Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Mission One, Gagal.


__ADS_3

Setelah selesai makan, Eliana sibuk membersihkan piring kotor dan dapur. Meski Morgan mengatakan untuk tidak membersihkannya karena besok dia akan memanggil jasa pembersih namun Eliana bukan orang yang suka melihat keadaan dapur yang berantakan.


Morgan sudah meminta anak buahnya untuk mencari pelayan, kali ini mereka tidak akan kabur lagi karena kenakalan kedua putranya karena Eliana sudah bersama dengan mereka tapi untuk itu, dia harus membuat wanita itu tetap tinggal.


Edwin dan Elvin sudah berada di dalam kamar bersama dengan ayah mereka. Tentunya ayah mereka menginginkan bantuan kedua putranya yang licik. Kamar adalah tempat paling aman untuk membuat sebuah kesepakatan tanpa diketahui oleh Eliana. Bagaimanapun Eliana pasti akan mencibirnya jika wanita itu tahu bahwa dia memanfaatkan kedua putranya.


"Katakan, apa yang Daddy ingin kami lakukan?" tanya Edwin.


Morgan yang baru saja mengunci pintu, melangkah mendekati kedua putranya yang sedang duduk di sisi ranjang. Edwin dan Elvin memandangi ayah mereka sampai ayah mereka duduk. Morgan masih belum menjawab, apakah bijak meminta bantuan kedua putranya? Rasanya memalukan, dia seperti tidak memiliki pesona sama sekali sehingga membuatnya membutuhkan bantuan kedua putranya.


"Kenapa Daddy diam? Apa yang ingin Daddy bicarakan?" kali ini Elvin yang bertanya.


"Boys, apakah kalian benar-benar menyukai wanita itu?" Morgan berpaling, menatap kedua putranya dengan serius.


"Tentu saja, Dad. Kami sangat menyayangi Mommy, Daddy juga selalu berkata Mommy kami tidak ada tapi entah kenapa saat kami bertemu dengan Mommy untuk pertama kali, kami sangat menyukainya dan merasa jika dialah Mommy kami," ucap Edwin.


"Benar, Dad. Mommy tidak seperti penyihir jahat itu. Kami bisa merasakan kasih sayang yang Mommy berikan," ucap Elvin pula.


"Baiklah, jadi kalian begitu menyukainya?"


"Tentu saja," jawab si kembar.


"Bagaimana jika dia benar-benar menjadi ibu kalian, apa kalian mau?"


"Apa Daddy mau menikahi Mommy?"


"Entahlah, Daddy tidak pernah berpikir untuk menikah tapi jika kalian memang menginginkan sosok ibu, sepertinya mau tidak mau Daddy akan menikah namun kalian tahu, Eliana tidak menyukai Daddy."


"Jika Daddy memang menginginkan Mommy, maka kami akan membantu!"


"Benarkah?" Morgan memandangi putra sulungnya.

__ADS_1


"Tentu saja benar, Dad. kami tidak mau Mommy pergi, oleh sebab itu Daddy memang harus menikah dengan Mommy agar Mommy tidak pergi meninggalkan kita," si cengeng berkata demikian.


"Hm, apa yang mau kalian lakukan?" Morgan pura-pura memainkan jari di dagu. Dia ingin tahu apa yang hendak putranya lakukan untuk mendekatkan Eliana dengannya.


"Jika Daddy berjanji tidak akan kasar pada Mommy dan tidak akan menyakiti Mommy maka kami akan membantu," ucap Edwin.


"Tentu saja, untuk apa Daddy bersikap kasar padanya?"


"Baiklah, ayo kita keluar," Edwin dan Elvin melompat turun dan berlari menuju pintu.


"Hei, kita belum merencanakan apa pun!" Morgan juga beranjak dan mengikuti langkah kedua putranya. Mereka belum membuat rencana apa pun tapi kenapa kedua putranya justru pergi?


Edwin yang lebih licik tentu saja sudah mendapatkan ide, tinggal si cengeng memberi bumbu maka rencana mereka malam ini akan berjalan dengan lancar. Rencana licik di padu dengan drama si cengeng serta ayah mereka yang ikut berperan maka semua akan berjalan dengan lancar.


Si kembar berlari menuju dapur untuk mencari ibu mereka namun Eliana sudah tidak berada di sana. Dapur sudah bersih dan rapi, Eliana sedang berada di dalam kamar untuk mengganti bajunya yang kotor. Edwin dan Elvin berlari menuju kamar, Morgan masih saja mengikuti mereka sampai mereka tiba di kamar Eliana.


