Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Malam Naas Camella


__ADS_3

Eliana benar-benar tidak bergabung untuk makan malam dengan mereka. Morgan merasa ada yang aneh, seperti ada yang kurang. Camella sangat senang, ternyata wanita itu sangat tahu diri. Memang seperti itu seharusnya tapi suasana terasa sunyi, tidak ada yang berbicara sama sekali.


Edwin dan Elvin pun duduk dengan manis, mereka tersenyum manis saat Camella mengambilkan ayam kalkun yang dia bawa untuk kedua anak manis itu. Kejadian waktu itu tidak boleh terulang kembali. Kali ini dia harus bisa menarik perhatian ketiga pria tersebut.


"Aunty yang membawa ayam ini jadi makan yang banyak," ucap Camella seraya meletakkan sepotong ayam di atas piring Edwin.


"Terima kasih, Aunty," Edwin tersenyum dengan manis.


"Kalian benar-benar manis, ini untukmu," Camella juga memberikan ayam pada Elvin. Satu langkah untuk mendapatkan perhatian dari kedua anak nakal itu.


"Terima kasih, Aunty," ucap Elvin dan pada saat itu Edwin menjatuhkan garpu yang ada di atas meja dengan sengaja.


"Oh, tidak. Aku menjatuhkannya tanpa sengaja," ucap Elwin. Dia hendak turun tapi Camella mencegahnya.


"Biarkan Aunty yang mengambilkannya," kursi di dorong ke belakang, Camella menunduk untuk mencari garpu yang berada di bawah meja. Saat itu pula Edwin dan Elvin beraksi, Edwin menukar steak yang ada di atas piring, Elvin menuang sesuatu ke atas kepala Camella. Camella tidak menyadari karena rambutnya yang menggembang.


Morgan diam saja, dia memang sudah mengijinkan kedua putranya untuk membalas Camella. Entah steak yang terbuat dari apa yang diletakkan oleh Edwin dan cairan apa yang ada di atas kepala Camella yang pasti cairan itu bau dan lengket.


"Aku menemukannya," ucap Camella yang sudah mendapatkan garpu yang dijatuhkan oleh Edwin.


"Terima kasih, Aunty. Tapi Daddy sudah memberikan garpu baru untukku."


"Baiklah, sekarang kita sudah bisa makan," Camella tersenyum semanis mungkin, dia melakukan hal itu untuk menarik perhatian Morgan yang diam saja sedari tadi.


"Ayo, Aunty. Kita makan!" teriak si kembar.


Camella pun tersenyum, steak yang ada di atas piring di tuangi saus. Camella tidak curiga sama sekali, steak yang terlihat aneh pun dipotong lalu dinikmati. Satu potong steak sudah berada di dalam mulut, Camella mengunyahnya dengan semangat namun lambat laun dia mulai mengunyahnya dengan pelan. Camella berusaha tersenyum karena Morgan tidak melepaskan pandangan darinya, dia pun jadi salah tingkah dan memotong steak itu dan kembali menikmatinya.


Dia mengira Morgan memperhatikannya karena kagum dengan kecantikannya tapi Morgan memperhatikan apa yang sedang Camella nikmati. Camella masih makan, steak yang sangat aneh. Dia seperti sedang menikmati tanah yang di tuang dengan saus barbeque. Rasa yang benar-benar aneh sehingga membuat Camella memutuskan menuang saus ke atas steak tapi ketika dia melihat steak yang tinggal setengah, Camella berteriak histeris dan melemparkan saus yang ada di tangannya.


"Apa-Apaan ini?" teriaknya, mulut dikorek agar steak tanah bercampur cacing dapat dia keluarkan.


Edwin dan Elvin tertawa terbahak, steak itu mereka yang menyiapkan. Mereka menggali tanah di depan rumah, beberapa ekor cacing mereka sembunyikan ke dalam tanah yang mereka buat sedemikian rupa sehingga menyerupai dengan steak daging yang asli.


