
Eliana keluar dari kamar tanpa berkata apa-apa. Sorakan Edwin dan Elvin sudah terhenti, sedangkan Morgan berlari keluar mengejar Eliana. Sebuah ancaman bahkan dia berikan pada kedua putranya, dia akan memberikan pelajaran pada mereka nanti.
Eliana melangkah menuju kamar yang dia tempati, langkahnya terhenti saat Morgan meraih tangannya. Kedua putranya benar-benar sudah keterlaluan, seharusnya dia curiga sejak awal.
"Tunggu, apa kau marah?" tanya Morgan.
"Tidak," Eliana menunduk, dia hanya shock saja karena ciuman tak terduga tersebut. Dia ingin marah tapi pada siapa? Edwin dan Elvin hanya anak-anak saja sedangkan Morgan pun tidak tahu akan mengalami kejadian seperti itu.
"Aku benar-benar minta maaf, aku tidak menduga mereka telah merencanakan hal seperti ini. Yang barusan bukan ciuman pertamamu, bukan?"
Eliana memandangi Morgan namun dia tersenyum tipis, ciuman pertama? Tentu saja itu adalah ciuman pertamanya karena si tuan muda itu tidak pernah mencium bibirnya selama mereka melakukan hubungan badan. Dia pun tidak memiliki kekasih sebelumnya karena dia sibuk bekerja untuk biaya pengobatan ibunya.
"Tentu saja bukan," jawabnya.
"Jika begitu, sekali lagi aku minta maaf. Tidak perlu khawatir, hal ini tidak akan terulang kembali. Aku pastikan mereka tidak melakukan hal ini lagi," tangan Eliana yang sedari tadi dipegang pun dilepaskan.
"Mereka hanya anak-anak, jangan memarahi mereka terlalu keras," jawab Eliana seraya melangkah menuju kamarnya kembali.
Morgan beranjak pergi setelah Eliana masuk ke dalam kamar. Kakinya melangkah menuju kamar si kembar karena dia ingin memberikan pelajaran pada kedua putranya yang sudah keterlaluan. Edwin dan Elvin sudah berada di bawah selimut ketika ayah mereka masuk ke dalam, mereka pura-pura tidur dan tidak bersuara.
Morgan mengambil kursi, duduk di sisi ranjang. Morgan tidak bersuara, dia menunggu kedua putranya meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan. Edwin dan Elvin masih saja diam, mereka benar-benar takut karena mereka tahu ayah mereka pasti akan memberi hukuman.
"Masih tidak mau keluar dan meminta maaf?" tanya Morgan namun si kembar masih diam.
"Jangan berpura-pura. Daddy tahu kalian tidak tidur. Jika kalian tidak juga keluar maka Daddy akan membiarkan wanita itu pergi besok!" ancam Morgan, dia lupa dengan janji yang dia ucapkan sendiri.
"Jangan, Dad. Jangan lakukan!" teriak Edwin dan Elvin. Selimut pun dibuka, si kembar menghampiri ayahnya dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Jangan mengusir Mommy, kami tidak mau Mommy pergi!" rengek Edwin dan Elvin.
"Jika begitu, apa yang telah kalian lakukan malam ini? Kenapa kalian menipu kami?"
"Dad, aku tidak mau Mommy kembali ke Australia dan menikah," Edwin menghampiri ayahnya dan duduk di atas pangkuannya.
"Benar, Dad. Kami tidak mau Mommy pergi," rengek Elvin pula.
"Boys, kalian tahu sejak awal jika dia adalah orang asing. Kalian pun tahu dia memiliki kehidupannya sendiri, dia berada di sini karena iba dengan kalian jadi kita tidak bisa mencegahnya untuk menikah dengan siapa pun!"
"Apa Daddy tidak menyukai Mommy? Apa Daddy tidak mau menikahi Mommy?"
"Kenapa kau bertanya demikian, Edwin?" tanya ayahnya.
"Daddy bisa menikahi Mommy jika Daddy menyukai Mommy. Dengan begitu Mommy tidak akan pergi ke mana pun lagi dan akan selalu bersama dengan kita."
"Segera lamar Mommy, Dad. Jangan biarkan Mommy kembali ke Australia," rengek kedua putranya.
"Daddy tidak bisa, kalian mengerti?"
"Kenapa tidak bisa? Apa Penyihir itu lebih baik dari pada Mommy?" Edwin bertanya sambil menatap ayahnya dengan lekat.
