Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Dia Jahat


__ADS_3

Morgan bangun lebih pagi karena ada yang hendak dia lakukan. Para pelayan sudah berkumpul di dapur, itu karena Morgan akan menginterogasi mereka satu persatu. Ini kali pertama mereka akan menjalani interogasi seperti itu karena selama ini mereka memang tidak pernah menjalaninya.


Para pelayan itu menunduk dan terlihat takut. Tidak ada yang bersuara di antara mereka apalagi Morgan sedang duduk di hadapan mereka. Sampel makanan yang dia ambil sudah dia berikan pada anak buahnya yang dia perintahkan untuk membawa sampel itu ke rumah sakit.


"Katakan padaku, siapa yang membuat makan malam?" tanya Morgan.


"Ka-Kami berdua, Tuan," jawab kedua pelayannya.


"Kalian berdua? Apa Camella tidak membantu kalian?" tanya Morgan memastikan.


"Nona Camella sedang sibuk di kamar anda saat kami membuat makanan," jelas pelayannya.


"Oh, jadi kalian yang sudah berani menaruh racun di dalam makanan itu?"


"Apa? Tidak, Tuan. Kami tidak berani melakukannya, lagi pula dari mana kami bisa mendapatkan racun?"


Morgan memainkan jari di dagu, dia tahu para pelayannya tidak memiliki alibi untuk melakukan hal itu tapi jika Camella tidak membantu membuat makan malam, dia memerlukan waktu untuk mencari kebenarannya tapi cctv bisa menjadi bukti.


"Jika begitu siapa yang melakukannya?" Morgan memandangi para pelayannya dengan penuh selidik untuk melihat tingkah laku mereka. Dia sengaja menginterogasi mereka untuk melihat kejujuran mereka. Jika salah satu dari mereka bertingkah mencurigakan maka dia tidak akan ragu menindaklanjuti hal itu.


"Maaf jika aku lancang, Tuan," salah satu dari pelayan itu tampak ragu karena dia takut Morgan marah apalagi apa yang hendak dia katakan menyangkut kekasihnya.


"Ada apa? Apa kau melihat sesuatu?"


"A-Aku melihat Nona Camella berada di meja makan begitu lama setelah Tuan masuk ke dalam kamar. Aku bukannya ingin menuduh, maaf jika aku berlaku lancang tapi dia sendirian di dapur sampai akhirnya Nona Eliana masuk ke dapur bersama Edwin dan Elvin."


Camella? sepertinya dugaannya tidaklah salah. Dia akan melihat cctv nanti, setiap gerakan yang dilakukan oleh Camella pasti akan terekam.


"Lain kali jika Camella datang perhatikan dia baik-baik dan jangan biarkan dia masuk ke dalam kamarku sembarangan. Dia juga di larang masuk ke dalam kamar mana pun!" perintahnya seraya beranjak.


"Baik, Tuan," jawab pelayannya serempak.


Mereka tidak tahu masalah racun tapi memang Camella begitu lama berada di meja makan. Setelah Morgan pergi, mereka seperti membicarakan sesuatu. Morgan masuk ke dalam kamarnya, jika Ray masih hidup maka hal ini tidak mungkin terjadi. Sekarang dia jadi merindukan asisten pribadinya itu.


Edwin dan Elvin terbangun dari tidur mereka saat Morgan sedang mandi. Yang mereka cari pertama kali adalah ibu mereka namun mereka tidak menemukan keberadaan Eliana di mana pun. Edwin dan Elvin mulai panik karena ibu mereka tidak mereka temukan. Sontak saja tangisan dan teriakan mereka terdengar.


"Mommy, Mommy ke mana?!" teriak mereka berdua. Edwin dan Elvin berlari menuju kamar ayah mereka sambil menangis dengan keras. Mereka pun berteriak memanggil ayah mereka.


"Daddy, ke mana Mommy pergi?" tangisan Elvin begitu nyaring. Inilah yang mereka takutkan, mereka takut ditinggal pergi begitu saja.

__ADS_1


"Kenapa Mommy tidak mau tinggal dengan kita, kenapa Mommy pergi?" teriak Edwin sambil menangis dengan keras.


"Pasti Daddy yang mengusir Mommy. Daddy jahat!" teriak Elvin pula.


"Tidak perlu berteriak seperti itu," ucap ayah mereka yang baru keluar dari kamar mandi.


"Daddy jahat, Daddy jahat!" Edwin dan Elvin berlari mendekati ayah mereka dan memukul ayah mereka sambil berteriak.


"Stop, Boys. Jangan memukul seperti itu!" Morgan berusaha menenangkan kedua putranya yang marah.


"Daddy jahat!" teriak Edwin lagi seraya memukul, begitu juga dengan Elvin.


