Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Awas Saja


__ADS_3

Edwin dan Elvin pergi mandi, sedangkan Eliana melangkah mendekati ranjang sambil menghela napas berat. Tatapan mata Morgan tidak lepas darinya, dia harus berterima kasih pada kedua putranya untuk hal ini. Meski konyol, dan terasa memalukan tapi dia harus mengikuti permainan.


Semoga saja tidak ketahuan oleh Eliana, dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Eliana mengetahui drama yang sedang dia mainkan namun sesungguhnya Eliana sudah cuirga. Eliana tampak menggeleng, pria itu terlihat baik-baik saja. Sepertinya ada konspirasi di antara mereka bertiga. Akan dia lihat nanti, untuk saat ini dia akan mengikuti permainan ketiga pria itu.


"Di mana bajumu?" tanya Eliana sini.


Morgan menunjuk ke arah lemari, Eliana segera melangkah pergi untuk mengambil pakaian. Sebuah handuk pun dia dapatkan. Handuk itu akan dia gunakan untuk mengelap tubuh Morgan yang basah. Setelah mendapatkannya Eliana kembali dan naik ke atas ranjang. Dia harus cepat karena dia tidak mau berduaan saja dengan pria itu apalagi di dalam kamar.


"Apa tidak bisa bangun?" tanya Eliana karena Morgan masih berbaring.


"Tidak keberatan untuk membantu, bukan?" kedua tangan sudah terulur.


Eliana menghela napas, tangan Morgan pun diraih lalu Eliana menariknya dengan sekuat tenaga agar pria itu bisa bangun dari tidurnya. Sulit, pria itu benar-benar berat.


"Astaga, kau manusia atau batu?" ucap Eliana. Segala tenaga yang dia miliki pun dikeluarkan hanya untuk menarik Morgan.


"Tentu saja manusia, kau belum melihat otot tubuhku ini jadi kau tidak tahu seberapa beratnya aku."


"Jangan banyak bicara!" Eliana masih menarik sampai akhirnya Morgan duduk di atas ranjang.


"Astaga," Eliana menarik napas, "Kau benar-benar berat!" Eliana terengah, dia butuh istirahat sebentar.


Morgan tersenyum, wanita yang benar-benar menarik. Eliana melotot, Morgan buru-buru berhenti tersenyum dan berdehem. Eliana menatapnya dengan tatapan curiga, dia semakin yakin pria itu hanya berpura-pura saja.


"Awas jika kau menipu, kau akan tahu akibatnya!" ancam Eliana.


"Untuk apa aku menipu? Kau bisa melihat sendiri keadaanku?" Morgan berpura-pura batuk dan memegangi kepala seakan-akan kepalanya sedang pusing.


"Baiklah," Eliana beringsut, mendekati Morgan agar dia bisa melepaskan bajunya. Tatapan mata Morgan tidak lepas darinya, aroma manis dari parfum yang dikenakan oleh Eliana pun tercium.


"Apa kau sudah memiliki kekasih, Eliana?"


"Untuk apa kau bertanya demikian?" tanya Eliana pula sambil membuka kancing baju Morgan satu persatu.

__ADS_1


"Apa aku tidak boleh tahu?"


"Seharusnya tidak, jangan terlalu banyak bertanya tentang aku. Lebih baik kau mencari seorang wanita yang bisa menjadi ibu dari Edwin dan Elvin!"


"Aku sedang melakukannya," ucap Morgan.


Eliana mengangkat wajah, menatap ke arah Morgan sejenak lalu dia kembali membuka kancing baju sampai selesai. Morgan sangat heran melihat reaksi Eliana, kenapa dia tidak terlihat terkejut atau semacamnya?


"Kenap kau hanya diam saja?"


"Jadi, apa aku harus bernyanyi dan menari setelah mendengar apa yang kau katakan? Jangan kau kira dengan ucapanmu itu aku akan tersanjung!" ucap Eliana sinis.


"Kenapa. Eliana? Apa kau benar-benar tidak tertarik denganku?"


"Sudah berapa kali kau mempertanyakan hal ini padaku?" handuk diambil, Eliana mulai mengelap tubuh Morgan. Tangannya sedikit gemetar, Morgan bisa melihat itu. Entah apa yang terjadi, Eliana bahkan tidak begitu ingin melihat tubuhnya.  Akhirnya, dia menang. Wanita itu pasti tergoda dengan bentuk tubuhnya oleh sebab itu Eliana berpaling karena tidak tahan dan takut tergoda.


"Aku percaya kau tidak tertarik denganku oleh sebab itu kau bertanya seperti itu!" tatapan mata Morgan tidak lepas dari ekspresi wajah Eliana, wanita yang misterius. Eliana seperti menyimpan sebuah rahasia.


