
Ekspresi wajah Camella benar-benar tidak senang melihat kehadiran Eliana. Dia tidak menduga hal ini sebelumnya, dia tidak menduga ada wanita lain yang akan masuk ke dalam kehidupan Morgan. Terus terang saja, untuk mendapatkan perhatian Morgan saja dia butuh usaha extra. Dua tahun Camella berusaha mendekati Morgan dan pada akhirnya, dia mendapatkan hati pria itu sehingga bisa menjadi kekasihnya tapi wanita asing itu, dia yakin mereka pasti baru bertemu dan dia yakin secara kebetulan wanita itu menolong Edwin dan Elvin.
Amarahnya semakin memuncak ketika dia melihat keakraban wanita asing itu dengan Edwin dan Elvin. Kedua anak itu tidak menyukai dirinya tapi kenapa mereka menyukai wanita asing itu? Tidak, tidak bisa. Dia benar-benar akan kalah telak. Jangan sampai dia gagal gara-gara kehadiran wanita asing itu.
Eliana mengekori langkah Morgan yang sudah melangkah menuju rumah. Tatapan mata Camella tidak lepas darinya namun dia harus tersenyum walau perasaan kesal memenuhi hatinya. Lagi pula dia kekasih Morgan saat ini, jadi dia tidak perlu takut.
"Akhirnya kalian kembali, aku sangat mengkhawatirkan kalian," ucap Camella basa basi.
"Untuk apa Aunty datang?" tanya Edwin sinis.
"Aunty mengkhawatirkan kalian, itu sebabnya Aunty datang," jawab Camella sambil tersenyum manis.
"Kami tidak butuh Aunty di sini!" ucap Elvin pula tak kalah sinis dengan kakaknya.
"Tidak boleh seperti itu, Edwin, Elvin," ucap Eliana.
"Bawa kami masuk, Aunty," rengek si kembar.
"Wah, siapa ini?" tanya Camella pura-pura.
"Jangan pedulikan aku, aku hanya orang lewat," ucap Eliana, sepertinya wanita itulah yang tidak disukai oleh Edwin dan Elvin.
"Apa kau babysitter baru mereka? Jika begitu sangat bagus, segera bawa mereka masuk dan mandikan mereka yang bersih. Setelah selesai bawa mereka untuk makan malam!" perintah Camella.
"Jaga ucapanmu, Camella!" Morgan melotot ke arah kekasihnya yang asal bicara itu.
"Apa aku salah? Dia babysitter baru kedua putramu, bukan? Apa sebagai kekasihmu aku tidak berhak memerintahkan dirinya untuk segera mengurus Edwin dan Elvin?" Camella melihat Eliana dari atas sampai ke bawah. Benar, wanita itu pasti babysitter baru si kembar.
"Jangan asal bicara, dia bukan?"
"Tidak apa-apa," sela Eliana yang mengambil Edwin dari gendongan Morgan, "Mereka memang harus mandi," ucap Eliana.
"Maafkan perkataannya," Morgan jadi tidak enak hati.
"Santai saja, aku tidak keberatan," dari pada membuat keributan dia lebih suka menghindar. Lagi pula tidak penting, dia berada di sana bukan untuk pria bernama Morgan itu tapi dia berada di sana karena dia iba denganĀ Edwin dan Elvin.
"Ayo, Aunty. Kita masuk saja," ajak si kembar.
"Boleh, sekarang tunjukkan pada Aunty di mana kamar kalian," pinta Eliana yang sudah ditarik pergi oleh si kembar. Mereka benar-benar tidak suka berada di sana untuk lebih lama.
__ADS_1
Suara keceriaan mereka berdua terdengar, Edwin dan Elvin tidak mempedulikan Camella karena mereka memang tidak menyukai wanita itu. Lagi pula sudah ada Aunty yang mereka sukai yang akan membela mereka. Morgan masih berdiri di luar, dia tampak menggeleng karena tingkah Camella yang memalukan.
"Aku merindukan dirimu, Morgan," Camella melangkah mendekat untuk memeluknya namun Morgan menahan bahu Camella.
"Apa yang kau lakukan, Camella? Kau mempermalukan aku!"
"Aku tidak melakukan kesalahan, wanita itu babysitter kedua putramu, bukan?"
"Ck, jangan asal bicara jika kau tidak tahu apa pun!" Morgan melangkah melewati Camella dan masuk ke dalam rumah.
"Aku minta maaf jika aku salah, Morgan!" Camella mengejar dengan perasaan kesal.
"Minta maaf padanya, bukan padaku!" ucap Morgan.
"Baiklah, tapi jangan marah. Aku hanya mengira dia babysitter yang baru karena Edwin dan Elvin begitu akrab dengannya."
"Dia yang menyelamatkan Edwin dan Elvin, jadi jangan asal bicara!"
"Baiklah, maafkan aku," Camella benar-benar kesal. Ternyata tebakannya salah tapi meskipun salah, wanita itu tetap saja menjadi saingannya. Mau dia babysitter atau apa, Morgan akan semakin dekat dengan wanita itu karena kedua putranya.
