
Ketika tersadar, Eliana mendapati dirinya berada di dalam sebuah ruangan yang sangat asing. Eliana pun terkejut karena saat itu dia sudah berada di sebuah kamar hotel dan dia juga sedang menggunakan sebuah gaun pengantin. Wajahnya bahkan sudah dipoles dengan cantiknya dan sebuah mahkota berada di atas kepala namun kedua tangan dan kakinya terikat agar dia tidak bisa pergi ke mana pun.
Suara orang berbicara terdengar di luar sana, Eliana berusaha mengenali situasi karena kepalanya yang masih sakit akibat obat bius. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari situasi sampai akhirnya dia sadar jika dia dibawa paksa oleh ayah dan ibu tirinya untuk dijodohkan. Sekarang dia paham, kenapa dia menggunakan gaun pengantin.
Ayah dan istrinya benar-benar gila, sepertinya mereka akan menikahkan dirinya hari ini juga namun yang membuat dirinya khawatir bukan keadaannya saat ini, yang dia khawatirkan adalah keadaan Edwin dan Elvin yang dia tinggalkan begitu saja. Semoga anak buah Morgan yang menjemput mereka sudah bertemu dengan Edwin dan Elvin dan semoga saja kedua anak itu baik-baik saja.
"Keluarkan aku dari sini!" teriak Eliana sambil berusaha melepaskan ikatan yang ada di tangan. Dia tidak akan sudi menikah dengan siapa pun demi ambisi ayahnya. Dia pun tidak akan lupa di mana ayahnya menolak untuk membayar biaya rumah sakit ibunya jadi jangan harap dia bersedia melakukan hal itu.
"Keluarkan aku!" teriak Eliana lagi.
Pintu kamar terbuka, ibu tirinya melangkah masuk dengan senyum sinis menghiasi wajah. Eliana menatap wanita itu dengan tajam. Dia benci, dia benar-benar benci dengan istri kedua ayahnya.
"Tidak perlu menatap aku seperti itu!" ucap ibu tirinya.
"Kau tidak berhak sama sekali melakukan hal ini padaku karena kau bukan ibuku!" ucap Eliana sinis.
"Aku tidak peduli berhak atau tidak yang aku tahu kau harus berkorban untuk ayahmu!"
"Sungguh lucu sekali! Untuk apa aku berkorban untuknya sedangkan dia tidak pernah mau berkorban untukku bahkan dia tidak peduli pada ibuku!" teriak Eliana marah.
"Apa yang terjadi di masa lalu tidak perlu diungkit lagi. Lagi pula ibumu sudah mati jadi jangan diungkit lagi!"
"Sungguh luar biasa, tidak perlu diungkit? Sampai mati pun aku akan mengingat apa yang telah kalian lakukan padaku dan ibuku!"
"Terserah kau mau berkata apa, aku tidak peduli yang pasti kau harus menikah hari ini juga!" ucap ibu tirinya.
"Jangan harap aku akan mau!" teriak Eliana marah.
"Tidak perlu berteriak! Sebentar lagi calon suamimu akan datang jadi bersiaplah!" ucap ibu tirinya dengan seringai menghiasi wajah.
"Jangan harap aku akan mau!" rasa benci semakin meluap di dalam hati apalagi ketika ayahnya masuk ke dalam dan menghampiri mereka dengan terburu-buru.
"Dia sudah mau datang, apa semuanya sudah siap?" tanya sang ayah.
"Lepaskan aku, Dad. Apa ini caramu memperlakukan putrimu?"
"Tidak perlu berkata demikian, kau sudah berbakti pada ibumu jadi sekarang waktunya kau berbakti padaku!" ucap ayahnya yang tidak jauh berbeda dengan istrinya.
"Berbakti padamu? Aku tidak merasa berhutang budi padamu sedikitpun selain darahmu yang mengalir di dalam tubuhku ini!"
__ADS_1
"Tidak perlu banyak bicara, sekarang lepas ikatannya karena dia sudah mau datang," perintah ayahnya pada sang istri.
"Awas jika kau berani melawan, Eliana. Aku tidak akan segan padamu!" ancam ibu tirinya.
Tali yang mengikat kaki Eliana dibuka, Eliana diam saja sedangkan tatapan mata ibu tirinya seperti mengancam. Setelah membuka ikatan di kaki, ikatan tangan pun hendak dibuka namun Eliana langsung mendorong tubuh ibu tirinya sehingga tubuh wanita tua itu langsung terjatuh.
Tidak membuang waktu, Eliana langsung berlari. Dia harus pergi dari kamar itu karena dia tidak sudi dijual oleh ayahnya demi sebuah kepentingan pribadi.
"Jangan lari kau, Eliana!" teriak ibunya dan pada saat itu, Bhuukk!! Sesuatu yang dilemparkan oleh ayahnya mengenai punggung Eliana.
Eliana terkejut akibat benda berat yang dilemparkan oleh ayahnya. Sakit, punggungnya sangat sakit. Sang ayah yang tidak memiliki perasaan itu melangkah lebar mendekati Eliana dan menarik rambut putrinya sehingga Eliana kembali berteriak.
"Beraninya kau, Eliana? Apa kau ingin mempermalukan aku?" ayahnya terlihat sangat marah.
"Seharusnya aku tidak melepaskan ikatan di kakimu!" sang ibu tiri yang kejam itu pun menginjak kaki Eliana menggunakan high heel yang di kenakan.
