
Lima orang berandalan tampak menunduk dan ketakutan di bawah tiang lampu jalan yang ada di dekat taman yang sepi. Kelima berandalan itu adalah berandalan yang mengejar Edwin dan Elvin hari itu. Mereka ditangkap oleh anak buah Morgan karena menurut beberapa saksi mengatakan jika mereka mengejar Edwin dan Elvin.
Tanpa tahu apa yang telah terjadi, kelima berandalan itu dikepung oleh anak buah Morgan. Mereka tidak berkutik karena pistol tertodong di dahi mereka berlima. Mereka pun tidak berdaya saat diminta untuk berlutut sambil menaruh kedua tangan mereka di belakang kepala.
Ketika tertangkap, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kelima berandalan itu sangat ingin tahu apa yang telah terjadi dan kesalahan apa yang mereka lakukan tapi tidak ada satu dari mereka pun yang berani bertanya.
Morgan pun menuju lokasi keberadaan kelima berandalan tersebut untuk menginterogasi mereka. Kelima orang yang sudah menakuti kedua putranya tidak akan dia maafkan.
Kelima berandalan itu melihat ke arah Morgan saat pria itu sudah tiba dan melangkah mendekati mereka. Mereka tidak mengenal pria itu tapi mereka tahu jika mereka sedang berada di dalam masalah besar.
"Jadi kalian yang menakuti kedua putraku?" Morgan berdiri di hadapan mereka dan menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Tidak, kami tidak melakukan apa pun!" sangkal salah satu dari mereka.
"Tidak perlu menipu, apa kalian tahu kedua anak ini?" Morgan berjongkok dan memperlihatkan foto Edwin dan Elvin.
Kelima berandalan itu semakin ketakutan, celaka. Ternyata dua anak yang mereka kejar waktu itu bukan anak orang biasa.
"Jawab, kenapa kalian menakuti kedua putraku?!" teriak Morgan marah.
"Ka-Kami hanya mengganggunya saja!" teriak salah satu dari mereka.
"Pukul!" perintah Morgan seraya beranjak dan melangkah mundur.
"Tolong ampuni kami!" teriak kelima berandalan itu namun anak buah Morgan sudah memukul mereka tanpa belas kasian.
Mereka hanya bisa berteriak saat mendapat tendangan dan bogem mentah yang menghajar wajah mereka. Seharusnya mereka tidak mengganggu kedua anak itu, seharusnya tidak.
"Kami hanya mengganggunya saja, kami tidak melakukan apa pun karena mereka lari!" satu salu dari mereka kembali berteriak.
__ADS_1
Morgan mengangkat tangannya, sehingga anak buahnya berhenti memukul. Morgan kembali melangkah mendekati kelima berandalan yang sudah babak belur.
"Katakan padaku, ke mana mereka pergi saat mereka lari?"
"kami tidak tahu tapi saat itu ada seorang wanita yang mencegat kami!!"
"Wanita, siapa?" tanya Morgan dengan cepat, itu petunjuk untuk menemukan kedua putranya.
"Kami tidak tahu, saat wanita itu mencegat kami pun pergi dan tidak tahu apa pun lagi. Mungkin saja wanita itu menipu kedua putramu dan menculik mereka!" teriak salah satu berandalan itu. Dia berkata demikian agar mereka dilepaskan dan agar Morgan fokus pada wanita yang telah menghalangi mereka waktu itu. Mereka mendapatkan pukulan, jadi wanita itu pun harus mendapatkannya.
"Apa?" Morgan terkejut, apa benar kedua putranya diculik oleh wanita yang pura-pura menolong mereka?
"Benar, wanita itu adalah pedofil anak!" teriak yang lainnya membenarkan.
Kedua tangan Morgan sudah mengepal erat, beraninya wanita itu menculik kedua putranya? Jika yang dikatakan oleh para berandalan itu benar maka tidak akan dia ampuni wanita itu siapa pun dia. Akan dia bunuh dengan kedua tangannya.
"Pukul mereka lagi dan temukan wanita itu untukku!" perintah Morgan.
Tidak bisa, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Sebaiknya dia segera menemukan keberadaan Edwin dan Elvin apalagi tidak ada yang bisa dipercaya apalagi orang yang tidak dikenal. Lebih baik dia bergegas menemukan wanita itu dan dia juga berharap Edwin dan Elvin tidak jatuh pada orang yang salah. Jika wanita itu berani menyakiti kedua putranya, dia benar-benar tidak akan mengampuninya siapa pun dia.
