
Morgan masuk ke dalam kamarnya, dia belum sadar ada yang tidak beres di dalam kamar. Jas yang dia gunakan dilepaskan, Morgan menjatuhkan diri di sofa yang ada di depan jendela. Minuman pun dituangkan di dalam gelas, dia ingin menikmati waktunya sebentar di sana namun kehadiran Camella menghancurkan suasana.
Camella mendekatinya tanpa ragu, dia tidak peduli dengan tatapan tajam Morgan. Dia tidak akan menyerah hanya ditatap seperti itu apalagi dia sudah sampai sejauh ini. Malam ini Morgan harus menjadi miliknya, menanam banyak benih di rahimnya agar dia dapat mengandung anak pria itu.
"Kenapa kau masuk ke dalam kamarku, Camella? Siapa yang mengijinkan dirimu untuk masuk ke dalam?" tanya Morgand dengan sinis.
"Jangan memperlakukan aku seperti ini, Morgan. Aku kekasihmu!" Camella hendak duduk di atas pangkuannya namun Morgan segera beranjak dan melangkah menuju jendela.
"Setelah apa yang kau lakukan pada kedua putraku? Aku sungguh salut kau masih berani datang ke rumahku setelah kau meninggalkan mereka di rumah hantu!"
"Aku tidak melakukan hal itu, Morgan. Mereka yang meninggalkan aku secara tiba-tiba, aku mencari mereka tapi aku justru terjebak di rumah hantu tersebut," dusta Camella.
"Jangan menipu aku, Camella. Aku menemukan Edwin dan Elvin menangis di sisi ruangan, mereka berdua ketakutan karena kau meninggalkan mereka jadi jangan menipu aku dengan penjelasan palsumu itu!"
"Aku tidak bohong, sungguh. Kedua putramu melepaskan tanganku lalu aku berusaha mencari keberadaan mereka berdua tapi aku tidak menemukan keberadaan mereka."
"Sudah aku katakan tidak perlu menipu, apa kau kira kedua putraku menipu aku hari itu? Aku sungguh kecewa padamu!" Morgan hendak melangkah pergi tapi Camella menahannya dengan memeluknya dari belakang.
"Aku benar-benar tidak melakukan hal itu, Morgan. Aku sendiri ketakutan di rumah hantu tersebut. Aku keluar dalam keadaan pingsan, aku mencari keberadaan kalian tapi kalian sudah pergi meninggalkan aku. Aku tidak berbohong, percayalah padaku," pinta Camella.
"Keluar, aku tidak mau membahasnya lagi!" Morgan melangkah pergi, gelas pun diletakkan di atas meja.
"Jadi kau memaafkan aku, bukan?" Camella kembali mengejar, "Malam ini aku ingin menginap di sini, kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama, Morgan. Kita sudah lama tidak tidur bersama," Camella hendak menyentuh wajahnya namun Morgan segera menepis tangannya.
"Tidur di kamar lain!" ucap Morgan sinis.
"Kenapa? Apa kau tidak kau tidur bersama denganku?"
"Keluar, Camella!" langkah Morgan mendadak terhenti saat melewati ranjang. Ada sesuatu yang aneh, seperti ada yang hilang.
"Ada apa?" tanya Camella heran karena Morgan melangkah mendekati ranjangnya.
__ADS_1
Morgan tidak menjawab tapi dia melangkah keluar dari kamar dengan amarah tertahan. Morgan berteriak marah membuat para pelayan terkejut begitu juga dengan Eliana dan kedua putranya.
"Siapa yang masuk ke dalam kamarku!" teriaknya.
"Nona ini yang masuk, Tuan," ucap sang pelayan sambil menunjuk ke arah Camella.
"Kami sudah mencegah tapi dia berkata Tuan tidak akan marah," jelas yang lainnya.
Morgan berpaling, menatap Camella dengan amarah tertahan. Camella menelan ludah, apa dia sudah membuat sebuah kesalahan?
"Aku yang masuk ke dalam kamarmu, Morgan. Ada apa?" tanya Camella. Dia tidak tahu jika sudah melakukan sebuah kesalahan fatal.
"Beraninya kau, Camella? Kau kemanakan bantal milikku?" teriak Morgan marah.
"Sudah usang, jadi aku membuangnya," ucap Camella tanpa merasa bersalah.
"Apa kau bilang? Siapa yang memberimu ijin melakukan hal itu?" Kedua tangan sudah mengepal erat, Camella melangkah mundur dan terlihat ketakutan.
"Siapa yang memberimu ijin, Camella!" teriaknya lagi.
"Kau benar-benar menguji kesabaranku!" satu tangan sudah terangkat, hendak memukul Camella tapi wanita itu segera berlutut dan memeluk satu kakinya.
"Aku tidak sengaja, Morgan. karena sudah usang jadi aku membuangnya. Tolong maafkan aku dan jangan marah," pinta Camella memohon.
"Barang milikmu, tidak ada yang boleh membuangnya selain aku. Apa kau tidak paham akan hal itu? Aku bahkan bisa membuangmu saat ini juga jika aku mau!"