"Sudah aku katakan, aku tidak tertarik dengan wajahmu yang pas-pasan!"


"Lihat aku, Eliana!" dagu Eliana diangkat, mereka berdua pun saling pandang.


"Apa kau benar-benar tidak tertarik denganku?" lagi-lagi pertanyaan itu  yang dilontarkan oleh Morgan. Dia sungguh tidak percaya ada yang tidak tertarik dengannya.


"Ti-Tidak!" Eliana hendak menarik tangannya namun Morgan menahannya.


"Sungguh kau tidak tertarik sama sekali?" tiba-tiba dia ingin menggoda Eliana dan melihat reaksinya.


Kedua mata Eliana melotot apalagi Morgan mendekatkan wajah mereka berdua. Napas Eliana tertahan, Morgan semakin mendekatkan wajah mereka sehingga bibir mereka berdua pun semakin dekat. Jantung berdegup kencang, Morgan pikir dia akan berhasil mencium bibir Eliana karena jarak yang sudah semakin dekat.


Tidak benar, Eliana merasa apa yang sedang terjadi pada mereka berdua saat ini tidaklah benar.  Napas hangat Morgan membelai wajahnya, tiba-tiba Eliana gugup dan salah tingkah. Tangan hendak ditarik namun tidak bisa, wajahnya pun ditahan oleh Morgan sehingga membuatnya sulit berpaling. Mata pria itu sudah terpejam, Eliana semakin gugup dibuatnya sehingga mau tidak mau Eliana meremas otot dada Morgan agar pria itu berhenti.


Morgan berteriak, dagu Eliana pun dilepaskan. Eliana meremas dadanya tanpa melepaskan bahkan satu tangannya meremas dada yang lainnya.

__ADS_1


"Apa yang mau kau lakukan!" teriak Eliana marah. Beraninya pria itu mengambil keuntungan dalam kesempitan?


"Sakit, Eliana, lepaskan!" teriak Morgan sambil memegangi kedua tangan Eliana.


"Apa kau ingin menciumku tadi?" Eliana masih tidak melepaskan dada pria itu.


"Tidak, kau salah paham!" Morgan masih juga berteriak.


Suara teriakannya sampai didengar oleh kedua putranya yang sedang ingin makan. Edwin dan Elvin berlari menuju kamar karena mereka ingin tahu apa yang terjadi.


"Daddy, kenapa Daddy berteriak!" tanya mereka sambil berteriak.


Eliana baru melepaskan cengkeraman tangannya, dia pun segera mundur dengan terburu-buru dan turun dari ranjang. Morgan meringkuk di ranjang sambil memegangi dadanya, sungguh wanita yang tidak memiliki perasaan.


"Ada apa, Dad?" Edwin dan Elvin sudah masuk ke dalam kamar dan sangat heran melihat ayah mereka  meringis sambil mengusap dadanya.


"Tidak perlu khawatir, Daddy kalian baik-baik saja," ucap Eliana.


"Tapi kenapa Daddy berteriak?" tanya Edwin.


"Tidak, Tidak apa-apa," Morgan menatap Eliana dengan tajam. Awas saja wanita itu, pasti akan dia balas.


"Apa kalian sudah makan?" Eliana bertanya pada Edwin dan Elvin.


"Kami baru saja mau makan, Mom," jawab Elvin.


"Jika begitu tunggu sebentar, setelah membantu Daddy kalian mengganti baju, kita makan bersama," Eliana berkata demikian agar Morgan tidak bisa membalas perbuatannya. Pria itu tidak mungkin berani jika ada kedua putranya.


Morgan benar-benar kesal, demi akting agar tidak ketahuan mau tidak mau dia mengikuti drama yang sudah ada. Setelah Eliana membantunya mengganti pakaian, Morgan kembali berbaring namun tatapan matanya tidak lepas dari Eliana.


"Ayo keluar, Mommy juga harus membuat bubur untuk Daddy," ajak Eliana.


"Daddy tidur dengan baik, nanti kami akan menemani Daddy setelah kami selesai makan," ucap Edwin.

__ADS_1


"Kami akan membawakan bubur untuk Daddy," ucap Elvin juga.


Morgan tidak menjawab, sedangkan Eliana keluar dari kamar itu dengan terburu-buru karena dia tahu Morgan  sedang mengincar dirinya. Bahaya, dia merasa alarm bahaya berbunyi. Sebisa mungkin dia harus menghindar agar tidak berduaan saja dengan pria itu agar Morgan tidak membalas dan memang, Morgan akan membalasnya nanti karena saat ini dia sedang memikirkan pembalasan apa yang pantas wanita itu dapatkan.


__ADS_2