Morgan pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan anak buahnya membawa para berandalan itu untuk dimintai keterangan di mana terakhir mereka melihat Edwin dan Elvin dan dia mana si kembar bertemu dengan wanita yang dimaksud oleh kelima berandalan itu karena mereka akan menyelusuri cctv untuk melihat apakah Edwin dan Elvin mengikuti wanita itu atau tidak karena bisa saja mereka berdua sudah lari dan berada di tempat lain.
Semoga kedua putranya baik-baik saja, semoga apa yang dia takutkan tidak terjadi dan memang tidak karena kedua putranya bersama dengan ibu mereka tanpa mereka sadari sama sekali.
Edwin dan Elvin sedang berada di dalam kamar, mereka tidak bisa tidur. Mereka justru sedang bermain. Edwin dan Elvin sangat senang karena Eliana membelikan mereka mainan. Walau mereka sudah memiliki banyak mainan bagus di rumah, tapi mainan yang diberikan oleh Eliana terasa berbeda.
"Kakak, sampai kapan kita akan berada di sini? Kapan kita akan pergi mencari Mommy lagi?" tanya Elvin.
"Aku tidak tahu, tapi aku suka berada di sini. Apa kau tidak suka?"
__ADS_1
"Tentu saja aku suka, Aunty sangat baik dan sangat menyayangi kita tapi kita tidak bisa berada di sini terlalu lama dan harus segera mencari keberadaan Mommy sebelum penyihir itu menguasai Daddy!" ucap Elvin.
"Aku juga tidak suka dengan penyihir itu, bagaimana jika kita jadikan Aunty sebagai Mommy kita saja? Seperti rencana awal, kita bawa Aunty pulang. Daddy pasti akan menyukai Aunty karena Aunty begitu cantik," ucap Edwin pula.
"Tapi Aunty tidak mau mengikuti kita," Elvin menunduk dan terlihat sedih.
"Itu berarti usaha kita masih kurang keras. Besok kita bujuk Aunty, dan jika Aunty tidak mau maka menangislah dengan keras. Aku juga akan melakukannya sampai Aunty setuju untuk mengikuti kita dan tinggal dengan kita. Jika kita tidak melakukannya maka penyihir itu akan menang."
"Baiklah, aku akan menyiapkan banyak tenaga untuk menangis sampai Autny setuju!" ucap Elvin setuju.
"Aku juga akan menyiapkan banyak tenaga!" kakaknya juga berkata demikian.
"Edwin, Elvin, apa kalian sudah tidur?" tanya Eliana sambil mengetuk pintu kamar mereka.
"Belum, Aunty," jawab Edwin dan Elvin.
"Boleh Aunty masuk?"
"Tentu saja!"
Eliana membuka pintu, senyuman menghiasi wajah saat melihat Edwin dan Elvin sedang duduk di atas ranjang. Eliana membawa sebuah buku dongeng, itu buku yang baru dia beli. Tidak saja membeli buku dongeng dan mainan untuk Edwin dan Elvin, Eliana juga membeli baju untuk mereka. Buku itu dia beli bukan tanpa alasan. Dia sangat ingin membacakan dongeng untuk Edwin dan Elvin sampai mereka berdua tertidur. Anggap saja dia melakukan hal itu untuk kedua putranya, hitung-hitung latihan sebagai seorang ibu sebelum dia bertemu dengan kedua putranya.
"Kenapa kalian belum tidur?" tanya Eliana seraya naik ke atas ranjang.
"kami ingin tidur dengan Aunty," jawab si kembar.
"Baiklah, apa ada yang mau dibacakan dongeng?" tanya Eliana sambil mengangat buku cerita yang dia bawa.
"Mau, aku mau!" jawab Edwin dan Elvin sambil berteriak.
__ADS_1
Eliana tersenyum dan duduk di tengah-tengah, di antara kedua putranya. Edwin dan Elvin berbaring dan memeluk kaki ibu mereka sambil mendengarkan dongeng yang dibacakan oleh Eliana. Selama ini tidak ada yang membacakan dongeng untuk mereka, ini adalah hal baru bagi mereka dan tentunya mereka sangat senang.
Eliana terus membaca sampai Edwin dan Elvin tertidur. Buku pun disimpan, Eliana berbaring dan mendaratkan kecupan di dahi Edwin dan Elvin. Rasanya sedang bersama dengan kedua putranya, tiba-tiba dia berharap jika merekalah kedua putra yang dia cari tapi dia juga sadar, tidak mungkin ada kebetulan seperti itu tapi kebetulan yang dia anggap tidak mungkin sedang dia alami saat ini dan tidak lama lagi, dia akan bertemu dengan pria yang sudah membayarnya dulu dan yang sudah menghabiskan malam dengannya sampai dia mengandung Edwin dan Elvin yang belum juga dia sadari jika merekalah anak yang sedang dia cari selama ini.