Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Sandiwara


__ADS_3

Kedua kaki Eliana sedang diperiksa oleh dokter pribadi yang memang sudah melayani Morgan begitu lama. Morgan begitu mempercayainya bahkan saat Ray sakit keras, dokter itu pula yang menanganinya namun sayang Ray tidak tertolong.


Selama menjalani pemeriksaan, Morgan dan kedua putranya menunggu di dalam. Tentunya hal itu mempersulit Eliana untuk melakukan apa yang dia mau karena dia ingin meminta bantuan dokter itu untuk melakukan tes Dna tapi hal itu tidak bisa dia lakukan karena ada Morgan.


Eliana memutar otak, mencari cara agar Morgan dan kedua putranya keluar dari ruangan itu tapi bagaimana? Tatapan matanya melihat ke arah sang dokter yang sedang memeriksa kakinya. Sepertinya dia bisa menggunakan cara itu agar dia bisa berduaan saja dengan dokter itu.


"Aw!!" Eliana memekik secara tiba-tiba saat dokter itu mengangkat kaki kanannya. Dia harus bersandiwara agar terlihat sedang kesakitan.


"Ada apa, Mom?" tanya Edwin dan Elvin. Mereka berdua sudah berlari menghampiri ibu mereka.


"Apa sakit, Nona?" tanya sang dokter.


"Sakit, sakit sekali!" teriak Eliana pura-pura.


"Kenapa bisa, apa kau mencoba menggunakan kedua kakimu?" tanya Morgan.


"Entahlah, sepertinya gara-gara tadi pagi."


"Ck, cek sekarang. Jangan sampai terjadi sesuatu pada tulang kakinya!" perintah Morgan.


"Baik, Tuan," sang dokter pun berlalu pergi untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan.


Diam-Diam Eliana tampak lega, itulah yang dia inginkan tapi karena hal itu, Edwin dan Elvin tampak khawatir bahkan si cengeng yang sudah berjanji untuk tidak menangis sudah terlihat mau menangis.


"Apakah sakit sekali, Mom? Apakah sakit?" tanya Edwin.


"Apakah kaki Mommy patah, apakah patah?" Elvin sudah hampir meneteskan air matanya.


"Mommy baik-baik saja, jangan khawatir. Elvin jangan menangis, apa Elvin lupa dengan janji yang telah Elvin ucapkan?"


"Elvin tidak lupa, tapi Elvin tidak suka melihat Mommy kesakitan."


"Hanya sakit sedikit, satu minggu lagi pasti sudah sembuh jadi jangan menangis," sesungguhnya dia tidak tega tapi dia harus melakukannya.


Elvin mengangguk dan berusaha menahan tangisan. Edwin bahkan memberikan semangat untuk adiknya agar adiknya tidak menangis lagi.


Seorang perawat sudah datang dengan kursi roda karena Eliana akan dibawa ke ruangan lain untuk melakukan ronsen. Morgan membantu dan mendudukkan Eliana ke kursi roda. Mereka bahkan mengikuti Eliana dipindahkan ke ruangan lain tapi mereka tidak boleh masuk ke dalam.


Eliana benar-benar lega karena rencananya berjalan dengan lancar. Sang dokter sudah menunggu di dekat alat untuk melihat tulang kaki Eliana.

__ADS_1


"Bantu Nona ini berbaring," perintah sang dokter pada perawat yang baru saja membawa Eliana masuk.


"Tunggu!" cegah Eliana. Barang yang dia sembunyikan segera diambil, Eliana pun menarik rambutnya sebelum memberikan rambut Edwin dan Elvin pada sang dokter.


"Tolong lakukan tes Dna pada rambut ini," pintanya.


"Dna?" sang dokter melihat ke arah Eliana dengan tatapan penuh selidik lalu melihat sampel rambut yang Eliana berikan.


"Ya, tolong lakukan tes Dna tapi tolong juga sembunyikan hal ini dari Morgan. Setelah hasilnya keluar, beritahu aku," pinta Eliana.


"Tapi, Nona. Aku tidak bisa menyembunyikan hal ini pada Tuan Barnest."


"Tolonglah aku, aku yang akan tanggung jawab. Katakan padaku saat hasilnya sudah keluar!" pinta Eliana memohon.


"Aku tidak berani melakukan hal ini, Nona. Karirku sebagai seorang dokter bisa terancam!"


"Bagaimana bisa terancam? Ini hanya tes Dna saja. Aku hanya ingin tahu apakah Dna yang ada di rambut ini ada hubungannya denganku atau tidak. Kau cukup beri tahu aku hasilnya, Morgan tidak akan tahu hal ini jika kau tidak mengatakannya jadi tolonglah. Jika kedua kakiku tidak sedang sakit, maka aku tidak akan merepotkan dirimu!"