"Jangan, Morgan. Jangan lakukan hal itu," Camella beranjak, untuk membujuknya.
"Aku tahu aku salah, aku tidak tahu itu benda berharga milikmu jadi maafkan aku," pinta Camella sambil menangis.
"Pergi, Camella. Jangan mencari aku untuk sementara waktu!"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan pergi. Aku datang untuk menginap, aku tidak akan pergi. Aku akan memperbaiki semuanya jadi jangan mengusir aku pergi!" teriak Camella, dia masih menangis agar Morgan tidak mengusirnya pergi.
"Aku bilang pergi!" Morgan masih mengusir, untuk sementara waktu dia tidak ingin melihat wajah Camella namun Camella memohon agar tidak mengusirnya.
Eliana keluar dari kamar, dia tidak mau ikut campur tapi Edwin dan Elvin mendengar. Mereka berdua anak yang cerdas, jangan sampai mereka meniru apa yang dilakukan oleh ayah mereka kelak.
"Tolong jangan bertengkar di rumah, ada anak-anak," pinta Eliana yang saat itu sudah mendekati mereka.
"Ini bukan urusanmu!" ucap Camella sinis.
"Memang bukan, tapi ingatlah di rumah ini ada dua anak kecil!" setelah berkata demikian, Eliana melangkah pergi.
Morgan menatap Camella dengan tajam, setelah itu dia melihat ke arah Eliana. Jika tidak ada wanita itu, sudah dia pukul wajah Camella karena sudah membuang bantal miliknya. Camella benar-benar takut apalagi Morgan masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan keras.
Camella masih tidak bergeming, dia tampak menunduk sambil menahan malu. Dia tidak tahu Morgan akan marah seperti itu hanya karena sebuah bantal saja tapi dia tidak tahu itu bantal berharga milik Morgan. Eliana masuk ke dalam kamar si kembar, Camella menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Semua pasti gara-gara wanita itu, akan dia balas.
Morgan benar-benar kesal, amarah dilampiaskan dengan membuang benda yang ada di dalam kamar. Dia tidak menyangka Camella datang dan membuang barang berharga miliknya tanpa bertanya terlebih dahulu. Wajah diusap dengan kasar, dia tidak mungkin meminta Camella mengambil bantal yang sudah dia buang entah ke mana. Tapi dia rasa tidak buruk, memang bantal itu sudah harus dia buang tapi setiap kali dia ingin melakukan hal itu, dia tidak bisa. Mungkin dengan cara seperti ini dia bisa melupakan bantal itu.
Walau dengan perasaan tidak rela, dia pun tidak bisa bersikap kekanak-kanakan hanya karena sebuah bantal saja apalagi ada Eliana. Jangan sampai wanita itu mengejek dirinya, tiba-tiba dia merasa hal itu sangat penting. Dia tidak mau dinilai buruk oleh Eliana apalagi dia pria dewasa dengan dua orang anak. Apa jadinya jika dia marah besar hanya karena sebuah bantal saja? Dia akan menjadi bahan lelucon bagi Eliana.
Sebaiknya dia mandi, tapi ketika pintu lemari dibuka, Morgan mendapati barang-barang milik Camella. Sepertinya Camella semakin tidak tahu diri saja. Dia tidak suka ada baju wanita di dalam lemarinya, dia juga tidak suka berbagi tempat dengan siapa pun. Morgan keluar untuk memaki Camella tapi niatnya harus terhenti karena Eliana sedang membawa Edwin dan Elvin ke ruang makan. Mau tidak mau barang-barang milik Camella dikeluarkan dari lemarinya dan dibuang ke luar.
"Mommy, apa yang Daddy ributkan dengan penyihir itu?" tanya Edwin saat mereka sudah berada di meja makan di mana ada Camella di sana.
"Itu urusan orang dewasa, Sayang. Kalian tidak perlu tahu."
"Benarkah?" tanya Elvin.
"Tentu saja, Mommy saja tidak mau tahu jadi kalian tidak perlu tahu. Sebaiknya kita makan, oke?"
"Yes, Mom," jawab si kembar.
__ADS_1
Camella sangat kesal, dia merasa Eliana sedang mengejek dirinya saat ini padahal Eliana tidak melakukan apa pun. Eliana dan si kembar makan tanpa curiga sama sekali, Camella pun keluar dari dapur. Pembalasan sudah dimulai. Camella terkejut mendapati barang-barangnya sudah berada di luar. Morgan sungguh keterlaluan, sebaiknya dia merubah rencana dan pergi dari pada dia berada di sana dan semakin malu. Lagi pula mereka akan mendapatkan ganjarannya setelah ini.
Barang-Barang yang dibuang oleh Morgan pun di rapikan, niat untuk menginap pun tidak jadi tapi dia tahu jika dia masih berada di sana maka dia akan menjadi sasaran empuk dari kemarahan Morgan. Jangan sampai Morgan mengakhiri hubungan mereka malam ini juga. Selama dia masih berstatus kekasih Morgan maka dia masih memiliki banyak kesempatan untuk membalas dua anak nakal itu tapi untuk malam ini dia harus merubah rencana karena situasi hati Morgan yang tidak sedang bagus.