Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Baby Girl


__ADS_3

Pernikahan sederhana mereka sudah berjalan hampir satu tahun dan tentunya dari pernikahan itu, Eliana kembali hamil anak ketiganya. Selama itu pula, Morgan tidak pernah mengecewakan Eliana. Tidak ada sikap arogan atau perlakuan kasar yang ditunjukkan oleh Morgan. Pria itu menunjukkan ketulusannya agar dia tidak kehilangan Eliana dan kedua putranya.


Dia tahu dia harus berubah jika dia menginginkan keluarga yang harmonis. Jika dia berlaku kasar, lalu apa beda dirinya dengan ayahnya? Meski ayahnya tidak berlaku kasar tapi jika dia menyakiti Eliana maka dia akan kehilangan keluarga kecil yang dia miliki. Bagaimanapun dia tidak mau seperti ayah dan ibunya dulu yang menyia-nyiakan dirinya oleh sebab itu, Morgan benar-benar menunjukkan ketulusannya dan benar-benar mencintai Eliana.


Edwin dan Elvin sangat senang karena mereka akan segera punya adik sebentar lagi namun mereka terlihat kesal karena ayah mereka tidak mau jauh-jauh dari ibu mereka. Eliana bahkan sangat kesal dibuatnya, dia tidak menyangka pria itu akan bersikap seperti itu.


Morgan bahkan enggan pergi ke kantor karena dia tidak bisa berjauhan dari Eliana. Setiap kali dia pergi, perasaannya gundah oleh sebab itu dia selalu cepat kembali dan setelah dia berada di rumah, Morgan tidak mau berjauhan dari istrinya.


Tentunya hal itu membuat Edwin dan Elvin kesal setiap hari karena mereka juga mau dekat-dekat dengan ibu mereka serta mengelus perut ibu mereka tapi ayah mereka, menguasai semuanya. Eliana menggeleng, Morgan benar-benar bagaikan bayi besar yang tidak mau berjauhan dari istrinya.


"Daddy menyebalkan!" teriak Edwin.


"Benar, Daddy menyebalkan!" teriak Elvin pula.


"Daddy tidak mengganggu kalian, kenapa kalian marah?" tanya Morgan tanpa henti mengusap perut Eliana yang besar.


"Daddy menguasai Mommy setiap hari, bagaimana kami tidak marah!"


"Daddy seperti anak kecil saja!" teriak kedua putranya kesal.


"Ada apa denganmu, Morgan? Kau benar-benar bertingkah seperti anak kecil," ucap Eliana. Dia juga kesal karena Morgan menempel padanya setiap saat.


"Aku ingin dekat denganmu dan anak kita," ucap Morgan.


"Tapi tidak seperti ini caranya, Edwin dan Elvin jadi terabaikan."


"Hei, aku juga tidak mau tapi aku selalu merasa gundah jika tidak berada di dekatmu. Aku akan merasa tenang jika seperti ini," Morgan memeluk Eliana erat, tangannya pun tak henti mengusap perut istrinya. Dia juga tidak mau seperti itu karena dia tidak bisa pergi bekerja tapi entah kenapa dia mengalami hal itu.


"Baiklah, kau memang aneh tapi jangan membuat Edwin dan Elvin terabaikan. Kemarilah, sayang," Eliana mengulurkan tangannya ke arah kedua putranya.


Edwin dan Elvin mendekati ibu mereka yang saat itu sedang duduk bersandar di sofa. Tatapan tajam juga mereka berikan pada ayah mereka yang masih terlihat menyebalkan.


"Daddy menyebalkan!" ucap mereka lagi.


"Daddy memang menyebalkan jadi kemarilah."


Edwin dan Elvin berdiri di sisi ibu mereka lalu mengusap perut ibu mereka. Tangan ayah mereka bahkan di tepis karena si kembar kesal dengan kelakuan ayah mereka yang seperti anak keci.


"Kapan adik bayi akan lahir, Mom?" tanya Edwin.


"Mungkin sebentar lagi," jawab Eliana.


"Apakah adik perempuan, apakah adik perempuan?" tanya Elvin penuh semangat.


"Entahlah, kita akan tahu nanti setelah lahir," mereka memang tidak melihat jenis kelamin bayinya agar menjadi kejutan untuk mereka nanti.


"Aku sudah tidak sabar, pasti adik perempuan!" teriak Edwin.


"Benar, pasti adik perempuan!" teriak Elvin pula.


"Bagaimana jika adik laki-laki?" tanya Morgan.

__ADS_1


"Jika adik laki-laki berarti Daddy payah!" teriak Elvin.


"Benar, jika adik laki-laki berarti Daddy benar-benar payah."


"Wow, apa kalian kira Daddy bisa menentukannya?"


"Apa tidak bisa, Mom?" Edwin dan Elvin memandangi ibu mereka dengan tatapan ingin tahu.


"Tentu saja bisa, Daddy kalian memang payah!" Eliana sengaja memanasi.


"Hei, provokator. Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Morgan.


"Karena Daddy payah!" teriak kedua putranya lalu mereka menertawakan ayah mereka.