"Apa-Apaan ini, Morgan?!" teriak Camella marah. Dia berusaha mengorek mulutnya dan meneguk air yang banyak.


"Bagaimana dengan steak yang kami buat, Aunty?" tanya Edwin dan Elvin.


"Kalian, anak-anak nakal kurang ajar! Aku akan memukul kalian nanti!" teriak Camella emosi. Dia jadi lupa dengan sekitar dan lupa Morgan mendengar.

__ADS_1


"Apa kau berani, Camella?" tanya Morgan dengan dingin.


Camella menelan ludah, sial. Kedua anak nakal itu sudah keterlaluan membuatnya memakan cacing dan tanah. Sungguh menjijikkan. Dia sangat ingin memukul kedua anak nakal itu tapi ada Morgan.


"Ti-Tidak, aku kelepasan. Mereka sudah keterlaluan, Morgan. Kau pun diam saja tidak mencegah aku menikmati tanah dan cacing-cacing itu!"


"Apa itu akan membunuhmu?" tanya Morgan.


"A-Apa maksudmu?" kesalahan fatal karena dia kembali duduk.


"Apa makanan itu membunuhmu?" Morgan kembali menanyakan hal yang sama.


"Ti-Tidak, tentu saja tidak," firasat buruk, jangan katakan Morgan ingin mengungkit masalah makanan beracun itu.


"Jika begitu habiskan!" perintah Morgan.


"Apa?" Camella melihat ke atas piring di mana cacing yang ada di dalam tanah keluar dan bergerak.


"Habiskan!" teriak Morgan marah.


"Tidak mau, ada apa denganmu?" Camella beranjak dan pada saat itu, suara kain robek terdengar. Mata Camella melotot karena pakaian bagian belakangnya robek akibat lem super lengket yang baru saja di tuang oleh Elvin. Waktu itu Morgan membela tapi sekarang pria itu hanya menonton saja.


"Aunty jahat karena telah meracuni Mommy!" teriak Edwin.


"Benar, sebab itu Aunty harus mendapatkan balasannya!" teriak Elvin pula.


"Ra-Racun apa?" Camella pura-pura tidak tahu.


"Jangan pura-pura, Camella. Kau menyimpan makanan beracun di rumahku, apa kau tahu betapa berbahayanya hal itu? Bagaimana jika kedua putraku yang memakan dua potong ayam itu, apa kau tidak memikirkannya?"


"Aku tidak tahu, Morgan. Ayam itu aku beli di luar!" sangkal Camella.


"Aku tidak mau mendengar alasan apa pun, Eliana hampir celaka karena ayam itu jadi sebaiknya kau pergi. Jangan kembali lagi karena hubungan kita berakhir!"


"Apa? Jangan lakukan hal itu, kenapa kau mengakhiri hubungan kita hanya karena wanita asing itu?" Camella sungguh tidak terima.


"Aku tidak membelanya, dia hanya orang asing saja tapi aku tidak menyukai perbuatan yang kau lakukan karena bisa membahayakan kedua putraku. Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita yang bisa membahayakan mereka berdua jadi pergi!"


"Jangan mengakhiri hubungan kita, Morgan. Aku sungguh tidak tahu jika kedua ayam itu beracun karena aku membelinya di restoran," Camella masih berusaha mencari alasan untuk menutupi kejahatan yang dia lakukan.

__ADS_1


"Oh, ya? Jika begitu katakan di mana kau membelinya, aku akan pergi menyelidikinya dan menuntut restoran itu!"


Camella ketakutan, celaka. Sekarang dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia mengira Morgan tidak tahu akan ayam beracun itu dan tidak ada yang memakannya tapi lagi-lagi wanita asing itu mengacaukannya. Kenapa dia tidak mati saja? Jika dia tahu Eliana yang memakannya, sudah dia berikan racun berbahaya pada dua potong ayam itu.


"Apa lagi yang ingin kau katakan, Camella? Apa kau ingin aku membawa masalah ini ke ranah hukum dan melemparmu ke dalam penjara?"


