Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Misi Berhasil


__ADS_3

Eliana memang kembali ke rumah di mana dia tinggali waktu itu. Selain rumah itu dia tidak punya tujuan apalagi rumah itu sudah dia bayar selama satu tahun. Eliana juga merasa sepi, sesungguhnya dia juga merindukan Edwin dan Elvin. Rasanya sangat ingin pergi menemui mereka tapi dia tidak melakukan hal itu karena dia khawatir Morgan akan langsung mengusirnya pergi.


Setidaknya dia masih memiliki harga diri, dia tidak mau diusir sehingga membuatnya malu. Eliana sibuk mencari keberadaan Grace dan Ray, dia pun mencari pulau di mana dia diasingkan dulu namun dia belum mendapatkan petunjuk seperti yang sudah-sudah. Eliana ingin berkonsentrasi untuk mencari mereka namun perasaan tidak nyaman dia rasakan sedari pagi. Entah kenapa dia sangat ingin pergi mengunjungi Edwin dan Elvin.


Eliana hampir melakukannya namun mengingat sikap Morgan yang tidak menyukai dirinya berada di antara mereka, membuat Eliana mengurungkan niatnya. Sebaiknya dia tidak mengganggu mereka lagi dan fokus melakukan apa yang harus dia lakukan.


Hari ini dia tidak berada di rumah, oleh sebab itu anak buah Morgan tidak menemukan keberadaan Eliana. Mereka sudah mencoba mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Kabar itu pun harus mereka sampaikan pada Morgan, mereka harus menunggu perintah untuk tahu apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.


Morgan masih menunggu untuk tahu keadaan kedua putranya, dia harap Edwin dan Elvin baik-baik saja. Semoga saja keadaan kedua putranya bukan tipuan semata akibat sandiwara yang mereka mainkan karena jika sampai hal itu terjadi maka dia benar-benar tidak akan memaafkan kedua putranya yang sudah membuatnya cemas seperti itu.


Sebelum anak buahnya menghubungi, dokter yang menangani Edwin dan Elvin pun keluar. Morgan segera menghampiri sang dokter yang menangani kedua putranya.


"Bagaimana dengan keadaan mereka?" tanya Morgan dengan tidak sabar.


"Mereka berdua demam, kurang makan dan minum membuat keadaan mereka lemah."


Morgan memijit pelipis, selain mogok bicara ternyata mereka juga mogok makan. Jika dia terus membiarkan hal itu terjadi, mungkin keadaan kedua putranya akan lebih parah dibandingkan saat ini. Morgan sudah boleh melihat keadaan kedua putranya, Edwin dan Elvin berbaring lemah dengan infus di tangan.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Morgan pada kedua putranya.


Edwin dan Elvin tidak menjawab, mereka pun tidak mau melihat ayah mereka dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh mereka.


"Masih tidak mau berbicara dengan Daddy?"


"Kami mau Mommy!" jawab si kembar.


"Bukankah sudah Daddy katakan? Daddy akan pergi mencarinya dan membawanya kembali."


"Mommy!" hanya itu saja yang kedua putranya ucapkan.


Morgan menghela napas, entah apa lagi yang harus dia katakan agar kedua putranya mengerti tapi sepertinya mereka hanya akan mengerti jika Eliana sudah berada di sana. Kini dia tidak bisa melakukan apa pun karena dia takut keadaan kedua putranya lebih buruk dari pada ini. Morgan menunggu Edwin dan Elvin, walau diabaikan oleh mereka.


Ponselnya yang berbunyi segera diambil karena dia tahu itu dari anak buahnya yang mencari Eliana. Semoga mereka membawa kabar baik.

__ADS_1


"Tunggulah, Daddy akan membawa dia kembali untuk kalian," ucap Morgan seraya beranjak.


Edwin dan Elvin saling pandang, apa ayah mereka serius? Mereka masih tetap diam sambil memperhatikan ayah mereka yang sedang berbicara dengan anak buahnya.


"Apa kalian menemukannya?" tanya Morgan.


"Dia tidak berada di rumah, Sir," jawab anak buahnya.


"Terus pantau, jika hari ini tidak ada maka cari di tempat lain!" perintah Morgan.


"Yes, Sir!" anak buahnya pun menunggu di dekat rumah Eliana, untuk menunggu Eliana kembali.


Setelah berbicara dengan anak buahnya, Morgan kembali mendekati kedua putranya dan duduk di sisi ranjang. Edwin dan Elvin sudah menutupi tubuh mereka dengan selimut. Mereka pun tidak mau peduli meski ayah mereka membujuk mereka.


"Apa kalian tidak mendengar? Daddy sedang mencari keberadaannya tapi kenapa kalian masih tidak mau berbicara dengan Daddy?" ucap Morgan, namunĀ  kedua putranya masih saja diam.