"Sakit, kalian berdua benar-benar iblis!" teriak Eliana.
"Tutup mulutmu!" sang ayah yang marah memukul wajah putrinya, sedangkan istrinya terus menginjak kaki Eliana agar Eliana tidak bisa lari lagi.
Eliana hanya bisa berteriak mendapat perlakuan keji itu. Kedua kakinya sangat sakit akibat injakan dari ibu tirinya. Setelah yakin Eliana tidak akan bisa lari lagi bahkan berjalan saja dia tidak akan mampu, ayah dan istrinya menarik tubuh Eliana menuju ranjang.
"Lepaskan, aku tidak mau menikah. Aku tidak mau!" teriak Eliana. Kedua kaki benar-benar tidak bisa digerakkan akibat sakit.
Luka di kaki tidak akan terlihat karena gaun panjangnya, ikatan di tangan belum dilepaskan dan memar di punggung akibat benda berat yang di lempar oleh ayahnya pun ditutupi sebaik mungkin.
"Awas kau jika kau berani lari, aku pastikan kedua kakimu tidak akan ada lagi!" ancam ibu tirinya.
"Kalian pasangan iblis yang sangat serasi!" Eliana masih berusaha melepaskan ikatan di tangan namun tidak bisa. Tatapan penuh kebencian pun tidak lepas dari ibu tiri dan ayahnya.
"Terserah kau mau berkata apa!" ibu tirinya melangkah menghampiri suaminya yang sedang menghubungi seseorang.
"Dia sudah siap!" ucapnya.
Eliana mengumpat, kedua kaki yang sakit tidak bisa digerakkan. Semoga saja ada sebuah keajaiban, dia harap bisa lari kamar itu. Ayah dan istrinya bersia-siap, untuk menyambut kedatangan seseorang. Tentu yang mereka sambut adalah calon suami Eliana.
Mereka benar-benar tanpa perasaan. Eliana bahkan terkejut ketika seorang pria tua yang begitu gemuk masuk ke dalam. Kancing jas yang pria itu gunakan saja hampir terlepas, lemak di wajahnya membuat Eliana merinding ngeri. Apa ayahnya sudah gila ingin menjualnya pada pria itu?
"Mana calon istriku?' tanya pria itu.
__ADS_1
"Di sana, itu putriku," ayah Eliana menunjuk ke arah Eliana.
"Aku tidak sudi menikah denganmu!" teriak Eliana.
"Tolong jangan didengar, dia memang seperti itu," pinta istri ayah Eliana.
"Wah, benar-benar cantik," pria itu melangkah mendekati Eliana dan memegangi dagunya, "Aku benar-benar suka!" ucapnya lagi.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" Eliana berusaha menepis tangan pria itu dari wajahnya.
"Aku suka yang liar dan pemberontak!"
"Jika begitu, apa sudah bisa dimulai?" tanya ayah Eliana.
"Tentu saja, segera lakukan dan setelah ini kita bahas bisnis!" pria itu pun sudah tidak sabar.
"Aku tidak sudi, aku tidak sudi kau jual seperti ini!" teriak Eliana namun tidak ada yang mempedulikan dirinya.
Seorang pendeta pun dibawa masuk, cukup mengikat janji suci disaksikan oleh mereka saja, maka Eliana sudah menjadi istri dari pria tua gemuk itu. Eliana berusaha melawan, dia bahkan terjatuh dari sisi ranjang karena dia ingin melarikan diri.
Agar Eliana tidak bisa melawan lagi, ayahnya memeganginya dari sisi kiri dan ibu tiri dari sisi kanan. Eliana bahkan dipaksa berdiri padahal kedua kakinya benar-benar sakit.
"Mulai, sekarang!" pinta ayahnya.
"Aku tidak mau, aku tidak mau!" tolak Eliana.
Sang pendeta tampak enggan, dia tidak berani menikahkan pasangan yang tidak saling mencintai apalagi dia bisa melihat jika Eliana tidak mau menikah dengan pria tua itu.
"Maaf, aku tidak bisa!" tolak pendeta itu seraya melangkah pergi.
"Apa? Kenapa tidak bisa?" teriak ibu tiri Eliana namun pendeta itu sudah pergi.
"Sial, bagaimana ini?" wanita itu tampak memutar otaknya, sehingga ide gila pun muncul. Apa pun yang terjadi, kerja sama itu harus mereka dapatkan.
"Kami akan keluar jadi gunakan waktu dengan baik. Dia sudah jadi istrimu sekarang!" ucapnya.
"Sialan, kau wanita tua jahat. Apa maksudmu berkata demikian?" teriak Eliana.
"Jangan melawan, dia suamimu!" Eliana ditarik menuju ranjang dan dibaringkan.
__ADS_1
"Dia tidak akan bisa lari lagi jadi manfaatkan dengan baik!"
"Kau gila! Jangan lakukan hal ini padaku, Dad!" Eliana berusaha memundurkan tubuh karena pria tua itu sudah membuka jas yang dia kenakan. Rasanya tidak mungkin bisa menghindar lagi, sepertinya sudah tidak ada keajaiban tapi siapa yang menyangka, tiba-tiba saja pintu ditendang dari luar dan sang pendeta yang tadi keluar masuk kembali tapi kali ini dia tidak sendirian. Sekumpulan pria bersenjata api masuk ke dalam kamar tersebut bersama dengan sang pendeta. Ayah Eliana dan istrinya terkejut begitu juga dengan pria yang hendak memperkosa Eliana.