Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Taman Bermain


__ADS_3

Taman bermain, mereka sudah tiba di tempat itu. Sorakan si kembar terdengar, akhirnya mereka bisa mendatangi tempat itu bersama dengan ayah mereka. Edwin dan Elvin bahkan sudah tidak sabar untuk bermain dan melakukan hal yang menyenangkan.


"Ayo cepat, Dad. Cepat!" Edwin dan Elvin menarik tangan ayah mereka agar bergegas masuk ke taman tersebut.


Camella menggerutu, taman yang ramai, cuaca yang begitu panas. Dia sungguh tidak suka berada di tempat seperti itu. Topi besar yang dia kenakan digunakan oleh Camella untuk mengipas karena panasnya cuaca hari itu. Rasanya ingin pulang tapi dia harus bertahan.


"Tunggu di sini dengan Camella," ucap Morgan, tatapan matanya tidak lepas dari Eliana sedang mengantri untuk membeli tiket masuk.


"Daddy mau pergi ke mana?" tanya si kembar.


"Membeli tiket, jadi jangan nakal. Kalian mengerti?"


"Tentu saja," Edwin dan Elvin tersenyum lebar.


"Camella, jaga mereka baik-baik!"


"Serahkah padaku," Camella tersenyum manis namun senyuman itu sirna setelah Morgan pergi menghampiri Eliana. Tadinya dia ingin mengosongkan taman bermain itu untuk kedua putranya tapi putranya tidak mau karena mereka mau bermain dengan banyak orang. Camella melihat ke arah Edwin dan Elvin yang mendekatinya, dia harus waspada pada kedua anak nakal itu.


"Aunty, apa hari ini panas?" tanya Edwin.


"Seperti yang kau tahu, memang panas," jawab Camella. Topi besarnya tidak berhenti mengipas.


"Kami punya permen, cocok dinikmati di musim panas. Apa Aunty mau?" kini Elvin berlari ke arah Camella.


"Permen? Wah, sepertinya enak. Boleh saja."


"Berikan tangan Aunty," pinta Edwin dan Elvin.


Camella memberikan tangannya tanpa curiga sama sekali. Elvin mengeluarkan sesuatu dari dalam tas, sesuatu yang memang sudah dia siapkan dari rumahnya.


"Harus langsung dimakan ya, Aunty. Jika tidak akan meleleh," ucap Edwin.


"Tenang saja, cepat berikan!" ucap Camella.


Edwin memberikan sesuatu ke tangan Camella, senyuman lebar menghiasi wajahnya. Camella tidak curiga sama sekali tapi dia terkejut saat merasakan sesuatu bergerak-gerak di atas telapak tangannya.


"Cepat, Aunty," ucap Edwin dan Elvin.


Camella melihat ke arah tangannya, kedua mata melotot dan wajahnya tampak pucat melihat sebuah ulat besar berada di atas telapak tangannya. Ulat itu bergerak merayap naik ke atas. Tanpa membuang waktu dan tanpa komando, Camella berteriak nyaring dan melemparkan ulat yang berada di atas telapak tangannya.


Camella melompat-lompat seperti anak kecil, dia juga berteriak histeris. Semua pengunjung melihat ke arahnya, sedangkan Edwin dan Elvin tertawa terbahak. Ulat itu mereka dapatkan di pohon yang ada di depan rumah, ulat itu mereka masukkan ke dalam tempat agar bisa mereka bawa.

__ADS_1


"Ulat... Ulat!" teriak Camella.


Para pengunjung yang melihat menertawakan dirinya, Morgan memijit pelipis dan menggeleng. Kenapa Camella begitu memalukan?


"Pergilah tenangkan dia, jangan sampai kekasihmu menangis dan berguling di atas jalan," ucap Eliana.


Morgan melotot ke arahnya, kenapa ucapan Eliana terdengar seperti sebuah cibiran? Camella benar-benar memalukan tapi dia tahu semua itu ulah kedua putranya yang nakal.


"Aku yang akan membeli tiketnya, kau tolong jaga mereka," pinta Morgan.


"Kau yakin?" tanya Eliana.


"Tentu saja, serahkan semuanya padaku!"


Eliana melihatnya sejenak, namun dia mengikuti perkataan Morgan dan menghampiri Edwin dan Elvin yang masih tertawa. Camella menahan perasaan kesal di dalam hati, rasanya sangat ingin memukul Edwin dan Elvin. Awas saja kedua anak itu, jika dia sudah bisa mendapatkan Morgan sepenuhnya, akan dia balas perbuatan kedua anak itu.


"Edwin, Elvin. Apa yang kalian lakukan?" tanya Eliana.


"Kami memberikan Aunty sebuah permen tapi Aunty begitu takut," ucap Edwin.


"Penipu, kalian memberikan aku sebuah ulat besar!" teriak Camella marah.


"Jangan menipu, apa kalian kira aku bodoh?"


"Tidak perlu marah seperti itu, bukan? Mereka hanya anak-anak saja tapi kau begitu marah hanya karena keisengan mereka," ucap Eliana.


"Diam, kau tidak tahu apa pun!" Camella kembali berteriak marah.


"Apa kau sudah puas, Camella?" tanya Morgan yang sudah kembali setelah mendapatkan tiket dengan jalur instan.


"Mo-Morgan," Camella berpaling, melihat ke arah Morgan yang sedang menatapnya dengan tajam.