"Baiklah, baik. Daddy memang payah tapi kalian berdua putra Daddy berarti kalian juga payah," ucap Morgan.


"Kami tidak mau seperti Daddy," teriak mereka berdua.


"Tidak bisa, kalian berdua putra Daddy jadi kalian memang payah seperti Daddy."


"Tidak mau, Mom, Tidak mau!"


"Baiklah, baik. Kalian tidak payah. Hanya Daddy kalian saja yang payah tapi Mommy merasa perut Mommy tidak nyaman."


"Kenapa? Apakah sakit?" tanya Morgan.


"Entahlah, rasanya sedikit nyeri."


"Ada apa, Mom?" tanya si kembar.


"Tidak ada apa-apa, perut Mommy hanya sedikit sakit."


"Cepat, Dad!"


Morgan menggendong istrinya namun rasa nyeri kembali Eliana rasakan. Jeritan Eliana terdengar, Morgan dan kedua putranya sampai terkejut dibuatnya.


"Ada apa denganmu?" tanya Morgan.


"Rumah sakit, Morgan. Aku rasa sudah saatnya," pinta Eliana.


"Apa, benarkah?" Morgan mulai terlihat panik.


"Yes, rasanya semakin sakit!"


"Boys, ayo cepat. Adik bayi kalian sudah mau lahir!"


"Asik, adik bayi sudah mau lahir!" teriak Edwin dan Elvin.


Morgan segera membawa Eliana ke rumah sakit. Edwin dan Elvin bersorak senang dan tidak sabar.  Morgan sangat ingin menemani istrinya untuk bersalin namun dia tidak bisa meninggalkan kedua putranya. Mereka menunggu dengan tidak sabar sampai akhirnya tangisan bayi pun terdengar.


"Sudah lahir, Dad. Sudah lahir!" teriak Edwin dan Elvin.

__ADS_1


"Yes, adik kalian sudah lahir," ucap Morgan. Perasaan bahagia memenuhi hati, dia pun sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Eliana dan bayi mereka.


Morgan dan kedua putranya menunggu, menunggu Eliana dan bayinya dipindahkan dan begitu Eliana sudah berada di dalam ruang rawat inap, kedua putranya menghampiri ibu mereka karena si kembar sudah sangat ingin tahu keadaan ibu mereka.


"Bagaimana keadaan Mommy?" tanya Edwin.


"Apakah sakit, Mom? Apakah sakit?" tanya Elvin.


"Mommy tidak apa-apa, terima kasih."


"Terima kasih, Eliana," Morgan menunduk untuk memberikan ciuman di dahi, "Maaf aku tidak menemanimu," ucapnya lagi.


"Tidak apa-apa, Morgan. Kau memang harus menemani Edwin dan Elvin."


"Adik bayi, aku mau lihat adik bayi!" teriak Edwin dan Elvin saat bayi lucu yang baru lahir di bawa masuk dan diberikan pada Eliana.


"Pasti bayi perempuan," ucap Edwin.


"Dia cantik seperti Mommy!" teriak Elvin.


"Dari mana kau tahu?" tanya ayahnya.


"Tentu saja kami tahu!" Edwin dan Elvin tersenyum lebar.


"Jadi, apa kalian sudah mendapatkan nama untuk adik bayi?" tanya Eliana pada kedua putranya.


"Hei, apa itu artinya kali ini kita dapat seorang putri?" tanya Morgan.


"Yeah, sesuai dengan keinginan mereka."


"Yes!" Morgan bersorak senang.


"Yes, adik perempuan!" sorak Edwin dan Elvin pula.


"Jadi, siapa namanya?" tanya Eliana lagi.


"Eleanor, namanya Eleanor Barnest!" jawab Edwin dan Elvin. Mereka sudah memikirkan nama yang bagus dan sepakat memberi adik mereka nama Eleanor Barnest.


"Hei, kenapa semuanya berawalan huruf E?" tanya Morgan.


"Kita akan menjadi keluarga dengan nama yang berawalan huruf E," jawab Edwin.


"Lalu bagaimana dengan Daddy?"


"Daddy akan menjadi orang asing!" teriak Edwin dan Elvin.


"Apa, kenapa Daddy harus menjadi orang asing?" protes Morgan.


Edwin dan Elvin tertawa, begitu juga dengan Eliana. Morgan tersenyum, tawa mereka terasa begitu berharga. Kini keluarga kecil mereka sudah lengkap dengan hadirnya Eleanor Barnest. Meskipun Eliana menikahinya dengan sebuah surat perjanjian tapi dulu dia juga memberikan sebuah surat perjanjian namun perjanjian yang dia berikan ada masanya sedangkan surat perjanjian yang diberikan oleh Eliana tidak ada masa waktunya dan surat itu tidak berlaku selama dia menyayangi istri dan anak-anaknya.


Sejak awal dia sudah berjanji untuk tidak melakukan perbuatan kasar maka tidak akan dia lakukan karena perasaan cinta yang dia miliki untuk Eliana semakin tumbuh subur dan dia pun sangat mencintai keluarga kecilnya. Mereka pasti bahagia sampai maut memisahkan mereka berdua nantinya.

__ADS_1


__ADS_2