Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Dua Pelayan


__ADS_3

Dua orang pelayan sudah siap untuk bekerja di rumah Morgan. Hari ini hari pekan, oleh sebab itu mereka ada di rumah. Edwin dan Elvin pun tidak perlu pergi ke sekolah, mereka bahkan masih berada di atas ranjang.  Edwin dan Elvin sudah berpindah, mereka berdua berada di sisi kanan dan sisi kiri ibu mereka sehingga Morgan terabaikan.


Si kembar masih tidur sambil memeluk ibu mereka namun Eliana tampak tidak nyaman karena dia ingin pergi ke kamar mandi. Eliana melirik ke arah Morgan, pria itu sedang berbaring membelakangi dirinya. Eliana sangat ingin meminta bantuan tapi dia tampak tidak enak hati.


Dengan perlahan, Eliana menyingkirkan tangan Edwin dan setelah itu tangan Elvin. Dia pun beringsut dengan perlahan sehingga bisa duduk di sisi ranjang. Eliana berpaling, napas lega dihembuskan karena Edwin dan Elvin masih tertidur.


Mungkin saja kedua kakinya sudah bisa digunakan untuk berjalan namun ketika Eliana mencoba berdiri, Eliana berteriak. Buru-Buru pula Eliana menutup mulut dan kembali duduk di sisi ranjang.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Morgan yang terbangun karena suara teriakan Eliana.


"Aku mau pergi ke kamar mandi," jawab Eliana, dia jadi tidak enak hati.


"Kenapa tidak membangunkan aku, Eliana," Morgan sudah mengambil sendal yang ada di sisi lemari.


"Aku tidak ingin mengganggu tidurmu, Morgan."


"Ck, apa aku akan mati hanya karena hal itu? Lain kali kau harus membangunkan aku jika tidak, aku akan merantai tanganmu supaya aku tahu saat kau hendak pergi!"


"Sembarangan, apa aku binatang peliharaan?" ucap Eliana kesal.


Morgan terkekeh, saat itu dia sedang memakaikan sendal di kedua kaki Eliana. Eliana semakin tidak enak hati karena pria itu begitu perhatian padanya. Seharusnya Morgan tidak melakukan hal itu, seharusnya dia memang tidak perlu merepotkan diri untuk melayaninya.


"Terima kasih, tolong belikan aku tongkat atau kursi roda agar aku tidak selalu merepotkan dirimu seperti ini."


"Sudah aku katakan, kedua benda itu mahal!" Morgan sudah menggendong Eliana dan membawanya menuju kamar mandi.


"Apa begitu mahal sampai kau tidak mampu membelinya?"


"Yes, benda itu sangat mahal bahkan kau hanya bisa membelinya jika kedua kakimu benar-benar patah!" ucap Morgan asal.


"Ck, tidak perlu membual. Hanya orang bodoh yang akan mempercayai semua yang kau katakan!" ucap Eliana.


"Jika begitu kau orang bodohnya!"


"Sembarangan!" Eliana mencubit lengan Morgan sampai membuat pria itu berteriak.


"Kenapa kau suka mencubit? Sepertinya aku akan kau aniaya sampai mati!"


"Siapa yang akan menganiaya dirimu sampai mati?!"


"Tentu saja kau, apa ada yang lain?"

__ADS_1


"Jangan asal bicara!" ucap Eliana.


"Baiklah, panggil aku setelah kau selesai," ucap Morgan seraya menurunkan Eliana dari gendongannya.


"Terima kasih."


Morgan melangkah keluar dari kamar mandi membiarkan Eliana, dia akan kembali lagi setelah mengambil air hangat. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, sepertinya para pelayan itu akan segera datang. Itu bagus, mereka bisa langsung membuat sarapan.


Air hangat sudah berada di tangan, suara Eliana memanggil dari kamar mandi terdengar. Morgan segera berlari menuju kamar mandi setelah meletakkan air hangat. Eliana sudah selesai dan menunggu, dia semakin tidak enak hati saat Morgan menggendongnya kembali.


"Bawa aku ke dapur, Morgan. Aku harus membuat makanan untuk Edwin dan Elvin," ucap Eliana.


"Tidak perlu, sebentar lagi ada pelayan yang datang."


"Benarkah?"


"Yes, sebab itu temani saja Edwin dan Elvin. Aku akan membawamu keluar nanti setelah sarapan sudah siap."


"Terima kasih," lagi-lagi Eliana mengatakan hal yang sama.


"Sudahlah, berbaringlah lagi," Eliana sudah berada di atas ranjang saat itu.


Eliana memandangi Morgan, ptia itu tersenyum. Tangannya sudah berada di wajah Eliana, mengusapnya dengan perlahan. Mereka berdua saling pandang, Morgan kembali merasakan debaran aneh di hatinya. Ini benar-benar kali pertama dia merasakan debaran seperti itu pada seorang wanita.


