
Senyuman tak hentinya menghiasi wajah Morgan, tentunya senyuman itu tiada henti terukir di bibir karena Eliana sudah bersedia tinggal bersama dengannya. Akting kedua putranya sungguh hebat, mereka memiliki bakat yang luar biasa. Meski Eliana berkata dia akan pergi pada akhirnya, tapi Eliana akan pergi setelah dia menikah yang berarti dia tidak akan pergi sebelum Morgan menikah dan secara kebetulan dia memang tidak akan menikah. Tidak, belum. Dia belum merencanakan pernikahan dalam hidupnya.
Eliana harap keputusannya sudah benar, tapi sekarang dia jadi mengingat hubungan Morgan dengan kekasihnya. Apa Morgan memintanya tinggal setelah mendapat persetujuan dari kekasihnya? Sepertinya dia harus tahu hal ini agar tidak menimbulkan salah paham nantinya.
Edwin dan Elvin sedang tidur, Eliana duduk di sofa dan tampak termenung. Morgan sedang menunggu makanan, dia memerintahkan sang asisten untuk membelikan makanan dan tidak itu saja, dia juga sudah memerintahkan sang asisten untuk menyiapkan semua perlengkapan Eliana di rumah. Beberapa barang penting milik Eliana sudah diambil sebelum Eliana meminta. Mulai sekarang semua keperluan Eliana adalah tanggung jawabnya.
Tatapan mata Eliana tidak lepas dari Morgan yang melangkah mendekatinya. Pria itu masih tersenyum, Eliana sampai kesal melihatnya. Entah kenapa pria itu terlihat begitu senang, yang pasti dia tidak suka dengan senyuman yang ditunjukkan oleh Morgan karena senyuman itu memiliki banyak arti.
"Apa kau sudah gila?" tanya Eliana sinis.
"Tidak, apa aku seperti orang gila?" Morgan balik bertanya.
"Melihatmu yang tersenyum tiada henti, kau memang sudah sperti orang gila!" ucap Eliana seraya berpaling.
"Jangan berbicara sembarangan, aku belum gila!" Morgan mulai terlihat kesal.
"Jika begitu berhentilah menunjukkan senyuman jelekmu itu!"
"Kau?" kekesalan memenuhi hati karena senyumannya dianggap jelek oleh Eliana.
"Kau meminta aku tinggal di rumahmu, apakah kekasihmu sudah tahu akan hal ini?" tanya Eliana. Apa pun yang terjadi, dia tidak mau menjadi orang ketiga yang merusak hubungan orang lain apalagi dia dan Morgan tidak memiliki hubungan sama sekali.
"Kenapa kau bertanya demikian? Apa kau peduli dengan pendapat kekasihku jika kau tinggal denganku?"
"Tolong jangan salah mengerti, aku bertanya demikian karena aku tidak mau kekasihmu salah paham akan keberadaanku nanti. Aku pun tidak mau dianggap sebagai orang ketiga dalam hubungan kalian berdua jadi jangan salah paham dan pikirkan juga posisiku karena aku tinggal denganmu demi kedua putramu, bukan karena kau!" ucap Eliana.
"Tidak perlu khawatir, aku tidak memiliki hubungan apa pun lagi dengan Camella."
"Benarkah?" Eliana berpaling, melihat ke arah Morgan.
__ADS_1
"Tentu saja, untuk apa aku berbohong. Edwin dan Elvin tidak menyukai Camella, jadi untuk apa aku mempertahankan dirinya? Lagi pula apa yang dia lakukan sudah keterlaluan, jika aku mempertahankan hubunganku dengannya maka aku akan membahayakan kedua putraku dan membahayakan dirimu."
"Tidak perlu bawa-bawa aku, aku hanya orang asing!"
"Aku tidak bermaksud demikian, aku hanya ingin kau tidak mengkhawatirkan Camella karena dia tidak akan datang ke rumah lagi."
Eliana diam, apakah demikian? Rasanya tidak semudah itu Camella menyerah tapi dia tidak mau mempedulikan hal itu karena itu bukanlah urusannya. Mereka sudah tidak berbicara apa-apa lagi untuk beberapa saat sampai akhirnya Eliana ingat jika dia harus pulang untuk mengambil barang-barangnya.
"Tolong pinjami aku uang," pinta Eliana.
"Untuk apa, apa ada barang yang ingin kau beli? Jika ada katakan saja, aku akan membelikannya untukmu."
"Bukan begitu, aku harus pulang. Kau membawa aku secara diam-diam, aku harus mengambil baju dan beberapa barangku!" Eliana kembali melotot ke arahnya, dia tampak kesal karena dia kembali mengingat perlakuan Morgan yang membawanya secara paksa.
