Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Morgan sudah berada di kebun binatang. Ini kali pertama dia menginjakkan kaki ke tempat itu karena dia tidak memiliki kenangan apa pun di tempat seperti itu. Dia sudah ditinggal pergi oleh ibunya sejak kecil, jadi dia tidak memiliki kenangan menyenangkan saat kecil oleh sebab itu dia tidak pernah membawa kedua putranya ke kebun binatang dan taman bermain di mana anak-anak sangat menyukai tempat seperti itu.


Masa kecilnya dilalui dengan banyak masalah, tidak saja sebuah luka dia dapatkan saat ditinggal oleh ibunya pergi, dia juga harus menghadapi kenyataan sang ayah yang meninggal karena Aids lalu dia mulai dijauhi oleh teman-temannya. Dia bahkan tidak tahu jika kedua putranya sangat ingin datang ke tempat seperti itu.


Kebun Binatang yang luas dan ramai, membuat Morgan sakit kepala karena dia tidak suka keramaian seperti itu tapi dia harus mencari kedua putranya. Dia bahkan tidak tahu jika dia harus membeli tiket untuk masuk ke dalam sehingga dia dicegat oleh petugas yang berjaga di pintu. Sungguh menyebalkan, rasanya ingin memukul petugas itu sampai babak belur.


Karena kebun binatang yang begitu luas, Morgan memanggil anak buahnya dan memerintahkan mereka menyebar untuk mencari keberadaan kedua putranya yang saat itu berada di kandang burung. Morgan pun ikut mencari di antara para pengunjung yang notabenenya adalah anak-anak. Dia harus teliti mencari agar tidak terlewat.


Edwin dan Elvin sedang mengagumi kumpulan burung merak yang sedang membuka ekornya dan mempertunjukkan bulu-bulu mereka yang indah untuk menarik perhatian sang betina. Indahnya burung itu membuat mereka tidak mau beranjak pergi. Mereka bahkan begitu betah menyaksikan burung-burung itu membuka ekor mereka.


"Apa yang burung itu lakukan, Aunty?" tanya Edwin.


"Yang memiliki ekor indah itu burung jantan, mereka melakukannya untuk menarik perhatian burung betina," jelas Eliana.


"Kenapa harus sperti itu?" tanya Edwin dan Elvin sambil memandangi Eliana dengan tatapan ingin tahu.


"Aunty juga tidak tahu, Sayang. Tapi burung merak memang seperti itu, yang jantan harus menarik perhatian betina oleh sebab itu mereka harus membuka ekor mereka agar yang betina tertarik."


"Wah, jika begitu Daddy harus bercukur dengan benar agar semakin tampan supaya Aunty tertarik dengan Daddy" ucap Edwin.


"Benar, nanti kita akan membantu Daddy agar semakin tampan supaya Aunty jatuh cinta," ucap Elvin pula.


Eliana menggeleng, kedua anak itu masih saja mempromosikan ayah mereka padanya. Tapi dia tahu itu hanya keinginan anak-anak yang tidak berdasar. Dia masih tetap ingat dengan tujuannya kembali ke kota itu dan tidak akan terjerat pada pria mana pun karena yang dia inginkan hanya kedua putranya saja.


"Ayo kita lihat yang lainnya," ajak Eliana seraya mengulurkan tangannya pada si kembar.


"Aunty, Daddy sangat tampan," ucap Elvin saat mereka meninggalkan burung merak


"Aunty tahu, sebab itu kalian juga tampan."


"Apa Aunty menyukai kami?" tanya Edwin.


"Tentu saja, Aunty sangat menyukai kalian."

__ADS_1


"Jika begitu Autny pasti menyukai Daddy karena wajah kami seperti wajah Daddy!"


"Wah, Aunty tidak sabar bertemu dengan Daddy kalian jadi katakan di mana rumah kalian?"


"Setelah kami ke taman bermain dan Aunty setuju tinggal dengan kami barulah kami mengatakannya," lagi-lagi Edwin mengatakan hal yang sama.


Eliana kembali menggeleng, sungguh anak-anak yang cerdik. Dia jadi ingin tahu seperti apa ayah yang sangat dibanggakan oleh Edwin dan Elvin. Pastinya seperti ayah pada umumnya.


Morgan masih mencari keberadaan kedua putranya di luar sana, semua anak-anak yang dia lewati tidak luput dari pantauannya. Anak buah yang dia perintahkan pun tidak melepaskan pandangan mereka dari anak-anak yang lewat. Mereka masih terus mencari dengan teliti tanpa menyadari jika Edwin dan Elvin sedang menuju restoran fastfood yang ada di tempat itu karena Edwin dan Elvin merengek sudah lapar.


Anak buah Morgan yang berada di tempat itu tidak melihat, mereka sedang serius melihat anak-anak yang kebetulan lewat. Edwin dan Elvin sudah berada di dalam restoran, mereka pun sudah duduk di dekat jendela.


"Tunggu di sini, Aunty akan memesan makanan untuk kalian berdua," ucap Eliana.


"Aku mau ayam goreng dan burger," ucap Edwin.


