
Edwin dan Elvin sudah diperbolehkan untuk pulang karena keadaan mereka yang sudah membaik. Tentunya mereka sangat senang, apalagi ibu mereka bersama dengan mereka. Selama di perjalanan kembali, Edwin dan Elvin tidak mau melepaskan Eliana karena mereka takut Eliana pergi dari mereka.
Sekarang ayah mereka terabaikan, Morgan jadi kesal karena dia tidak dianggap oleh kedua putranya. Eliana pun cuek saja tanpa mempedulikan dirinya. Entah kenapa dia jadi merasa seperti orang asing di antara mereka, bukan Eliana lagi yang orang asing di antara mereka.
"Mommy, nanti malam Mommy harus tidur dengan kami," ucap Edwin.
"Benar, Mom. Sangat berbahaya tidur sendiri," ucap Elvin.
"Bahaya, ada apa?" tanya Eliana tidak mengerti.
"Bahaya karena daddy akan menyelinap!" teriak Edwin dan Elvin lalu mereka berdua tertawa.
"Hei, jangan sembarangan bicara!" ucap Morgan, dia tampak tidak senang.
"Kami akan menjaga Mommy dari Daddy," teriak kedua putranya lagi.
Morgan memijit pelipis, apa kedua putranya tidak tahu? Jika mereka menginginkan wanita itu untuk menjadi ibu mereka yang sesungguhnya maka dia harus mendekati Eliana. Sepertinya dia harus membicarakan hal ini secara pribadi pada kedua putranya dan meminta bantuan mereka agar mereka bisa semakin dekat.
"Boys, tidak baik menggoda ayah kalian seperti itu," ucap Eliana.
"Kami hanya bercanda saja, Mom," Edwin dan Elvin memeluk ibu mereka dengan erat.
"Baiklah, apa ada yang mau roti lemon?"
"Aku mau," jawab Edwin. Elvin pun menjawab hal yang sama, mereka berdua terlihat sangat senang.
Mereka mampir ke toko roti terlebih dahulu, mereka pun tidak langsung kembali karena mereka menikmati roti lemon itu bersama. Kedua putranya benar-benar senang, Morgan bisa melihat itu. Tentunya yang membuat kedua putranya senang hanya satu orang, hanya wanita yang sedang bersama dengan mereka saat inilah yang membuat Edwin dan Elvin senang.
Sementara itu, Camella sudah berada di depan mansion. Dia tidak terima hubungannya dengan Morgan berakhir seperti itu. Meskipun dia yang salah, tapi tidak seharusnya Morgan mencampakkan dirinya begitu saja. Sekarang segala upaya akan dia lakukan agar hubungannya kembali. Jangan sampai dia kalah oleh seorang wanita asing yang tiba-tiba hadir.
Camella turun dari mobilnya dan melangkah mendekati pagar rumah yang menjulang tinggi. Seorang penjaga pun menghampirinya, dia sudah mendapatkan perintah untuk tidak membiarkan Camella masuk ke dalam.
"Buka pintunya," pinta Camella dengan nada sombongnya.
"Maaf, Nona tidak diijinkan untuk masuk!"
__ADS_1
"Apa? Apa kau tidak tahu aku siapa?" bentak Camella.
"Aku tidak peduli, yang aku peduli hanya perintah dari bosku saja!"
"Jika begitu panggilkan Morgan," pinta Camella.
"Bos sedang pergi."
"Jika begitu biarkan aku masuk!" teriak Camella kesal.
"Tidak, pergilah!" sang penjaga melangkah pergi, mengabaikan dirinya. Camella berteriak kesal, dia tidak bisa menerima perlakuan itu tapi dia tidak bisa melakukan apa pun. Mau tidak mau Camella melangkah menuju mobil, dia akan menunggu sampai Morgan kembali.
Entah sampai berapa lama, yang pasti sudah lama. Sebuah mobil pun kembali, itu pasti Morgan. Camella sangat senang, sudah beberapa hari berlalu semenjak kejadian itu, Morgan pasti memaafkan dirinya. Dengan sikap manja dan perkataan manis, dia akan membujuk Morgan.
Camella turun dari mobil, dia bahkan menahan mobil Morgan yang hendak masuk ke dalam. Tentunya aksinya itu membuat Morgan kesal, Camella berdiri di depan mobil sambil merentangkan kedua tangannya.
"Penyihir kembali lagi!" teriak Edwin dan Elvin.
"Edwin, Elvin, tidak boleh bersikap seperti itu terhadap orang yang lebih tua. Kita harus bersikap sopan," ucap Eliana.
"Baiklah, dia memang penyihir tapi Daddy kalian juga tidak keberatan di sihir olehnya."