"Stop, Boys!" teriak Morgan tapi sayangnya, tanpa sengaja Edwin memukul cacing Alaska milik ayahnya. Morgan berteriak dan berlutut sambil memegangi miliknya yang terasa nyeri. Edwin dan Elvin melangkah mundur. Mereka tidak terlihat merasa bersalah, mereka justru berteriak marah pada ayah mereka.


"Daddy jahat telah mengusir Mommy, kami tidak mau tinggal di rumah lagi!" teriak si kembar.


"Kalian salah paham, aduh!" jika bukan kedua putranya yang melakukan hal itu, mungkin sudah dia pukul.


"Kenapa Daddy mengusir Mommy? Daddy jahat!" teriak Edwin lagi.


"Daddy tidak mengusir, dia berada di rumah sakit saat ini," Morgan berusaha berdiri, seharusnya dia menjelaskannya dengan cepat.


"Keracunan makanan, segera mandi dan sarapan setelah itu kita pergi melihat keadaannya."


"Pasti gara-gara penyihir itu!" teriak Edwin.


"Kalian tahu sesuatu?" Morgan memandangi kedua putranya.


"Penyihir itu ada di dapur begitu lama, pasti dia sudah menyimpan sesuatu di dalam makanan," teriak Elvin.


"Daddy lihat, dia jahat Dad. penyihir itu jahat ingin meracuni kami!" Edwin menarik tangan ayahnya saat mengatakan hal itu.


"Oke, baiklah. Daddy akan menyelidiki hal ini dengan benar. Jika memang terbukti Camella yang menyimpan racun itu, maka Daddy akan menendangnya pergi!"


"Daddy memang harus melakukannya, dia jahat!" teriak kedua putranya.


"Sekarang pergi mandi dan sarapan!" perintah Morgan.


Edwin dan Elvin keluar dari kamar, mereka tampak tidak terima ibu mereka keracunan disebabkan oleh penyihir yang tidak mereka sukai.

__ADS_1


"Apa kita akan membiarkan penyihir itu begitu saja, Kak?" tanya Elvin.


"Apa kita harus membalasnya?" tanya Edwin pula.


"Aku tidak terima penyihir jahat itu meracuni Mommy."


"Aku juga, sepertinya kita harus membalas perbuatannya."


"Apa kau punya ide?" Edwin melihat ke arah adiknya, begitu juga dengan Elvin. Setelah meracuni ibu mereka lalu pergi begitu saja, tidak akan mereka biarkan.


"Ayo kita mandi dan makan, semoga saja Mommy baik-baik saja."


Si kembar segera berlari menuju kamar. Mereka mandi dengan cepat dan setelah itu Edwin dan Elvin sibuk di dalam dapur untuk membuat roti bakar yang akan mereka bawa nanti untuk ibu mereka. Tidak ada yang boleh membantu, mereka ingin membuatnya dengan usaha mereka sendiri.


"Perhatikan rotinya, Kakak," ucap Elvin.


"Aku tahu, kau oles saja yang itu!" perintah Edwin.


Morgan sangat heran karena kedua putranya terlihat sibuk, tapi beberapa potong roti bakar yang sudah gosong dan berada di dalam tempat makan menjawab apa yang sedang dilakukan oleh kedua putranya.


"Untuk apa roti bakar itu?"


"Roti ini kami buat untuk Mommy?" jawab si kembar.


"Sepertinya kalian begitu menyayanginya."


"Tentu saja, kenapa Daddy tidak menikah dengan Mommy?"


"Tidak bisa, lagi pula dia bukan ibu kalian, apa kalian mau?"


"Tidak apa-apa, lagi pula Daddy selalu berkata Mommy tidak ada jadi tidak masalah," jawab Edwin


"Benar, dari pada kami tidak memiliki Mommy lebih baik Daddy segera menikahi Mommy," ucap si bungsu tidak mau kalah.


"Morgan diam saja, tidak menjawab. Pernikahan tidak ada dalam kamus kehidupannya dari dulu sampai sekarang. Dia tidak suka hubungan yang rumit apalagi dia sudah melihat sendiri bagaimana hubungan kedua orangtuanya yang hancur.


"Segera sarapan!" Morgan mengusap kepala kedua putranya sebelum duduk di meja makan.


Pagi ini terasa berbeda, kopi yang dia minum terasa tidak enak. Roti bakar yang disediakan oleh pelayan pun terasa tidak enak. Sungguh aneh, tapi dia tidak mau memikirkannya. Setelah selesai makan, Morgan membawa Edwin dan Elvin untuk menjenguk Eliana. Setelah ini dia akan melihat rekaman cctv untuk melihat apa yang terjadi dan apakah dugaan mereka benar atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2