"Aku juga!" Elvin pun tidak mau kalah. Lagi pula mereka butuh tenaga yang banyak.


"Baiklah, tunggu di sini baik-baik dan jangan pergi ke mana pun, oke?"


"Good Boy," Eliana meninggalkan mereka untuk memesan makanan. Tidak butuh lama, makanan yang mereka inginkan pun sudah didapatkan.


Edwin dan Elvin makan dengan lahap, kentang goreng yang Eliana beli untuk mereka pun habis. Mereka mengisi perut mereka yang kosong karena mereka akan kembali melakukan petualangan lagi di kebun binatang itu. Eliana tersenyum melihat mereka berdua, benar-benar menyenangkan bisa bersama dengan Edwin dan Elvin.


"Aunty mau ke kamar mandi sebentar, tunggu di sini baik-baik," ucap Eliana seraya beranjak. Edwin dan Elvin mengangguk, cola yang masih ada pun dihabiskan. Mereka melihat keluar, sesungguhnya yang ingin mereka lihat ada binatang gajah yang hendak melakukan atraksi di luar sana tapi tanpa sengaja mereka justru melihat ayah mereka yang sedang melewati kerumunan anak-anak yang hendak menonton pertunjukkan.


Edwin dan Elvin segera bersembunyi agar ayah mereka tidak melihat keberadaan mereka berdua di restoran itu.


"Aku melihat Daddy," ucap Edwin.


"Aku juga, kakak."


Mereka saling pandang lalu mengintip dari jendela. Benar saja, ayah mereka sedang mencari mereka di antara kerumunan anak-anak yang ada di luar sana dan mereka tidak salah lihat.

__ADS_1


"Bagaimana ini, Kakak?" tanya Elvin.


"Ayo kita ajak Aunty pulang," jawab kakaknya.


"Setelah pulang apa yang akan kita lakukan?"


"Daddy pasti tahu kita bersama dengan Aunty, sebab itu Daddy ada di sini. Kita tidak bisa merengek di sini tapi di rumah Aunty kita bisa merengak sampai puas dan tidak ada yang melihat. Lagi pula Aunty pasti membela kita dan kita sudah kenyang."


"Baiklah, ayo kita cari Aunty," Elvin menyetujui perkataan kakaknya. Mereka tidak mungkin merengek di tempat ramai apalagi mereka tahu ayah mereka pasti akan langsung membawa mereka pulang dan Aunty yang mereka sukai tidak akan bisa ikut dengan mereka nantinya. Edwin dan Elvin menebak demikian karena mereka juga melihat beberapa anak buah ayah mereka yang berada di sekitar tempat itu.


Eliana keluar dari kamar mandi dan terkejut mendapati si kembar menunggunya sambil menangis. Eliana tampak panik dan segera menghampiri mereka.


"Ada apa? Kenapa kalian menangis?" tanya Eliana.


"Aunty, perutku sakit," dusta Elvin.


"Perutku juga, Aunty."


"Astaga, ayo ke rumah sakit," Eliana menggendong mereka berdua.


"Tidak mau, kami hanya butuh tidur," ucap Edwin.


"Benar, Aunty. Kami hanya butuh tidur saja," Elvin membenarkan.


Eliana sangat heran tapi dia mengikuti keinginan kedua anak itu dan bergegas membawa mereka pulang. Dia bahkan sangat heran saat Edwin memintanya untuk melewati jalan lain agar tidak dilihat oleh ayah mereka. Walau terasa aneh tapi dia tidak bertanya.


Morgan sudah tampak kesal karena dia tidak juga menemukan keberadaan kedua putranya dari kerumunan anak-anak tersebut. Dia masih terus mencari sampai akhirnya seorang anak buah yang berjaga di luar memberinya laporan jika wanita yang mereka cari sudah membawa Edwin dan Elvin pulang bahkan anak buahnya itu sedang mengikuti Eliana.


Morgan mengumpat, benar-benar menghabiskan waktu karena dia harus kembali ke rumah Eliana lagi. Jika dia tahu akan jadi seperti itu maka dia akan menunggu saja.


Eliana begitu mengkhawatirkan keadaan si kembar, begitu kembali Eliana segera mengganti pakaian mereka dan meminta mereka berbaring. Mungkin mereka terlalu banyak makan sehingga mereka berdua sakit perut.


Edwin dan Elvin pura-pura tidur padahal mereka sedang menunggu ayah mereka datang lalu mereka akan menangis dengan keras setelah ini. Eliana meninggalkan Edwin dan Elvin yang pura-pura sudah tidur. Eliana berada di dapur karena dia ingin membuatkan sup hangat untuk si kembar namun Eliana terkejut saat pintu rumahnya ada yang menendang dengan keras.

__ADS_1


"Siapa itu?" Eliana berlari keluar dan terkejut saat mendapati seorang pria asing melangkah masuk ke dalam bahkan pria asing itu menatapnya dengan tajam. Siapa? Pertanyaan itu muncul di hati Eliana karena dia tidak mengenal pria asing yang sedang melangkah menghampiri dirinya.


__ADS_2