Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Tawaran


__ADS_3

Edwin dan Elvin sangat senang karena keinginan mereka sudah tercapai. Mereka bermain di luar, sedangkan Eliana mengambil barang-barang yang akan dia bawa. Morgan berada di luar rumah saat itu karena Camella menghubunginya untuk tahu apakah Morgan sudah menemukan keberadaan kedua putranya atau belum.


Walau dia sangat berharap Morgan tidak pernah menemukan keberadaan mereka tapi dia harus berpura-pura khawatir. Morban sengaja berbicara dengan Camella di luar karena dia tidak ingin kedua putranya mendengar apa yang sedang dia bicarakan dengan sang kekasih.


"Apa kau sudah menemukan keberadaan mereka, Morgan?" tanya Camella. Dia berpura-pura khawatir agar Morgan menganggap dia menyayangi kedua putranya.


"Yeah, mereka sudah bersama denganku sekarang."


"Aku sangat senang mendengarnya. Apa kau akan langsung kembali bersama dengan mereka?" rasanya sangat kesal, seharusnya Morgan tidak menemukan kedua putranya agar tidak ada yang menghalangi langkahnya.


"Setelah ini aku akan kembali, mungkin nanti sore kami sudah tiba."


"Jika begitu bolehkah aku ke rumahmu? Aku akan membuat makanan untuk mereka. Mungkin saja mereka mau menerima aku setelah melihat ketulusanku."


"Lakukan saja, Camella. Mereka sudah berjanji padaku akan menerima dirimu," ucap Morgan. Dia yakin kedua putranya menerima Camella karena dia sudah mengabulkan keinginan mereka.


"Benarkah, apa kau tidak berbohong?" Camella terdengar begitu senang padahal dia tidak peduli Edwin dan Elvin mau menerima dirinya atau tidak tapi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dia harus berakting dengan sebaik mungkin.


"Tentu tidak, mereka tidak akan berbuat nakal lagi."


"Oh.. Morgan, aku sangat senang mendengarnya. Aku akan segera ke rumahmu, aku akan membuatkan makanan kesukaan mereka berdua," Camella sangat bersemangat. Untuk mendapatkan Morgan memang harus mendapatkan hati kedua putranya terlebih dahulu.


Morgan mengira kedua putranya serius untuk menerima Camella tapi itu hanya akal-akalan mereka saja agar ayah mereka mau membujuk Eliana. Sekarang Edwin dan Elvin sudah lupa dengan janji yang mereka ucapkan karena mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Eliana sudah selesai mengambil barangnya, yang dia bawa hanya satu buah koper kecil karena dia pikir tidak akan lama berada di rumah ketiga pria itu. Mungkin paling lama satu minggu, itu yang dia pikirkan tapi kedua anak yang memiliki segudang akal licik itu tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.


"Aunty sudah selesai," ucap Eliana setelah keluar dari kamar.


"Aunty!" Edwin dan Elvin berlari ke arahnya. Mereka yang tadinya tidak mau pulang kini tidak sabar untuk pulang.


"Kenapa barang Aunty hanya sedikit?" tanya Edwin.


"Aunty memang tidak memiliki banyak barang," dusta Eliana.


"Nanti kami akan meminta Daddy membelikan Aunty barang yang bagus," ucap Elvin.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Mana Daddy kalian? Katakan Aunty sudah siap."


Edwin dan Elvin berlari keluar untuk memanggil ayah mereka yang sudah selesai berbicara dengan Camella tapi dia berada di luar untuk menunggu.


"Daddy, Aunty yang cantik sudah selesai!" teriak mereka berdua.


"Jika begitu kita segera pulang!"


Tanpa menjawab, Edwin dan Elvin kembali masuk ke dalam rumah untuk mengajak Eliana. Suara teriakan mereka begitu heboh, koper milik Eliana bahkan mereka yang bawa saat Eliana memastikan keadaan rumahnya. Edwin dan Elvin juga meminta ayah mereka untuk memasukkan barang Eliana ke dalam mobil.


Semua sudah diperiksa, pintu pun sudah terkunci. Eliana jadi merasa aneh karena dia harus mengikuti orang yang tidak dia kenal sama sekali bahkan dia harus tinggal dengan mereka. Walau terasa aneh tapi dia akan tetap melakukannya apalagi untuk kebaikan.


Mobil sudah berjalan, meninggalkan rumah Eliana. perjalanan akan memakan waktu beberapa jam karena daerah yang berbeda. Selama di perjalanan, Edwin dan Elvin tidak berhenti berbicara. Mereka seperti itu karena mereka begitu senang.


"Aunty, setelah tiba Aunty harus tidur dengan kami," ucap si kembar.


"Boleh saja, Aunty tidak keberatan."


"Daddy tidak boleh masuk!" ucap Edwin.


"Daddy, Aunty sangat baik. Kami di ajak ke kebun binatang. Kami juga di belikan mainan. Aunty juga membacakan buku dongeng, jadi Daddy harus baik pada Aunty."


"Hm," jawab ayahnya singkat.


"Daddy, barang Aunty hanya sedikit jadi besok Daddy harus membawa Aunty membeli baju," ucap si bungsu.