"Ayolah, apa yang kalian mau. Katakan!" Morgan membuka selimut yang menutupi tubuh Edwin, "Daddy akan melakukan apa pun yang kalian mau asal kalian tidak marah lagi seperti ini dan tidak mengabaikan Daddy," ucapnya lagi.


"Daddy sedang mencarinya, bukan?"


"Daddy pergi bujuk Mommy agar mau pulang," pinta Elvin.


"Tidak ada yang menjaga kalian berdua, Daddy tidak bisa pergi."


"Tidak apa, kami tidak perlu dijaga. Jika Daddy tidak pergi, mungkin Mommy tidak mau kembali karena Daddy jahat!" ucap si cengeng.


"Oke, Daddy memang jahat. Jadi kalian ingin Daddy pergi menemuinya dan membujuknya agar dia mau kembali?"


"Jika tidak mau maka antar kami dan biarkan kami yang membujuk Mommy," pinta Edwin.


"Tidak, Daddy yang pergi tapi berjanjilah satu hal pada Daddy jika kalian tidak akan mengabaikan Daddy lagi dan tidak mogok makan serta minum!" dia tidak menduga kedua putranya akan melakukan hal senekat itu hanya untuk bersama dengan Eliana.


"Jika ada Mommy kami tidak akan melakukannya," ucap Kedua putranya.

__ADS_1


"Baiklah," Morgan mendekati kedua putranya untuk memberikan kecupan di dahi mereka, "Daddy akan pergi dan membawanya kembali tapi selama Daddy pergi, jangan berbuat nakal dan beristirahat dengan benar!" printahnya.


"Kami berjanji!" ucap si kembar.


"Bagus," Morgan beranjak, walau anak buahnya belum memberi kabar akan keberadaan Eliana tapi dia akan tetap pergi.


Beberapa anak buah dia perintahkan untuk menjaga Edwin dan Elvin, semua itu dilakukan untuk keamanan kedua putranya. Edwin dan Elvin tersenyum setelah ayah mereka pergi. Telapak tangan pun di adu hingga berbunyi karena misi mereka sudah berhasil.


"Kita berhasil, Kak. Misi kita berhasil membuat Daddy membawa Mommy kembali," ucap Elvin.


"Sstt, jangan keras-keras. Bisa bahaya jika Daddy mendengar!" Edwin meletakkan jarinya ke bibir.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Tidur," jawab kakaknya, "Kita harus patuh sampai Daddy kembali, kita pun harus segera sembuh," Elvin mengangguk mendengar perkataan kakaknya. Sekarang mereka mau istirahat agar keadaan mereka sembuh saat ayah mereka kembali membawa ibu mereka.


Morgan bergegas pergi, kabar keberadaan Eliana pun sudah dia dapatkan karena Eliana sudah kembali ke rumahnya. Eliana kembali dalam keadaan lelah dan putus asa, sungguh petunjuk yang sulit dia dapatkan namun dia tidak akan menyerah untuk menemukan keberadaan kedua putranya.


Setelah selesai mandi, Eliana pergi ke dapur untuk membuat makanan yang akan dia nikmati seorang diri. Beberapa hari belakang dia merasa sepi, tentunya setelah dia meninggalkan si kembar. Entah bagaimana keadaan mereka saat ini, dia jadi memikirkannya apalagi dia pergi secara tiba-tiba.


Bahan makanan dikeluarkan, celemek pun sudah dikenakan. Bahan-Bahan makanan pun dibawa menuju wastafel, dia sudah akan mencucinya namun suara pintu yang berbunyi menghentikan niatnya sehingga bahan makanan kembali diletakkan.


"Coming!" teriaknya karena suara pintu kembali berbunyi.


Celemek yang dia gunakan dilepaskan lalu disimpan, dia masih merasa aneh karena tiba-tiba ada yang datang ke rumahnya. Pintu dibuka, seorang pria yang tampak tidak asing berdiri membelakanginya.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanyanya.


"Ya!" jawab Morgan seraya berbalik.


Eliana terkejut, "Morgan?" nama pria itu pun terucap.


Morgan menatapnya dengan tajam, kenapa dia jadi ingin memeluk wanita itu untuk mengobati sebuah kerinduan? Tidak, jangan katakan dia mulai menganggap wanita itu sebagai pengobat rasa rindu yang selama ini dia rasakan. Eliana menatapnya dengan tatapan heran, untuk apa pria itu datang ke rumahnya? Jangan katakan Morgan ingin memintanya untuk pergi dari Perancis karena dia takut Edwin dan Elvin datang lagi untuk mencarinya.

__ADS_1


__ADS_2