Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Sudah Terjebak


__ADS_3

Eliana masih berpikir, apakah dia harus tinggal atau tidak. Padahal dia berpikir tidak akan terlibat dengan ketiga pria itu lagi setelah dia pergi dari mereka tapi nyatanya, dia kembali lagi dan dia rasa, kali ini dia tidak bisa pergi dengan mudah.


Sesungguhnya dia tidak mau, benar-benar tidak mau. Eliana menghela napas, dia berpaling sejenak untuk melihat ke arah Morgan yang sedang melihat ke arahnya juga. Morgan harap Eliana segera mengambil keputusan karena dia sudah tidak sabar untuk tahu apakah Eliana mau tinggal atau tidak.


Eliana membuang wajah dan terlihat kesal setelah melihat wajah Morgan yang menyebalkan. Entah karena apa, dia benar-benar tidak suka dengan pria itu. Morgan juga terlihat tidak terima dengan reaksi Eliana, apa wajahnya begitu jelek sehingga wanita itu tidak suka? Rasanya ingin mengambil sebuah cermin besar dan mengajak Eliana berdiri bersama agar Eliana bisa melihat wajah tampannya dengan benar.


Edwin dan Elvin yang sedang berakting pun tampak gelisah, mereka masih berbisik untuk kembali merencanakan sesuatu. Mereka harus berhasil menahan ibu mereka agar tidak pergi lagi dari mereka.


"Apa yang harus kita lakukan, Kak?" tanya Elvin sambil berbisik.


"Ayo kita pura-pura bangun," ajak kakaknya.


Elvin mengangguk, si cengeng yang begitu mudah mengeluarkan air mata akan bangun terlebih dahulu di susul oleh si licik yang banyak akal. Mereka berpura-pura tidak berdaya, saat hendak bangun agar tidak dicurigai.


"Daddy," Elvin berusaha untuk bangun, begitu juga dengan Edwin. Morgan segera menghampiri kedua putranya yang dia tahu mereka sedang berakting.


"Bagaimana dengan keadaan kalian?" tanya Morgan dengan nada khawatir. Dia pun haru mengikuti akting kedua putranya.


"Kenapa Daddy hanya seorang diri?" tanya Edwin, mereka pura-pura tidak mengetahui keberadaan ibu mereka.


"Mana Mommy, dad? Apa Mommy tidak mau ikut Daddy pulang?" si cengeng mulai menangis dan memukuli ayah mereka.


"Daddy jahat, apa Mommy tidak menyayangi kita? Apa Mommy tidak mau tinggal dengan kita lagi?" Edwin pun menangis, mereka bahkan menangis meraung di dalam pelukan ayah mereka.


Eliana yang melihat semakin iba, sedangkan Morgan pura-pura membujuk dan memuji akting kedua putranya dalam hati. Sungguh luar biasa, sepertinya mereka pantas menjadi aktor cilik.


"Mommy, kami ingin Mommy. Kami ingin bersama dengan Mommy!" teriak Edwin dan Elvin di sela tangisan mereka.


Eliana beranjak, napas berat pun dihembuskan. Dia sudah terjebak, benar-benar terjebak oleh ketiga pria itu. Sesungguhnya dia bisa menolak, dia bisa melakukannya namun tindakan yang hendak dia lakukan dengan perkataan hati sangat bertentangan. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam berkata, jika dia tidak boleh meninggalkan kedua anak itu. Perasaan iba juga membuatnya tidak bisa mengambil keputusan dengan tepat sehingga dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Mommy, kami rindu dengan Mommy," ucap Edwin dan Elvin sambil menangis.


"Mommy di sini, Sayang," ucap Eliana yang sudah melangkah mendekati mereka. Edwin dan Elvin berpaling, teriakan mereka pun terdengar saat mereka pura-pura baru mengetahui keberadaan ibu mereka.

__ADS_1


"Mommy!" Edwin dan Elvin segera melepaskan ayah mereka dan berlari mendekati ibu mereka.


"Tidak perlu lari, kalian masih sakit!" ucap Eliana namun si kembar sudah memeluknya. Mereka berdua menangis, tapi itu bukan tangisan palsu seperti yang mereka tunjukkan tadi. Kali ini mereka benar-benar menangis karena mereka benar-benar rindu dengan ibu mereka.


"Mommy, kami kira Mommy tidak mau menemui kami lagi," ucap Edwin.


"Kenapa Mommy tiba-tiba pergi, apa Mommy tidak sayang pada kami?" ucap Elvin. Tangisan mereka semakin menjadi sehingga membuat Eliana semakin tidak tega.


