
Setelah selesai makan, Edwin dan Elvin masuk ke dalam kamar mereka. Tentunya si kembar mengajak Eliana untuk masuk karena Edwin dan Elvin tidak mau berada di luar di mana Camella belum juga pergi. Mereka bahkan tidak menghiraukan Camella yang bertanya pada mereka apa yang terjadi selama mereka melarikan diri dan bagaimana bisa bertemu dengan Eliana. Camella bertanya demikian karena dia sangat ingin tahu.
Eliana sedang mandi, sedangkan Edwin dan Elvin sibuk mengambil sesuatu dari tempat mainan mereka dan memasukkan benda itu ke dalam tas. Tentunya yang mereka ambil adalah benda yang akan mereka bawa ke taman bermain besok.
Entah apa yang sedang mereka rencanakan, yang pasti mereka sudah memiliki ide licik untuk mengusir penyihir jahat yang selalu menempel pada ayah mereka. Penyihir itu bahkan belum mau pergi dari rumah mereka. Itu karena Camella ingin tahu siapa wanita yang dibawa pulang oleh Morgan dan kenapa Morgan membawanya serta.
"Kenapa kau tidak pulang, Camella?" tanya Morgan saat Camella menghampirinya.
"Kenapa kau jadi mengusir aku seperti ini, Morgan? Apa karena adanya wanita itu?" Camella terlihat kesal dan tidak senang.
"Apa maksudmu bertanya demikian?" Morgan menatapnya, dengan tatapan tajam.
"Jika wanita itu bukan babysitter Edwin dan Elvin, lalu kenapa kau membawanya pulang? Tidak mungkin kau membawanya hanya karena dia menolong Edwin dan Elvin. Katakan padaku, kenapa kau membawa wanita itu pulang, Morgan?" mereka tinggal satu atap, Eliana begitu cantik. Bagaimana jika sampai Morgan tertarik dan jatuh cinta dengan wanita itu? Hal itu bisa terjadi karena mereka selalu bertatap muka.
"Memang itu yang terjadi, aku membawanya karena dia telah menolong putraku. Edwin dan Elvin pula yang meminta aku membawanya. Aku tidak punya pilihan!"
"Tidak mungkin kau tidak memiliki pilihan apalagi kau ayahnya!" tiba-tiba suasana jadi memanas, perasaan cemburu dan takut melanda dan memenuhi hati.
"Kau tidak tahu apa pun, Camella. Aku tidak suka dicurigai seperti penjahat apalagi kau tidak tahu apa pun!" Morgan terlihat marah karena Camella terlalu berlebihan hanya karena kedatangan seorang wanita asing.
"Aku tidak bermaksud membuatmu marah, Morgan. Aku hanya cemburu, aku takut dia merebut dirimu dariku jadi maafkan aku yang sedang cemburu ini," Camella berusaha bersikap lembut agar Morgan tidak marah lagi dengannya.
"Sudahlah, lupakan. Sudah malam, sebaiknya pulang. Kedua putraku sudah mengerti jadi jangan sampai dia mengambil kesimpulan yang salah akan keberadaan dirimu."
"Baiklah, aku akan datang besok," Camella berjinjit untuk mencium pipi Morgan. Pria itu tidak bergeming sama sekali, dia hanya diam memperhatikan kepergian Camella.
Camella yang memang sudah kesal semakin bertambah kesal karena sikap Morgan yang tidak mengantarnya. Tidak biasanya Morgan seperti itu, walau dengan alasan kedua putranya yang sudah mulai mengerti tapi tidak seharusnya Morgan bersikap seperti itu terhadap dirinya yang adalah kekasihnya.
Morgan melangkah menuju kamar Edwin dan Elvin setelah Camella pergi. Tidak terdengar suara teriakan kedua putranya sama sekali, mereka yang biasanya berisik meskipun sudah mau tidur selalu gaduh namun malam ini, suara mereka tidak terdengar sama sekali.
"Edwin, Elvin," Morgan memanggil sambil mengetuk pintu.
"Daddy di larang masuk!" terdengar suara teriakan kedua putranya.
__ADS_1
"Apa kalian sudah mau tidur?"
"Kami sedang bermain dengan Aunty," teriak Edwin.
"Jika begitu ijinkan kami masuk!"
Suasana hening, tidak terdengar suara kedua putranya sama sekali. Morgan masih menunggu tapi tidak lama kemudian pintu dibuka oleh Eliana. Tatapan mata Morgan tidak lepas darinya, Eliana tersenyum namun senyum itu hilang karena Morgan masih memandanginya tanpa berkedip.
"A-Apa ada sesuatu yang salah padaku?" tanya Eliana, dia jadi canggung.
"Oh.. tidak," Morgan melangkah melewatinya, sedangkan Eliana menutup pintu.
"Kenapa Daddy masuk ke dalam?" tanya Edwin dan Elvin yang sudah berada di bawah selimut.
"Apa kalian sudah tidak memerlukan Daddy lagi setelah ada dia?" tanya Morgan sambil melihat ke arah Eliana yang sedang mengambil sesuatu dalam tasnya.
"Daddy hanya peduli dengan penyihir itu saja, jadi apa salahnya kami bersama dengan Aunty?"