Eliana sedang menunggu Edwin dan Elvin yang sedang mandi. Dia tampak termenung, dengan banyak pikiran. Berada di rumah orang asing tidaklah menyenangkan. Mau melakukan apa pun pasti akan canggung, semoga saja dia tidak lama berada di sana agar perasaan canggung yang dia rasakan saat ini tidak dia rasakan lagi.
"Aku akan meminta seseorang menyiapkan kamar untukmu," ucap Morgan.
"Tidak apa-apa, aku tidur bersama dengan mereka juga tidak masalah," Eliana beranjak, dia jadi salah tingkah.
"Maafkan ucapan kekasihku," pinta Morgan.
"Tidak masalah, aku tidak marah," Eliana tersenyum, dia tahu wanita itu sepertinya cemburu karena keberadaannya.
"Setelah mereka selesai, ajaklah mereka keluar untuk makan."
Eliana mengangguk, sedangkan Morgan keluar dari kamar itu. Camella berada di dapur untuk memanaskan makanan. Dia jadi kesal, kenapa dia jadi seperti pembantu di rumah keluarga Morgan? Tapi dia yang ingin membuat makanan untuk menarik perhatian Edwin dan Elvin jadi dia harus sabar.
"Ayo, Aunty. Kita makan dulu!" terdengar suara teriakan Edwin dan Elvin dari dalam kamar. Camella semakin kesal, dia benar-benar sudah seperti pembantu.
kedua tangan Eliana ditarik oleh Edwin dan Elvin menuju dapur, mereka berdua sangat bersemangat. Camella pura-pura tersenyum saat melihat Eliana beserta Edwin dan Elvin melangkah masuk.
"Kalian sudah selesai mandi? Aunty sudah membuatkan makanan kesukaan kalian," ucap Camella.
__ADS_1
"Memangnya makanan yang dibuat oleh Aunty enak?" tanya Edwin.
"Tentu saja, dulu Aunty pemenang dalam kompetisi memasak!" jawab Camella bangga.
"Tapi tidak dibuat dengan hati, pasti tidak enak!" ucap Elvin pula.
"Boys, jangan berlaku tidak sopan. Jika kalian seperti ini maka Aunty akan pergi."
"Jangan, Aunty. Jangan! Kami akan jadi anak baik!" ucap Edwin dan Elvin.
"Bagus, sekarang duduk yang manis. Aunty akan mengambil makanan untuk kalian."
Edwin dan Elvin begitu patuh, mereka berdua sudah berlari menuju kursi dan duduk dengan manis. Kekesalan Camella semakin menjadi karena Edwin dan Elvin begitu patuh pada wanita yang asing itu. Eliana menghampirinya yang sedang memanaskan makanan karena dia pikir akan membantu Camella.
"Biar aku bantu," ucap Eliana.
"Tidak apa, kau duduk saja," Camella mengatakan hal itu untuk basa basi karena dia pikir Eliana akan membantu tapi apa yang terjadi, sungguh di luar ekspektasi.
"Baiklah, terima kasih," ucap Eliana seraya melangkah mendekati Edwin dan Elvin.
"What?" Camella berbalik dengan ekspresi tidak percaya. Dia kira Eliana akan membantu walau dia berkata tidak perlu tapi apa yang terjadi, Eliana justru duduk bersama dengan si kembar dan mengambilkan makanan untuk Edwin dan Elvin. Sial, sekarang dia benar-benar merasa seperti seorang pembantu apalagi saat Morgan masuk ke dalam dan bergabung dengan kedua putranya bersama dengan wanita asing itu untuk makan.
"Daddy, besok Aunty mau mengajak kami ke taman bermain," ucap Edwin.
"Benar, Daddy mau ikut dengan kami, bukan?" tanya Elvin pula.
Morgan belum menjawab, namun tatapan matanya melihat ke arah Eliana. Eliana juga melihat ke arahnya, berharap pria itu bersedia karena Edwin dan Elvin sangat membutuhkan dirinya.
"Baiklah," jawab Morgan. Jangan sampai dia dianggap sebagai ayah tidak peduli oleh wanita itu.
"Horee..!" teriak Edwin dan Elvin senang.
"Bolehkah aku ikut?" tanya Camella yang duduk di sisi Morgan.
Edwin dan Elvin melihat ke arah Camella yang menatapnya sambil memperlihatkan senyuman manisnya.
"Aunty boleh ikut, bukan?" tanya Camella lagi.
"Boleh!" jawab Edwin dan Elvin sambil tersenyum lebar. Semoga Camella tidak menyesali keputusannya untuk ikut dengan mereka.
__ADS_1
Camella sangat senang, usahanya menjadi pembantu tidak sia-sia. Eliana sibuk mengambilkan makanan untuk Edwin dan Elvin. Selagi makan masakan Camella, tak hentinya Edwin dan Elvin memuji masakan Eliana. Tentunya hal itu membuat Camella semakin kesal, semoga saja uratnya tidak putus gara-gara kedua anak nakal itu.