Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Pagi Yang Kacau


__ADS_3

Perasaan nyaman saat tidur sudah lama tidak Morgan rasakan. Saat memeluk Eliana dia merasakan sebuah perasaan aneh, dia selalu merasa demikian oleh sebab itu dia tidak melepaskan Eliana sama sekali. Morgan bahkan memeluk Eliana dengan erat tanpa melepaskannya sampai pagi.


Eliana terbangun karena dia ingin ke kamar mandi, dia mengira tangan yang melingkar di tubuhnya adalah selimut akibat kesadarannya yang belum penuh. Eliana menyingkirkan tangan Morgan dan beranjak dari ranjang. Matanya masih terasa berat jadi dia melangkah menuju kamar mandi sambil membuka sedikit matanya yang berat untuk melihat di mana letak kamar mandi.


Eliana belum sadar sama sekali dengan letak kamar mandi yang berbeda, dia bahkan kembali ke ranjang sambil menguap dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya karena dia merasa kedinginan. Eliana kembali memejamkan mata, namun sebuah tangan yang melingkar di tubuhnya secara tiba-tiba mengejutkan dirinya. Kini matanya terbuka, apalagi tubuhnya ditarik hingga punggungnya menempel ke tubuh Morgan.


Eliana mulai sadar, dia tidak berada di kamarnya lagi. Napas hangat yang membelai tengkuk membuatnya menahan napas. Jantungnya berdegup, jangan katakan? Tanpa membuang waktu Eliana berbalik, kedua matanya melotot saat melihat wajah Morgan yang begitu dengan wajahnya. Jarak wajah mereka bahkan hanya beberapa centi saja.


Suara teriakan Eliana terdengar, lalu sebuah tamparan keras mendarat di wajah Morgan. Morgan terkejut namun semua itu tidaklah cukup, setelah menampar wajah Morgan, Eliana pun memukul wajah Morgan sehingga kepalan tinjunya Mengenai hidung Morgan. Kali ini Morgan yang berteriak, pangkal hidungnya terasa sakit akibat pukulan yang diberikan oleh Eliana.


"Kenapa kau memukul wajahku?" teriak Morgan. Pria itu segera duduk di atas ranjang sambil memegangi hidungnya.


"Kenapa kau tidur denganku?" teriak Eliana tak mau kalah. Setelah memukul kali ini Eliana menendangi Morgan dengan membabi buta, "Baj*ngan, kenapa kau tidur denganku?" teriak Eliana lagi tanpa henti menendangi Morgan.


"Stop, Eliana. Berhenti menendang!" teriak Morgan sambil menahan kaki Eliana yang tak henti menendang.


"Di mana aku? Kenapa aku bisa bersama denganmu dan kenapa aku bisa tidur denganmu?" tanya Eliana lagi.


"Hm, itu?" Morgan tidak bisa menjawab, bisa celaka jika dia mengatakan yang sebenarnya jika dia membawa Eliana dengan paksa. Morgan masih memegangi batang hidungnya, juga mengusap bagian perut yang ditendang oleh Eliana.


"Itu apa?" bentak Eliana marah.


"Jangan marah-marah seperti itu, kau bagaikan istri yang tidak diberi uang."

__ADS_1


"Jangan asal bicara, aku bukan istrimu!"


"Ayolah, jangan marah seperti itu."


"Itu bukan inti masalahnya, sekarang katakan padaku kenapa aku bisa berada di sini dan tidur denganmu?" Eliana menatapnya sinis, dia curiga pria itu membawanya dengan paksa saat dia sedang tidur seperti yang hendak dia lakukan sebelumnya.


"Apa kau membawa aku dengan paksa?" tanya Eliana sambil menatapnya sinis.


"Tidak, aku mengajakmu saat kau sedang tidur dan kau menyetujuinya," dusta Morgan.


"Oh, luar biasa sekali. Aku sedang tidur tapi kau bisa mengajak aku. Aku sungguh tidak percaya mendengar ini," kepalan tinju sudah ditekan hingga berbunyi, beraninya pria itu membawanya secara paksa lalu menipunya? Tidak akan dia maafkan, akan dia buat babak belur agar pria itu tidak berlaku seenaknya.


"Aku tidak bohong, Eliana," Morgan beringsut ke sisi ranjang, sebaiknya dia kabur dari pada mendapat pukulan lagi.


Morgan berteriak, Eliana pun tidak berhenti. Dia terus menggigit untuk melampiaskan kekesalan di hatinya. Kukunya yang tajam pun tidak berhenti mencakar, Morgan tidak bisa menghindar karena Eliana menempel di belakangnya. Sekalipun dia beranjak, Eliana tidak juga lepas dan masih saja menggigit bahunya dengan keras.


