Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Jawaban


__ADS_3

Eliana menghela napas, permintaan yang menjebak. Dia tidak punya pilihan lain selain menerima permintaan Morgan karena dia tahu, Edwin dan Elvin akan membenci dirinya jika dia menolak tapi apakah pernikahan yang akan mereka jalani nanti memberikan kebahagiaan? Walau ada perasaan untuk Morgan di hatinya tapi semua itu jadi terasa berbeda sekarang. Seharusnya Morgan tidak melamarnya di hadapan kedua putranya, seharusnya tidak karena dia merasa sangat dirugikan.


Edwin dan Elvin yang menunggu jawaban dari ibu mereka tidak merengek, mereka tidak memohon seperti yang biasa mereka lakukan karena mereka ingin melihat apakah ibu mereka mau menikah dengan ayah mereka atau tidak sehingga mereka menjadi keluarga. Kali ini mereka sengaja untuk tidak memaksa. Jika ibu mereka tidak mau, maka mereka akan mengajak ayah mereka pergi.


Morgan pun menunggu, dia sengaja melamar Eliana di hadapan kedua putranya agar Eliana tidak menolak seperti tadi tapi kenapa Elina masih saja belum menjawab? Apa usahanya untuk meyakinkan Eliana masih belum cukup? Jika begitu, dia akan berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan Eliana jika dia menginginkan wanita itu.


"Kenapa kau belum menjawab, Eliana? Apa kau tidak mau menikah denganku?" tanyanya karena dia sudah tidak sabar.


"Aku bukannya tidak mau," Eliana menunduk, apa benar itu yang diinginkan oleh Morgan?


"Lalu, apa yang kau ragukan?"


"Kau bilang kau tidak mempercayai pernikahan, kau berkata kau tidak pernah mau menikah. Lalu kenapa kau melakukan hal ini? Jika kau mengajak aku menikah hanya untuk kedua putra kita, lebih baik jangan lakukan hal itu karena kita bisa membesarkan mereka bersama tanpa perlu terikat tali pernikahan!" ucap Eliana.


"Bodoh, aku memang tidak mempercayai pernikahan. Aku pun tidak pernah mau menikah tapi itu dulu, tapi tidak sekarang. Aku menginginkan pernikahan itu sekarang, aku menginginkan sebuah keluarga. Tidak saja Edwin dan Elvin yang membutuhkannya tapi aku juga menginginkannya dan kau adalah wanita pertama yang aku inginkan dan aku ingin kau menjadi istriku. Aku menginginkan dirimu bukan karena kau ibu dari kedua putraku saja tapi karena aku sudah jatuh cinta padamu sejak awal sebelum kita tahu kebenarannya."


"Benarkah?" Eliana mengangkat wajah, menatap ke arah Morgan.


"Apa aku berbohong, Eliana? Aku tahu kau juga menyimpan perasaan padaku tapi aku juga tahu aku sudah menghancurkannya. Maafkan aku, aku tidak bermaksud kasar padamu. Aku terlalu bodoh dan egois, seharusnya aku tidak melakukan hal itu tapi sekarang, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Ijinkan aku menebus perlakuan buruk yang telah aku lakukan padamu dulu dan sekarang," pinta Morgan. Dia harap Eliana mempercayai apa yang dia katakan.


Eliana kembali menunduk, dia takut menjawab karena dia takut salah mengambil keputusan. Morgan beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menghampiri Eliana. Pria itu bahkan berjongkok di hadapan Eliana tanpa melepaskan kedua tangan Eliana.


"Menikah denganku, Eliana," pintanya sambil menatap kedua mata Eliana, "Sebelum kita berselisih paham aku memang sudah berniat melamarmu jadi jangan menolak. Lakukan untuk kedua putra kita, mereka menunggu jawaban darimu."


Eliana kembali melihat ke arah si kembar, mereka benar-benar menunggu keputusan ibu mereka. Tidak ada dari mereka yang mendesak Eliana untuk menikah dengan ayah mereka sampai sekarang, tidak ada.


"Baiklah," Eliana menghela napas, "Aku akan menikah denganmu," jawabnya.


"Kau serius?" tanya Morgan.


"Yes, aku serius," Eliana tersenyum, semoga dia tidak salah mengambil keputusan.


Morgan begitu senang mendengarnya, dia hendak beranjak untuk memeluk Eliana namun suara sorakan kedua putranya sudah terdengar.


"Yes, Mommy dan Daddy akan menikah!" Edwin dan Elvin yang tadinya diam kini bersorak senang. Mereka berdua bahkan melompat dengan penuh semangat. Akhirnya mereka mendengar jawaban dari ibu mereka tentunya jawaban itu dari ibu mereka sendiri tanpa adanya paksaan dari mereka yang selalu merengek agar keinginan mereka dipenuhi.

