
Ayah dan ibu tiri Eliana tidak mengerti dengan apa yang terjadi dan tidak tahu siapa orang-orang yang dibawa masuk oleh pendeta yang baru saja melarikan diri. Mereka mengira orang-orang itu adalah polisi tapi setelah dilihat dengan teliti, sepertinya bukan.
Tentunya mereka adalah anak buah Morgan, berkat alat pelacak yang ada di tas putranya karena saat itu yang membawa tas Elvin adalah Eliana, maka dia bisa menemukan keberadaan Eliana dengan mudah. Meskipun tas Elvin berada di mobil ayah Eliana, tapi itu sudah cukup bagi Morgan untuk menemukan keberadaan Eliana.
Sang pendeta yang pergi karena tidak mau menikah'kan Eliana yang dipaksa tanpa sengaja bertemu dengan Morgan. Karena ingin menyelamatkan Eliana, sang pendeta pun mengantar Morgan dan anak buahnya ke kamar di mana Eliana akan dijual oleh ayahnya.
Morgan memerintahkan anak buahnya untuk menyergap masuk terlebih dahulu, oleh sebab itu kamar dipenuhi oleh anak buahnya yang bersenjata api. Ayah dan ibu tiri Eliana melangkah mundur sambil mengangkat tangan, sedangkan pria tua yang hendak memperkosa pun melangkah mundur.
Eliana merangkak turun dari atas ranjang dengan susah payah, siapa pun yang datang dia tidak peduli karena itu adalah bantuan untuknya. Oleh sebab itu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk melarikan diri.
"Siapa kalian?" teriak ibu tiri Eliana.
Tidak ada yang menjawab namun kedua anak kecil yang masuk kemudian membuat ayah dan ibu tiri Eliana tampak tidak senang tapi bukan itu saja yang membuat mereka terkejut, seorang pria yang masuk bersama dengan kedua anak itulah yang membuat ayah dan ibu tiri Eliana semakin terkejut begitu juga dengan pria tua yang ada di belakang mereka.
"Daddy, mereka yang menculik Mommy!" teriak Edwin dan Elvin sambil menunjuk ke arah ayah dan ibu tiri Eliana.
"Eliana putriku, aku tidak menculiknya!" bantah ayah Eliana.
"Mana Eliana?" tanya Morgan sambil berteriak.
"Aku di sini," tangan Eliana terlihat dari balik ranjang. Dia tidak menduga Morgan akan datang tapi dia sangat bersyukur ada pria itu jika tidak, mungkin dia sudah dijadikan pelampiasan na*su oleh pria tua itu.
'"Mommy!" Edwin dan Elvin berlari ke arah ibu mereka yang sedang berusaha menarik dirinya. Morgan pun melangkah mendekat untuk melihat keadaan Eliana, dia tampak tidak senang melihat Eliana berusaha merangkak mendekati Edwin dan Elvin.
"Mommy, apa yang terjadi pada Mommy?" Edwin dan Elvin menangis, seharusnya ibu mereka baik-baik saja tapi kenapa ibu mereka seperti tidak bisa berjalan?
"Jangan menangis, Mommy baik-baik saja," Eliana berusaha menghibur Edwin dan Elvin, beruntunglah mereka berdua baik-baik saja.
"Mommy bohong, tadi Mommy baik-baik saja tapi kenapa sekarang Mommy tidak bisa berjalan?" tanya Edwin.
__ADS_1
"Benar, Mom. Apa orang jahat itu memukul Mommy?"
"Mommy tidak apa-apa, jangan menangis," Eliana masih menghibur agar Edwin dan Elvin berhenti menangis.
"Siapa kalian, kenapa ikut campur dalam masalah keluarga kami?!" teriak ayah Eliana. Dia merasa tidak asing dengan pria itu. Sepertinya dia pernah melihat tapi dia yakin karena tidak mungkin putrinya bisa mengenal Morgan Barnes. Meski dia sempat terkejut tapi dia yakin pria itu bukan Morgan.
Tidak ada yang peduli dengan pertanyaan ayah Eliana, Morgan melihat keadaan Eliana yang aneh oleh sebab itu Morgan melangkah mendekati Eliana dan membuka gaun pengantin yang menutupi kedua kakinya. Kedua mata melotot, amarah memenuhi hati saat melihat luka yang terdapat dari pergelangan kaki sampai ke atas betis. Memar juga terlihat di pergelangan kedua kaki Eliana, akibat memar itulah Eliana kesulitan berjalan karena kakinya terkilir.
"Mommy, kenapa dengan kaki Mommy?" Edwin dan Elvin yang melihat pun kembali menangis. Eliana berusaha menghibur, dia tidak berniat menunjukkan lukanya namun Morgan yang membukanya secara tiba-tiba. Morgan kembali menutup kaki Eliana lalu menggendong Eliana dan mendudukkannya ke atas ranjang.