"Kau benar-benar memalukan, Camella. Kenapa kau tidak berguling saja di atas lantai seperti anak kecil?"


"A-Aku tidak bermaksud? Mereka berdua mengagetkan aku dengan seekor ulat besar, Morgan. Aku geli sebab tiu aku terkejut."


"Tapi tidak perlu begitu heboh, bukan?"


"Ma-Maaf," Camella menunduk dan mengumpat dalam hati karena dia yang disalahkan.


"Kami minta maaf, Aunty," Elvin menghampiri Camella dan memegangi kedua tangannya. Elvin juga memasang wajah memelas untuk menarik perhatian Camella.

__ADS_1


"Kami minta maaf, Aunty. Kami hanya bercanda saja," ucap Edwin.


"Maafkan kami, Aunty. Maukah bermain dengan kami?" Si cengeng menarik tangan Camella, dia bahkan tidak ragu memeluk kaki Camella sampai membuat hati Camella terenyuh.


"Maafkan kami, Aunty," Edwin juga memeluk kaki Camella.


"Oh, anak-anak yang manis," Camella mulai terbujuk.


"Apakah Aunty mau memaafkan perbuatan kami?" tanya Edwin dan Elvin.


"Tentu saja, ayo kita main," Camella menggandeng tangan mereka berdua, saatnya memperbaiki kesalahan yang dia lakukan tadi dan mengubah pandangan Morgan.


"Hore... ayo cepat, Aunty!" teriak si kembar.


"Boys, ingat jangan nakal!" ucap Morgan.


"Tidak akan, Dad. Nikmati waktu Daddy bersama dengan Mommy," Edwin dan Elvin menarik tangan Camella untuk pergi.


"Apa?" Camella berpaling ke belakang, di mana Morgan dan Eliana mengekori mereka. Kenapa jadi wanita itu yang untung karena bisa berduaan dengan Morgan? Kenapa sekarang dia yang menjadi babysitter si kembar?


"Bye Dad, Bye Mom," teriak Edwin dan Elvin seraya melambaikan tangan.


Eliana melambaikan tangan sambil tersenyum. Jujur saja, dia lebih suka menemani Edwin dan Elvin bermain dari pada berduaan dengan ayah mereka. Mereka berdua diam saja, tidak ada yang mulai berbicara. Eliana tampak canggung, setelah bersama tuan muda itu, ini kedua kalinya dia harus dekat dengan seorang pria namun pria yang bersama dengannya saat ini adalah tuan muda yang sedang dia cari.


"Kau bilang ada urusan penting, apa yang ada yang bisa aku bantu?" tanya Morgan basa basi.


"Terima kasih atas tawaran yang kau berikan tapi ini masalah pribadi," tolak Eliana. Tidak ada yang boleh tahu jika dia adalah seorang wanita bayaran dan sekarang ingin mencari keberadaan kedua putranya.


"Jika begitu apa yang harus aku lakukan untuk membalas budi baikmu?" Morgan berpaling, menatapnya sejenak.


"Tidak perlu, cukup berikan mereka berdua banyak perhatian dan kasih sayang," setelah berkata demikian, Eliana melangkah dengan cepat karena dia tidak mau mereka hanya berduaan saja.


Edwin dan Elvin sedang mengantri di sebuah wahana. Camella tampak enggan tapi harus dia lakukan. Tinggi si kembar sudah cukup untuk menaiki wahana tersebut, mereka benar-benar senang tapi tidak dengan Camella. Wanita itu melambai ke arah Morgan dengan terpaksa. Dia harap Eliana datang dan menggantikan posisinya namun Eliana justru berjalan pergi karena dia ingin melihat anak-anak yang ada di sana untuk mencari keberadaan kedua putranya. Mungkin saja dia melihat Ray atau Grace walau itu sangat mustahil.


Wahana roller coaster untuk anak-anak sudah siap dinaiki, Suara sorakan Edwin dan Elvin terdengar. Mereka sangat bersemangat untuk bermain. Camella sungguh enggan apalagi orang dewasa yang menaiki wahana itu hanya dia seorang diri saja.


"Ayo, Aunty. Cepat naik!" teriak si kembar.


Mau tidak mau, Camella naik ke atas roller coaster bersama dengan si kembar dan duduk di belakang mereka. Kedua anak nakal itu sudah menyiapkan sesuatu, roller coaster mulai bergerak. Semakin lama semakin cepat, Edwin dan Elvin berteriak karena senang tapi tidak bagi Camella. Dia tidak pernah menaiki mainan itu sebelumnya sehingga membuatnya berteriak ketakutan. Camella berteriak histeris, orang tua yang menyaksikan menertawakan dirinya karena Camella juga meronta. Tawa para orangtua semakin terdengar saat benda itu berbelok dan sebuah telur yang datang entah dari mana mendarat di wajah Camella.


Camella berteriak, emosi memuncak saat tangan yang mengusap wajah dipenuhi oleh telur. Tidak saja berteriak karena takut tapi dia juga berteriak marah apalagi dia jadi bahan tertawaan para orangtua yang menonton dan menjadi bahan tertawaan anak-anak. Semua pasti gara-gara kedua anak nakal itu. Akan dia balas, setelah ini gilirannya. Lihat saja nanti.

__ADS_1


__ADS_2