Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Mulai Curiga


__ADS_3

Dua pelayan mendapatkan tatapan mencurigakan dari Edwin dan Elvin yang sedang berada di meja makan. Kedua anak nakal itu seperti sedang menyelidiki mereka berdua. Kedua pelayan itu menunduk, tidak ada yang berani melihat Edwin apalagi salah satu dari pelayan itu karena dia takut si anak nakal itu mencurigai dirinya.


"Daddy, apakah kami boleh membuat pizza untuk Mommy?" tanya Edwin.


"Tidak, apa kau lupa dengan yang Daddy katakan pada kalian?" ucap ayahnya.


"Tidak perlu, Sayang. Mommy tidak suka pizza. Lagi pula mereka baru bekerja jadi jangan merepotkan!"


"Baiklah, Mom," Edwin menunduk sambil menyenggol lengan adiknya. Mereka berdua saling melirik seperti ada yang mereka rencanakan namun Elvin menggeleng pelan seperti meminta sang kakak untuk tidak melakukan apa yang hendak dia lakukan mengingat pesan ayah mereka.


"Daddy, kenapa penyihir jahat itu sudah tidak pernah datang lagi?" tanya Elvin.


"Kenapa bertanya demikian? Bukankah kalian tidak menyukainya?" Morgan menatap kedua putranya dengan tatapan heran.


"Kami memang tidak menyukainya tapi kami sudah lama tidak mengerjai orang!" teriak Edwin.


"Benar, Dad. Waktu itu steak cacing, nanti kami akan bereksperimen dan memberinya makanan yang lebih ekstrem!" teriak Elvin pula.


"Stop, tidak ada yang boleh bereksperimen! Tidak ada steak cacing, tidak ada apa pun! Daddy tidak mau ada kekacauan seperti itu lagi, apa kalian mengerti?"


"Baiklah, Dad," jawab Edwin dan Elvin sambil menunduk.


"Bagus, sekarang habiskan makanannya karena kita akan pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan kaki Mommy."


"Apakah Daddy akan mengajak kita jalan-jalan?" tanya Edwin.


"Tentu saja, jadi segeralah bergegas!"


"Horee... Ayo kita segera bersiap!" Edwin dan Elvin melompat turun lalu mereka berdua berlari menuju kamar.


"Kali ini kau harus membelikan aku tongkat!" ucap Eliana.


"Sudah aku katakan tidak perlu, Eliana!"


"Jika tidak mau maka aku akan membelinya sendiri!" rasanya tidak nyaman selalu digendong seperti itu.


"Baiklah, aku yang belikan!" sepertinya mau tidak mau dia memang harus membelikannya.

__ADS_1


Setelah mereka keluar dari dapur, kedua pelayan itu membereskan piring yang sudah kotor sambil membicarakan tugas yang akan mereka lakukan.


"Violet, nanti aku yang membereskan kamar dan kau membersihkan yang lainnya," ucap pelayan yang satunya.


"Baiklah, aku akan membantu setelah aku selesai," ucap pelayan yang dipanggil Violet.


Pelayan yang satunya itu, tersenyum penuh arti. Ini kesempatan emas untuknya apalagi sang majikan hendak pergi. Kedua anak nakal itu pun tidak ada di rumah, oleh sebab itu dia harus memanfaatkan situasi tapi sebelum itu, mereka bekerja seperti biasanya agar tidak dicurigai. Edwin dan Elvin yang sudah selesai berlari keluar dari kamar namun langkah mereka terhenti saat melihat kedua pelayan baru sedang membersihkan ruang tamu. Mereka berdua segera berlari menghampiri kedua pelayan itu dan berdiri di sisi mereka.


"Aunty, kita belum saling mengenal," ucap salah satu dari mereka.


"Kau benar, siapa nama kalian?" pelayan yang bernama Violet itu berinisiatif terlebih dahulu.


"Aku Edwin dan adikku Elvin. Bagaimana menurut Aunty, apakah kami mirip dengan Daddy?" tanya Edwin.


"Yes, tapi jika dilihat baik- baik kalian sedikit mirip dengan ibu kalian," ucap sang palayan.


"Kenapa Aunty berkata demikian? Apa Aunty pernah bertemu dengan Mommy kami?" tanya Elvin.


"Loh, bukankah?" ucapan sang pelayan terhenti. Dia mengira Eliana ibu si kembar karena dia merasa mereka sedikit mirip walau harus dilihat dengan teliti.


Pelayan yang satunya lagi mendengar, dia pura-pura bekerja namun otaknya sedang berpikir dengan keras untuk mencari jawaban dari pertanyaan rekannya.


"Benar, sekarang kami sudah memiliki Mommy!" ucap Edwin pula sambil tersenyum lebar.


