Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Persekongkolan Ayah Dan Anak


__ADS_3

Morgan tampak kacau saat bangun dari tidur, itu karena dia tidak bisa tidur sama sekali. Kepalanya bahkan terasa sakit, setelah ini dia butuh refleksi atau pijatan dari wanita cantik. Baiklah, sekarang dia membayangkan Eliana sedang memijatkan kepalanya di sisi pantai. Kedua mata terpejam saat membayangkan hal itu bahkan senyuman menghiasi wajahnya.


Morgan masih membayangkan hal itu sampai akhirnya dia sadar tidak ada suara sama sekali di luar sana. Buru-Buru Morgan beranjak dan melihat jam, umpatan terdengar setelah tahu waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Pantas saja sepi, kedua putranya pasti sudah berada di sekolah bahkan, satu jam lagi mereka sudah akan pulang.


Morgan tampak kesal, bagus sekali. Mereka sudah tidak butuh dirinya lagi. Kedua putranya bahkan tidak pamit padanya. Eliana sungguh wanita berbahaya yang bisa membawa pergi kedua putranya sewaktu-waktu. Apakah dia harus mencari tahu tentang Eliana? Cukup lama Morgan memikirkan hal ini dan akhirnya dia memutuskan untuk tidak melakukannya. Tentunya dengan beberapa pertimbangan.


Sebaiknya dia kembali ke kamar, membuat sebuah rencana untuk menarik perhatian Eliana. Morgan kembali berbaring, sambil berpikir. Kenapa dia begitu tidak terima Eliana mengabaikan dirinya? Aneh, dia merasa sangat aneh.


Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa Edwin dan Elvin sudah pulang sekolah. Suara mereka yang sudah terdengar di luar sana, mereka begitu senang hari ini dan sikap diam yang mereka tunjukkan sebelumnya sudah tidak ada lagi.


"Kakak, sepertinya Daddy ada di rumah," ucap Elvin.


"Sepertinya begitu, ayo kita cari Daddy," Edwin melepaskan tas yang dia gunakan, Elvin pun melakukan hal yang sama. Si kembar hendak berlari menuju kamar ayah mereka namun Eliana menahan mereka.


"Boys, lebih baik kalian mandi terlebih dahulu," ucap Eliana.


"Hanya sebentar, Mom," Edwin dan Elvin kembali berlari menuju kamar ayah mereka.


Morgan berbaring di atas ranjang saat mereka masuk, Edwin dan Elvin berlari menghampiri ayah mereka yang hanya melihat ke arah mereka sekilas.


"Daddy, kenapa Daddy masih tidur?" Edwin naik ke atas ranjang, begitu juga dengan Elvin.


"Apa Daddy sedang sakit?" tanya Elvin pula.


"Kenapa tidak mengatakan pada Daddy jika kalian mau pergi ke sekolah?" tanya Morgan.


"Kami sudah memanggil tapi Daddy tidak mendengar. Kami ingin membangunkan Daddy tapi Mommy berkata untuk tidak mengganggu Daddy yang mungkin saja sedang lelah," jelas Edwin.


"Benarkah?" Morgan menatap kedua putranya dengan tatapan tidak percaya.


"Untuk apa kami berbohong, kami akan memanggil Mommy jika Daddy tidak percaya!"


"Oke, tidak perlu tapi apa kalian ingat dengan kesepakatan kita semalam?"


"Tentu saja, padahal kami sudah memiliki rencana spesial untuk Daddy tapi Daddy justru marah."


"Benar, sebab itu rencana kami jadi gagal" ucap Elvin pula.


"Baiklah, Daddy minta maaf. Sekarang maukah kalian membantu Daddy?"


"Apa sekarang Daddy sudah membutuhkan bantuan kami?" tanya si kembar.


"Yes, apa kalian memiliki ide?" tanya Morgan.


"Tentu saja, sekarang ayo Daddy berbaring lagi," ucap Edwin.

__ADS_1


"Apa yang kalian inginkan?"


"Sudah, Daddy berbaring saja!" Edwin dan Elvin turun dari atas ranjang lalu berlari menuju kamar mandi. Morgan sangat heran, apalagi ketika kedua putranya kembali berlari sambil membawa air.


"Apa yang kalian lakukan, Boys?"


"Daddy diam saja!" air yang mereka bawa dipercik ke wajah lalu rambut juga sampai terlihat basah. Morgan diam, sepertinya dia tahu ide licik kedua putranya.


Setelah melakukan hal itu, Edwin menarik selimut untuk menutupi tubuh ayahnya.


"Sekarang Daddy harus berpura-pura sakit, kami akan membantu agar Mommy melihat keadaan Daddy."


"Baiklah, Daddy akan mengikuti permainan kalian," Morgan tersenyum, kedua putranya memang cerdik.


Setelah sepakat, si kembar melompat turun dari atas ranjang dan berlari keluar sambil berteriak memanggil ibu mereka.


"Mommy.... Mommy!!" teriakan mereka terdengar beserta tangisan si cengeng yang begitu mudahnya menumpahkan air mata.