"Benar, Dad? Apa menurut Daddy penyihir itu lebih cantik dari pada Mommy?" Elvin juga bertanya.
"Bukan seperti itu, Dia memang lebih cantik dari pada Camella tapi Daddy tidak memiliki perasaan padanya."
"Sebab itu Daddy harus lebih dekat dengan Mommy supaya Daddy memiliki perasaan pada Mommy."
__ADS_1
"Hei, berapa usia kalian?"
"Ayolah Dad. Dekati Mommy dan ambil perhatiannya," rengek Elvin pula.
"Tidak bisa, segera tidur. Jika kalian melakukan hal seperti ini lagi, Daddy benar-benar akan meminta wanita itu pergi!"
"Selera Daddy payah!" teriak si kembar seraya berlari menuju ranjang.
"Apa?" Morgan tampak tidak percaya karena kedua putranya bisa berkata demikian.
"Jika Daddy menikah dengan penyihir itu maka kami benar-benar akan mengikuti Mommy ke Australia!" teriak Edwin dan Elvin yang sudah berada di dalam selimut, mereka tidak mau melihat ayah mereka lagi yang memiliki selera payah menurut mereka. Morgan menggeleng dan memijit pelipisnya, dia tidak menjawab karena dia tahu ancaman kedua putranya bukanlah ancaman biasa . Dia benar-benar tidak tahu jika pengetahuan kedua putranya sudah sampai sejauh itu.
Morgan keluar dari kamar kedua putranya, pintu ditutup dengan perlahan. Edwin dan Elvin pun membuka selimut dan tampak merajuk, sepertinya mereka harus berusaha semakin keras mendekatkan ayah mereka pada sang ibu. Mereka tidak boleh menyerah sebelum keinginan mereka tercapai.
Morgan masuk ke dalam kamarnya, bantal yang ada di atas ranjang dipeluk. Mata pun terpejam namun ingatan saat memeluk Eliana tanpa sengaja di rumah hantu teringat. Sial, dia tidak gila, bukan? Dia sudah memiliki Camella, bahkan ini bukan pertama kali dia memeluk seorang wanita tapi kenapa dia merasa tidak asing sama sekali?
"Sial!" Morgan mengumpat, pandangan jatuh pada bantal yang ada di sisinya. Apakah dia harus mencari tahu dan memeluk wanita itu kembali? Tidak, jangan sampai dia melakukan hal memalukan itu jika tidak wanita itu benar-benar akan pergi apalagi insiden ciuman yang terjadi tanpa terduga. Sekarang tangannya sudah berada di bibirnya. Ck, semua itu gara-gara kedua putranya yang nakal.
Morgan kembali berbaring, suara ponsel yang berbunyi pun dia abaikan. Dia sedang malas apalagi dia tahu yang menghubunginya pasti Camella dan memang itulah yang terjadi. Camella sudah menghubungi Morgan sedari tadi, dia ingin meminta maaf karena dia tahu Morgan pasti marah.
Camella mengumpat karena Morgan tidak menjawab panggilannya. Sekarang dia khawatir Morgan mencampakkan dirinya akibat kejadian itu. Tidak, tidak bisa. Dia harus mencari cara untuk memperbaiki semua yang telah terjadi.
"Jangan salahkan aku mengambil jalan nekad, Morgan!" Camella mengambil sebuah tas lalu mengambil beberapa potong pakaiannya.
"Aku tidak akan membiarkan wanita itu menggodamu dan memiliki dirimu!" ucapnya sambil memasukkan pakaian yang dia ambil ke dalam tas.
Tidak akan ada yang bisa menghalangi langkahnya, dia akan menginap di rumah Morgan besok dan mengambil perhatian Morgan kembali. Dia tidak akan memberikan kesempatan pada wanita asing itu untuk mengambil kesempatan. Jika dia tinggal bersama dengan mereka maka dia bisa mencegah wanita itu mendekati Morgan. Lagi pula dia harus mengatakan pada wanita itu jika dia tidak boleh besar kepala hanya karena Edwin dan Elvin menyukai dirinya dan dia juga ingin wanita itu tahu, jika dia bukanlah siapa-siapa di antara ketiga pria itu tapi sepertinya dia belum jera dengan kenakalan Edwin dan Elvin yang selalu membuatnya malu dan berada di dalam masalah.
__ADS_1