"Maaf, Sayang. Mommy harus pergi karena Mommy tidak pantas berada di antara kalian."


"Siapa yang berkata demikian? Apa Daddy?"


"Tidak, itu hanya pemikiran Mommy saja. Jangan menangis lagi," Eliana melepaskan kedua putranya dari pelukan dan menghapus air mata mereka.


"Sekarang Mommy sudah berada di sini, Mommy tidak akan pergi ke mana pun lagi," ucapnya.


"Apa Mommy tidak akan meninggalkan kami lagi?"


"Apa Mommy akan selalu bersama dengan kami?" tanya si bungsu tidak mau kalah.


"Apa Daddy akan menikah?" Edwin dan Elvin berpaling ke arah ayah mereka.


"Hm, hanya rencana," ucap Morgan.


"Jika begitu kenapa Daddy tidak menikahi Mommy saja?' tanya Edwin.


"Oh, No!" tolak Eliana. Tentunya penolakan yang dilakukan oleh Eliana membuat Morgan kesal.


"Kenapa, Mom? Daddy kami tampan dan banyak uang, apa Mommy tidak jatuh cinta pada Daddy saat melihat wajah tampannya?"


"Hm!" Morgan berdehem, kedua putranya saja memuji jadi tidak mungkin wajahnya pas-pasan.


"Menurut kalian tampan tapi menurut Mommy tidak!"

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Edwin dan Elvin.


"Yes, tapi tunggu dulu. Kenapa kalian terlihat baik- baik saja?" tanya Eliana curiga.


"Oh, tidak. Kepalaku sakit!" Edwin kembali ke ranjang.


"Aku kembali kedinginan!" Elvin mengikuti kakaknya. Mereka berdua kembali berbaring dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


"Apa kalian menipu aku?" tanya Eliana, mata menatap tajam ke arah Morgan karena dia curiga pria itu meminta kedua putranya untuk menipu dirinya.


"Tidak, untuk apa kami menipu dirimu," ucap Morgan.


"Awas jika kau berani!" Eliana melangkah mendekati Edwin dan Elvin, serta duduk di sisi ranjang.


"Mommy, Mommy tidak akan pergi lagi, bukan?" tanya si cengeng.


"Tidak, apa kalian akan mengijinkan Mommy pergi?"


"Tidak boleh, Mommy tidak boleh pergi!" teriak si kembar.


"Tolong tinggal'lah dengan kami, Eliana. Tidak akan ada yang menyakiti dirimu, kau boleh melakukan apa pun. Tolong lakukan demi kedua putraku," pinta Morgan..


"Please, Mom. Jangan pergi meninggalkan kami lagi!" pinta Edwin dan Elvin.


Eliana menghela napas, sudahlah. Jalani saja, mungkin dengan tinggal bersama mereka mempermudah dirinya untuk menemukan keberadaan kedua putranya. Mungkin dia bisa meminta bantuan Morgan untuk menghadapi Tuan Muda yang membayarnya dulu jika dia sudah bertemu dengan kedua putranya. Lagi pula dia tidak memiliki kekuatan apa pun, dia bisa meminta bantuan Morgan nanti.


"Please, Mom," Edwin dan Elvin masih memohon.


"Baiklah, Mommy tidak akan pergi tapi ingat, setelah Daddy kalian menikah maka Mommy akan pergi. Pada saat itu kalian tidak boleh mencegah," untuk saat ini dia akan tinggal dengan mereka, dia tidak bisa menolak karena dia iba dengan Edwin dan Elvin. Untuk saat ini dia memang terjebak dengan ketiga pria itu tapi nanti, dia akan tetap pergi.


Edwin dan Elvin mengangguk, walau sesungguhnya mereka tidak mau tapi mereka jadi ingin mendekatkan ayah dan ibu mereka. Jika ayah mereka menikahi ibu mereka, bukankah dengan demikian ibu mereka tidak akan pergi?


"Kami sayang dengan Mommy," Edwin dan Elvin kembali beranjak dan memeluk ibu mereka.

__ADS_1


"Mommy juga menyayangi kalian," Eliana memeluk mereka erat. Dia benar-benar sudah terjebak akibat kasih sayang yang dia rasakan.


Morgan tersenyum, berhasil. Dia berhasil membawa wanita itu kembali, tentunya semua berkat akting kedua putranya. Mulai saat ini, Eliana tidak akan bisa pergi dan akan dia tunjukkan pada wanita itu pesona yang dia miliki dan akan dia buat Eliana menyadari ketampanan yang dia miliki sehingga wanita itu terjerat dengan mereka bertiga dan tidak memiliki niat untuk pergi lagi.


__ADS_2