Tanpa berkata apa-apa, Morgan meninggalkan Eliana dan melangkah pergi. Eliana pun tidak mengatakan apa pun tapi tatapan matanya tidak lepas dari pria itu.
"Kalian sungguh berani, apa yang kalian lakukan padanya?" teriak Morgan lantang. Dia tidak akan memaafkan mereka yang telah membuat Eliana jadi seperti itu.
"Tuan Barnest, bukan aku. Aku tidak melakukan apa pun!" teriak pria tua yang hendak menikahi Eliana. Saat mendengar nama Morgan disebut, ayah Eliana dan istrinya yang tadinya tidak yakin kembali terkejut.
"Jangan, Tuan. Kau hanya salah paham saja!" ibu tiri Eliana melangkah mendekati Morgan dengan terburu-buru, dia tidak menduga kedua anak itu adalah putra dari Morgan Barnes. Jika dia tahu Eliana memiliki hubungan dengan orang yang begitu hebat, maka kejadian itu tidak akan pernah terjadi.
"Daddy, wanita tua itu mendorong kami hingga terjatuh!" teriak Edwin dan Elvin.
"Apa? Anak baik, Nenek tidak sengaja melakukannya," kilah ibu tiri Eliana.
"Orang dewasa tidak pernah mau mengakui kesalahan!" teriak Edwin.
"Daddy akan memukul tangan orang jahat sampai patah!" teriak Elvin pula.
"Beraninya kau menyakiti kedua putraku?" Morgan semakin terlihat marah.
"Aku tidak sengaja, Tuan Barnes."
__ADS_1
"Pukul kedua tangannya sampai hancur!" perintah Morgan.
"Apa, jangan!" teriak ibu tiri Eliana namun tiga orang sudah berjalan mendekat ke arahnya dan yang satu sedang membawa tongkat besi. Ibu tiri Eliana hendak lari tapi kedua tangannya sudah ditangkap. Wanita itu ditarik menuju sebuah meja lalu kedua tangannya diletakkan di atas meja.
"Jangan lakukan, tolong aku Eliana!" teriaknya.
"Apa yang kau lakukan harus kau tanggung sendiri akibatnya dan kedua kakiku ini? Aku harap kau juga mendapatkan balasannya!" ucap Eliana sinis. Dia tidak peduli karena istri ayahnya memang pantas mendapatkan balasan. Morgan kembali melihat ke arah Eliana, jadi kedua kakinya seperti akibat wanita tua itu?
"Jangan keterlaluan, Eliana. Bagaimanapun dia adalah ibumu meskipun dia tidak melahirkan dirimu!" teriak ayahnya.
"Aku hanya memiliki seorang ibu yang sangat sial menikahi pria baji*ngan seperti dirimu!" Eliana berusaha menahan air mata, masa sulit dalam hidupnya kembali teringat. Seandainya ayahnya peduli, maka kepedihan tidak perlu dia rasakan.
"Jangan menangis, Mom. Daddy yang akan menghukum wanita jahat itu!" ucap Edwin.
"Benar, Mom. Yang menangis cukup kami saja!" ucap Elvin.
"Mommy tidak akan menangis," Eliana mengusap kepala mereka berdua. Beruntungnya si kembar membawa pasukan walau ayahnya tampak tidak begitu keren akibat benjolan di dahi.
"Sekarang, pukul kedua tangan dan kakinya!" perintah Morgan.
"Tidak, Eliana. Aku tidak akan melakukannya lagi, tidak akan!" teriak ibu tirinya memohon. Ayahnya pun memohon tapi Eliana tidak perduli.
Kedua tangan sang ibu tiri pun dipukul menggunakan tongkat besi. Wanita itu berteriak akibat rasa sakit setiap kali tongkat besi menghantam pergelangan tangannya. Tidak saja tangan, kedua kakinya pun dipukuli menggunakan tongkat.
Ayah Eliana hendak mendekati Eliana untuk memohon tapi dua anak buah Morgan sudah menahannya. Pria tua yang hendak menikahinya pun ditangkap, tidak akan ada yang bisa lari dari Morgan hari ini kecuali sang pendeta yang sudah diminta pergi oleh anak buah Morgan.
Dua orang berjaga di depan pintu yang sudah tertutup. Tidak ada yang berani mendekati kamar tersebut meskipun terdengar teriakan wanita yang kesakitan.
Kedua tangan ibu tiri Eliana sudah remuk, begitu juga dengan kedua kakinya. Wanita tua itu merintih kesakitan, akibat pukulan itu dia tidak bisa merasakan kedua kaki dan tangannya lagi. Ayah Eliana gemetar karena takut, begitu juga dengan pria tua yang menginginkan Eliana. Mereka tidak menduga akan berhadapan dengan sang penguasa karena ambisi mereka dan sekarang, giliran mereka akan segera tiba.
__ADS_1