"Lepaskan, Eliana. Aku terpaksa membawamu karena kau tidak mau ikut denganku!" teriaknya.


"Aku bilang besok, tapi kenapa kau membawa aku dengan paksa? Apa kau tuli?" kini kedua tangan memukul, dia benar-benar benci dengan pria pemaksa seperti Morgan. Setelah selesai, Eliana pun turun dari punggung Morgan. Eliana bahkan mendorong pria itu dan melangkah keluar. Kesal, amarah menjadi satu dalam hati.


"Eliana, tunggu!" Morgan mengejarnya dan meraih lengan Eliana sehingga langkah wanita itu terhenti.


"Lepaskan aku!" pinta Eliana dengan nada kesal.

__ADS_1


"Tidak, tolong jangan marah. Aku tahu aku salah karena aku telah membawamu dengan paksa tapi aku tidak punya pilihan karena aku sudah berjanji pada kedua putraku jika aku akan membawamu kembali. Mereka begitu marah padaku setelah kepergianmu, mereka tidak mau berbicara denganku bahkan tidak mau makan dan minum. Kedua putraku sakit setelah kau pergi dan aku dibenci oleh mereka oleh sebab itu aku berjanji pada mereka akan membawa dirimu kembali jadi tolong, jangan pergi karena aku membutuhkan dirimu!"


"Itu bukan urusanku!" Eliana masih berbicara dengan nada sinis.


"Kau memang berkata demikian tapi aku yakin kau tidak mungkin tega dengan Edwin dan Elvin. Mereka merindukan dirimu, Eliana. Sangat merindukan dirimu sehingga membuat mereka sakit."


"Kau terlalu sombong, Morgan. Turunkan sedikit egomu dan pahami apa yang mereka inginkan. Dengan begitu mereka akan menjadi anak yang patuh dan mendengarkan perkataanmu."


"Aku tahu aku egois, aku tahu selama ini aku tidak meluangkan waktuku untuk mereka sehingga Edwin dan Elvin menjadi anak nakal tapi sekarang, aku sudah menurunkan ego ku dan mengabulkan permintaan mereka yaitu membawamu kembali. Maafkan atas perkataanku waktu itu, apa yang kau katakan sangat benar tapi aku terlalu egois sehingga aku hanya mementingkan diriku saja jadi maafkan aku."


Eliana tidak mengatakan apa pun, Morgan mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Eliana terkejut, dia mulai memberontak namun Morgan mendekapnya dengan erat sehingga Eliana tidak bisa lepas akibat kalah tenaga.


"Lepaskan, tidak perlu memeluk aku jika ingin berbicara!"


"Aku ingin melakukannya, Eliana. Tidak saja kedua putraku, tapi aku merasa tenang saat memelukmu."


"Tidak perlu membual!" Eliana mengangkat satu kakinya lalu menginjak kaki Morgan.


Morgan berteriak, pelukannya pun terlepas. Satu kaki diangkat karena sakit, Eliana berbalik lalu menendang kaki Morgan sambil berkata, "Lain kali jika kau berani memeluk aku lagi, aku akan menendang bagian lainnya hingga masa depanmu sirna!" setelah mengatakan hal itu Eliana keluar dari kamar meninggalkan Morgan yang berteriak kesakitan.


Lengkap sudah, dia benar-benar sudah babak belur. Dari wajahnya yang mendapat tamparan lalu pukulan di hidung. Bekas cakaran dan gigi juga membekas di bahu dan sekarang, kedua kakinya juga mendapat tendangan. Satu saja yang masih aman, asetnya yang berharga dan sepertinya ancaman Eliana tidak main-main dan dia akan menendang masa depannya yaitu asetnya yang berharga.


Eliana melangkah menuju ruang tamu sambil menggerutu, sekarang dia tahu jika dia sudah kembali ke mansion Morgan. Setelah melihat Edwin dan Elvin dia harus pulang. Eliana duduk di ruang tamu, dia tidak tahu apa yang hendak dia lakukan. Dia tidak bisa pergi karena tidak memiliki uang, Eliana bahkan masih mengenakan gaun tidurnya saat itu.

__ADS_1


Morgan bergegas keluar dari kamar, jangan sampai Eliana pergi namun ketika melihat Eliana berada di ruang tamu, Morgan tersenyum tanpa menghampirinya. Pagi yang kacau tapi wanita itu sudah berada di rumahnya lagi dan kali ini tidak akan dia biarkan pergi. Morgan kembali melangkah menuju kamar, dia yakin Eliana tidak akan pergi ke mana pun dengan penampilannya yang seperti itu.


__ADS_2