
Rumah yang berantakan sudah rapi berkat jasa pembersih. Dapur yang berantakan dan bau amis pun sudah bersih. Setelah memantau jasa pembersih itu, Morgan masuk ke dalam kamar untuk mandi. Akibat perbuatan kedua putranya, dia rugi jutaan dolar karena pajangan mahal yang ada di rumah pecah akibat kedua putranya. Beberapa guci mahal, benda-benda dari Cristal dan beberapa benda yang dihiasi dengan batu mahal pun hancur berantakan.
Sekarang saatnya mandi lalu mengajak kedua putranya untuk makan dan berbicara. Mereka harus berbicara secara pribadi agar kedua putranya tidak nakal lagi. Tidak saja menanyakan kenapa kedua putranya begitu diam hari ini tapi dia juga harus menjelaskan pada Edwin dan Elvin jika mereka akan berpisah dengan Eliana cepat atau lambat. Dia hanya wanita asing yang memiliki kehidupan sendiri sehingga tidak bisa tinggal lama dengan mereka. Dia harus meyakinkan kedua putranya agar mereka tidak mengharapkan Eliana kembali pada mereka.
Morgan masuk ke dalam kamarnya untuk mandi, sedangkan Edwin dan Elvin bersembunyi di bawah selimut. Selimut dibuka setelah tidak terdengar suara apa pun lagi di luar sana, mereka tahu setelah ini ayah mereka pasti akan marah tapi mereka tidak peduli.
"Bagaimana ini, Kak? Daddy pasti akan marah pada kita," ucap Elvin.
"Jangan takut, jika kita menginginkan Mommy kembali kita tidak boleh menyerah apalagi kita baru memulai jadi jangan takut."
"Baiklah, tapi aku sudah lapar," Elvin mengusap perutnya yang lapar.
"Ayo kita keluar," Edwin beranjak dari atas ranjang disusul oleh adiknya. Mereka mengintip dari balik pintu yang terbuka, ayah mereka tidak terlihat jadi aman. Mereka bergegas pergi ke dapur, mengambil makanan yang ada untuk mereka nikmati.
Morgan sudah selesai mandi, dia pun keluar dari dalam kamar. Awalnya tidak ada suara namun saat dia melangkah menuju kamar di mana kedua putranya berada, suara teriakan Edwin dan Elvin pun terdengar dari dalam dapur. Teriakan mereka seperti orang yang sedang melakukan demo, suara itu sudah lama tidak terdengar namun kini terdengar lagi.
"I want to eat.... I want to eat.. I want to eat!" teriak mereka diiringi dengan suara sendok juga garpu yang diketuk di atas meja.
Morgan menggeleng dan melangkah menuju dapur, Edwin dan Elvin tidak mempedulikan ayah mereka dan masih saja berteriak jika mereka ingin makan. Sakit kepala yang sudah tidak dia rasakan, kini kembali lagi akibat teriakan kedua putranya yang tidak juga berhenti.
"Diam, Daddy akan membuatkan makanan!" ucap Morgan.
"Cepat... Cepat... Cepat!" teriak Edwin dan Elvin sambil mengetukkan sendok dan garpu ke atas meja,
"Stop it!" teriak Morgan.
"Lapar.. Lapar... Lapar!" teriak Edwin dan Elvin. Mereka benar-benar tidak mempedulikan ayah mereka.
__ADS_1
Morgan segera membuat makanan, sebaiknya dia cepat dari pada kepalanya pecah mendengar teriakan kedua putranya yang semakin menjadi. Entah dapat stamina dari mana, Edwin dan Elvin terus berteriak sampai dua piring makanan terhidang di hadapan mereka.
Morgan menarik napas, dia seperti berpacu dengan waktu saat membuat makanan itu. Dia melakukannya dengan cepat agar kedua putranya berhenti berteriak. Morgan tampak lega karena Edwin dan Elvin sudah berhenti, akhirnya kembali tenang. Dia kira demikian oleh sebab itu Morgan duduk bersama dengan mereka untuk menikmati makanan.
Makanan ditiup sampai dingin, Edwin dan Elvin yang memang sudah kenyang karena sudah makan sebelumnya karena mereka akan kembali berulah untuk membuat ayah mereka tahu sebenarnya apa yang mereka inginkan.
"Tidak enak!" ucap Edwin.
"Benar, tidak seperti makanan yang dibuat oleh Mommy!" Elvin menyahut.
"Jangan mengada-ada, cepat makan!" ucap Morgan.
"Tidak enak, aku tidak mau!" makanan yang ada di atas piring di ambil dengan tangan, tentunya sudah tidak panas.