"Ada apa? Kenapa kalian berteriak seperti itu dan menangis?" tanya Eliana.


"Mommy, Daddy sedang sakit," ucap Edwin seraya menarik tangan Eliana.


"Oh, ya? Apakah sakitnya parah?"


"Daddy kalian tidak mungkin mati, jangan terlalu berlebihan!"


"Tapi Daddy tidak bisa bergerak, Mom," ucap Elvin.


"Benarkah?" Eliana menatap kedua putranya dengan tatapan curiga.


"Benar, Mom. Ayo lihat keadaan Daddy. Aku tidak mau Daddy mati, jadi ayo lihat!" Elvin menarik tangan Eliana, begitu juga dengan Edwin.


"Baiklah, jangan panik. Daddy tidak mungkin mati."


"Aku takut," Elvin semakin menangis keras, Edwin pun mulai menangis. Di dalam kamarnya, Morgan menggeleng, sungguh akting yang luar biasa.


Edwin dan Elvin menarik tangan Eliana dan membawanya menuju kamar ayah mereka. Suara mereka sudah terdengar di depan pintu, Morgan pun bersiap untuk berakting, semoga saja tidak ketahuan.


Eliana sudah masuk ke dalam kamar bersama dengan Edwin dan Elvin, kedua anak itu segera berlari ke arah ayah mereka dan naik ke atas ranjang. Mereka pun memeluk ayah mereka sambil menangis.


"Daddy, jangan mati!" teriak Elvin.


"Jika Daddy mati lalu kami dengan siapa?" teriak Edwin pula.


"Edwin, Elvin, sudah Mommy katakan Daddy tidak akan mati!" Eliana melangkah mendekat, tatapan matanya tidak lepas dari Morgan. Apa benar pria itu sedang sakit? Tapi kenapa tidak terlihat sama sekali?

__ADS_1


Morgan pun tidak berani melihat ke arahnya, semoga saja tidak ketahuan. Sungguh dia mengkhawatirkan hal ini. Eliana duduk di sisi ranjang, lalu tangannya meraba dahi Morgan. Pria itu sedit terkejut, Morgan berusaha menahan senyumannya agar tidak ketahuan.


"Tidak panas," ucap Eliana.


"Tapi Daddy sedang sakit, Mom," ucap Edwin.


"Benar, Mom. Daddy tidak bisa bangun," ucap Elvin pula.


"Baiklah, Mommy akan membuatkan bubur untuk Daddy kalian. Jaga baik-baik jangan sampai Daddy kalian terjatuh!" cibir Eliana karena dia merasa Morgan sedang menipunya.


"Tapi, Mom. Baju Daddy basah," ucap Elvin.


"Suruh dia ganti sendiri!" ucap Eliana sebelum dia melangkah keluar. Apa dia sedang dikerjai oleh pria itu? Bajunya basah? Jangan katakan setelah ini dia harus memandikan seorang bayi besar yang menyebalkan.


"Bagaimana ini, Kak?" tanya Elvin.


"Oke, Boys. Daddy rasa ini tidak akan berhasil!"


"Pasti bisa, Daddy tidur saja!" Edwin melompat turun, dia berlari menuju kamar mandi untuk mengambil air. Morgan tidak mengerti dengan apa yang hendak putranya lakukan namun ketika Edwin meenyiramnya dengan air, Morgan terkejut.


"Sekarang Daddy sudah semakin basah!" ucap Edwin sambil tertawa.


"Edwin, ini tidak akan berhasil!" Morgan hendak beranjak, cukup sudah namun Elvin yang sudah berlari keluar berteriak memanggil Eliana.


"Cepat, tidur lagi. Jangan sampai ketahuan!" pinta Edwin.


"Hei.. Boys, lebih baik hentikan!" Morgan merasa konyol. Apakah harus sampai seperti itu untuk mendapatkan perhatian Eliana?


Baju basah yang dia gunakan hendak dilepaskan namun suara Elvin sudah terdengar di depan pintu. Morgan pun panik, mau tidak mau dia kembali berbaring agar tidak ketahuan.


"kami tidak bisa, Mom. Daddy juga tidak memiliki tenaga," ucap Elvin.


"Benar, Mom. Tolong gantikan baju Daddy," pinta Edwin.


Eliana menghela napas, entah mereka sedang serius atau tidak tapi sepertinya dia tidak bisa membiarkan Edwin dan Elvin merengek lebih dari pada ini.


"Baiklah, Mommy akan membantu Daddy mengganti pakaian jadi pergilah mandi dan sarapan," ucap Eliana.


"Mommy mau membantu?" tanya si kembar.


"Yes, pergilah mandi dan makan. Serahkan semua pada Mommy."


"Terima kasih, Mom," Edwin dan Elvin berlari ke arahnya dan memeluknya.


Morgan bersorak dalam hati, rencana kedua putranya benar-benar brilian dan sekarang, dia harus bisa menarik perhatian Eliana dengan bentuk tubuhnya. Wanita itu harus melihat jika dia begitu mempersona.

__ADS_1


__ADS_2