
Dua buah Drone terbang di atas pepohonan yang ada di dalam hutan. Tentunya benda itu sedang mencari keberadaan Camella yang telah melarikan diri. Kedua benda itu diterbangkan oleh Edwin dan Elvin, Camella tidak akan bisa lari ke mana pun karena hari ini juga, Morgan akan menghabisinya.
Morgan memantau tangkapan video dari kamera drone dari sebuah laptop. Camella tidak mungkin jauh, wanita itu pasti masih berada di hutan. Camella yang melarikan diri tanpa tujuan arah mulai tersesat, dia tampak berputar-putar di tempat yang sama. Dia pun sudah terlihat lelah karena dia berlari tanpa henti. Pepohonan yang hampir sama membuatnya bingung, oleh sebab itu dia berputar di tempat yang sama.
"Sial!" Camella mengumpat saat melihat sebuah tanda yang baru saja dia buat di batang pohon. Lagi-Lagi dia kembali ke tempat yang sama. Celaka, dia benar-benar berputar di tempat yang sama terus menerus.
Camella melihat hutan itu, suasana begitu sunyi. Sebentar lagi akan gelap, sebaiknya dia bergegas mencari jalan keluar dari hutan tersebut karena dia tidak mau menginap seorang diri di hutan yang gelap dan mengerikan. Camella memutuskan pergi ke arah lain, semoga dia tidak kembali ke tempat itu lagi.
Kedua kakinya sudah sangat sakit akibat terus berlari, dia tidak sanggup lagi apalagi sudah terdapat banyak luka di sana. Lelah, dia sungguh lelah. Rasanya ingin beristirahat tapi jika dia berhenti, maka Morgan akan menemukan keberadaannya. Camella terus melangkah tanpa menyadari jika jalan yang sedang dia tempuh saat ini akan membawanya kembali ke rumah tua yang baru saja dia tinggalkan.
Camella pun tidakĀ menyadari ada dua drone yang terbang tidak jauh darinya. Sebuah objek tertangkap kamera, Edwin dan Elvin berteriak dan mengatakan pada ayah mereka jika penyihir itu sudah mereka temukan. Tentunya Morgan sudah tahu, saatnya mengejar Camella.
Anak buahnya bergerak terlebih dahulu sesuai dengan perintah, sedangkan Edwin dan Elvin menunggu di mobil sesuai dengan perintah ayah mereka. Tentunya ada yang menjaga mereka dan tentunya mereka masih memantau Camella menggunakan drone yang masih terbang.
Camella mulai merasa aneh, tidak benar. Dia sudah melewati jalan itu, firasatnya buruk. Camella melihat sekitar dan melihat ke atas, drone yang terbang pun membuatnya terkejut. Umpatannya pun terdengar, celaka. Itu sudah pasti Morgan yang mencari dirinya. Dengan kaki yang gemetar karena sakit, Camella memutar langkah dan berlari sekuat tenaga.
"Dia lari, Dad!" teriak Edwin dan Elvin.
"Kejar, jangan sampai lari!" teriak Morgan pada anak buahnya.
"Sial, dasar bodoh. Kenapa aku kembali!" teriak Camella sambil mempercepat larinya.
Morgan dan anak buahnya terus mengejar, posisi Camella masih terus di pantau sehingga Morgan tahu ke mana dia harus mengejar Camella yang berusaha melarikan diri.
"Larilah, Camella! Lari sebisa mungkin karena saat aku sudah menangkapmu, kau tidak akan bisa lari lagi!" teriak Morgan.
Camella semakin panik setelah mendengar teriakan Morgan. Larinya semakin kencang, dia bahkan jatuh berkali-kali akibat tersandung namun Camella tidak menyerah dan terus lari melewati akar-akar pohon yang semakin mempersulit dirinya sehingga dia tersandung berkali-kali.
__ADS_1
Morgan memerintahkan anak buahnya untuk berpencar, mereka akan menyergap wanita itu dari segala arah. Para anak buah Morgan pun bergerak cepat, berpencar ke segala arah. Camella terus lari dan lari sampai akhirnya langkahnya harus terhenti karena anak buah Morgan mencegat langkahnya.
Camella melangkah mundur, sial. Dia hendak berlari ke kanan namun anak buah Morgan pun berada di sisi kanan. Camella hendak berlari ke sisi kiri namun anak buah Morgan juga berada di sana. Celaka, dia terkepung. Jalan satu-satunya adalah kembali. Camella hendak lari kebelakang tapi lagi-lagi dia harus terkejut karena Morgan sudah berada di belakangnya.
"Mau lari ke mana lagi, Camella? Apa kau pikir kau bisa lari dariku?" tanya Morgan seraya melangkah mendekati wanita itu.
Camella menelan ludah sambil melangkah mundur, dia dikepung dengan pistol yang di arahkan ke arahnya. Camella tidak memiliki tempat untuk lari lagi, dia sudah terkepung dari segala sisi.
"A-Ampuni aku, Morgan," pinta Camella.
"Mengampunimu? Setelah apa yang kau lakukan? Jangan harap aku akan melakukannya, Camella!" teriak Morgan marah.
"Aku melakukannya karena hubungan kita dirusak oleh wanita itu. Dia hanya orang asing yang datang kemudian, tapi kenapa kau justru tertarik dengannya dan mencampakkan aku?!" teriak Camella tidak terima.