"Mommy, apa Mommy berada di dalam kamar?" teriak Edwin dan Elvin seraya membuka pintu.


"Keluar kau, keluar!" teriak Eliana sambil berusaha menutupi bagian tubuhnya.


"Kenapa kau melempar aku?" teriak Morgan marah.


"Keluar!" Eliana masih saja melempar. Morgan mengumpat, sial. Keberuntungan sesaat sebelum kesialan datang.


"Maaf Mommy, kami tidak sengaja," ucap Edwin dan Elvin seraya menutup pintu.


Eliana mengambil napas, dia kira mereka sudah tidur tapi nyatanya? Lain kali dia harus mengunci pintu agar kejadian itu tidak terulang lagi.


Morgan memegangi dahinya sambil mengumpat. Batang hidung yang dipukul oleh Eliana masih sakit, bekas cakaran kukunya masih membekas dan belum sembuh apalagi bekas tendangan dan pukulannya namun sekarang dia harus kembali menerima sebuah botol mendarat di dahi, sungguh sial.


"Daddy, Daddy mau ke mana?" tanya Edwin dan Elvin.

__ADS_1


"Tidur, kalian juga segera tidur!" ucap Morgan seraya melangkah menuju kamarnya.


"Bukankah Daddy mau dekat dengan Mommy?" tanya si kembar lagi.


"Besok!" jawab ayahnya sambil menutup pintu kamar yang sudah dia buka.


Edwin dan Elvin saling pandang, mission one, gagal. Karena ayah mereka marah, Edwin dan Elvin kembali berlari menuju kamar ibu mereka. Kali ini si kembar mengetuk pintu sampai Eliana membukakan pintu untuk mereka.


"Maaf, Mom. Kami tidak sengaja," ucap mereka berdua.


"Tidak apa-apa, lain kali harus ingat untuk mengetuk pintu," Eliana menjawab sambil melihat keluar, ke mana yang besar?


"Apa Mommy mencari Daddy?" tanya Edwin.


"Hm, ya," jawab Eliana.


"Daddy sedang marah, sebaiknya tidak diganggu," ucap Elvin.


"Baiklah, padahal Mommy ingin minta maaf. Ayo masuk dan tidur dengan Mommy," Eliana membuka pintu lebar agar Edwin dan Elvin bisa masuk.


"Ho...re!" sorakan Edwin dan Elvin terdengar, mereka lupa dengan ayah mereka yang sesungguhnya sedang menunggu saat itu.


Morgan melangkah mondar mandir, dia mengira Eliana akan datang untuk meminta maaf padanya tapi kenapa di luar sana begitu sepi? Morgan berjalan menuju pintu dan kembali lagi lalu berjalan lagi menuju pintu. Dia melakukan hal itu secara berulang-ulang sampai membuatnya kesal sendiri.


Kini dia keluar dari kamar, kamar Eliana menjadi tujuan. Morgan hendak membuka pintu, namun sayangnya terkunci. Sial, kini dia ditinggal sendiri dalam keadaan kesal dan tentunya, dia tidak akan bisa tidur malam ini.


Seharusnya dia tidak masuk ke dalam kamar, seharusnya dia tetap mengikuti rencana kedua putranya tapi sekarang? Dia jadi menyesal. Seharusnya dia bekerja sama dengan kedua putranya tapi semua jadi kacau gara-gara botol. Morgan berdiri cukup lama di depan kamar, tidak ada suara sama sekali. Sepertinya Eliana sudah tidur dan dia bisa menebak jika kedua putranya tidur dengan Eliana.


Morgan kembali ke dalam kamar, memeluk bantalnya yang tidak nyaman. Jika Camella benar-benar penyihir, maka dia akan meminta bantuan Camella merubah dirinya menjadi Edwin atau Elvin agar dia bisa bebas bersama dengan Eliana. Akhirnya, dia pun merasa dirinya sudah gila.


Seperti yang dia duga, dia tidak bisa tidur sama sekali. Sungguh menyiksa apalagi tubuh indah Eliana yang baru saja dia lihat terbayang. Morgan mengumpat, sesuatu dalam dirinya bergejolak. Malam ini, siksaan untuk dirinya benar-benar lengkap. Setiap kali Morgan memejamkan mata, tubuh indah Eliana teringat. Sepertinya dia butuh air dingin sebelum dia menjadi gila dan sebelum dia melakukan cara nekad yaitu menculik Eliana serta menguncinya di dalam kamar tanpa melepaskannya.

__ADS_1


__ADS_2