
Edwin dan Elvin berada di rumah karena ini akhir pekan. Sangat kebetulan karena mereka tidak perlu pergi ke sekolah. Mereka sibuk di dalam kamar, entah apa yang sedang mereka lakukan yang pasti si kembar tidak ingin diganggu oleh siapa pun.
Morgan sedang sibuk di dalam ruangannya untuk memeriksa beberapa pekerjaan penting, sedangkan Eliana berbaring di atas ranjang dan tampak bosan. Sesungguhnya apa yang dia lakukan di sana? Dia benar-benar melupakan tujuannya. Sepertinya dia harus pergi secara diam-diam karena dia tahu Edwin dan Elvin tidak akan mengijinkan dirinya pergi.
Eliana duduk di atas ranjang sambil memikirkan hal ini. Yeah... dia harus pergi. Akan dia lakukan nanti saat Edwin dan Elvin pergi ke sekolah. Mereka tidak akan tahu, lagi pula dia yakin ayah mereka dapat menjelaskan kenapa dia pergi nanti.
Lagi pula dia sudah berada di sana terlalu lama, dia juga sudah membuang banyak waktu. Walau dia tahu menyenangkan bersama dengan si kembar tapi dia harus tahu diri apalagi mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Keberadaannya juga sudah membuat kekasih Morgan murka sehingga menaruh racun. Itu wajar, wanita itu pasti marah dengan keberadaannya jadi dia harus tahu diri.
Dia sudah memutuskan, Eliana beranjak untuk mengambil barang-barangnya. Besok Edwin dan Elvin akan pergi ke sekolah. Itu adalah kesempatannya untuk pergi. Jangan sampai mereka tahu apa yang dia lakukan, Eliana bahkan merapikan barang-barangnya dengan cepat dan segera keluar dari kamar setelah selesai agar tidak ada yang curiga.
Para pelayan tampak sibuk, itu karena mereka sedang menyiapkan makan malam. Morgan sudah memerintahkan mereka membuat makan malam untuk menjamu Camella. Anggap sebagai perayaan berakhirnya hubungan mereka. Setelah meneguk segelas air, Eliana menghampiri salah satu pelayan karena dia ingin tahu apa yang terjadi.
"Kenapa membuat makanan begitu banyak?" tanya Eliana.
"Tuan ingin menjamu kekasihnya makan nanti malam," jawab pelayan yang tidak jauh darinya.
"Oh," jawab Eliana singkat. Sepertinya keputusannya untuk pergi adalah benar. Jangan sampai dia dianggap sebagai orang ketiga yang akan menghancurkan hubungan Morgan dan kekasihnya.
"Aku akan membantu," ucapnya.
"Jangan, Nona. Kau baru sembuh, nanti Tuan akan memarahi kami."
"Tapi aku bosan."
__ADS_1
"Di belakang ada kolam renang, Nona bisa menghabiskan waktu di sana."
"Kolam renang?" sepertinya menghabiskan waktu di sana tidaklah buruk.
Karena tidak ada yang dia kerjakan, Eliana melangkah menuju kolam renang. Dia memang tidak begitu tahu akan rumah itu karena dia tidak mau seperti pemilik rumah yang bisa seenaknya. Eliana melangkah menuju kolam renang, melewati taman yang terawat dengan baik.
Dari ruangannya, Morgan dapat melihat Eliana sedang melangkah menuju kolam renang. Morgan beranjak dan berdiri di depan jendela, pemandangan yang tidak boleh dia lewatkan. Tatapan matanya tidak lepas dari Eliana, dia jadi ingin bergabung dengannya.
Pekerjaan pun ditinggalkan, Morgan melangkah keluar dan pergi ke kolam renang. Eliana tampak termenung di sisi kolam, dia pun sedang duduk di sisi kolam sambil memainkan kedua kakinya ke dalam air.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Eliana berpaling, melihat ke arah Morgan namun dia kembali memalingkan wajahnya. Morgan duduk di sisinya dan memandangi Eliana sejenak. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu karena dia hanya diam saja.
"Tolong jangan bertanya seperti itu karena aku bukanlah orang spesial bagimu. Aku tidak mau ada yang salah paham saat mendengar pertanyaanmu ini."
"Tidak akan ada yang salah paham, jadi jangan khawatir."
Eliana diam saja, apa maksudnya? Apa Morgan tidak memikirkan perasaan kekasihnya? Apa dia tidak tahu jika kekasihnya cemburu karena kehadirannya di rumah itu? Dia benar-benar tidak mau dianggap sebagai penghancur hubungan orang lain.
"Aku mohon padamu, tolong jaga Edwin dan Elvin baik-baik," pinta Eliana.