"Aku tidak membahas hubungan kita yang sudah kandas!" Morgan melangkah mendekat, dengan kemarahan di hati. Camella kembali melangkah mundur namun Morgan meraih lehernya dan mencekiknya. Tubuh Camella bahkan diangkat ke atas sehingga membuatnya meronta kesakitan.
"Kau... gila. Lepaskan!" pinta Cemella susah payah sambil memukul lengan Morgan.
"A-Aku benci dengannya!" Camella berhenti sejenak akibat kesulitan bicara, "Dia telah membuatmu terpikat dan aku benci!" ucapnya lagi.
"Karena dia tulus dan kau tidak! Aku jatuh cinta padanya karena sikapnya itu dan kau? Hanya kejahatan yang kau miliki hingga kau tidak ragu melukai kedua putraku. Seharusnya kau tahu apa perbedaan yang ada pada kalian berdua!" setelah berkata demikian, Morgan melemparkan tubuh Camella ke samping di mana sebuah batang pohon berada.
Camella berteriak saat tubuhnya menghantam pohon, teriakannya kembali terdengar ketika tubuhnya terhempas ke atas tanah. Morgan benar-benar kejam, tidak memiliki belas kasihan sama sekali tapi dia harus berusaha mendapatkan maaf dari pria itu. Camella merangkak di atas akar pohon untuk menghampiri Morgan.
"A-Ampuni aku Morgan, aku tahu aku salah tapi maafkan aku mengingat hubungan yang pernah terjalin di antara kita berdua," pintanya memohon.
"Aku bukan orang yang suka mengingat hubungan yang sudah terjalin. Yang lalu adalah masalah yang telah berlalu tapi yang sekarang, kau harus menanggung akibat dari perbuatanmu. Jika kau pernah mengingat hubungan kita, tidak seharusnya kau menculik kedua putraku dan melukai wanita yang aku cintai dengan tulus!" sekarang dia sadar, betapa berartinya Eliana. Tidak saja untuk Edwin dan Elvin, tapi juga untuk dirinya.
__ADS_1
"Aku minta maaf, Morgan. Aku minta maaf!" teriak Camella putus asa.
"Patahkan kedua kaki dan tangannya dan cari binatang yang lapar lalu lemparkan tubuhnya untuk binatang itu!" perintah Morgan.
"Jangan Morgan, jangan!" teriak Camella.
Morgan tidak menjawab, anak buahnya sudah mencari kayu dan beberapa dari mereka mencari binatang yang sedang lapar. Camella ketakutan, dia hendak lari namun tertangkap. Sebatang kayu yang cukup besar sudah didapatkan, Camella semakin ketakutan dibuatnya.
"Jangan lakukan hal ini, Morgan. Apa kau sudah gila?!" teriak Camella.
"Patahkan!" perintah Morgan.
"Tidak, jangan!" Camella berusaha memberontak, dan menendang namun Kayu sudah diayunkan untuk memukul kedua kakinya.
Teriakan kesakitan Camella terdengar saat batang kayu menghantam kakinya. Tidak saja satu kali, tapi berkali-kali sampai kedua kakinya patah. Setelah kaki, kedua tangan pun tak luput dari hantaman batang kayu.
Camella menangis dengan keras dan berteriak. Kini dia sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi. Morgan memandanginya tanpa belas kasihan, salahkan dirinya sendiri yang mencari perkara dengannya. Jika tidak ada Eliana, dia rasa kedua putranya sudah habis di tangan Camella. Benar yang Edwin dan Elvin katakan, Camella seorang penyihir jahat.
"Ampuni aku, Morgan. Ampuni aku!" pinta Camella memohon namun Morgan tidak akan memaafkan dirinya.
"Di sana ada seekor harimau!" teriak anak buahnya yang sudah kembali.
"Bagus, seret dan berikan harimau itu makan!" perintah Morgan.
"Jangan, Morgan. Ampuni aku, ampuni aku!" Camella berteriak tiada henti saat tubuhnya ditarik ke arah seekor harimau yang sedang lapar.
Morgan mengikuti, dia ingin lihat akhir dari hidup Camella. Wanita itu ketakutan saat tubuhnya diangkat oleh dua anak buah Morgan. Camella berteriak ketakutan melihat harimau yang sedang lapar. Morgan dan anak buah yang lain berdiri agak jauh agar tidak menakuti harimau tersebut, cukup lempar tubuh Camella maka mereka bisa menyaksikan kematiannya.
__ADS_1
Dengan kedua tangan dan kaki yang sudah tidak bisa digerakkan lagi, Camella hanya bisa berteriak saat harimau sudah semakin dekat. Rasa takut teramat sangat dia rasakan, tidak ada satu orang pun yang iba, tidak ada. Tubuhnya dilemparkan begitu saja, harimau yang lapar pun langsung menerkam Camella. Teriakannya terdengar tapi tidak lama karena lehernya sudah dipatahkan oleh harimau yang lapar.
Morgan tampak puas, penyihir itu akhirnya mati. Morgan pun melangkah pergi, saatnya mengajak kedua putranya pergi untuk melihat keadaan Eliana dan menebus kesalahan yang telah dia lakukan.