Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Debat


__ADS_3

Edwin dan Elvin segera keluar dari bawah selimut saat suara pintu terdengar. Mereka berdua melangkah menuju pintu dan berdiri di sisinya karena mereka ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh ayah mereka. Tidak perlu mereka lihat, mereka menebak jika ayah mereka sudah datang.


"Bagaimana ini, Kakak?" tanya Elvin.


"Sttss... kita lihat situasi saja. Jika Daddy menyakiti Aunty barulah kita bertindak!" ucap Edwin. Semoga saja ayah mereka tidak memberikan kesan buruk agar Aunty yang mereka sukai tidak marah namun ayah mereka yang sudah lelah dan dikuasai oleh emosi tidak bisa mengontrol diri lagi.


"Di mana mereka?" tanya Morgan pada Eliana tanpa basa basi.


"Tuan, bisakah sedikit sopan? Pintu rumahku baru saja dirusak orang sekarang kau merusaknya lagi!"  karena panik akan keadaan Edwin dan Elvin membuatnya tidak mempedulikan keadaan itu namun sesungguhnya yang merusak pintu rumahnya adalah pria yang sama.


"Tidak perlu basa basi, mana kedua putraku?" teriak Morgan lantang.


"Siapa putramu?" Eliana balik bertanya. Dia jadi kesal karena sikap pria itu tidak sopan sama sekali.


"Kau, jika sampai terjadi sesuatu pada Edwin dan Elvin maka aku tidak akan mengampuni dirimu!" ancam Morgan.


"Oh, jadi kau ayah Edwin dan Elvin?" Eliana menatapnya sinis. Ternyata pria itu ayah si kembar, pantas saja mereka melarikan diri dari rumah. Kemungkinan sikap ayahnya yang arogan dan tidak menyenangkan itulah yang telah membuat mereka kabur.


"Benar, jadi katakan di mana mereka?"


"Sungguh lucu sekali, Tuan. Untuk apa kau berteriak di rumahku? Apa kau kira aku yang membawa mereka kabur dari rumahmu?" Eliana bersedekap dada dan menatap Morgan dengan tatapan sinis.


"Aku datang untuk mencari kedua putraku, bukan untuk berdebat denganmu!" Morgan memutar langkah, dia akan menggeledah rumah itu untuk mencari kedua putranya.


"Berhenti di sana!" teriak Eliana, kedua kakinya pun sudah melangkah mendekati Morgan dengan cepat, "Jika kau berani, aku akan menghubungi polisi untuk menangkapmu!" kini Eliana yang mengancam.


"Apa kau berani?" Morgan menatap Eliana yang sudah di hadapannya dengan tatapan tajam.


"Apa kau kira aku takut? Kau masuk ke rumahku dengan mendobrak pintu, apa kau kira aku tidak berani melakukannya, Tuan?" Eliana berbicara sambil menekan nada bicaranya.


Morgan diam, mereka berdua pun saling pandang. Edwin dan Elvin masih mencuri dengar apa yang ayahnya dan ibunya debatkan.


"Aunty keren, hanya Aunty yang berani dengan Daddy," ucap Elvin.


"Sebab itu kita harus bisa membawa Aunty pulang," ucap kakaknya pula.


Morgan memijit pelipis. Entah apa yang Edwin dan Elvin katakan pada wanita itu, sepertinya wanita itu salah paham.


"Dengar, aku datang untuk membawa mereka pulang jadi katakan padaku di mana mereka agar aku bisa membawa mereka pulang."


"Setelah kau membawa mereka pulang, apa kau akan melakukan hal yang sama?" tanya Eliana.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Morgan menatapnya dengan tatapan tidak senang.


"Jangan berpura-pura tidak mengerti. Apa kau tidak tahu kenapa mereka kabur dari rumah dan tidak mau kembali? Jika kau melakukan kesalahan yang sama lebih baik kau tidak membawa mereka pulang sama sekali!"


"Siapa kau begitu berani menceramahi aku?"


"Siapa aku tidaklah penting tapi sebaiknya kau lebih memperhatikan mereka dan meluangkan waktumu untuk Edwin dan Elvin. Jika kau masih saja melakukan hal yang sama maka kau akan mengulangi kesalahan yang sama karena mereka akan kembali melarikan diri!"


"Diam!" teriak Morgan lantang karena Eliana begitu berani menceramahi dirinya.


"Kau hanya orang luar yang tidak tahu apa pun!" teriaknya lagi.


Eliana diam, dia hanya ingin Edwin dan Elvin lebih diperhatikan oleh ayah mereka saja. Apa pria itu tidak tahu? Mereka lebih membutuhkan perhatiannya apalagi si kembar sangat menyayangi ayah mereka.


"Daddy jahat, kami tidak mau pulang!" teriak Edwin dan Elvin yang sudah berdiri di depan kamar.


Eliana berpaling, begitu juga dengan Morgan. Edwin dan Elvin tampak kecewa dengan sikap ayah mereka, mereka bahkan terlihat menangis.