"Apa aku tidak menjaga mereka dengan baik selama ini?" entah kenapa dia jadi tidak senang dengan perkataan Eliana. Permintaan yang diucapkan oleh Eliana seolah-olah menuduhnya tidak menjaga kedua putranya dengan baik.
__ADS_1
"Bukan seperti itu, tolong jangan tersinggung. Aku hanya ingin kau meluangkan lebih banyak waktu untuk mereka karena mereka membutuhkan lebih banyak perhatian dan kasih sayang darimu. Mereka lebih berharga dari apa pun jadi jangan mengabaikan mereka hanya karena seorang wanita," Eliana mengatakan hal ini tanpa maksud apa-apa karena dia sudah akan pergi. Dia harap Morgan lebih memperhatikan kedua putranya saja dibandingkan yang lainnya tapi Morgan jadi tersinggung dengan ucapannya.
"Siapa kau sampai begitu berani mengatakan hal seperti ini padaku?" Morgan beranjak, dia berdiri di sisi Eliana dan tampak tidak senang.
Eliana mendongak, melihat ke arahnya. Morgan menatapnya dengan ekspresi tidak senang, Eliana tahu jika pria itu sedang marah.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung. Aku tahu kau ayah yang baik bagi mereka, aku hanya ingin kau lebih memperhatikan mereka saja."
"Diam kau!" teriak Morgan marah, "Kau hanya orang asing yang terpaksa aku bawa masuk ke dalam rumahku karena kedua putraku menyukai dirimu. Jangan karena hal itu kau jadi keras kepala dan mengira kau boleh melakukan apa pun dan mengatakan apa pun tentang aku. Kau tidak berhak sama sekali. Apa kau kira aku akan seperti ja*lang itu yang akan mencampakkan putranya sendiri demi seorang lelaki? Aku tidak seperti dirinya jadi jangan berkata seolah-olah kau tahu banyak tentang aku karena kau hanya orang asing!" yang dimaksud Morgan adalah ibunya namun Eliana tidak mengerti.
"Maaf, aku tidak bermaksud?"
"Sebaiknya kau menempatkan diri dengan benar di rumah ini karena kau bukanlah siapa-siapa kami!" sela Morgan.
Eliana menghela napas berat saat Morgan melangkah pergi meninggalkan dirinya. Seperti yang Morgan katakan, dia tidak bisa menempatkan diri dan lupa jika dia hanya orang asing di antara mereka. Sekarang dia semakin yakin untuk segera pergi dari mereka agar dia tidak terlalu lama menghabiskan waktunya di sana.
Eliana kembali duduk di sisi kolam renang, dia kembali termenung. Morgan pun kembali ke dalam ruangannya dan mengumpat, kenapa dia jadi marah? Tapi perkataan wanita itu seolah-olah menuduh dirinya jika dia bukan ayah yang baik bagi Edwin dan Elvin.
Morgan berdiri di depan jendela memperhatikan Eliana yang belum beranjak. Apa perkataannya tadi tidak keterlaluan? Tidak, dia rasa tidak. Eliana memang orang asing yang terpaksa dia bawa masuk ke dalam rumah. Jika bukan karena Edwin dan Elvin, dia tidak mungkin membiarkan wanita itu berada di rumahnya. Wanita itu memang harus tahu posisinya di rumah itu dan tidak bersikap seenaknya jadi apa yang dia katakan sudah sangatlah benar.
Dia juga yakin Eliana menyadari hal itu oleh sebab itu Eliana tidak marah karena dialah yang salah tapi sesungguhnya diamnya Eliana karena dia sudah memutuskan untuk pergi dan dia juga sadar jika dia memang orang asing yang sudah harus pergi dari kehidupan mereka.
Morgan masih memperhatikan sampai kedua putranya berlari menghampiri Eliana. Edwin dan Elvin begitu menyayangi wanita itu dan dia tahu. Dia tidak bisa mencegah kedua putranya apalagi Eliana juga menyayangi Edwin dan Elvin. Namun meski begitu, tidak seharusnya Eliana bersikap seolah-olah mereka sudah saling mengenal lama sehingga dia bisa berbicara seenaknya tentang dirinya. Memangnya apa yang wanita itu tahu? Eliana tidak tahu apa pun tentang dirinya dan memang Eliana tidak tahu karena jika dia tahu Morgan adalah tuan muda yang membayarnya dulu dan tahu jika Edwin dan Elvin adalah kedua putranya maka Eliana sudah membawa kedua putranya pergi dari Morgan.
__ADS_1
Sabar ya, guys. Kalau ketahuan sekarang tanpa adanya perasaan di antara mereka maka kisah ini akan menjadi kisah sad ending karena yang Eliana mau hanya kedua putranya aja. Kisah yang aku tulis tidak terlalu cepat dan tidak juga lambat. Semua sudah ada di porsi masing-masing sampai ending. So.. sabar menanti kebenaran terungkap.