"A-Aku juga mau berbaring," ucap Eliana gugup. Eliana buru-buru berbaring, dan berbalik.


Morgan tersenyum tipis, namun dia melangkah pergi ke kamar mandi. Eliana tidak berpaling, tatapan matanya melihat ke arah Edwin dan Elvin yang masih tidur. Sekarang dia jadi berpikir, sampai kapan dia akan berada di rumah itu? Dia benar-benar melupakan misinya setelah memutuskan untuk kembali.


Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Dia tidak mungkin berada di sana untuk selamanya tapi bagaimana caranya dia bisa pergi. Dia tahu semakin lama dia bersama dengan mereka, semakin dia terikat dan semakin sulit untuk berpisah dengan mereka lalu bagaimana dia bisa pergi?


"Bagaimana ini?" Eliana bertanya dalam hatinya. Sungguh dia tidak tahu harus bagaimana?


"Apa yang kau pikirkan?" pertanyaan Morgan membuat Eliana terkejut. Eliana berpaling, melihat ke belakang. Kedua mata melotot karena saat itu, Morgan sedang bertelanjang dada. Sebuah handuk melilit di pinggang, rambutnya pun terlihat basah. Air bahkan masih menetes dari otot dadanya.


"Ti-Tidak," jawab Eliana seraya berpaling.


"Katakan padaku jika ada yang kau inginkan."


"Pasti, aku tidak akan ragu," ucap Eliana. Tiba-Tiba dia merasa malu setelah melihat tubuh Morgan.


Setelah menggunakan pakaian, Morgan keluar dari kamar. Pelayan yang dia tunggu belum juga datang sehingga mau tidak mau Morgan membuat sarapan. Rasanya jadi kesal, jika dalam lima menit lagi mereka tidak datang maka dia akan mencari yang lain.

__ADS_1


Morgan sudah bertekad namun pada saat itu sang asisten sudah datang membawa dua pelayan yang akan bekerja dengannya mulai hari ini. Morgan terlihat tidak senang, jika tidak mengingat bahwa dia butuh, sudah dia usir mereka berdua.


"Maaf, Sir. Aku terlambat karena ada sedikit kendala," ucap sang asisten.


"Tidak apa-apa, pergi ajari mereka dan katakan apa saja yang harus mereka kerjakan dan setelah itu, perintahkan mereka untuk membuat sarapan!" ucap Morgan.


"Yes, Sir!" sang asisten mengajak kedua pelayan itu, salah sau dari mereka tidak melepaskan pandangannya dari Morgan.


Morgan sudah melangkah menuju kamar, oleh sebab itu dia tidak menyadari jika pelayan itu menatapnya. Morgan menghampiri Eliana yang sedang merapikan rambutnya.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Morgan seraya duduk di sisi Eliana.


"Aku mau mandi dan ganti baju."


"Kemarilah, aku akan membawamu ke kamar," Morgan sudah beranjak.


"Lagi-Lagi harus merepotkan dirimu," ucap Eliana.


"Tidak apa-apa," Eliana sudah berada di dalam gendongannya.


Morgan membawa Eliana keluar, melewati sang asisten yang sedang mengajari kedua pelayan barunya. Lagi-Lagi salah satu dari pelayan itu menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian. Tidak ada yang tahu sama sekali apalagi Morgan dan Eliana sambil berbincang sambil menuju kamar.


Dua pelayan itu pun sudah tahu apa yang harus mereka lakukan, mereka segera membuat makanan sesuai perintah. Edwin dan Elvin yang sudah bangun berlari keluar kamar untuk mencari ibu dan ayah mereka.


"Daddy, siapa yang membuat makanan?" tanya Edwin.


"Tentu saja pelayan, apa kalian sudah mandi dan sikat gigi?" tanya ayah mereka.


"Kami akan segera mandi!" Edwin dan Elvin berlari keluar dari kamar untuk segera mandi.


Eliana yang berada di kamar mandi pun sudah selesai, Morgan membantunya bahkan pria itu pun mengeringkan rambut Eliana yang basah.


"Apa Edwin dan Elvin sudah bangun?" tanya Eliana.


"Sudah, mereka sedang mandi. Aku akan mengantarmu ke meja makan terlebih dahulu."


Eliana hanya mengangguk, kedua tangan melingkar di leher Morgan saat Morgan kembali menggendongnya dan membawanya menuju dapur.


"Selamat pagi Tuan, Nyonya," sapa kedua pelayan baru yang sedang sibuk.


"Pagi," Eliana tersenyum dengan ramah.

__ADS_1


"Tunggu di sini, aku akan melihat anak-anak!" ucap Morgan.


Eliana mengangguk, Morgan pun melangkah pergi untuk melihat kedua putranya. Salah seorang pelayan membuatkan minuman untuk Eliana namun yang satunya lagi, mencengkeram gagang pisau seperti sedang menyimpan sebuah kebencian.


__ADS_2