"Untukmu saja!" ucap Edwin seraya melumuri wajah adiknya menggunakan makanan yang ada di tangan.
"Kakak jahat!" teriak Elvin, dia juga melakukan hal yang sama.
"Kakak yang mulai!" Elvin pun melakukan hal yang sama.
Morgan kembali menggeleng dan memijit pelipis, lagi? Insiden itu kembali terulang. Makanan melayang ke sana ke mari, bahkan mendarat ke atas kepalanya. Kedua mata terpejam, kekesalan memenuhi hati. Edwin dan Elvin masih saja melempar sampai makanan yang ada di atas piring habis. Mereka bahkan tertawa terbahak.
"Apa kalian sudah puas?" bentak Morgan.
"Oh, tidak. Penjahatnya marah!" teriak Edwin.
"Lari!" teriak Elvin pula. Mereka segera berlari menuju kamar tanpa mempedulikan ayah mereka.
__ADS_1
"Edwin, Elvin, kembali dan bereskan!" teriak Morgan seraya beranjak.
"Kami mau makanan Mommy!" teriak mereka.
"Sudah aku katakan dia bukan ibu kalian!" Morgan melangkah cepat mengikuti langkah kedua putranya.
"Jika begitu pertemukan Mommy dengan kami!"
"Edwin, Elvin!" Morgan berteriak tapi kedua putranya sudah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dengan rapat.
Morgan menggeleng, entah sudah berapa kali dia menggeleng setelah kembali. Kenakalan kedua putranya semakin menjadi padahal dia mengira Edwin dan Elvin sudah diam tapi nyatanya? Dia tahu mereka tidak akan berhenti tapi dia pun yakin kenakalan mereka akan segera berlalu.
Di dalam kamar, Edwin dan Elvin mengadukan telapak tangan mereka. Sukses, mereka sukses mengerjai ayah mereka. Besok mereka akan melakukan hal yang lebih nakal lagi agar ayah mereka semakin sakit kepala sehingga ayah mereka pergi menjemput ibu mereka.
Morgan kesal setengah mati, tapi dia tidak bisa memukul kedua putranya. Mau tidak mau dapur yang tadinya sudah bersih kembali dibersihkan akibat makanan yang berserakan. Dia pun harus kembali mandi karena makanan yang ada di atas kepalanya.
Setelah membersihkan kekacauan yang diperbuat oleh kedua putranya, Morgan pergi mandi. Dia harus berbicara pada kedua putranya malam ini juga. Morgan keluar dari kamar, lagi-lagi sunyi. Entah apa yang dilakukan oleh kedua putranya di dalam kamar saat ini. Morgan berdiri di depan pintu kamar, dia akan memanggil kedua putranya untuk keluar namun niatnya terhenti saat mendengar suara tangisan dan ucapan kedua putranya.
"Aku rindu dengan Mommy, Kakak," ucap Elvin.
"Aku juga," ucap Edwin.
"Kenapa Daddy begitu tega mengusir Mommy pergi? Apa Daddy tidak sayang pada kita, Kak?" tanya Elvin lagi.
"Aku tidak tahu, daddy memang jahat!" Tangisan mereka berdua terdengar, Morgan jadi tidak tega.
Dia berdiri di pintu dengan banyak pikiran sampai tangisan kedua putranya tidak terdengar. Morgan sudah melangkah pergi, menuju ruang tamu dan duduk di sana. Apa dia sudah salah memisahkan kedua putranya dari Eliana? Tidak, dia rasa tidak karena dia hanya wanita asing. Morgan masih berpikir, apakah dia harus mencari ibu kedua putranya, wanita yang dia bayar dulu agar Edwin dan Elvin tidak dekat dengan wanita asing itu?
__ADS_1
Semoga saja mereka segera melupakan keberadaan wanita itu tapi malam ini terasa aneh, dia tidak bisa tidur sama sekali. Morgan melangkah menuju kamar yang pernah ditempati oleh Eliana, dia akan tidur dengan kedua putranya tapi sayangnya pintu terkunci dengan rapat.
Morgan mengumpat dalam hati, sial. Mau tidak mau dia masuk ke dalam kamarnya untuk tidur namun dia terlihat gelisah. Bantal satu diambil, rasanya aneh. Bantal lain pun diambil namun hal sama yang dia rasakan. Umpatannya kembali terdengar, semua gara-gara Camella yang telah membuang bantal yang biasa dia gunakan dan sekarang, kedua matanya sulit terpejam dan dia merasakan kerinduan yang selama ini dia rasakan kembali lagi.