__ADS_1


Morgan tersenyum, akhirnya. Seharusnya memang ini yang terjadi pada mereka. Seharusnya lamaran itu sudah dia lontarkan tapi gara-gara Camella semua jadi kacau bahkan rahasia mereka justru terbongkar tapi walau begitu, dia harus berterima kasih pada Camella karena mereka bisa seperti itu akibat kekacauan yang dia lakukan. Seharusnya dia mengucapkan kata terima kasih sebelum melempar Camella pada harimau yang lapar.


"Tapi kau tidak boleh menyentuh aku," ucap Eliana sinis.


"Apa? Kenapa?" tanya Morgan seraya beranjak.


"Aku tidak suka bekas orang lain!"


"Ck, ayolah. Tidak ada bekas apa pun!"


"Pokoknya aku tidak mau!" tolak Eliana.


"Jadi kapan Mommy dan Daddy akan menikah?" tanya Edwin dan Elvin.


"Sebelum Daddy menjawab, apa kalian mau berpaling sebentar dan menutup mata?" tanya ayah mereka.


"Siap, Dad!" Edwin dan Elvin berpaling dan menutup mata mereka berdua.


"Mau ap?" ucapan Eliana terghenti karena Morgan sudah menarik tangannya serta mencium bibirnya.


"Kau?" Eliana memukul namun bibirnya kembali dicium oleh Morgan.


"Apakah sudah, Dad?" tanya Edwin dan Elvin. Morgan melepaskan bibir Eliana sejenak saat mendengar pertanyaan kedua putranya.


"Hitung sampai sepuluh!!" pinta ayahnya dan setelah itu bibir Eliana kembali dicium. Eliana kembali memukul, dia tidak diberi kesempatan oleh Morgan untuk bersuara bahkan dia hanya memiliki sedikit waktu untuk mengambil napas.


Edwin dan Elvin menghitung sampai sepuluh, waktu yang cukup lama untuk berciuman namun Eliana masih saja melawan. Sepertinya tidak mudah membuat wanita itu luluh meskipun Eliana sudah bersedia menikah dengannya. Sepertinya malam pertama mereka sulit terjadi jika sikap Eliana terus seperti itu.


Edwin dan Elvin sudah selesai menghitung, Morgan terlihat puas tapi tidak dengan Eliana yang menatapnya tajam. Tidak akan dia biarkan pria itu menyentuhnya lagi, awas saja.


"Kenapa Daddy dan Mommy begitu lama?" tanya Edwin.


"Benar, kenapa kami harus menghitung?" tanya Elvin.


"Daddy hanya ingin tahu kalian sudah pandai menghitung atau belum," jawab ayahnya beralasan.

__ADS_1


"Tentu saja kami sudah bisa Dad, kami bahkan sudah bisa membaca walau sedikit!" teriak Edwin.


"Kami jenius seperti Mommy jadi jangan remehkan kami!" teriak Elvin pula.


"Apa tidak ada yang seperti Daddy?" tanya Morgan.


"Tidak ada karena Daddy payah!" jawab kedua putranya dan setelah itu mereka berdua tertawa. Eliana pun tertawa, Morgan tampak tidak terima karena kedua putranya masih menganggapnya payah tapi ya sudahlah, yang penting kedua putranya senang.


"Jadi kapan Daddy dan Mommy akan menikah?" tanya kedua putranya.


"Secepatnya. Setelah keadaan Mommy lebih membaik, maka Daddy dan Mommy akan menikah."


"Hore.. Adik perempuan!" teriak Elvin.


"Kita mau adik perempuan!" teriak Edwin pula.


"Apa?" Eliana terkejut mendengar permintaan kedua putranya.


"Kau dengar itu, Eliana. Mereka mau adik perempuan!" ucap Morgan. Senyum lebar menghiasi wajahnya.


"Dalam mimpimu!" Eliana menggunakan jurusnya yang dia punya yaitu mencubit. Morgan berteriak karena Eliana mencubit lengannya dengan keras.


"Setelah menikah Mommy harus tidur dengan kami!" teriak Edwin.


"Benar, Daddy tidak boleh dekat-dekat!" teriak Elvin.


"Mommy setuju!" ucap Eliana dengan cepat.


"Lho? Kenapa begitu?" tanya Morgan.


"Kami bosan dengan Daddy, jadi Mommy adalah milik kami!" teriak mereka berdua.


"Bagus, kemarilah. Mommy ingin memeluk kalian berdua," pinta Eliana. Edwin dan Elvin menghampiri ibu mereka dan memeluknya, sedangkan Morgan melotot ke arahnya.


Tidak boleh, malam pertama mereka tidak boleh gagal. Eliana tidak akan lari dan dia tidak mau gagal tapi sikap yang ditunjukkan oleh Eliana menunjukkan jika dia tidak akan bisa menyentuh wanita itu dengan mudah.

__ADS_1


__ADS_2