Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Diculik


__ADS_3

Eliana tidak mempedulikan Morgan sekalipun Morgan berkata membutuhkan dirinya. Dia tahu maksudnya, Morgan memang membutuhkan dirinya untuk mengasuh kedua putranya yang sedang sakit. Dia tidak akan terbuai dan menyalah artikan perkataan pria itu lalu mengikutinya karena dia tahu, Morgan tidak menyukai dirinya.


Morgan masih berdiri di luar, menunggu Eliana membuka pintu untuknya namun suara wanita itu tidak terdengar. Itu karena Eliana kembali ke dapur dan membuat makan malam yang tertunda. Dia yakin Morgan pasti akan pergi dengan sendirinya saat dia tidak keluar, tidak mungkin pria itu akan menunggunya sampai pagi.


Eliana menikmati makanannya dengan santai, sedangkan Morgan mulai kesal karena dia sudah menunggu begitu lama. Hujan deras pun mengguyur, angin kencang bertiup sehingga air hujan membasahi tubuhnya. Morgan mengumpat, sungguh wanita yang kejam.


"Eliana, buka pintunya!" teriak Morgan sambil mengetuk daun pintu.


Eliana tidak mendengar apalagi dia sudah berada di dalam kamar, suara guntur yang berbunyi menyamarkan suara Morgan. Eliana tampak gelisah, dia pun turun dari atas ranjang dan melangkah menuju jendela karena dia ingin melihat keluar dan mencari tahu apakah Morgan masih berada di luar atau tidak.


Seharusnya ini bukan urusannya, seharusnya dia tidak peduli tapi jika mengingat Edwin dan Elvin membuatnya teringat dengan kedua putranya yang masih belum dia ketahui keberadaannya. Entah mereka memiliki seorang ibu atau tidak saat ini, dia merasa keadaan Edwin dan Elvin tidak jauh berbeda dengan kedua putranya.


Eliana diam di depan jendela, melihat Morgan yang sedang berlari menuju mobil menerjang derasnya air hujan. Bagus, akhirnya pria itu pergi. Dia harus tahu jika semua yang dia inginkan tidak akan bisa dia dapatkan dengan mudah apalagi mereka memanglah bukan siapa-siapa.


Morgan mengeringkan tubuhnya yang basah lalu mengambil pakaian bersih yang memang selalu ada di dalam mobil. Eliana, wanita itu sungguh berani mengibarkan bendera perang sehingga membuatnya tampak begitu bodoh. Ini bukanlah akhir namun ini adalah awal. Wanita itu akan tahu akibatnya karena berani menantangnya.


"Eliana, kau pasti menyesal telah berani menantangku. Aku pastikan kau menyesali perbuatanmu ini!" ucap Morgan sambil mengganti baju bersih. Dia masih kesal dan tidak terima, tidak ada satu orang pun yang berani melakukan hal ini dan wanita yang bernama Eliana itu, sungguh punya nyali.


Padahal dia sudah berkata-kata manis pada Eliana bahwa tidak saja Edwin dan Elvin yang membutuhkan dirinya tapi dia juga membutuhkannya tapi Eliana masih tidak juga terbujuk dengan rayuannya. Sepertinya dia terlalu meremehkan Eliana, dia kira dia akan membuka pintu dan mengikutinya tapi ternyata dia salah. Tidak apa-apa, walau memalukan karena setelah ini dia benar-benar akan menggunakan caranya.


Eliana masih melihat mobilnya, Morgan pun melihat ke arah rumah Eliana sejenak lalu mobilnya pun pergi. Eliana bernapas lega, akhirnya. Sekarang dia tidak perlu merasa tidak tega, besok dia pasti pergi mengunjungi Edwin dan Elvin. Kemungkinan mereka berada di rumah sakit waktu itu, jadi dia akan mencari mereka di sana.

__ADS_1


Karena dia mengira Morgan sudah menyerah dan pergi jadi Eliana kembali ke ranjang dan menarik selimut. Dia tidak bisa tidur sama sekali, itu karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Edwin dan Elvin. Rasanya ingin segera cepat pagi oleh sebab itu dia berusaha memejamkan mata.