"Tidak, Morgan. Tidak! Aku benar-benar tidak tahu jika ayam itu beracun," dustanya.


"Orang dewasa selalu selalu begitu, berbohong untuk menutupi sesuatu," ucap Edwin damn Elvin.


"Diam kalian berdua!" teriak Camella.


"Beraninya kau membentak mereka? Pergi kau, Camella!" bentak Morgan pula.


"A-Aku tidak bermaksud, Morgan."


"Aku tidak mau mendengar apa pun, sekarang pergi!" usir Morgan.


"Bye.. Bye, Aunty. Perhatikan langkahmu baik-baik," si kembar melambaikan tangan ke arah Camella.


"Kalian berdua?" Camella menahan kekesalan di hatinya.


"Pergi, jangan kembali lagi!" ucap Morgan.


"Aku akan kembali lagi nanti, aku tidak terima kau mengakhiri hubungan kita begitu saja!" Camella memutar langkah, dia akan kembali lagi nanti. Morgan diam saja, dia pun tidak mencegah.


Camella kira kesialannya sudah berakhir, dia bahkan belum menyadari lem yang ada di atas kepala yang tidak akan mudah lepas apalagi lem itu sudah membuat rambutnya mengeras. Edwin dan Elvin berlari menyusul karena ada jebakan yang sudah mereka siapkan untuk Camella.


Camella pergi sambil menggerutu, dia tidak sadar dengan jebakan yang ada di hadapannya. Dia tidak menyangka Morgan mengundangnya untuk mengakhiri hubungan mereka, dia tidak terima. Benar-Benar tidak terima. Sebuah tali tipis sudah berada di atas lantai, Edwin dan Elvin sudah berada di persembunyian dan ketika Camella hendak melewati tali itu, Edwin dan Elvin menariknya. Camella terkejut, kakinya pun tersandung tali sehingga dia kehilangan keseimbangan.


Teriakan Camella terdengar, suara tubuhnya yang jatuh dan teriakannya pun terdengar. Tidak hanya itu saja, akibat tali yang dia sandung sebuah bola terbang ke arahnya. Camella tidak sadar, dia berusaha beranjak dan pada saat itu juga, Dhuukkk!! Bola itu mendarat tepat di wajahnya.


"Sialan kalian anak-anak nakal!" teriaknya.


Camella mengusap wajah yang terkena bola saat sebuah mobil mainan berjalan mendekat ke arahnya. Camella yang kesal hendak meraih mobil mainan di mana sebuah kotak berada di atasnya namun naas, dari dalam kotak keluar tinju mainan yang menghantam bagian wajahnya. Camella kembali berteriak, darah mengalir karena satu giginya lepas akibat pukulan dari tinju mainan.


"Aku benaci dengan kalian, aku benci dengan kalian!" teriaknya. Camella beranjak, dia berlari keluar namun tali lain ditarik oleh Edwin menumpahkan cairan lengket yang tumpah ke atas kepala Camella. Wanita itu berteriak, Morgan hanya menyaksikan kenakalan kedua putranya dan jebakan yang entah kapan mereka persiapan.


Setelah cairan lengket itu, Camella jatuh berkali-kali akibat licin. Edwin dan Elvin tertawa terbahak. Camella menyentuh puncak kepalanya dan baru menyadari jika kepalanya dipenuhi dengan lem. Itu karena tangannya menempel di sana dan sulit lepas.

__ADS_1


"Sialan, kalian anak-anak nakal. Akan aku balas nanti!'" Camella berlari keluar, terpeleset berkali-kali. Umpatan tidak henti dia lontarkan. Ini adalah malam yang sangat sial baginya, dia pergi dari rumah Morgan setelah mendapat banyak serangan dari Edwin dan Elvin. Hubungannya dengan Morgan kandas karena wanita asing, kedua anak nakal itu pun mempermalukan dirinya. Akan dia balas, pasti akan dia balas.


__ADS_2