Sang dokter memandangi Eliana yang sedang memelas agar dia mau membantu. Tidak perlu dia tanya, dua helai rambut awal itu milik siapa. Dia benar-benar takut karena itu sangat berbahaya bagi karirnya.


"Please, tolong bantu aku," pinta Eliana memohon.


"Please," pintanya lagi.


"Baiklah, tapi hal ini tidak boleh ketahuan oleh Tuan Barnest. Tolong tinggalkan nomor ponsel Nona agar aku bisa langsung menghubungi Nona untuk memberi tahu hasilnya," ucap sang dokter.


"Terima kasih, terima kasih, Dokter," Eliana benar-benar bersyukur karena dokter itu mau membantunya.


"Jadi, apa ini hanya tipuan Nona saja? Apa kaki Nona tidak sakit?"


"Maaf, aku tidak memiliki cara lain!!" uca Eliana.


"Baiklah tapi sekarang berbaringlah, agar Tuan Barnest tidak mencurigai kita," ucap sang dokter seraya mengambil sampel rambut yang ada di tangan Eliana.


"Berapa lama hasilnya akan keluar?" dia harap tidak lama agar dia segera tahu kebenarannya.


"Dua minggu, aku akan mengabari Nona nanti."


"Terima kasih," sungguh dia sangat terbantu.

__ADS_1


Dibantu oleh seorang perawat, Eliana berbaring agar Morgan tidak curiga sama sekali. Sang dokter pun berperan dengan sangat baik, dia tetap bersikap profesional di hadapan Morgan.


"Bagaimana dengan kaki Mommy?" tanya Edwin dan Elvin.


"Hanya membengkak saja, kompres dengan air hangat setiap hari agar bengkaknya segera sembuh."


"Jadi tulangnya tidak apa-apa?" tanya Morgan pula.


"Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," sebuah gambar hasil ronsen pun diberikan pada Morgan agar pria itu bisa melihat hasilnya.


"Syukurlah Mommy baik-baik saja," Edwin dan Elvin memeluk ibu mereka.


"Maaf membuat kalian khawatir. Mungkin sebentar lagi akan sembuh," Eliana memeluk kedua putranya dengan erat, dia harap Edwin dan Elvin benar-benar kedua putranya.


Morgan menatap ke arah Eliana dengan tatapan curiga, dia terlihat kesakitan tadi tapi kenapa sekarang dia terlihat baik-baik saja? Morgan segera menepis perasaan curiganya itu, dia yakin tidak ada yang perlu dia curigai dari Eliana.


"Jika begitu ayo pergi, Dad. Kita ajak Mommy makan siang dan jalan-jalan!" teriak Edwin.


"Aku ingin mengajak Mommy makan kepiting besar!" teriak Elvin.


"Teripang... Mommy harus makan teripang!" teriak Elvin.


"Wah, apakah Enak?" tanya Eliana.


"Tentu saja enak, Mommy harus coba!" teriak Edwin dan Elvin.


Mereka segera pergi untuk makan siang, sedangkan saat itu di rumah, sang pelayan baru sedang mencari sesuatu di dalam kamar Morgan karena saat itu dia memang bertugas membersihkan kamar Morgan.


Pelayan yang lain sedang membersihkkan ruangan lain, oleh sebab itu dia memanfaatkan keadaan tapi anehnya, apa yang dia cari tidak dia temukan di dalam lemari. Umpatannya bahkan terdengar, dia kembali membuka lemari yang lain namun di sana jutru berisi pakaian wanita. Amarah memenuhi hatinya, rasanya ingin membuang semua pakaian itu.


"Liona, apa kau sudah selesai?" terdengar suara rekannya.


"Te-Tentu saja!" sang pelayan menutup pintu lemari dengan terburu-buru. Sepertinya misinya kali ini gagal tapi ada lain hari lagi. Dia harus terus bersandiwara agar tidak ketahuan.


"Jika sudah selesai ayo kita bersihkan lantai atas!" ajak Violet.


"Baiklah, kita harus bergegas supaya semua sudah bersih saat Tuan kembali," ucapnya sambil tersenyum. Benda yang dia cari pasti ada di kamar itu, dia pasti bisa menemukannya tapi untuk saat ini, cukup sampai di sana.


Pelayan yang bernama Liona itu bersikap biasa saja agar tidak ada yang tahu bahkan saat Morgan kembali bersama Eliana dan kedua putranya namun tatapan tidak sukanya selalu dia tunjukkan pada Eliana secara diam-diam karena dia harus mewaspadai dua anak nakal, Edwin dan Elvin.

__ADS_1


__ADS_2