"Tidak perlu, Sayang. Aunty bisa beli sendiri," tolak Eliana.


"Tidak apa-apa, Aunty. Daddy banyak uang dan tidak pelit!" ucap si kembar. Tentunya gara-gara ucapan kedua putranya itu membuat Morgan tidak bisa berkata apa-apa.


Eliana tersenyum dan mengusap kepala si kembar yang menempel padanya tanpa mau berjauhan dengan perlahan.  Edwin dan Elvin juga memeluk ibu mereka tanpa mau melepaskannya. Itu yang sangat mereka inginkan, mereka bahkan merasa sudah memiliki seorang ibu saat ini.


Eliana masih mengusap kepala di kembar sampai suara mereka tidak terdengar lagi karena Edwin dan Elvin tertidur. Suasana sunyi, tidak ada yang berbicara. Eliana merasa tidak ada yang perlu dia bicarakan begitu juga dengan Morgan. Lagi pula mereka hanya orang asing.


Suara ponsel milik Morgan memecah keheningan di antara mereka. Morgan segera menjawab apalagi itu dari kekasihnya. Dia belum mengatakan pada Camella jika ada yang ikut mereka kembali. Dia akan menjelaskan hal itu pada Camella nanti setelah mereka tiba.

__ADS_1


"Apa kalian sudah mau tiba?" tanya Camella.


"Kami sudah di tengah jalan, kenapa?"


"Tidak, aku sudah tidak sabar menunggu kalian kembali."


Morgan melirik ke arah Eliana yang sedang memandangi jalanan sejenak, "Nanti kita bicara lagi," ucapnya. Entah kenapa dia tidak mau wanita itu mendengar. Sebenarnya tidak penting apalagi nama wanita itu saja dia tidak tahu.


Eliana tampak termenung, memikirkan banyak hal. Saat dia menandatangani surat perjanjian itu, tidak ada satu pun petunjuk yang menunjukkan siapa tuan muda yang telah membayarnya. Napas berat dihembuskan, entah bagaimana dia bisa menemukan keberadaan kedua putranya dia sendiri tidak tahu.


"Jika kau tidak keberatan, maukah kau menjadi pengasuh Edwin dan Elvin?" tanya Morgan. Menjadikan wanita itu sebagai pengasuh bukanlah ide buruk apalagi Edwin dan Elvin menyukai wanita itu.


"Maaf, aku tidak bisa," tolak Eliana.


"Kenapa? Aku akan memberikan gaji yang tinggi untukmu," dia tidak percaya Eliana akan menolak jika diberi gaji yang tinggi.


"Sekali lagi, aku minta maaf. Aku tidak bisa!" Eliana kembali menolak.


"Katakan padaku apa yang kau inginkan, akan aku berikan asalkan kau mau menjadi pengasuh kedua putraku. Mereka sangat menyukai dirimu, aku rasa tidak ada sebaik dirimu untuk menjadi pengasuh Edwin dan Elvin."


"Sungguh maafkan aku, aku tidak berminat menjadi pengasuh siapa pun. Aku ada urusan penting, aku juga tidak akan lama tinggal dengan kalian. Aku harap kau segera menemukan seseorang yang bisa menjaga mereka dengan baik."


Morgan tidak mengatakan apa pun, jika ada maka kedua putranya tidak akan pergi dari rumah. Babysitter yang dia bayar mahal pun tidak sanggup tapi ajaibnya, wanita yang baru Edwin dan Elvin temui justru disukai oleh kedua putranya.


Mereka tidak mengatakan apa pun lagi, Morgan juga tidak bisa memaksa jika Eliana tidak mau. Mereka berdua diam sampai mereka tiba. Mobil sudah berhenti, Eliana memandangi Mansion besar itu sebelum turun dari mobil. Edwin dan Elvin yang masih tidur pun dibangunkan oleh Eliana.


"Edwin, Elvin, kita sudah sampai jadi ayo bangun." Eliana mengusap dahi mereka dan memberikan kecupan lembut di dahi. Morgan melihatnya dari spion mobil, apa perlakuan wanita itu yang membuat kedua putranya menyukainya?


"Hei, jika tidak bangun juga maka Aunty akan pergi," ucap Eliana dan lagi-lagi sebuah kecupan dia berikan.


"Jangan, Aunty. Aku sudah bangun," ucap Edwin.


"Bagus, anak pintar!"


Morgan turun dari mobil, dia akan menggendong Edwin. Camella yang sudah menunggu sedari tadi sangat senang. Dia segera keluar untuk menyambut.. Senyum manis menghiasi wajah apalagi saat melihat Morgan sedang menggendong salah satu putranya namun senyuman itu mendadak sirna ketika melihat Eliana keluar dari mobil sambil menggendong Elvin. Apa ini? Kenapa Morgan tidak mengatakan jika dia akan membawa seorang wanita kembali?

__ADS_1


Sial, firasat buruk. Jangan katakan jika wanita itu adalah ibu dari kedua putra Morgan. Entah kenapa dia jadi curiga tapi semoga saja apa yang dia tebak tidak benar karena dia akan memiliki saingan yang sulit untuk dikalahkan.


__ADS_2