"Kenapa Daddy mau dengan penyihir itu? Dia tidak cantik, Aunty itu seperti penyihir!" ucap Elvin.
"Elvin, jangan berbicara seperti itu. Itu namanya menghina," ucap Eliana.
"Tapi kami tidak suka dengannya, Aunty," jawab si kembar.
"Sekalipun kalian tidak suka, tapi kalian tidak boleh berbicara buruk tentang orang itu apalagi pada kekasih Daddy kalian yang kemungkinan wanita itu akan menjadi ibu kalian nantinya."
"Tidak mau, aku tidak mau. Aku tidak mau penyihir itu menjadi Mommy kami!" teriak Elvin dan menangis dengan keras.
"Aku juga tidak mau, aku ingin Aunty yang menjadi Mommy kami!" teriak Edwin pula.
Edwin dan Elvin turun dari atas ranjang dan berlari ke arah Eliana. Mereka memeluk kedua kaki Eliana sambil menangis dan berteriak.
"kami mau Aunty yang jadi Mommy kami, kami tidak mau yang lain!" teriak Edwin.
__ADS_1
"Edwin, Elvin. Jangan keterlaluan!" Morgan jadi kesal karena kedua putranya sudah begitu keterlaluan menginginkan wanita asing itu menjadi ibu mereka.
"Aunty, apa Aunty tidak mau menjadi Mommy kami?" Elvin dan Edwin mengangkat wajah, menatap Eliana dengan tatapan penuh harap.
"Bukan begitu, Sayang. Bukan begitu," Eliana tak kuasa menahan air mata, rasa rindu pada kedua putranya memenuhi hati. Eliana berjongkok untuk memeluk kedua putranya yang belum juga dia sadari. Edwin dan Elvin masih menangis, begitu juga dengan Eliana. Sungguh dia tidak tega pada kedua anak itu. Sebuah perasaan aneh dia rasakan tapi dia tidak tahu apa.
"Kami ingin Aunty jadi Mommy kami, kami tidak mau yang lain!" rengek Edwin.
"Aku menyayangi Aunty, jadi Aunty harus menjadi Mommy kami," rengek Elvin pula.
Eliana tidak menjawab, air matanya mengalir dengan deras. Apakah saat ini kedua putranya juga seperti ini? Apakah Tuan Muda itu sudah menikah dan memberikan sosok ibu pada kedua putra mereka? Ataukah keadaannya tidak jauh berbeda dengan keadaan Edwin dan Elvin? Pertanyaan itu muncul di hati, dia benar-benar berharap kedua putranya bahagia dengan kehidupan mereka.
"Maafkan Aunty, Sayang. Maafkan Aunty," hanya itu yang bisa Eliana ucapkan.
"Apakah Aunty tidak mau menjadi Mommy kami?" tanya Edwin.
"Kami berjanji akan menjadi anak baik, jadi maukah Aunty menjadi Mommy kami?" tanya Elvin pula.
"Autny tidak bisa, Sayang. Maaf tapi kalian bisa memanggil Aunty dengan sebutan Mommy jika kalian memang mau," hanya itu satu-satunya cara yang bisa dia lakukan untuk menghentikan tangisan mereka berdua.
"Benarkah? Jadi kami boleh memanggil Aunty dengan sebutan Mommy?" Edwin dan Elvin menatapnya dengan tatapan penuh harapan.
"Tentu saja, Aunty tidak keberatan," ucap Eliana seraya mengusap air mata kedua putranya.
"Kami sayang dengan Mommy!" Edwin dan Elvin memeluknya kembali.
Perasaan aneh mengalir di dalam hati saat Edwin dan Elvin memanggilnya demikian. Eliana memeluk si kembar dan menumpahkan kesedihan hati yang selama ini dia tahan. Entah kenapa perasaan bahagia sangat dia rasakan, dia sungguh berharap jika mereka berdualah putra yang selama ini dia cari.
Morgan hanya bisa menyaksikan tanpa bisa mengatakan sepatah kata pun. Dia tahu kedua putranya pasti merindukan sosok ibu yang selama ini tidak ada untuk mereka. Mungkin karena hal itulah, mereka menginginkan wanita itu sebagai ibu mereka.
Kali ini dia tidak bisa melakukan apa pun. Morgan keluar dari kamar itu, pintu pun hendak ditutup namun dia melihat ke arah Eliana yang menggendong kedua putranya dan mengajak mereka untuk tidur. Morgan melangkah menuju kamar, satu benda yang dia lihat adalah bantal. Yeah... bantal yang dia ambil dulu belum dia buang sama sekali. Entah kenapa dia tidak melakukannya, bantal yang pernah digunakan oleh Eliana dulu bahkan dia gunakan setiap malam. Itu benar-benar konyol tapi beruntungnya tidak ada yang tahu.
Untuk saat ini, biarkan saja kedua putranya dekat dengan wanita itu karena dia tidak bisa mencegahnya. Seandainya Edwin dan Elvin memiliki sosok seorang ibu mungkin mereka tidak akan seperti tapi baginya yang ditinggal pergi oleh ibunya, dia merasa kedua putranya juga tidak memerlukan sosok itu agar kedua putranya tidak kecewa seperti apa yang dia rasakan dulu jadi dia merasa apa yang dia lakukan saat ini sudah benar.
__ADS_1