"Untuk itu kau tidak perlu khawatir, aku sudah memerintahkan anak buahku untuk mengambil semua barang-barangmu. Aku pun sudah menyiapkan semua kebutuhanmu di rumah, jadi kau tidak perlu khawatir."
"Semakin kau sinis, semakin aku ingin dekat denganmu jadi jangan membuat aku semakin tertantang karena aku tidak akan berhenti jadi jangan memancing," ancam Morgan.
Eliana menatapnya dengan tatapan galak, siapa yang menantang pria itu? Dia hanya tidak suka, dia tidak ingin mereka terlalu dekat tapi kenapa pria itu menyalah artikan sikap yang dia tunjukkan? Tanpa berkata apa-apa, Eliana beranjak dan melangkah pergi. Sebaiknya dia tidak banyak bicara pada pria itu karena dia malas berdebat.
"Mau ke mana, makanan sudah mau datang," ucap Morgan.
"Nanti aku akan makan, letakkan saja di sana. Sebaiknya kau pergi, aku yang akan menjaga mereka!"
"Apa?" Morgan benar-benar tidak terima karena Eliana mengusir dirinya dari tempat itu.
"Beraninya kau mengusir aku?" Morgan pun beranjak dan mengikuti langkah Eliana yang mendekati ranjang.
"Kau tidak dibutuhkan di sini, jadi pergi atau pulang untuk membersihkan rumahmu yang kotor!"
__ADS_1
Kedua tangan sudah mengepal. Apa Eliana menganggapnya sebagai pelayan? Beraninya wanita itu berkata demikian, apa Eliana tidak tahu siapa dirinya?
"Kau benar-benar punya nyali, Eliana!" Morgan melangkah mendekat, hukuman apa yang pantas wanita itu dapatkan?
Eliana pun tidak terlihat takut, dia bahkan menghentikan langkah seperti ingin tahu apa yang hendak Morgan lakukan padanya. Morgan memuji keberanian Eliana dalam hati, sungguh wanita yang berani. Eliana benar-benar wanita pertama yang tidak takut dan berani menantangnya.
Sepertinya satu ciuman bisa memberikan shock terapi, yeah... hukuman manis untuk Eliana karena sudah begitu berani pada dirinya. Morgan sudah melangkah mendekat, dia pun sudah ingin meraih pinggang Eliana untuk memberikan hukuman namun niatnya harus terhenti oleh suara pintu yang diketuk dari luar.
"Sir, makanan yang kau inginkan," ucap sang asisten yang mendapat perintah untuk membeli makanan.
"Sial!" umpat Morgan kesal karena sang asisten datang di waktu yang tidak tepat. Mau tidak mau dia melangkah menuju pintu untuk mengambil makanan. Eliana hanya menatapnya dengan tatapan tidak mengerti, apa yang ingin pria itu lakukan barusan? Sebaiknya dia waspada karena pria itu berbahaya.
Setelah mendapatkan makanan, Morgan kembali menghampiri Eliana dan meraih tangannya serta menarik tangannya dan membawanya menuju sofa.
"Mau apa kau?" Eliana kembali bertanya dengan sinis.
"Makan denganku," ucapnya.
"Lepas, aku bukan anak kecil yang harus kau tarik seperti ini!" Eliana berusaha menarik tangannya namun Morgan tidak melepaskan tangan Eliana.
"Jika tidak suka maka aku akan menggendongmu!"
"Jika kau berani maka kau akan berakhir di tanganku!" ancam Eliana.
"Wow, aku sangat takut, Nona!" diam-diam Morgan tersenyum, benar-benar wanita yang menarik. Lagi-Lagi untuk kali pertama, Eliana adalah wanita pertama yang berani mengancamnya dan dia, semakin tertarik dengan Eliana.
Tanpa menyadari jika sikap yang dia tunjukkan sudah membuat Morgan semakin tertarik dengannya, Eliana menikmati makanan yang Morgan berikan. Dia bahkan tidak menyadari jika Morgan sedang memandangi bibirnya. Morgan menelan ludah dan mengumpat dalam hati, kini dia penasaran dengan bibir Eliana dan sialnya, wanita itu menyadari jika dia melihatnya tiada henti sedari tadi.
Eliana melotot, buru-buru bergeser menjauh dan duduk membelakangi pria itu. Apa sebenarnya yang dilihat oleh Morgan? Eliana bahkan merasa punggungnya terasa panas, sebaiknya dia pergi dari ruangan itu karena dia merasa sedang diincar. Setelah makan, Eliana pun keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru karena dia tidak tahan terlalu lama berada di dekat Morgan.
__ADS_1