"Aku benci dengan Daddy, aku tidak mau pulang!" teriak Edwin.


"Aku mau tinggal dengan Aunty dan tidak mau pulang jadi sebaiknya Daddy pergi!" teriak Elvin.


"Boys, ayo pulang," Morgan menghampiri kedua putranya.


"Kami tidak mau pulang dan ingin tinggal di sini!" teriak mereka, tangisan mereka juga masih terdengar.


"Ayo pulang, apa yang kalian inginkan akan Daddy berikan," Morgan membujuk agar kedua putranya mau pulang bersama dengannya.


"Tidak mau, kami tidak mau pulang. Daddy jahat jadi kami tidak mau pulang!" teriak Edwin.


"Daddy jahat!" teriak Elvin pula lalu anak itu menangis dengan keras.


"Daddy minta maaf, cepat buka pintunya."


"Minta maaf dengan Aunty, bukan dengan kami!" teriak Edwin.


Morgan menghela napas dan melihat ke arah Eliana. Kenapa kedua putranya jadi membela wanita itu? Jangan katakan wanita itu sudah menghasut kedua putranya agar membenci dirinya.


"Apa yang kau katakan pada mereka?" Morgan kembali menghampiri Eliana.


"Aku tidak melakukan apa pun. Seharusnya kau sadar, mereka jadi seperti itu karena dirimu!"

__ADS_1


"Jangan membual. Kau sudah menghasut mereka, bukan?"


"Sekali lagi kau berkata yang tidak-tidak tentang aku, aku benar-benar akan menghubungi polisi!" Eliana melangkah melewatinya dan melangkah menuju kamar di mana Edwin dan Elvin berada.


"Edwin, Elvin, ayo buka pintunya," pinta Eliana.


"Aunty, usir Daddy pergi. Kami tidak mau pulang!" teriak Edwin.


"Tidak boleh begitu, Daddy kalian sudah datang untuk menjemput jadi kalian tidak boleh seperti ini," Eliana berusaha membujuk, Morgan hanya memperhatikan apa yang Eliana lakukan.


"kami tidak mau pulang, tidak mau!" tolak si kembar.


"Ayolah, buka pintunya. kita bicarakan baik-baik."


Edwin dan Elvin tidak menjawab, hanya terdengar tangisan suara Elvin saja. Setelah beberapa saat menunggu, Edwin dan Elvin keluar dari kamar dan memeluk kaki Eliana sambil menangis dengan keras. Morgan melangkah mendekat, dia tidak menyangka kedua putranya begitu menuruti perkataan wanita asing itu.


"Kami tidak mau pulang, Aunty. Kami tidak mau!" rengek si kembar.


"Tapi kalian tidak bisa selalu tinggal dengan Aunty, Sayang. Ayah kalian sudah menjemput jadi pulanglah."


"Tidak mau, aku tidak mau!" tolak Edwin.


"Aku juga tidak mau!" Elvin menangis dengan keras, dia sengaja melakukannya.


"Stop, Elvin!" perintah Morgan. Kepalanya semakin sakit mendengar tangisan putranya yang begitu keras.


"Aku tidak mau dengan Daddy, aku akan pulang jika Aunty ikut kita pulang!" Elvin semakin merengek, dia bahkan tidak ragu untuk berguling di atas lantai sambil berteriak jika dia tidak mau pulang.


"Kalian sudah keterlaluan, dia hanya orang asing jadi tidak bisa ikut kita pulang!" Morgan mendekati Elvin dan ingin menggendongnya namun Elvin tidak mau.


"Penyihir itu juga wanita asing, lalu kenapa Daddy membawanya pulang?"


"Dia bukan wanita asing, Daddy membawanya pulang agar kalian mengenalnya dan akrab dengannya!"


"Aunty juga bukan orang asing, kami ingin mengajaknya pulang agar Daddy dekat dengan Aunty!" Edwin mengembalikan ucapan ayahnya.


Morgan kehabisan kata-kata, tidak tahu harus berkata apa lagi. Edwin dan Elvin masih merengek, untuk membujuk Eliana agar mau ikut mereka pulang. Morgan kembali menghela napas, tidak ada pilihan lain selain mengajak wanita itu. Lagi pula Edwin dan Elvin memang membutuhkan babysitter.


"Aku minta maaf, tolong ikutlah dengan kami," pintanya pada Eliana.


"Ikut kami, Aunty. Ayo ikut kami," rengek Edwin dan Elvin.

__ADS_1


Eliana tidak menjawab, dia tidak mungkin mengikuti ketiga pria itu tapi kenapa dia merasa jika dia harus mengikuti mereka. Tiba-Tiba dia menjadi dilema, dia harus ingat dengan tujuannya tapi hati kecilnya berkata dia harus pergi bersama dengan mereka. Edwin dan Elvin masih merengek, membujuknya untuk ikut namun Eliana belum menjawab permintaan Edwin dan Elvin.


__ADS_2