"Apa kau bilang?" Morgan berpaling dan menatap Eliana dengan tatapan tidak senang.
"Benar, pasti hanya Daddy pria bodoh yang mau di sihir olehnya!" ucap Edwin lagi.
"Kau benar," Eliana tertawa, mendengar perkataan Edwin.
"Kalian berdua, awas kau nanti!" ancam Morgan.
"Segera usir penyihir itu, Dad. Sebelum keluar api dari dalam mulutnya," pinta Elvin.
"Tolong bawa mereka masuk ke dalam," pinta Morgan pada Eliana sebelum dia keluar dari mobil.
Eliana tidak menjawab apalagi Morgan keluar dari mobilnya. Camella sangat senang, dia baru menyingkir agar mobil itu bisa lewat. Camella berlari ke arah Morgan, kedua tangan terentang untuk memeluk Morgan namun Morgan segera menahan bahu Camella dan mendorongnya menjauh.
__ADS_1
"Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini, Morgan!" ucap Camella kesal.
"Kita tidak memiliki hubungan apa pun lagi, jadi jaga sikapmu baik-baik!" ucap Morgan dengan sinis.
"Tidak, aku tidak terima hubungan kita berakhir. Aku datang untuk memperbaiki hubungan kita, Morgan. Aku tahu aku salah jadi maafkan aku dan berikan aku kesempatan satu kali saja untuk memperbaiki kesalahan yang aku lakukan," pinta Camella memohon.
"Aku sudah memberimu kesempatan, Camella. Aku sudah membiarkan kau pergi tanpa membawamu ke dalam penjara jadi itulah kesempatanmu untuk menjauh dariku agar kau tidak mengulangi apa yang telah kau lakukan!"
"Itu bukan kesempatan, Morgan. Aku mohon padamu, maafkan aku. Aku akan melakukan yang terbaik agar kedua putramu bisa menerima aku," Camella masih memohon. Dia harap Morgan bermurah hati.
"Sejak awal kedua putraku tidak menyukai dirimu dan sampai sekarang mereka juga tidak menyukai dirimu jadi pergilah. Sudah ada yang lain yang sangat menyayangi mereka tanpa mengharapkan apa pun dariku!"
"Apa?" Camella tampak tidak mengerti, Morgan segera melangkah melewatinya dan masuk ke dalam. Camella berpaling, kedua mata melotot saat melihat Eliana bersama dengan kedua putra Morgan. Apa yang dimaksud oleh Morgan adalah wanita itu?
"Morgan, tunggu. Jangan mengabaikan aku!" teriaknya.
Morgan tidak peduli, dia terus melangkah menghampiri Eliana dan kedua putranya. Camella sungguh kesal melihat wanita asing yang kemungkinan sudah menggantikan posisinya.
"Bagaimana, Dad?" tanya Edwin dan Elvin.
"Tidak perlu khawatir, ayo masuk ke dalam!" Morgan melingkarkan tangannya ke pinggang Eliana untuk mengajaknya masuk ke dalam.
"Apa yang kau lakukan, lepas!" Eliana menyingkirkan tangan Morgan namun Morgan justru semakin menarik pinggang Eliana mendekat.
"Tidak baik bertengkar di depan anak-anak," ucap Morgan.
"Jangan menjadikan mereka sebagai alasan untuk mencari kesempatan!" Eliana mencubit tangan Morgan sampai membuat Morgan berteriak dan melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh Eliana.
"Kau benar-benar tega!" Morgan mengusap lengannya.
"Rasakan, sebab itu Daddy tidak boleh curang!" ucap Edwin dan Elvin seraya berlari mengejar ibu mereka yang sudah masuk ke dalam.
"Awas kau, Eliana. Akan aku balas!" Morgan pun masuk ke dalam sambil mengusap lengan yang baru saja dicubit oleh Eliana.
Camella yang melihat itu tentunya kesal setelah mati, dia tidak menduga mereka akrab begitu cepat. Sepertinya posisinya sudah tidak ada lagi di rumah itu karena dia bisa melihat, Morgan sudah jatuh hati pada wanita asing itu.
__ADS_1
Tidak terima, dia benar-benar tidak menerima seorang wanita asing menendangnya keluar dari kehidupan Morgan. Camella melangkah pergi, sambil memendam kemarahan juga dendam pada Eliana. Akan dia balas, dia akan mencari kesempatan untuk membalas wanita itu juga membalas kedua anak nakal yang sudah mempermalukan dirinya. Mereka bertiga akan dia balas karena mereka sudah bekerja sama untuk menendangnya dari kehidupan Morgan.