"Itu bagus, maaf karena Aunty mengira Nyonya Eliana ibu kalian karena wajah kalian yang sedikit mirip."


"Apakah benar, Aunty?" tanya si kembar.


"Itu hanya menurut Aunty saja, tapi biasanya memang wajah seorang anak akan mirip dengan wanita yang mengasuhnya."


Edwin dan Elvin tidak mengatakan apa pun, mereka segera berlari menuju kamar di mana ibu mereka berada. Eliana sedang menyisir rambutnya di depan cermin, sedangkan Morgan sudah keluar dan berada di dalam kamarnya. Edwin dan Elvin berdiri di depan ibu mereka, melihat wajah Eliana dengan teliti.


"Kenapa melihat Mommy seperti itu?" tanya Eliana.


"Tidak, kami mau melihat apakah wajah kami mirip dengan Mommy atau tidak," jawab Edwin.


"Wah, apakah akan mirip? Ayo kita lihat!" Eliana meminta Edwin untuk berdiri di sisi kirinya sedangkan Elvin berada di sisi kanannya.

__ADS_1


Eliana masih tersenyum saat kedua putranya sudah berdiri sesuai dengan perintahnya. Eliana melakukan hal itu tanpa ada maksud apa-apa, dia hanya iseng saja namun senyumannya sirna setelah melihat pantulan mereka di depan cermin.


"Wah, benar. Ternyata kami sedikit mirip dengan Mommy!" teriak Edwin.


"Benar, Mom, Benar. Jika begitu Mommy harus segera menikah dengan Daddy!" teriak Elvin.


Mereka berdua terlihat senang tapi tidak dengan Eliana. Selama ini dia tidak menyadari tapi setelah mereka bertiga berada di depan cermin, dia benar-benar bisa melihat kemiripan di antara mereka bertiga walau pun memang tidak begitu ketara.


"Yes, jika begitu Daddy dan Mommy harus segera menikah!" sorak Edwin dan Elvin yang sudah tidak berdiri di sisi Eliana lagi karena saat itu mereka sedang melompat-lompat girang.


Eliana bagaikan orang linglung, kini dia berpaling untuk melihat Edwin dan Elvin yang begitu gembira. Apakah ada kebetulan seperti ini ataukah ada sesuatu yang dia lewatkan? Kini dia mulai curiga, jangan-jangan yang ada di hadapannya saat ini adalah kedua putra yang dia cari selama ini.


"Mom, kenapa Mommy diam saja?Apakah Mommy tidak senang?" tanya Elvin yang sedang berlari ke arahnya.


''Benar, apa Mommy tidak senang sama sekali karena kami mirip dengan Mommy?" tanya Edwin pula.


"Bukan begitu, Sayang. Tentu saja Mommy sangat senang tapi sebaiknya Edwin dan Elvin merahasiakan hal ini,," pinta Eliana.


"Kenapa, Mom?" tanya si kembar.


"Ini rahasia kita bertiga, Daddy tidak boleh tahu jika kita sedikit mirip. Jika Daddy tahu tidak menyenangkan. Kalian ingin Daddy dan Mommy menikah, bukan?" kini dia harus mengelabui si kembar sampai dia tahu kebenarannya.


"Jadi kita akan bermain rahasia dan mengatakan hal ini pada Daddy saat Mommy dan Daddy sudah menikah?" tanya Elvin.


"Yes, ini akan menjadi kejutan untuk Daddy nanti. Kalian bisa menyimpan rahasia, bukan?"


"Tentu saja, Mom. Rahasia aman dengan kami!" ucap si kembar.


"Bagus, anak pintar. Kemarilah, Mommy ingin memeluk kalian," pinta Eliana.


Edwin dan Elvin melakukan apa yang ibu mereka katakan, Eliana memeluk kedua putranya sambil mengusap kepala mereka berdua tapi sesungguhnya dia menggunakan kesempatan itu untuk menarik rambut si kembar. Tes Dna, hanya itu saja yang bisa membuktikan kecurigaannya saat ini. Betapa bodohnya, dia benar-benar tidak sadar dan dia harap semoga tebakannya benar.


Setelah mendeapatkan apa yang dia mau, Eliana menyembunyikannya secara diam-diam. Jangan sampai ada yang tahu terutama Morgan apalagi pria itu sudah masuk ke dalam kamar.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Morgan seraya melangkah menghampiri mereka.


"Tentu saja, Dad!" teriak kedua putranya.

__ADS_1


"Bagus, saatnya kita pergi!" Morgan menggendong Eliana seperti biasa yang dia lakukan. Eliana berusaha tersenyum, agar tidak dicurigai.


Kali ini dia harus memastikan kecurigaannya, benar-benar memastikan agar rasa penasaran yang dia rasakan mendapatkan jawabannya.


__ADS_2