini, Daddy tidak boleh bermurah hati pada penyihir itu!"


"Benar, Daddy harus menendang penyihir jahat itu sampai ke dalam gunung merapi!" teriak Elvin.


"Setelah ketemu, mari kita tendang bersama!"


Morgan mengajak kedua putranya keluar dari ruangan itu. Beruntungnya dia telah menyimpan alat pelacak disetiap baju yang putranya gunakan. Jika tidak ada alat itu, maka dia tidak bisa menemukan mereka dengan cepat. Jika dia terlambat sedikit saja maka Eliana akan kehabisan darah dan jika sampai hal itu terjadi, kedua putranya benar-benar akan membenci dirinya sampai mati.


Camella yang melarikan diri setelah menembak berlari tanpa tujuan arah. Celaka, dia harus menyelamatkan diri sekarang. Semoga saja Eliana mati, itu sudah cukup tapi sekarang dia tidak bisa kembali lagi pada Morgan. Bodoh, seharusnya dia menembaki mereka semua tapi dia terlalu takut sehingga dia langsung lari.


Sekarang, dia harus lari secepat mungkin agar dia bisa melarikan diri dari Morgan. Dia tidak boleh berhenti, dia harus berlari tanpa berhenti karena dia tahu Morgan pasti sedang mencarinya saat ini dan memang itulah yang terjadi karena saat itu, Morgan bekerja sama dengan kedua putranya untuk mencari keberadaan Camella yang berari ke arah hutan.

__ADS_1


__ADS_2