Hujan yang masih saja mengguyur dan petir yang menyambar membuat Eliana terlelap. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi, dia benar-benar tidak curiga jika Morgan pergi hanya untuk mengelabui dirinya karena saat ini, pria itu sudah kembali dengan beberapa anak buahnya.


Hujan sudah tidak deras lagi bahkan sudah mau berhenti, Morgan berdiri di depan rumah Eliana dan memerintahkan anak buahnya membuka pintu dengan hati-hati. Sekarang dia benar-benar akan membawa Eliana, dengan cara halus tidak bisa, cara kasar pun tidak maka dia akan menculik wanita itu. Salahkan dirinya sendiri yang tidak mau mengikutinya padahal dia sudah membujuk sedemikian rupa.


Setelah pintu terbuka, Morgan memerintahkan anak buahnya berjaga di luar sedangkan dia melangkah menuju kamar Eliana. Pintu kamar yang terkunci kembali dibuka dengan paksa, Eliana tidur dengan pulas tanpa menyadari kehadiran pria itu yang sudah berdiri di sisi ranjang sambil memperhatikannya dengan seringai lebar.


"Ingin melawan aku? Kau tidak akan bisa, Eliana!" Morgan melangkah mendekat, obat bius pun digunakan agar Eliana tidak sadar saat dia membawanya pergi. Akan sangat merepotkan jika hal itu terjadi, jadi obat bius memang dibutuhkan.


Morgan membawa Eliana keluar dalam gendongannya, tidak ada yang dia ambil selain Eliana saja karena hanya itu saja yang dia mau. Eliana yang sudah pingsan pun dibawa pergi, Morgan tersenyum dengan ekspresi puas saat melihat Eliana yang sedang berbaring di atas pahanya. Akhirnya, dia bisa kembali dan memenuhi janjinya pada kedua putranya.


Morgan mengambil ponselnya yang berbunyi dan segera menjawab. Suara Edwin yang sudah tidak sabar pun terdengar, Morgan kembali tersenyum. Tatapan matanya jatuh pada wajah Eliana, tangannya pun sibuk memainkan rambut Eliana saat itu.


"Daddy, apa Daddy sudah membawa Mommy?" tanya Edwin.


"Tentu saja sudah, apa kau kira Daddy tidak bisa membawanya?"


"Mana, aku ingin berbicara dengan Mommy!" teriak Edwin.


"Aku juga, aku juga mau!" teriak Elvin.

__ADS_1


"Mommy sedang tidur, jadi jangan mengganggunya!" dusta Morgan.


"Daddy tidak sedang berbohong, bukan?" tanya putranya.


"Tentu saja tidak, untuk apa Daddy membohongi kalian tapi kenapa kalian tidak tidur? Ini sudah jam berapa?" Morgan terdengar marah.


"Kami hanya ingin tahu apakah Daddy sudah berhasil atau tidak," jawab Edwin.


"Daddy sudah membawanya jadi segera tidur, besok Daddy akan mengajaknya untuk menjenguk kalian!"


"Ho....re! Kami sudah tidak sabar!" sorak mereka berdua.


"Jika begitu segera tidur!" perintah Morgan seraya mengakhiri pembicaraan mereka.


Ponsel di simpan, tangan yang memainkan rambut Eliana pun terhenti karena tangannya sudah berpindah ke wajah Eliana dan mengusapnya dengan perlahan.


"Jangan harap kau bisa pergi lagi," ucapnya, "Kami tidak akan membiarkan kau pergi ke mana pun!" entah kenapa dia berkata demikian, entah dia mengatakan hal itu demi kedua putranya atau memang dia juga membutuhkan wanita itu, dia tidak tahu.


Entah kenapa dia jadi ingin mencium dahi Eliana, oleh sebab itu Morgan menunduk sedikit untuk mengecup dahi Eliana. Rasanya sedikit puas, dia'lah pemenangnya. Setelah melakukan hal itu, Morgan memejamkan matanya karena dia mau tidur sebentar.


Morgan tidak kembali ke rumah sakit tapi dia membawa Eliana pulang dan membaringkan Eliana ke atas ranjangnya. Perasaan puas kembali memenuhi hati apalagi Eliana berada di dalam dekapannya saat ini dan dia bisa tidur dengan nyenyak tapi yang pasti, saat Eliana sadar dia harus menghadapi kemarahan Eliana.

__ADS_1


__ADS_2